Safira, wanita yang sudah menjadi istri orang ternyata jatuh cinta pada teman kerjanya Eka. Mungkin karena terbiasa bersama cinta itu tumbuh tanpa dia sadari. Sebenarnya Eka pun memiliki rasa yang sama tetapi Eka memilih diam dan memendam semua rasa yang ada.
Suatu hari suami Safira mengalami kecelakaan dan meninggal. Di saat Safira terpuruk Eka yang selalu berada di sampingnya. Tetapi sejak kepergian orang yang dicintainya, Safira memilih menutup hati untuk siapa pun termasuk Eka.
Saat Safira mulai bisa menerima keadaan. Hadir sosok Rio, lelaki yang sama sama kehilangan orang yang sangat dicintai. Siapa yang akan Safira pilih?? Eka yang selama ini mendampinginya atau Rio yang baru hadir dalam hidupnya
NB: Sebagian cerita ini diambil dari kisah nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ivana Indrawijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 11
Hari itu aku berangkat dengan penampilan lusuh dan mata yang bengkak karena terlalu sering menangis. Saat sedang melayani warga tiba tiba kepalaku pusing dan pandanganku gelap. Saat sadar aku sudah berada di rumah sakit dan sedang diinfus. Kata dokter aku kelelahan dan syok.
Eka yang entah darimana masuk ke dalam kamar. Eka mengatakan sudah menghubungi Ibu ku dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku pun duduk dan meraih segelas teh manis yang disediakan oleh rumah sakit. Eka langsung menghampiri dan mengambilkan gelas tersebut serta membantu meminumkan.
Eka menawariku makan tapi aku tolak karena aku sedang tidak ingin makan atau pun minum. Sejak kepergian suamiku, aku tidak nafsu makan. Makanku tidak teratur bahkan pernah seharian aku tidak makan dan minum. Seminggu saja badanku sudah kelihatan kurus dan sayu.
Aku mencari Hpku, Eka yang melihat segera memberikan Hpku. Banyak sekali WA dr teman teman perangkat yang mendoakan semoga aku baik baik saja dan cepat pulih. Aku membalas satu per satu.
Eka menatapku lama sekali. Aku yang merasa ditatap pun mendongak dari layar HP.
"Mas kenapa si ngliatin terus?aku aneh ya"
Bukannya menjawab, Eka mendekat dan mengusap kepalaku. Aku hanya terdiam. Eka mengatakan kalau memang keadaan ku belum membaik lebih baik istirahat di rumah. Tapi aku menjawab jika aku di rumah terus yang ada aku kepikiran almarhum suamiku terus menerus.
Aku tidak ingin menangis lagi tapi tanpa bisa aku tahan air mataku sudah menetes. Tiba-tiba Eka menarik ku ke dalam pelukannya dan menepuk punggungku perlahan. Kami berdua sama sama terdiam dan tetap seperti itu untuk waktu yang cukup lama. Sampai pintu kamarku terbuka dan ibu ku masuk.
Aku yang berada di pelukan Eka pun segera menarik diri sedangkan Eka seperti salah tingkah di depan ibu ku. Ibu ku hanya tersenyum melihat kami berdua. Eka berpamitan pulang karena melihat ibu ku sudah datang. Eka menawarkan diri untuk berjaga malam menemani ku agar ibu ku bisa beristirahat di rumah. Tapi aku tolak dan mengatakan aku baik baik saja sendiri, bila membutuhkan bantuan aku bisa memanggil perawat melalui alat pemanggil.
Malamnya Eka datang kembali dan ibu ku pulang. Kami terdiam untuk waktu yang cukup lama. Kemudian Eka mulai mengajakku mengobrol tentang masa masa kami melakukan kegiatan berlima. Eka mengingatkan ku dengan kejadian Mba Ipeh dan dia yang sedang ribut. Aku pun tertawa mengingat kejadian itu. Kami mengobrol kesana kemari sampai tidak sadar aku tertidur. Eka pun memilih tidur di sofa berhadapan dengan ranjang ku.
Esok paginya sebelum Eka pulang karena harus berangkat kerja, dia menyuapi ku terlebih dahulu. Aku yang masih enggan makan mau tak mau makan sedikit demi sedikit. Sesudah selesai menyuapiku Eka pamit pulang.
Ibu ku datang begitu Eka keluar dari kamarku. Ibu ku berkata kalau Eka terlihat sangat menyayangiku. Aku menyanggah perkataan ibu dengan menjawab bahwa Eka menganggap ku seperti adiknya sendiri karena anak terakhir. Dia sempat bercerita kepadaku kalau dia ingin punya adik perempuan.
Ibu ku hanya tersenyum dan mengatakan setuju kalau suatu saat aku dengan Eka. Aku pun hanya terdiam. Aku masih trauma karena kehilangan suamiku. Mungkin sementara ini aku ingin menutup hatiku untuk laki laki mana pun.
Salam dari :
- Janji Palsu Tuan Muda -