Bab 3

Seina duduk dengan tenang, namun matanya tidak berhenti bergerak. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan, setiap pelayan yang lewat, dan betapa mewahnya fasilitas di rumah ini. Sambil menyuapi Saka, ia melirik Maudi yang ada di pangkuannya.

Maudi kecil tetap tenang, mata bulatnya yang jernih menatap ke arah lampu kristal yang menggantung di plafon. Seina mendengus dalam hati. "Nikmatilah pemandangan ini, Maudi. Karena di rumah ini, kau hanya akan menjadi bayangan bagi anakku, Eliza.'

Doni memperhatikan dari kejauhan, berdiri di balik pilar ruang tengah. Ia melihat betapa telatennya Seina mengurus kedua anaknya sambil bersedia membagi ASI-nya untuk Eliza. Sebuah pemikiran mulai muncul di kepala Doni, pemikiran yang memang sudah diharapkan oleh Seina sejak awal.

_____

Beberapa minggu telah berlalu sejak Seina dan anak-anaknya pindah ke paviliun belakang kediaman Daneswara. Doni, yang masih dalam duka yang mendalam, jarang mengunjungi paviliun. Apalagi kesibukannya yang benar-benar menyita waktu, Doni yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan Daneswara, membuat dirinya tidak ada waktu selain memikirkan kesehatan sang putri, bahkan Doni tidak pernah melihat wajah Maudi , dan Ia hanya memanggil Seina ke rumah utama jika Eliza, yang kini tumbuh menjadi bayi yang cengeng dan rewel, menolak susu formula.

Siang itu, Doni sedang pergi ke kantor. Seina memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap masuk ke rumah utama, dengan alasan ingin mengambil beberapa perlengkapan bayi yang tertinggal. Ia menggendong Maudi menggunakan kain jarik, sementara Saka sibuk bermain dengan mainan bekas di paviliun.

Saat melewati ruang keluarga yang megah, langkah Seina terhenti. Di atas perapian besar, tergantung sebuah foto pernikahan berukuran raksasa. Doni tersenyum lembut sementara wanita di sampingnya, Ambar, tersenyum sangat manis dan elegan.

Seina menatap foto Ambar dengan rasa iri yang membakar hati. "Harusnya aku yang ada di posisi itu, Ambar. Kalau saja dulu aku tidak egois meninggalkan Doni yang miskin" batinnya tajam.

"eh, tapi Doni juga miskin, hanya beruntung saja dia bisa menikahimu... Untung saja kamu mati, aku pasti akan akan mengganti posisimu " gumamnya tersenyum penuh arti.

Tiba-tiba, Maudi yang ada di gendongngannya menggeliat dan merintih pelan. Seina melepaskan gendongan dan mendudukkan Maudi di salah satu sofa mewah di ruang tamu.

Saat Seina menatap wajah Maudi, jantungnya serasa berhenti berdetak.

Mata bulat Maudi yang jernih, bentuk hidungnya yang bangir, bahkan lekukan bibir tipisnya saat sedang diam... semuanya sangat mirip dengan wajah Ambar di foto itu. Sangat identik. Seina menoleh ke foto, lalu kembali ke Maudi. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

"Tidak... ini tidak mungkin. Darah Ambar terlalu kuat di wajah anak ini,"' gumam Seina panik.

Ia membayangkan jika Bik Sum, perawat Eliza, atau bahkan Doni sendiri menyadari kemiripan ini. Kebohongannya akan terbongkar, dan ia akan diusir dari surga yang baru saja ia cicipi. Ia akan kembali melarat.

"Tidak akan kubiarkan! Kau tidak boleh mirip dengan wanita sialan itu!" bisik Seina tajam, matanya menyalang menatap Maudi yang polos.

Dengan panik, Seina berlari kembali ke paviliun, membiarkan Maudi sendirian di ruang tamu selama beberapa menit. Ia mencari tas kosmetiknya yang ia bawa dari kontrakan lamanya. Tangannya bergetar, ia mengambil sebuah botol fondasion cair dengan warna yang jauh lebih gelap dari kulit asli Maudi, dan yang paling mengerikan, fondasion itu sudah kedaluwarsa.

Seina kembali ke rumah utama dengan langkah terburu-buru. Ia mendekati Maudi yang mulai gelisah. Tanpa ragu, Seina menuangkan cairan kental berbau kimia itu ke tangannya dan mulai mengoleskannya secara kasar ke seluruh wajah Maudi.

"Ini demi kebaikan kita, Maudi. Jangan salahkan Mama," gumamnya, terus menggosok kulit bayi yang lembut itu agar warna kulitnya terlihat kusam dan tidak lagi putih cerah seperti kulit Ambar.

Saking kasarnya Seina menggosok, Maudi mulai menangis kesakitan. Kulitnya yang sensitif langsung bereaksi terhadap bahan kimia keras dan kedaluwarsa itu.

"Diam! Jangan menangis!" bentak Seina pelan, terus mengoleskan fondasion hingga menutupi setiap inci wajah Maudi, menjadikannya terlihat kusam, kotor, dan berbeda.

Maudi tetap menangis, namun seina yang kejam mencubit tangan Maudi , bukannya diam, Maudi yang belum tahu apa-apa malah menangis semakin kencang. Akhirnya dengan terpaksa,Seina menyusui Maudi di ruang tamu.

Setelah selesai, dan Maudi terdiam, Seina buru-buru menggendong Maudi kembali ke paviliun.

Keesokan harinya, rencana keji Seina membuahkan hasil yang lain. Kulit wajah Maudi yang terkena fondasion kedaluwarsa itu mengalami iritasi hebat. Timbul ruam merah, bruntusan, dan bahkan beberapa bagian terlihat melepuh halus. Wajah Maudi yang tadinya cantik dan mirip Ambar kini terlihat mengerikan, kusam, dan berpenyakit.

"Kenapa dengan wajah anak ini, Seina?" tanya Bik Sum saat melihat Seina menggendong Maudi di dapur belakang.

Seina memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Saya juga bingung, Bik. Mungkin karena susu saya tidak cocok untuk dia, atau dia alergi udara paviliun. Kulitnya memang sangat sensitif sejak lahir."

Bik Sum menatap Maudi dengan tatapan kasihan, namun di dalam hati, ia merasa aneh. Ia belum pernah melihat ruam alergi separah itu pada bayi sekecil Maudi. "Kasihan anak ini, sudah hidup susah, wajahnya pun hancur seperti ini," batin Bik Sum, tanpa menyadari bahwa itu adalah cara Seina untuk menyembunyikan kebenaran.

"Sebentar ya Seina, aku akan mengambilkan obat untuk putrimu " ucap bik sumi dengan langkah terburu-buru karena tidak tega melihat ruang yang sangat menyakitkan itu di wajah Maudi... ia berjalan menuju kamar Eliza yang dijaga oleh perawat..

"sus...boleh minta salep iritasi untuk bayi tidak, kasihan... Putri Seina wajahnya merah-merah..." ucap bik Sumi dengan pelan, karena melihat Eliza yang tertidur lelap di box bayinya.

" Ini ada banyak, daripada kadaluarsa tidak terpakai" balas perawat dengan memberikan tiga salep kepada bik Sumi.

Dengan langkah cepat Bik sumi kembali lagi ke dapur untuk memberikan salap tersebut pada Seina." ini Seina, kau bisa memakaikan salep ini pada wajah Maudi, kasihan itu sepertinya tidak nyaman " ucap bik Sumi dengan wajah meringis , kasihan melihat wajah Maudi yang memerah.

"Terimakasih bik sum, saya kembali ke paviliun dulu ya, kasihan juga saka sendirian disana" balas Seina dengan lembut.

"iya Seina, kau bisa kemari saat jam makan saja, tugasmu disini hanya menyusui Nona kecil, jadi tidak usah membantu pekerjaan rumah, di sini sudah ada banyak pelayan" ucap Bik sum dengan tegas namun lembut.

Seina berlalu pergi, meninggalkan bik Sum yang sibuk dengan pemikiran nya sendiri " kasian sekali, padahal kemarin wajahnya tidak apa-apa saat tidur, ".

Seina tersenyum penuh arti"sudah repot-repot membuat wajah Maudi jelek masa harus di obati"

Terpopuler

Comments

Uba Muhammad Al-varo

Uba Muhammad Al-varo

Seina gila karena ambisi,moga ini tidak lama kasihan sama anak bayinya Ambar

2026-05-06

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 bab 36
37 bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 bab 76
77 Bab 77
78 78
79 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 102
103 Bab 103
104 bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Tamat
Episodes

Updated 121 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
bab 36
37
bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
bab 76
77
Bab 77
78
78
79
79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
102
103
Bab 103
104
bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!