Glenca Lysandra, seorang gadis yang terkenal di desanya sebagai penakluk hutan yang tak seorang pun berani memasukinya. Dia lah satu-satunya gadis yang berhasil keluar masuk hutan dalam keadaan selamat, berbeda dengan beberapa orang desa lainnya.
Namun, apa jadinya ketika dia bertemu seorang pemimpin mafia, Ethan Frederick Denaro, di sebuah villa kosong yang terkenal angker di dalam hutan yang ia jelajahi. Pertemuan tak sengaja yang membawanya menyaksikan kekejaman dan transaksi gelap seorang Ethan, juga menjadi awal hidup rumit nya.
Ethan tidak pernah membiarkan saksi mata transaksi terlarang nya hidup. Tapi, Glenca adalah pengecualian. Membawanya ke Mansion dan dijadikan mainan, cukup menghibur dirinya yang penuh dengan keseriusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villa Tua Dalam Hutan
...𝐖𝐄𝐋𝐂𝐎𝐌𝐄 𝐓𝐎 ...
...𝐌𝐀𝐅𝐈𝐀 𝐃𝐀𝐍 𝐆𝐆𝐀𝐃𝐈𝐒 𝐃𝐄𝐒𝐀...
.... ...
.... ...
.... ...
Udara sore hari di musim gugur yang terasa sejuk dalam kehangatan menemani langkah Glenca memasuki hutan. Dia harus segera mencapai villa tua dalam hutan sebelum matahari benar-benar turun.
Kayu bakar dan beberapa sayuran dan buah yang ia dapatkan di hutan tertinggal di sana. Bukan ia lupa, tapi sengaja ia tinggalkan disana karena bolak-balik membawa beberapa bonggol kayu untuk ia tukarkan pada warga.
Hidup sebatang kara membuatnya terus berjuang untuk tetap bertahan hidup. Dan ia bersyukur bisa keluar masuk hutan tanpa rasa takut, dan tentunya masih bernyawa saat tiba di desa.
"Beruntung sekali tidak ada orang yang keluar masuk hutan. Jadi, aku bisa mendapatkan banyak kayu dan bahan makanan," gumam Glenca sambil berjalan.
"Syukurlah aku tidak percaya rumor-rumor itu. Hutan ini sangat sejuk dan banyak bahan makanan, dimana sisi menyeramkannya?" Glenca mendengus pelan. Ia lalu berbelok ke arah Villa dan sedikit berlari kecil agar cepat mencapai teras Villa.
Dor!!
Suara tembakan keras dari arah dalam Villa membuat Glenca terkejut. Tubuhnya menegang. Tangannya yang sudah meraih sebonggol kayu pun ia jauh kan. Matanya bergerak liar memperhatikan sekitar.
"Suara apa itu? Seperti... tembakan," ucapnya ragu. Selama ini dia tidak pernah mendengar suara itu di dalam hutan.
"Apakah yang dikatakan warga benar? Suara tembakan dan suara helikopter itu benar adanya di dalam hutan?"
"Tidak. Itu tidak mungkin." Glenca menggeleng pelan. Tidak mungkin yang ia dengar adalah suara-suara yang dimaksud warga.
Konon katanya, hutan itu dulunya pernah terjadi aksi tembak menembak antara beberapa anggota militer dan sekelompok anggota mafia. Tidak ada yang selamat dalam aksi itu.
Semuanya tewas dan dipercayai warga bahwa roh dari orang-orang itu bergentayangan. Makanya sering terdengar suara tembakan dan suara helikopter terutama ketika malam hari.
Glenca menarik nafasnya. Ia kembali meraih bonggol kayu dan sayuran yang ia bungkus dengan dedaunan. Tapi, belum sempat ia melangkah pergi, suara tembakan kembali terdengar. Kali ini disertai sebuah teriakkan.
Glenca terdiam. Sekarang, bukan lagi rasa takut yang mendominasi. Ia justru penasaran dengan suara tembakan dan teriakan yang terdengar sangat nyata itu.
"Aku harus memastikannya." Perlahan ia meletakkan kembali barang-barang nya, lalu berjalan mengendap menuju pintu yang tertutup.
Sejak awal ia menginjakkan kaki di hutan ini, inilah pertama kalinya ia menyentuh pintu villa tua itu. Dengan pelan ia mendorong pintu villa hingga terdengar deritan halus. Ia mendongak, memperhatikan seisi ruangan villa yang ternyata begitu luas.
"Tempat sebagus ini, kenapa ditinggalkan pemiliknya? Kalau saja—"
Dor!
Dor!
Dor!
Glenca membelalakkan mata ketika suara itu kembali terdengar. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong pintu lebih lebar dan melangkah masuk. Tatapannya tertuju pada lantai dua. Rasa penasarannya semakin menjadi saat suara tembakan itu lagi-lagi terdengar.
Melangkah cepat, Glenca menaiki tangga sedikit terburu. Ia yakin, ini bukanlah hantu. Semua ini adalah rekayasa manusia agar warga takut dan tidak berani ke hutan.
"Jika benar ulah manusia, aku akan memberitahu warga. Enak saja dia, menakut-nakuti warga. Hutan ini banyak sekali sumber daya nya. Dia pasti berniat menggunakan semuanya untuk—akkkhhh!!"
Ucapan Glenca langsung terhenti saat tubuh seorang pria terjatuh dari atas tangga. Darah melumuri tubuh pria itu sehingga mengotori setiap anak tangga.
Glenca yang spontan menepi di pembatas tangga pun gemetar. Wajahnya pucat pasi dan ia terlihat syok berat. Matanya menatap pria yang kini tergeletak di lantai bawah. Ia meneguk kasar ludahnya, lalu perlahan mendongak.
Deg!
Tubuh Glenca menegang. Di atas sana, seorang pria jangkung berwajah dingin dan memiliki sorot tajam sedang balas menatapnya. Kaos yang pria itu kenakan terdapat banyak noda darah.
Pria itu terlihat tenang, namun aura gelap mendominasi nya membuat Glenca ketakutan setengah mati. Apalagi saat mata Glenca tak sengaja melirik tangan pria itu. Terdapat sebuah pistol yang Glenca yakini alat yang sudah menghabisi nyawa pria yang tergeletak dibawah tangga.
Pria itu perlahan menuruni tangga. Tapi Glenca, dia seolah terpaku. Tubuh nya masih terdiam dan beru tersadar ketika pria itu hampir dekat. Dengan cepat ia berbalik arah dan lekas menuruni tangga.
Mayat pria yang tergeletak ia lewati begitu saja. Yang ada di pikiran nya saat ini adalah kabur dari orang itu secepat mungkin.
Dor!
Dor!
Dua tembakan menumbangkan dua lelaki yang baru saja memasuki pintu villa. Keduanya terjatuh tak bernyawa tepat di hadapan Glenca.
Semakin pucat sudah wajah gadis itu. Seluruh tubuhnya lemas menyaksikan dua timah panas menembus jantung dan juga otak kedua pria itu. Pria dibelakangnya begitu kejam. Ia harus segera melarikan diri.
Namun, baru saja ia melangkah, tangan kasar pria itu mencekal tangannya dan menariknya hingga membentur tubuh kekar itu.
"Kau tahanan ku sekarang!" Suaranya rendah, dingin, dan sangat menakutkan bagi Glenca.
"Tidak! Lepas—"
"Ethan!" Teriakan dari lantai atas memotong ucapan Glenca. Disana berdiri seorang pria yang tingginya hampir menyamai tinggi pria yang disapa Ethan di depannya ini.
"Kau urus semuanya!" Setelah mengatakan itu, Ethan kembali menyeret Glenca menuju salah satu kamar di lantai bawah villa tersebut.
Seringaian tipis menghiasi wajahnya usai mendorong masuk Glenca hingga gadis itu tersungkur ke lantai. Dia lalu menutup pintu dan menguncinya, lantas mendekati Glenca.
"A-Apa yang kau lakukan?" Suara Glenca bergetar, seiring dengan dirinya yang beringsut mundur, menjauh dari Ethan.
Ethan tak menjawab. Dia semakin mendekat hingga tubuh Glenca tak bisa bergerak mundur lagi sebab tertahan dinding.
Kekehan berat terdengar dari bibir Ethan. Ia berjongkok, lalu tangannya terulur menyentuh pipi mulus Glenca. Meski gadis itu berusaha menghindar, ia tetap melakukannya.
"Jangan sentuh!" Glenca menepis tangannya. Keberanian itu hanyalah tameng untuk menutupi kenyataan bahwa dirinya sangat takut.
Ethan tersenyum miring. Di cengkramnya kedua pipi Glenca, mendongakkan nya dan menariknya hingga wajah mereka menjadi lebih dekat.
"Jangan sentuh?" Ethan bertanya dengan smirk yang penuh ejekan. Dia lalu sedikit mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya berada tepat di dekat telinga Glenca.
"Kau milikku sekarang. Apapun yang mau ku lakukan padamu, itu hak ku..." bisik Ethan tenang, namun mampu membuat seluruh tubuh Glenca merinding.
"Aku bisa melakukan apapun, termasuk membunuhmu!" lanjutnya berbisik diikuti gigitan kecil yang ia selipkan di telinga Glenca.
Setelah itu, ia menjauhkan tubuhnya. Sialan! Harum aroma tubuh gadis itu membangkitkan sisi liarnya sebagai seorang pria.
Ethan berdiri, mendengus pelan dalam hati lalu berbalik meninggalkan Glenca.
Melihat kepergian Ethan pun membuat Glenca cukup merasa lega. Ia menyandarkan tubuhnya yang masih terasa lemah. Semua rentetan kejadian barusan membuatnya begitu syok. Sungguh tak ia sangka akan menyaksikan kejadian yang tidak berperikemanusiaan itu.
"Pria kejam! Bisa-bisanya dia menembak orang begitu saja. Apa dia tidak takut akan di penjara?"
"Kasihan sekali mereka. Tapi, lebih kasihan lagi aku. Aku tidak ada urusannya dengan mereka. Tidak tahu juga siapa mereka dan kenapa mereka berada di villa ini. Tapi, aku malah ditangkap."
"Bagaimana caranya aku melarikan diri dari tempat ini?"
Glenca menarik nafas panjang. Ia memperhatikan seisi ruangan itu, dan baru sadar bahwa ada jendela yang terhalang gorden usang berwarna maroon.
Setitik harapan untuk kabur pun Glenca genggam. Dengan cepat ia mendekati jendela dan menyibak gorden, memperlihatkan suasana luar yang sudah mulai gelap.
"Aku harus cepat sebelum hari semakin gelap," gumamnya sambil membuka jendela dengan pelan.
"Berhasil." Segera Glenca melompat dari jendela. Beruntung dia berada di lantai satu dan posisi jendela tidak tinggi. Dia bisa kabur dengan cepat tanpa harus takut melompat dari ketinggian.
Sementara di balkon yang berada di lantai dua, Ethan menyeringai tipis melihat Glenca yang tergesa-gesa berlari meninggalkan villa.
"Dia kabur. Kau tidak ingin menangkapnya lagi?" Lucas berseru dari arah belakang Ethan. Dia adalah sepupu sekaligus orang kepercayaan Ethan.
"Dia milikku."
Luca terdiam. Tidak ada hal lagi yang perlu ia katakan jika Ethan sudah mengucapkan dua kata itu. Gadis itu tidak akan terlepas dari Ethan.
glecha sabar yaa,mansion menunggu mu😂😂😂
pasti kangen banget tuh sama glencha🥰
katty masih aja sombong, padahal ethan udh cuek🤔
duh glencha udh ada yg deketiin aja nih, klo ethan tau pasti ambyar🤣🤣🤣
semangat thor, aku selalu menanti chapter selanjut nya😄😄😄😄