Sabtu sore yang cerah mulai berubah jadi langit jingga kemerahan. Setelah menikmati es krim di taman kota, keempat sahabat itu duduk di bangku panjang sambil ngobrol ringan. Angin semilir menerpa rambut Keira dan Nayla yang tertawa kecil mendengarkan lelucon Raka.
"Aku sama Keira mau mampir ke toko sebelah ya,mau nyari cemilan buat malam ini," kata Nayla sambil berdiri, menepuk pelan bahu Kenzo.
"Oke, hati-hati ya," jawab Kenzo kalem seperti biasa.
Raka menyipitkan mata. “Jangan kelamaan, nanti es krim kita meleleh dua kali.”
Nayla hanya menjulurkan lidah, lalu pergi bersama Keira menuju minimarket kecil yang letaknya tak jauh, menyusuri gang kecil di samping taman.
Namun, tak lama setelah itu, Kenzo dan Raka mendengar suara ribut-ribut dari arah gang tersebut.
"Kayak suara cewek deh..." Raka berdiri, wajahnya berubah serius.
Kenzo juga langsung peka. Tanpa banyak bicara, mereka berdua berlari cepat menyusuri gang sempit itu,dan benar saja. Di ujung gang, Nayla dan Keira terlihat dipojokkan oleh tiga laki-laki remaja yang tampak mencurigakan. Salah satu dari mereka bahkan menarik lengan Nayla.
"Eh, jangan sentuh dia!" bentak Kenzo keras. Suaranya menggema tajam.
Orang-orang itu menoleh. "Wah, pahlawan kesiangan sudah datang guys. Mau sok jagoan lo?"
Kenzo tidak menjawab. Ia hanya melangkah pelan, matanya tajam seperti binatang buas yang terbangun. Raka di belakangnya sudah melepas jaketnya dan siap siaga.
Tanpa aba-aba, salah satu dari mereka maju memukul. Tapi dalam sekejap, Kenzo menangkis, memutar tubuh si penyerang, dan menjatuhkannya ke tanah dengan satu gerakan bersih.
Raka juga meladeni satu lawan, bergerak cepat dan lincah lalu menendang wajah nya.Meskipun ia bukan petarung profesional, tapi futsal dan game FPS mengasah reflek dan strategi otaknya.
Suasana berubah jadi kacau. Dalam waktu kurang dari dua menit, ketiga orang itu tergeletak di lantai gang, meringis kesakitan.
Keira masih menahan napas kaget, tapi Nayla… diam. Matanya menatap Kenzo yang masih berdiri tegak, napasnya agak berat.
"Kenzo..." bisiknya lirih. Ada rasa khawatir, kagum, dan… jantung yang berdetak terlalu cepat.
Kenzo menoleh padanya. Begitu melihat ekspresi Nayla, ia langsung mengalihkan pandangannya. "Maaf... kamu nggak papa kan?"
Nayla mengangguk pelan, tapi dalam hatinya terasa seperti baru saja membaca halaman pertama dari buku rahasia milik Kenzo.
Setelah kejadian di gang itu, mereka semua duduk kembali di taman. Nayla masih kelihatan agak diam, tapi bukan karena trauma—lebih karena pikirannya sibuk memutar ulang kejadian tadi.
“Gila sih, bro…” Raka nyengir lebar, menepuk punggung Kenzo. “Gue baru tahu lo ternyata punya mode Street Fighter begitu,gila keren banget”
Keira mengangguk pelan. “Agak… serem sih. Tapi… keren juga.”
Nayla memandang Kenzo, lalu tiba-tiba bertanya, “Kenzo, kamu belajar bela diri ya?”
Kenzo yang sedang minum es teh hanya mengangkat bahu, “Dulu… sedikit. Tapi udah lama gak latihan.”
“Sedikit katanya, padahal tadi gerakannya kayak di film film!” Raka menyahut cepat.
Nayla terkekeh kecil, lalu berkata lirih, “Tapi… makasih ya. Kalau nggak ada kamu… mungkin aku...”
Kenzo langsung menoleh. “Jangan pikirin itu. Yang penting kamu aman.”
Mereka saling bertatapan. Canggung. Tapi manis.
Raka lalu pura-pura batuk keras. “Uhuk. Uhuk. Ini taman umum, plis sadar. Ada jomblo juga di sini.”
Keira ikut menimpali dengan senyum nakal, “Iya, bener. Jangan bikin kami iri dong.”
Mereka berempat pun tertawa bersama. Suasana kembali cair, meski di antara tawa itu… jantung dua orang mulai berdetak tidak seperti biasanya.
★SELANJUTNYA★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments