Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

BAB 1 – Jakarta dan Suara Itu

"Hufft... Hari ini hari pertamaku di Jakarta."

Rayna menarik napas panjang. Udara sore Menteng hangat, beraroma pepohonan dan bunga. Dari balkon apartemennya, ia melihat jalan bersih dengan mobil premium. Matahari merunduk, menyinari rumah kolonial dan gedung modern dengan cahaya oranye lembut.

Ia menatap pemandangan itu kosong. "Aku nggak tahu bisa betah di sini atau nggak," gumamnya. "Setelah semua yang kutinggalkan di Eropa, rasanya masih berat."

Suara pikirannya bergema di kepala. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya.

Jakarta.

Dulu nama kota ini selalu membuatnya bersemangat. Ia ingat betapa seringnya ia bercerita pada teman-temannya di sekolah dulu, bahwa suatu hari ia ingin tinggal di sini. Ia ingin merasakan hiruk pikuknya, lampu-lampunya, dan kehidupan cepatnya yang sering ia lihat di internet. Tapi kini, ketika impian itu benar-benar terjadi, rasanya seperti berdiri di tempat asing.

Terlalu ramai. Terlalu panas. Terlalu jauh dari semua yang ia kenal. Dan anehnya, terlalu sepi.

Rayna memejamkan mata. Potongan kenangan menari di kepalanya: jalan berbatu kecil di depan apartemen lamanya di Praha, aroma roti dari toko langganannya, tawa teman-teman di taman dekat sungai. Tapi yang paling jelas adalah wajah seseorang.

Seseorang yang ia tinggalkan.

DORRR!!!

Rayna hampir meloncat dari tempatnya.

"Mamaaaa! Ya ampun, bikin Rayna kaget aja!" serunya sambil menoleh ke belakang.

Sang mama berdiri di ambang pintu balkon sambil membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk. Ia tertawa kecil. "Habis kamu ngelamun aja, sih. Dari tadi dipanggil juga nggak nyaut. Lagi mikirin apa, Sayang?"

Rayna menghela napas. Ia mengambil gelas itu dan duduk di kursi rotan. "Enggak apa-apa kok, Ma. Cuma... belum terbiasa aja di sini."

Mama ikut duduk di sebelahnya. "Wajar, kamu kan baru pindah. Dulu juga waktu pertama kali pindah ke Praha, kamu butuh waktu lama buat nyaman di sana, kan?"

"Iya, tapi beda, Ma."

Rayna memandang langit yang kini mulai berubah warna menjadi ungu gelap. "Di sana aku punya teman, sekolah, semuanya udah terasa rumah. Di sini... semuanya asing."

Mama tersenyum lembut. "Kalau gitu, coba deh kamu jalan-jalan. Lihat sekitar. Kenalan sama tetangga, atau sekalian mampir ke sekolah barumu. Siapa tahu langsung ketemu teman baru."

Rayna menggeleng. "Enggak ah, Ma. Rayna ke kamar aja, ya."

"Ya sudah. Mama nggak maksa. Tapi jangan terus di kamar, nanti malah makin kepikiran."

Rayna hanya tersenyum tipis lalu melangkah pergi.

Kamar barunya di Jakarta masih setengah berantakan. Beberapa koper belum dibuka. Kardus-kardus menumpuk di sudut. Namun Rayna langsung menuju jendela besar yang menghadap jalan raya.

Dari sana, ia bisa melihat lautan lampu kendaraan yang tak berhenti bergerak. Suara klakson bersahutan, bercampur dengan bunyi azan dari masjid di ujung jalan.

Ia menyandarkan dagu di tangan. "Dulu aku pengen banget lihat ini tiap hari," gumamnya lirih. "Sekarang malah capek lihatnya."

Tatapannya menerawang jauh. Di matanya, gedung-gedung tinggi itu berubah menjadi bayangan jembatan tua di Praha yang dulu sering ia datangi bersama seseorang.

Vando.

Nama itu kembali bergema di kepalanya.

Teman kecilnya. Orang yang selalu ada sejak ia masih SD. Mereka berdua seperti dua sisi koin yang tak terpisahkan. Sama-sama suka menggambar, suka naik sepeda ke sungai, dan suka bicara soal mimpi masa depan.

Salah satu mimpi mereka waktu itu sederhana: ketika sudah dewasa, mereka akan ke Jakarta bersama. Mereka ingin melihat kota besar yang katanya tak pernah tidur.

Tapi hidup berjalan cepat. Saat Rayna ikut orang tuanya pindah, hubungan mereka terputus. Terakhir mereka bertemu di Praha, setelah itu... tidak pernah lagi.

Ia menggigit bibir. "Kamu gimana ya sekarang, Do?"

Tiba-tiba, suara notifikasi memecah kesunyian.

KRING!

Rayna menoleh cepat ke meja. Ponselnya menyala, menampilkan ikon pesan dari aplikasi yang bahkan jarang ia buka.

"TeleChat?" gumamnya heran. "Sejak kapan aku punya teman di TeleChat?"

Ia meraih ponsel, membuka layar. Ada satu pesan baru dari nomor tak dikenal.

["Rayi, kamu baik-baik aja kan di sana?"]

Rayna mengernyit. Tak ada foto profil. Tak ada nama. Hanya nomor asing dengan kode negara yang bahkan tidak ia kenal.

"Siapa, sih? Mungkin orang iseng," gumamnya, lalu meletakkan ponsel di tempat tidur.

Namun baru beberapa detik, suara notifikasi kembali terdengar.

KRING! KRING! KRING!

Kali ini berturut-turut. Pesan dari nomor yang sama.

["Rayi, ini bener kamu kan?"]

["Tolong jawab, Rayi."]

["Aku cuma pengen tahu kamu baik-baik aja."]

Rayna menatap layar. Ada sesuatu yang aneh. Nama panggilan itu, Rayi, bukan Rayna, cara menulisnya seperti seseorang yang benar-benar mengenalnya.

Tapi siapa?

Sebelum sempat berpikir, ponselnya bergetar keras.

DDZZTT... DDZZTT...

Panggilan masuk. Nomor yang sama.

Rayna menatap layar beberapa detik. Jantungnya berdegup cepat. Jari-jarinya sempat ragu sebelum akhirnya menekan tombol hijau.

"Halo?" suaranya pelan.

Hening.

Lalu suara itu terdengar.

"Raynaaa..."

Dunia seolah berhenti sesaat. Suara itu...

"Vando?" suaranya bergetar.

Di seberang sana, terdengar tawa kecil yang sangat familiar. "Rayiiiiii, aku kangen banget sama kamu."

Air mata langsung mengalir tanpa bisa ditahan. "Sumpah, ini kamu? Aku nggak nyangka banget bisa denger suara kamu lagi, Do..."

"Aku udah coba hubungin kamu terus di banyak platform, Instagram kamu, Facebook dan yang lainnya. Tapi nggak pernah ada jawaban. Aku sempat pikir kamu udah lupa."

"Maaf ya... aku ganti nomor waktu pindah ke sini. Dan lagi semua akun sosial media aku, aku udah nggak pegang lagi. Terus username kamu... aneh banget. Aku kira orang iseng."

Vando tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Kamu tuh ya... dari dulu masih aja kayak gitu. Nggak berubah."

Rayna ikut tertawa di sela air matanya. "Ya abis, aku beneran nggak nyangka kalau itu kamu. Kamu masih di Praha?"

"Iya. Tapi aku lagi rencana pindah kerja ke Jakarta tahun depan."

Rayna terdiam.

Dadanya bergetar hebat. "Serius?"

"Iya. Ingat nggak dulu waktu kita kecil, kita janji bakal ke Jakarta bareng dan melihat monas yang selalu kita lukis itu?"

Rayna menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota berkilau seperti bintang jatuh. "Aku ingat banget."

"Nah, aku pengen menepati itu. Sekalian nyari kamu."

Suasana hening sejenak. Hanya suara napas dari dua sisi sambungan.

"Dooo..." suara Rayna nyaris berbisik. "Aku kangen banget."

"Aku juga, Rayi." Suara itu terdengar lembut, dalam. "Setiap lewat taman dekat sungai, aku masih ingat kamu suka bawa sketchbook, terus gambar burung yang lewat."

Rayna tertawa kecil sambil menyeka air mata. "Kamu masih ingat aja."

"Gimana bisa lupa? Kamu gambar satu burung aja bisa dua jam. Aku sampai ngantuk di kursi taman."

Keduanya tertawa bersamaan. Untuk pertama kalinya sejak pindah, tawa Rayna terdengar tulus.

Mereka terus berbicara. Tentang pekerjaan, keluarga, dan hal-hal kecil yang dulu mereka lakukan. Rayna menceritakan betapa asingnya Jakarta, sementara Vando berbagi kisah tentang musim dingin yang sebentar lagi datang di Praha.

Tanpa sadar, waktu berjalan cepat. Lampu kamar kini hanya tersisa redup cahaya dari meja belajar.

"Udah malam banget," kata Vando. "Kamu harus istirahat. Besok pasti hari yang panjang."

Rayna mengangguk, meski tahu Vando tak bisa melihatnya. "Iya. Tapi... aku senang banget bisa dengar kamu lagi."

"Aku juga. Dan kali ini, aku nggak mau kehilangan kontak kamu lagi."

Rayna tersenyum. "Aku janji nggak bakal ganti nomor atau bahkan akun sosmed lagi."

"Deal."

Suara mereka sama-sama pelan, tapi sarat makna. Setelah itu, panggilan terputus. Layar ponsel kembali gelap.

Rayna memandang pantulan wajahnya di jendela. Matanya masih merah, tapi ada senyum kecil di bibirnya.

Jakarta di luar sana masih bising. Suara motor masih bersahutan. Tapi malam itu, entah kenapa, kota ini terasa sedikit lebih hangat. Sedikit lebih hidup.

Ia menatap langit yang perlahan kehilangan bintangnya.

"Selamat malam, Do," bisiknya pelan. "Terima kasih udah nemuin aku lagi hihi."

Dan untuk pertama kalinya sejak ia datang di Jakarta, Rayna tertidur dengan perasaan tenang.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

checangel_

checangel_

Wah, suka menggambar nih 😄

2025-10-13

1

🦋Rosseroo🦋

🦋Rosseroo🦋

kaya nama anaknya Raymond dan Alina 🤭

2025-11-10

2

@dadan_kusuma89

@dadan_kusuma89

Apakah kau lahir di Eropa, Rayna? Kau harus bisa mencintai tanah airmu, tumpah darahmu. Kita lahir dan besar di tanah ini! Apapun keadaannya, sampai mati harus tetap kita tanamkan cinta kepada Ibu Pertiwi.

2025-11-12

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 – Jakarta dan Suara Itu
2 BAB 2 - Rahasia dari Ruang Tamu
3 BAB 3 - Antara Aku, Cinta, dan Mama
4 BAB 4 - Rayna dan Vando: Awal dari Segalanya
5 BAB 5 - Rayi, Aku Suka Panggilan Itu!
6 BAB 6 - Mencoba Kuat
7 BAB 7 - Keputusan
8 BAB 8 - Hari Itu Tiba
9 BAB 9 - Perasaan Yang Sulit Di Jelaskan
10 BAB 10 - Ben!
11 BAB 11 - Bayangan Itu Datang
12 BAB 12 - Rasa Bersalah
13 BAB 13 - Bisikan di Tengah Malam
14 BAB 14 - Kecupan Pertama
15 BAB 15 - Rindu Itu
16 BAB 16 - Terbayang
17 BAB 17 - Gema Nama Ken
18 BAB 18 - Mentari di Balik Kabut
19 BAB 19 - Paruh Waktu?
20 BAB 20 - Kupu-Kupu
21 BAB 21 - Hadiah
22 BAB 22 - Ada Syaratnya!
23 BAB 23 - Mie Ayam
24 BAB 24 - Sepertinya Gue Gila!
25 BAB 25 - Mama Hebat!
26 BAB 26 - Dibalik Keusilan
27 BAB 27 - Peresmian yang Teringat
28 BAB 28 - Mau Sampai Kapan?
29 BAB 29 - Semangkuk Rasa
30 BAB 30 - Makan Bareng
31 BAB 31 - Selimut Untuk Ben!
32 BAB 32 - Senyum Rayna
33 BAB 33 - Posesif
34 BAB 34 - Asisten Rumah Tangga
35 BAB 35 - Sarapan dan Senyum
36 BAB 36 - Tangan Yang Tak Mau Lepas
37 BAB 37 - Cemburu
38 BAB 38 - Rasa Gugup
39 BAB 39 - Ulang Tahun Yang Buruk
40 BAB 40 - Apa Aku Terlambat?
41 BAB 41 - Kita Yang Hampir Jatuh
42 BAB 42 - Saat Semuanya Mulai Terjawab
43 BAB 43 - Bubur Rumah Sakit
44 BAB 44 - Sikap Yang Tak Biasa
45 BAB 45 - Rencana Liburan
46 BAB 46 - Di Ujung Pandangan
Episodes

Updated 46 Episodes

1
BAB 1 – Jakarta dan Suara Itu
2
BAB 2 - Rahasia dari Ruang Tamu
3
BAB 3 - Antara Aku, Cinta, dan Mama
4
BAB 4 - Rayna dan Vando: Awal dari Segalanya
5
BAB 5 - Rayi, Aku Suka Panggilan Itu!
6
BAB 6 - Mencoba Kuat
7
BAB 7 - Keputusan
8
BAB 8 - Hari Itu Tiba
9
BAB 9 - Perasaan Yang Sulit Di Jelaskan
10
BAB 10 - Ben!
11
BAB 11 - Bayangan Itu Datang
12
BAB 12 - Rasa Bersalah
13
BAB 13 - Bisikan di Tengah Malam
14
BAB 14 - Kecupan Pertama
15
BAB 15 - Rindu Itu
16
BAB 16 - Terbayang
17
BAB 17 - Gema Nama Ken
18
BAB 18 - Mentari di Balik Kabut
19
BAB 19 - Paruh Waktu?
20
BAB 20 - Kupu-Kupu
21
BAB 21 - Hadiah
22
BAB 22 - Ada Syaratnya!
23
BAB 23 - Mie Ayam
24
BAB 24 - Sepertinya Gue Gila!
25
BAB 25 - Mama Hebat!
26
BAB 26 - Dibalik Keusilan
27
BAB 27 - Peresmian yang Teringat
28
BAB 28 - Mau Sampai Kapan?
29
BAB 29 - Semangkuk Rasa
30
BAB 30 - Makan Bareng
31
BAB 31 - Selimut Untuk Ben!
32
BAB 32 - Senyum Rayna
33
BAB 33 - Posesif
34
BAB 34 - Asisten Rumah Tangga
35
BAB 35 - Sarapan dan Senyum
36
BAB 36 - Tangan Yang Tak Mau Lepas
37
BAB 37 - Cemburu
38
BAB 38 - Rasa Gugup
39
BAB 39 - Ulang Tahun Yang Buruk
40
BAB 40 - Apa Aku Terlambat?
41
BAB 41 - Kita Yang Hampir Jatuh
42
BAB 42 - Saat Semuanya Mulai Terjawab
43
BAB 43 - Bubur Rumah Sakit
44
BAB 44 - Sikap Yang Tak Biasa
45
BAB 45 - Rencana Liburan
46
BAB 46 - Di Ujung Pandangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!