Matahari mulai tenggelam saat mereka memutuskan untuk pulang. Namun sebelum itu, Raka tiba-tiba punya ide jahil.
“Eh, sebelum pulang kita foto bareng dulu dong. Buat kenang-kenangan. Mumpung lagi lengkap dan penuh drama hari ini.”
Keira mengeluarkan ponselnya dan mengatur kamera di mode self-timer. Mereka berdiri berempat, dengan Raka dan Keira di samping, Kenzo dan Nayla di tengah.
“hei Ken, kamu agak deketin Nayla dong. Biar simetris,” ujar Keira licik.
“Ehh a—apa sih…” Nayla panik sedikit, tapi wajahnya sudah memerah.
Kenzo cengengesan, lalu dengan santai mendekat. Tapi saat tangannya menyentuh pundak Nayla secara tidak sengaja, keduanya langsung kaku.
“Wah, aura pink di tengah nih,” goda Raka sambil tertawa.
Mereka berfoto, tertawa, dan menikmati momen kecil yang mungkin terlihat sederhana… tapi bagi Kenzo dan Nayla, rasanya luar biasa.
Setelah foto, mereka berjalan pulang beriringan. Nayla sedikit tertinggal di belakang, lalu memanggil Kenzo pelan.
“Kenzo…”
“Hmm?”
“Aku… senang kamu ada hari ini.”
Kenzo menoleh, tersenyum tipis. “Aku juga senang nayla.”
Untuk pertama kalinya, mereka tersenyum… dengan rasa yang baru mulai tumbuh. Di balik canda dan tawa, ada hati yang diam-diam menyambut cinta.
Setelah sesi foto dan canda tawa itu, matahari mulai benar-benar tenggelam. Suasana taman perlahan sepi, hanya suara jangkrik dan angin sore yang menemani.
“Wah, udah jam segini,” Raka melihat jam tangannya. “Gue duluan ya. Rumah gue ke arah timur.”
Keira menyahut sambil merapikan rambutnya, “Aku juga deh, beda arah dari kalian. Nih, dua orang tengah jalan bareng aja tuh~” ucapnya dengan senyum penuh arti.
Raka menoleh ke Kenzo dan Nayla, lalu menggoda tanpa ampun, “Hati-hati di jalan ya, pasangan belum jadian!”
“Rakaa!!” Nayla langsung melempar bungkus es krim kosong ke arah Raka, tapi cowok itu tertawa sambil kabur.
Keira ikut tertawa kecil, lalu mendekat ke Nayla dan berbisik pelan, “Jangan terlalu galak, Nay… siapa tahu dia suka cewek yang lembut,hehe.” Kemudian ia melambai dan pergi menyusul Raka.
Dan sekarang… hanya ada Kenzo dan Nayla di tengah taman yang mulai sunyi.
Keheningan menyelimuti mereka beberapa detik. Canggung.
Nayla mengayunkan tangannya sambil menunduk. Kenzo berjalan di sebelahnya, diam, namun dalam pikirannya ribuan kata berputar.
“…Kenzo,” Nayla akhirnya memecah keheningan.
“Hm?” Kenzo menoleh cepat.
“Terima kasih ya…. . sebenarnya Aku masih kepikiran kejadian tadi.”
Kenzo tersenyum pelan. “Kamu nggak perlu takut.Ada aku kok.”
Mereka terus berjalan. Langkah perlahan, obrolan pun mulai mengalir lagi.
“Kamu itu ya… bisa lucu, bisa kalem, tapi kalau berantem bisa kayak superhero,” ujar Nayla sambil meliriknya.
“Superhero nggak galak kayak aku tadi,” balas Kenzo dengan cengiran malu.
“Tapi tadi kamu keren banget,” bisik Nayla lirih. Kenzo nyaris tak mendengarnya, tapi tatapan mata mereka saling bertemu sebentar… dan waktu seolah melambat.
Kenzo menoleh cepat, mencoba menetralkan suasana. “Eh… kamu yakin nggak trauma? Tadi sempat ditarik kan?”
Nayla menggeleng pelan. “Nggak kok.aku gak trauma, Soalnya ada kamu.”
Suasana hening lagi. Tapi kali ini, bukan karena canggung… melainkan hangat. Nyaman.
Angin menyapu lembut wajah mereka. Dan di bawah langit senja yang mulai gelap, dua hati mulai saling mengerti… bahwa perasaan mereka tumbuh tak hanya dari canda dan tawa, tapi juga dari momen-momen diam yang terasa dalam.
Langkah kaki mereka perlahan mendekati pertigaan jalan di mana rute pulang mereka berpisah. Lampu jalan mulai menyala, menambah suasana damai sekaligus… sedikit berat.
“Ehm, jadi… rumahmu ke arah sana ya?” tanya Kenzo sambil menunjuk ke kiri.
Nayla mengangguk pelan. “Iya… kamu ke kanan, kan?”
“Iya.”
Mereka berdiri beberapa detik di bawah lampu jalan. Tak ada yang bicara, tapi keduanya seolah tak ingin buru-buru melangkah.
“Aku… senang hari ini,” ucap Nayla pelan sambil tersenyum manis.
Kenzo balas tersenyum, meski ada sedikit gugup di matanya. “Aku juga. Hari ini… nyenengin banget. Apalagi pas—eh, ya pokoknya seru,” katanya, hampir keceplosan.
Lalu mereka tertawa kecil bersama.
“Kenzo…” Nayla kembali memanggil, lebih pelan kali ini.
“Hm?”
“Kamu…” ia menggigit bibir bawahnya ragu. “Kamu keren banget tadi. Makasih, ya.”
Wajah Kenzo sedikit memerah, tapi dia menunduk sedikit dan menjawab, “Aku nggak bisa diem aja liat kamu diganggu. Nggak akan kubiarin itu terjadi, Nay.”
Mata mereka bertemu sekali lagi. Tak lama, tapi cukup untuk membuat dada Nayla berdebar lebih cepat.
“…Aku pulang dulu, ya,” ucap Nayla akhirnya sambil melangkah mundur pelan.
Kenzo mengangguk, “Hati-hati di jalan. Kabarin kalau udah sampai rumah.”
“Iya.” Nayla tersenyum, lalu berbalik dan melangkah pergi. Tapi sebelum terlalu jauh, dia menoleh ke belakang dan melambaikan tangan. “Dadah, Kenzo!”
Kenzo terdiam beberapa detik, lalu membalas lambaiannya. “Dadah, Nayla…”
Saat Nayla menghilang di tikungan, Kenzo berdiri sendiri di bawah cahaya lampu jalan. Ia menghela napas panjang, senyum tipis menggantung di wajahnya.
Dalam hati, ia berkata pelan, “Kalau perasaan ini nyata… semoga dia bisa merasakannya juga.”
Dan malam pun benar-benar turun, menyelimuti awal kisah yang diam-diam mulai tumbuh diantara mereka.
Setelah itu, Kenzo menatap langit malam yang mulai dihiasi bintang-bintang kecil.
Angin malam berhembus pelan, membawa sisa aroma es krim dan tawa yang masih membekas di pikirannya.
Langkah kakinya mulai bergerak menuju arah pulang, tapi pikirannya masih tertinggal di pertigaan jalan tadi. Di sana… ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang tumbuh.
Tapi di balik semua rasa itu, ada satu hal yang ia genggam erat yaitu persahabatan mereka.
Kenzo mengepalkan tangan, menatap lurus ke depan dengan tekad dalam matanya.
"Aku nggak tahu perasaan ini akan dibalas atau nggak... Tapi satu hal yang pasti," gumamnya pelan, "aku akan menjaga persahabatan ini selamanya."
Langkahnya terus berjalan, perlahan menghilang di sepanjang jalan setapak yang diterangi cahaya kuning lampu jalan, mengantarnya pulang.
★SELANJUTNYA★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments