BAB 2 - Rahasia dari Ruang Tamu

"Semua orang bilang pindah itu awal baru, tapi hatiku masih di tempat lama."

Pagi itu, langit Jakarta berwarna abu muda. Sinar matahari menembus tirai kamar, memantul di cermin meja rias tempat Rayna berdiri. Ia menarik napas panjang sambil menatap pantulan dirinya.

Seragam putih abu-abu yang baru disetrika menggantung rapi di tubuhnya, pita kecil di kerahnya sedikit miring, tapi ia tidak terlalu peduli.

Ini hari pertama. Sekolah baru. Kota baru. Hidup baru.

Ia memandangi ID card sekolah yang tergantung di lehernya. Tulisan “SMA Pelita Jakarta” tercetak jelas di atas foto yang diunggah saat pendaftaran online waktu itu.

“Pelita Jakarta,” gumamnya pelan. “Nama sekolahnya aja udah berat, semoga anak-anaknya nggak.”

“Raynaaa!” terdengar suara Mama dari lantai bawah. “Ayo turun, nanti terlambat!”

“Iyaaa, Ma!”

Ia menenteng tas hitamnya dan menuruni tangga. Aroma roti panggang menyambut dari dapur. Mama sudah menunggu di meja makan bersama Pak Herman, sopir keluarga mereka yang setia sejak masih tinggal di luar negeri.

“Kamu udah siap banget nih,” kata Mama sambil tersenyum. “Deg-degan?”

“Sedikit,” jawab Rayna jujur. “Takut nggak bisa nyatu sama anak-anak sini.”

Mama menepuk bahunya. “Kamu anak baik, Sayang. Pasti bisa. Mereka bakal suka sama kamu.”

Rayna hanya tersenyum tipis, lalu meneguk segelas susu.

Mobil hitam keluarga mereka melaju pelan di antara padatnya lalu lintas Jakarta. Dari jendela belakang, Rayna melihat deretan pedagang, ojek, dan anak sekolah yang berjalan tergesa. Ia bersandar di kursi, memperhatikan papan-papan reklame besar di sepanjang jalan.

“Sekolah kamu besar, Non,” kata Pak Herman dari depan. “Banyak anak-anak pejabat juga di situ. Tapi jangan khawatir, guru-gurunya baik-baik kok.”

Rayna mengangguk. “Semoga aja begitu, Pak.”

Begitu mobil berhenti di depan gerbang besar bertuliskan SMA Pelita Jakarta, Rayna tertegun. Bangunannya megah, dengan tembok putih tinggi dan taman yang rapi. Suara riuh siswa bercampur dengan bunyi lonceng sekolah.

Ia turun dari mobil dan menatap sekitar. “Kayak kampus,” bisiknya.

Pak Herman tersenyum. “Nanti jam dua saya jemput lagi, ya.”

“Iya, Pak. Makasih.”

Rayna berjalan masuk melewati halaman luas. Setiap langkahnya terasa asing, namun di sisi lain, ada semacam dorongan ingin tahu. Ia melihat kelompok siswa bercanda di tangga, beberapa siswi selfie di taman depan, dan petugas keamanan yang berdiri di pojok gerbang.

Setelah menanyakan ke petugas TU, Rayna menemukan ruang kelasnya. Pintu bertuliskan Bahasa 12 berdiri di ujung koridor. Ia berdiri sebentar, menarik napas, lalu membuka pintu.

Suara riuh mendadak hening seketika. Puluhan pasang mata menatapnya.

Rayna berdiri tegak. Ia mencoba tersenyum, meski pipinya terasa kaku. “Hai semua, nama aku Rayna Kalie Nathan. Kalian bisa panggil aku Rayna,” ucapnya dengan nada ramah.

Beberapa anak mengangguk, beberapa hanya melirik lalu kembali sibuk.

Guru wali kelas tersenyum. “Baik, Rayna. Selamat datang di kelas Bahasa ini ya. Kamu duduk di bangku kosong itu ya.” Katanya sambil menunjuk sebuah bangku kosong di deretan ketiga bagian belakang.

“Iya, Bu.”

Rayna melangkah ke bangku yang ditunjuk, menaruh tasnya, dan duduk. Ia mencoba fokus pada pelajaran pertama, tapi dari sudut matanya, ia merasa ada seseorang yang terus memperhatikannya.

Ia berpura-pura mencatat, tapi rasa itu semakin kuat.

Akhirnya, ia menoleh ke kanan. Seorang cowok berambut sedikit berantakan duduk di sebelahnya, menatap ke arahnya dengan pandangan datar.

Rayna menaikkan alis. “Ada apa, ya? Dari tadi kayaknya kamu terus ngeliatin ke sini?”

Cowok itu mengangkat bahu santai. “Enggak kok. Gausah ge-er deh lo.”

Nada bicaranya tenang tapi tajam. Ia menoleh ke papan tulis seolah tak terjadi apa-apa.

Rayna mendengus pelan, menggulirkan matanya. “Oke, sorry,” gumamnya pelan. Ia berusaha kembali fokus, tapi sedikit kesal. Hari pertama, sudah disambut dingin. Bagus sekali ya.

Selama jam pelajaran berikutnya, mereka hampir tidak berbicara. Cowok itu tetap cuek, sibuk menggambar sesuatu di buku catatannya. Sementara Rayna, diam-diam melirik penasaran. Gambarnya bagus. Gaya goresannya mirip seseorang yang dulu sering menggambar bersamanya.

Vando.

Pikiran itu tiba-tiba muncul. Ia buru-buru menepisnya, tapi rasa rindu itu datang lagi tanpa izin.

Bel pulang akhirnya berbunyi. Suara riuh langsung memenuhi udara. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Rayna menarik napas lega, memasukkan buku ke tasnya.

“Capek banget,” gumamnya.

Cowok yang tadi bicara dengan Rayna menutup bukunya dan berkata, “Baru hari pertama udah capek?”

Rayna menatapnya sekilas. “Lo pikir pindah sekolah gampang?”

Cowok itu menatapnya balik, kali ini tanpa senyum. “Nggak gampang. Tapi lo kelihatannya kuat deh.”

Rayna sempat terdiam. Nada suaranya datar, tapi ucapannya jujur. Ia hanya mengangguk kecil lalu berdiri. “Makasih. Sampai besok.”

Cowok itu mengangguk pelan.

Di luar kelas, udara sore terasa hangat. Sinar matahari menembus pepohonan di halaman sekolah. Rayna berjalan menuju gerbang. Beberapa siswa lain melambaikan tangan ke arah orang tua mereka.

Pak Herman sudah menunggu di depan mobil. Ia membukakan pintu. “Gimana sekolahnya, Non?”

“Lumayan, Pak. Cuma... belum kenal siapa-siapa aja.”

“Nanti juga kenal, Non. Namanya juga baru.”

Rayna tersenyum kecil. “Iya, Pak.”

Mobil melaju pelan meninggalkan halaman sekolah. Dari jendela, Rayna melihat lagi tulisan besar di gerbang: Pelita Jakarta. Entah kenapa, nama itu terasa seperti awal sesuatu yang besar.

Sesampainya di rumah, suasana tenang. Mama sedang di ruang tamu sambil berbicara lewat telepon. Dari arah tangga, Rayna sempat mendengar sepotong kalimat.

“Iya, Bu. Saya pastikan anak kita kenal dekat dan tetap bersama sampai tua nanti...”

Langkah Rayna terhenti. Ia menatap ke arah ruang tamu. Kata-kata itu terdengar aneh.

Anak kita? Bersama sampai tua?

Ia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah pelan mendekat.

“Maaa?” panggilnya lirih.

Mama tersentak kecil, lalu buru-buru menutup telepon. “Eh, anak mama udah pulang? Udah makan?” katanya dengan nada ceria yang agak dipaksakan.

“Belum. Tadi mama ngomong sama siapa, ya?”

Mama tersenyum, tapi matanya sedikit gugup. “Oh itu, cuma ngobrol sama teman lama aja. Nggak penting kok. Yuk, makan dulu. Kamu pasti lapar.”

Ia menarik tangan Rayna menuju ruang makan.

Rayna menatap wajah mamanya, mencoba membaca ekspresi di balik senyum itu. Ada sesuatu yang disembunyikan, ia bisa merasakannya. Tapi ia tidak mau memaksa.

Malam itu, setelah makan dan mandi, Rayna duduk di meja belajar sambil menatap jendela. Lampu kota berkedip di kejauhan. Di meja, ponselnya tergeletak diam.

Ia membuka TeleChat. Tak ada pesan baru. Hanya percakapan terakhir dengan Vando yang masih terbuka.

Kalimat terakhir dari Vando masih terpampang di layar:

“Kita bakal ketemu lagi, Rayi. Aku janji.”

Ia tersenyum kecil, lalu menatap langit malam.

Tiba-tiba, pikirannya kembali ke percakapan Mama tadi siang. “Anak kita kenal dekat dan tetap bersama sampai tua nanti...”

Hatinya berdebar. Kata-kata itu seperti potongan puzzle yang belum lengkap.

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat sesuatu. Dulu, di Eropa, Mama dan Ibu Vando sering bertemu. Mereka bersahabat. Bahkan pernah bercanda, katanya Rayna dan Vando cocok kalau besar nanti.

Tapi... itu dulu. Masa iya Mama masih memikirkan hal itu?

Rayna tertawa kecil, menertawakan pikirannya sendiri. “Ah, nggak mungkin.” Tapi tawa itu cepat menghilang. Entah kenapa, bagian dalam dirinya justru berkata sebaliknya.

Ia mengambil buku catatan, membuka halaman kosong, lalu mulai menggambar.

Tangannya bergerak pelan, mengikuti ingatan.

Beberapa menit kemudian, wajah seorang anak laki-laki muncul di atas kertas.

Rambut sedikit acak, mata hangat, dan senyum yang selalu ia rindukan.

“Vando...” bisiknya.

Air matanya menetes di pojok halaman. Ia menyeka cepat, tapi garis air itu sudah sempat mengaburkan tinta.

Ia menatap gambar itu lama. “Kamu beneran bakal ke sini?”

Di luar jendela, Jakarta masih berisik seperti biasa. Tapi di hati Rayna, mulai tumbuh rasa yang baru. Campuran rindu, harapan, dan... firasat.

Bahwa semua yang terjadi hari ini, sekolah baru, teman baru, ucapan Mama, bukan kebetulan.

Mungkin, semuanya sedang membawanya kembali... ke janji yang dulu pernah diucapkan di bawah langit Eropa.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

LauRa🍃🍃

LauRa🍃🍃

Jadi murid pindahan pasti canggung banget ya. Apa lagi gak ada siapapun yg kita kenal sama sekali. Tapi aku kalo ada ank baru pasti langsung nyapa duluan karena kadang kasian klo gak ada yg ngajak bicara dia.

2025-12-20

0

Athena

Athena

Masa paling berat itu saat harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar, aplgi jika lingkungn itu kurg bs menerima kehadiran kita, pasti rasanya sprt berperang di medan perang namun musuhnya transparan

2025-12-06

0

𝕰𝖛𝖊𝖑𝖞𝖓

𝕰𝖛𝖊𝖑𝖞𝖓

Klo pun mereka gk suka ya gpp, kn kita nggk bs ngatur hati orang harus suka sama kita, yg penting kita nggk buat mslh aja, tp klo ad yg buat mslh dg kita, yaa bales buat org itu menyesal udh cari mslh 🤣

2025-12-03

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 – Jakarta dan Suara Itu
2 BAB 2 - Rahasia dari Ruang Tamu
3 BAB 3 - Antara Aku, Cinta, dan Mama
4 BAB 4 - Rayna dan Vando: Awal dari Segalanya
5 BAB 5 - Rayi, Aku Suka Panggilan Itu!
6 BAB 6 - Mencoba Kuat
7 BAB 7 - Keputusan
8 BAB 8 - Hari Itu Tiba
9 BAB 9 - Perasaan Yang Sulit Di Jelaskan
10 BAB 10 - Ben!
11 BAB 11 - Bayangan Itu Datang
12 BAB 12 - Rasa Bersalah
13 BAB 13 - Bisikan di Tengah Malam
14 BAB 14 - Kecupan Pertama
15 BAB 15 - Rindu Itu
16 BAB 16 - Terbayang
17 BAB 17 - Gema Nama Ken
18 BAB 18 - Mentari di Balik Kabut
19 BAB 19 - Paruh Waktu?
20 BAB 20 - Kupu-Kupu
21 BAB 21 - Hadiah
22 BAB 22 - Ada Syaratnya!
23 BAB 23 - Mie Ayam
24 BAB 24 - Sepertinya Gue Gila!
25 BAB 25 - Mama Hebat!
26 BAB 26 - Dibalik Keusilan
27 BAB 27 - Peresmian yang Teringat
28 BAB 28 - Mau Sampai Kapan?
29 BAB 29 - Semangkuk Rasa
30 BAB 30 - Makan Bareng
31 BAB 31 - Selimut Untuk Ben!
32 BAB 32 - Senyum Rayna
33 BAB 33 - Posesif
34 BAB 34 - Asisten Rumah Tangga
35 BAB 35 - Sarapan dan Senyum
36 BAB 36 - Tangan Yang Tak Mau Lepas
37 BAB 37 - Cemburu
38 BAB 38 - Rasa Gugup
39 BAB 39 - Ulang Tahun Yang Buruk
40 BAB 40 - Apa Aku Terlambat?
41 BAB 41 - Kita Yang Hampir Jatuh
42 BAB 42 - Saat Semuanya Mulai Terjawab
43 BAB 43 - Bubur Rumah Sakit
44 BAB 44 - Sikap Yang Tak Biasa
45 BAB 45 - Rencana Liburan
46 BAB 46 - Di Ujung Pandangan
Episodes

Updated 46 Episodes

1
BAB 1 – Jakarta dan Suara Itu
2
BAB 2 - Rahasia dari Ruang Tamu
3
BAB 3 - Antara Aku, Cinta, dan Mama
4
BAB 4 - Rayna dan Vando: Awal dari Segalanya
5
BAB 5 - Rayi, Aku Suka Panggilan Itu!
6
BAB 6 - Mencoba Kuat
7
BAB 7 - Keputusan
8
BAB 8 - Hari Itu Tiba
9
BAB 9 - Perasaan Yang Sulit Di Jelaskan
10
BAB 10 - Ben!
11
BAB 11 - Bayangan Itu Datang
12
BAB 12 - Rasa Bersalah
13
BAB 13 - Bisikan di Tengah Malam
14
BAB 14 - Kecupan Pertama
15
BAB 15 - Rindu Itu
16
BAB 16 - Terbayang
17
BAB 17 - Gema Nama Ken
18
BAB 18 - Mentari di Balik Kabut
19
BAB 19 - Paruh Waktu?
20
BAB 20 - Kupu-Kupu
21
BAB 21 - Hadiah
22
BAB 22 - Ada Syaratnya!
23
BAB 23 - Mie Ayam
24
BAB 24 - Sepertinya Gue Gila!
25
BAB 25 - Mama Hebat!
26
BAB 26 - Dibalik Keusilan
27
BAB 27 - Peresmian yang Teringat
28
BAB 28 - Mau Sampai Kapan?
29
BAB 29 - Semangkuk Rasa
30
BAB 30 - Makan Bareng
31
BAB 31 - Selimut Untuk Ben!
32
BAB 32 - Senyum Rayna
33
BAB 33 - Posesif
34
BAB 34 - Asisten Rumah Tangga
35
BAB 35 - Sarapan dan Senyum
36
BAB 36 - Tangan Yang Tak Mau Lepas
37
BAB 37 - Cemburu
38
BAB 38 - Rasa Gugup
39
BAB 39 - Ulang Tahun Yang Buruk
40
BAB 40 - Apa Aku Terlambat?
41
BAB 41 - Kita Yang Hampir Jatuh
42
BAB 42 - Saat Semuanya Mulai Terjawab
43
BAB 43 - Bubur Rumah Sakit
44
BAB 44 - Sikap Yang Tak Biasa
45
BAB 45 - Rencana Liburan
46
BAB 46 - Di Ujung Pandangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!