Fajar baru saja menyingsing, menyisakan semburat warna ungu dan jingga di langit Jakarta. Udara pagi itu terasa begitu bersih dan sejuk setelah diguyur hujan deras semalaman membersihkan sisa-sisa pertempuran tadi malam. Di halaman belakang Mansion Abrari yang luas, Faas tampak sedang melakukan rutinitas paginya pasca-sholat subuh. Dengan kaus olahraga tanpa lengan dan celana training, ia melakukan gerakan push-up dan pull-up di tiang besi taman dengan ritme yang stabil. Keringat tipis mulai membasahi tubuh tegapnya.
Namun, ketenangan pagi itu terusik oleh langkah kaki yang terdengar lambat dan ragu-ragu di atas rerumputan yang masih basah oleh embun.
Faas menurunkan tubuhnya dari tiang pembantu, meraih handuk kecil yang tersampir di kursi taman untuk menyeka keringatnya. Saat ia membalikkan badan, sepasang mata elangnya mendapati Husen berdiri beberapa meter di depannya.
Pria paruh baya itu tampak jauh lebih sepuh pagi ini. Mengenakan baju koko putih sederhana dan sarung, Husen berdiri dengan bahu yang agak membungkuk. Wajahnya yang biasa guratan ketegasan seorang kepala keluarga, kini digantikan oleh wajah kecanggungan dan rasa bersalah yang teramat dalam. Kedua tangannya bertautan di depan perut, meremas jemarinya sendiri, sebuah gestur pertahanan yang menunjukkan betapa tidak tenangnya jiwa Husen saat ini.
Atmosfer di antara ayah dan anak kandung nya itu mendadak menjadi sangat canggung. Keheningan merayap selama beberapa saat, hanya ditemani oleh suara cicit burung-burung pagi serta air mancur kolam ikan yang ada di taman.
Faas tidak membuka suara lebih dulu. Ia hanya berdiri tegap, menatap Husen dengan pandangan datar yang sulit dibaca, menunggu apa yang akan dilakukan oleh pria yang selama belasan tahun ini sering kali meremehkannya , menutup mata ,atas ketidakadilan yang ia terima.
Husen berdeham pelan, mencoba mengusir rasa sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia melangkah maju dua kali, memperkecil jarak, lalu mendongak menatap Faas.
"Faas..." panggil Huse…
THE SILENT SECTOR
Bab 110
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 152 Episodes
Comments
suti markonah
terima saja gavin yg penting rendah hati dan amanah dlm memimpin perusahaan..skrg kamu tahu kan orang yg sering kamu hina malah sangat padamu
2026-07-19
1
Sri Supriatin
bener2 Faas berhati mulia seperti ibunda Diana 👍👍🙏🙏 lanjut Thor n tks upnya 💪💪😍😍
2026-07-19
0