Indonesia
NovelToon NovelToon
Baru sadar dia adalah pujaan hati bos mafia setelah cerai

Baru sadar dia adalah pujaan hati bos mafia setelah cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / Ibu Pengganti / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Anak Kembar / Orang Disabilitas
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Lina Permata, yang selamat dari kebakaran lima tahun lalu, kembali ke Jakarta sebagai bos investasi, membawa anak kembar dan mencari anak sulungnya—anaknya dengan Arjuna Wijaya, pemimpin klan mafia Wijaya. Lima tahun yang lalu, dia terpaksa menerima tawaran Arjuna untuk melahirkan anak demi biaya operasi ibunya, tapi dianiaya oleh keluarga Sanjaya dan pacarnya. Arjuna, yang mencari Lina selama lima tahun, kini lumpuh dan membutuhkan penambah nasib. Lina mengambil kesempatan ini untuk menikahinya, membalas dendam, dan mendapatkan hak asuh anak. Di keluarga mafia Wijaya, dia menghadapi permusuhan dari orang-orang yang tidak suka dirinya, melindungi anaknya Rio dari bullying, dan menemukan konspirasi pembunuhan terhadap Arjuna. Antara dendam, cinta, dan kebersamaan keluarga, Lina berjuang untuk mengambil kembali semua yang menjadi haknya, sementara hubungan dia dengan Arjuna pun berubah perlahan-lahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Mobil hitam milik Grupo Investasi Permata meluncur mulus meninggalkan kawasan pusat bisnis Jakarta menuju daerah elite Menteng. Lina duduk di kursi belakang dengan wajah tenang, tetapi jemarinya mencengkeram tablet tipis yang baru saja diserahkan Cahyo.

Di layar itu tertera data yang membuat jantungnya bergetar.

Nama anak sulungnya.

Tanggal lahir.

Rumah sakit tempat ia dilahirkan secara prematur.

Dan—yang paling mengejutkan—alamat terakhir yang terlacak beberapa tahun lalu: Kediaman Keluarga Sanjaya.

Lina memejamkan mata sesaat.

Dahulu, malam ketika vila Gunung Putri terbakar, ia melahirkan dalam keadaan setengah sadar di klinik kecil dengan bantuan bidan tua yang dibayar tunai. Ia tidak hanya melahirkan satu bayi.

Empat.

Empat anak kembar.

Satu di antaranya tidak bertahan. Tubuh kecil itu bahkan belum sempat menangis sebelum napasnya berhenti.

Satu bayi—anak sulung—ia serahkan kepada ayahnya, Budi Sanjaya, sesuai kesepakatan pahit yang dibuat sebelum ia menghilang. Saat itu ia percaya, meski ayahnya dingin, darah tetaplah darah.

Dua bayi lain—Reno dan Raka—ia bawa pergi, menyembunyikan keberadaan mereka bahkan dari Arjuna Wijaya.

Kini, fakta bahwa anak sulungnya pernah berada di rumah Sanjaya membuat dadanya terasa sesak.

“Bu Lina, kita sudah sampai,” suara sopir memecah lamunannya.

Gerbang besar berwarna hitam berdiri kokoh di depan rumah megah keluarga Sanjaya. Dulu, rumah ini hanya bangunan dua lantai sederhana peninggalan kakeknya. Kini berubah menjadi mansion bergaya Eropa dengan taman luas dan air mancur di tengah halaman.

Grupo Dinoyo benar-benar telah jatuh ke tangan keluarga Sanjaya.

Dan Budi—ayah yang pernah mengatakan ia tidak peduli pada hidup mati anaknya—kini menjadi taipan yang dielu-elukan media bisnis.

Lina keluar dari mobil dengan langkah mantap.

Dua penjaga berseragam berdiri di depan gerbang.

“Siapa Anda?” tanya salah satunya dengan nada dingin.

“Sampaikan pada Tuan Budi Sanjaya bahwa Lina Permata ingin bertemu,” jawabnya singkat.

Nama itu membuat kedua penjaga saling pandang.

“Lina Permata?” salah satu dari mereka mencibir. “Nama itu sudah lama tidak terdengar.”

“Maaf, tanpa janji temu, Anda tidak bisa masuk.”

Lina tersenyum tipis. “Katakan saja pada Ratna bahwa aku datang. Dia pasti ingin bertemu.”

Penjaga kedua menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, seolah menilai. “Bu Ratna tidak menerima tamu sembarangan.”

“Dan Anda pikir saya tamu sembarangan?” balas Lina, suaranya berubah tajam.

Penjaga pertama tertawa kecil. “Kalau memang keluarga, kenapa tidak lewat pintu belakang saja?”

Hinaan itu terdengar jelas.

Lina menarik napas panjang.

Ia sudah bersiap menghadapi banyak kemungkinan hari ini—air mata, amarah, mungkin bahkan ancaman. Tetapi bukan penghinaan dari dua orang yang bahkan tidak mengenalnya.

“Terakhir kali saya tanya,” katanya pelan, “buka gerbang.”

“Tidak.”

Penjaga pertama mengulurkan tangan untuk mendorong bahunya.

Gerakan itu kesalahan besar.

Dalam sekejap, Lina memutar tubuhnya, menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu menekan titik saraf di lengan bawahnya. Terdengar suara teriakan tertahan ketika pria itu terjatuh berlutut.

Penjaga kedua mencoba menyerang dari samping. Lina menghindar, menendang bagian belakang lututnya, membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia memutar tubuh dan menghantamkan siku ke dadanya.

Semua berlangsung kurang dari satu menit.

Kedua penjaga terkapar di tanah, tidak pingsan, tetapi jelas tak mampu berdiri.

Lina merapikan jasnya. “Belajar dulu sebelum menghalangi orang yang tidak bisa kalian sakiti.”

Ia menekan tombol interkom sendiri dan membuka gerbang dari dalam.

Langkahnya memasuki halaman rumah terasa seperti memasuki masa lalu yang penuh racun.

Di ruang tamu besar yang dipenuhi lukisan mahal dan furnitur impor, suasana tampak tegang.

Maya berdiri di dekat sofa dengan wajah pucat, air mata membasahi pipinya. Ia tidak lagi terlihat seperti sepupu manis yang dulu sering menempel pada Lina. Kini ia mengenakan gaun mewah, rambutnya ditata elegan—Maya Sanjaya, pewaris baru keluarga itu.

“Aku tidak mau!” teriaknya sambil menepis tangan Ratna, ibu tirinya.

“Kau tidak punya pilihan,” balas Ratna tegas. “Ini demi keluarga.”

“Menjadi penambah nasib untuk Arjuna Wijaya?” Maya tertawa getir. “Dia lumpuh! Semua orang tahu dia lumpuh setelah kecelakaan itu!”

Ratna menampar meja dengan keras. “Dia tetap pemimpin klan Wijaya! Kau pikir keluarga mafia itu akan membiarkan kita menolak?”

Nama itu membuat Lina yang baru saja melangkah masuk terdiam di ambang pintu.

Arjuna lumpuh?

Informasi itu tidak pernah sampai padanya.

Ratna menoleh dan terkejut melihat Lina berdiri di sana.

“Ka-kamu?” suaranya tercekat.

Maya membeku, wajahnya seolah melihat hantu.

“Mustahil…” bisiknya.

Lina melangkah masuk perlahan. “Lama tidak bertemu.”

Ratna segera mengubah ekspresinya menjadi dingin. “Kau masih berani kembali ke sini?”

“Ini rumah kakekku,” jawab Lina tenang. “Aku punya hak yang sama.”

Maya mundur selangkah, matanya penuh ketakutan dan kebencian. “Kau belum mati…”

“Kecewa?” Lina tersenyum tipis.

Ratna segera berdiri di depan Maya, seperti melindunginya. “Apa maumu?”

“Aku datang untuk anakku.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ratna memicingkan mata. “Anakmu?”

“Anak sulung yang kuserahkan pada ayahku lima tahun lalu.”

Ratna tertawa sinis. “Ah, bayi itu.”

Jantung Lina berdegup keras.

“Di mana dia?” tanyanya.

Ratna melipat tangan di dada. “Sudah bukan urusanmu.”

“Aku ibunya.”

“Dan kau juga yang menghilang!” balas Ratna tajam. “Budi yang membesarkannya.”

“Di mana dia sekarang?” suara Lina mulai bergetar, tetapi ia menahannya.

Ratna dan Maya saling pandang sejenak.

Akhirnya Ratna berkata, “Anak itu sudah tidak di sini.”

“Apa maksudmu?”

“Beberapa bulan lalu, keluarga Wijaya menghubungi kami,” kata Ratna perlahan. “Mereka mencari anak dengan tanggal lahir tertentu.”

Lina membeku.

Ratna melanjutkan, “Tanggal lahir yang kukirimkan ke keluarga Wijaya… adalah milikmu.”

Maya menatap Ratna terkejut. “Ibu!”

Ratna mengabaikannya. “Arjuna Wijaya membutuhkan pewaris yang sah. Setelah kecelakaan itu, dia lumpuh dan tidak bisa lagi memiliki keturunan.”

Lina merasa dunia kembali berguncang.

“Kau menjual anakku?” suaranya serak.

Ratna tersenyum tipis. “Jangan dramatis. Itu kesepakatan bisnis.”

Maya berteriak, “Seharusnya aku yang dikirim! Tapi mereka menolak! Mereka bilang tanggal lahirku tidak cocok!”

Lina menatap sepupunya dengan mata dingin. “Jadi sekarang kau menangis karena tidak bisa menjadi penambah nasib mafia?”

Maya menggigit bibirnya, wajahnya merah oleh malu dan marah.

Ratna mendekat, suaranya rendah namun penuh ancaman. “Anak itu sekarang berada di bawah perlindungan keluarga Wijaya. Dan kau tidak akan bisa menyentuhnya.”

Lina terdiam.

Arjuna.

Anak sulungnya.

Dan fakta bahwa pria itu kini lumpuh.

Permainan ini jauh lebih rumit dari yang ia duga.

Namun satu hal pasti.

“Siapa pun yang berani menyentuh anakku,” katanya pelan namun mematikan, “akan menyesal.”

Tatapannya membuat Ratna tanpa sadar mundur setengah langkah.

Lina berbalik, berjalan menuju pintu.

1
Kana Star
👍👍👍👍👍👍👍
Merah Delima
👍👍👍👍👍👍
Someone
🤣🤣
einsamkeit
mampir di cerita aku dong kakak, terima kasih
Pertamini
baik bgus cerita y
Nina Melliana
ktnya ibu kandung lina permata sdh mati, kok ini ada lg ibu kandungnya, terus ada ibu lina ada lina permata, namanya jangan sama, carinama lain, dan ceritanya menggantung thor?
Intan Ummu Sholeha
/Drool/
MelodyStar
lanjut😭😭
Manda Aldo
lanjut thor
Dwi Gusti Warti
kapan nih lanjutannya
secret
suka cerita nya, bikin lanjutan nya thor🫶
Nuta Ines
sangat bagus.sy suka
😝
Gajadi lanjutin bacalah, klo cerita di dalam negeri rasanya ga hot apalagi gunung putri kec. Tempat tinggal gw lagi 🤔
Anisaati Gea
sangat menarik
Noorhasanah “Sanah”
ceritanya bagus tp lanjutan ceritanya kapan bs dibaca
Rita Widiawati
belum selesai/tamat
Faiza
selalu begitu
Faiza
Dia menjual diri kah?
Lisa
Aku mampir Kak
Fitria Nur c
bagus ,g berbelit, wanita ya kuat,
kaya yg jadi mafia wanita ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!