Hidup Alma yang awalnya baik-baik saja menjadi berantakan saat sang kekasih, Bara. Memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Alma yang saat itu terlalu cinta pada Bara. Memohon agar Bara tak memutuskan hubungan mereka. Alma memohon dan terus memohon hingga sebuah rahasia terkuak. Rahasia yang selama ini disimpan rapi oleh Bara dan juga keluarganya.
Rahasia apakah itu? Bagaimana rahasia itu bisa terbongkar? Apakah Alma akan bisa menerima kenyataan itu? Bagaimana pula cara Alma mengatasi patah hatinya? Ikuti kisah selengkapnya di 'Selepas Kau Pergi'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anggita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Kemarahan Alma
"Jadi cewek yang tahu diri dikit dong!" sentak sebuah suara.
Alma yang terkejut hanya bisa diam. Seluruh tubuhnya basah karena guyuran air. Alma menatap orang yang mengguyur dirinya dengan seember air.
"Jadi cewek yang punya malu dikit. Udah tahu Garland itu pacarnya Dania. Eh kamu malah main serobot aja," ucap seorang wanita paruh baya.
Alma tak menanggapi ucapan wanita yang masih terhitung keluarganya itu. Dia berusaha mengelap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kalau nggak mampu cari pacar, jangan merebut pacar orang dong," sentak wanita itu lagi.
Alma masih tak menanggapi ucapan wanita itu. Dia masih berusaha untuk menahan emosi yang bersarang dalam dadanya.
"Mana mungkin dia punya malu Bu. Ibunya aja pelakor. Pastinya dia juga pelakor. Perebut laki orang," ejek Dania.
Mendengar sang ibu dijelek-jelekkan oleh Dania, Alma menatap wajah gadis itu dengan nyalang. Matanya menyiratkan amarah yang amat besar kala ada yang menjelek-jelekkan sang Ibu.
"Ngomong apa lo barusan? Coba ulangi sekali lagi!" ucap Alma.
"Kalau ibunya pelakor, anaknya juga pasti pelakor juga. Mana mungkin pelakor punya urat malu," kata Dania.
Wajah Alma merah padam mendengarnya. Dia mendekat ke arah Dania dan menghadiahi gadis itu dengan tamparan yang cukup keras di pipi kirinya.
Melihat sang anak ditampar oleh Alma, perempuan itu menjerit histeris.
"Elo boleh benci sama gue. Tapi jangan pernah jelek-jelekin nyokap gue," ucap Alma. Kemudian Alma berbalik dan berjalan menuju pintu rumahnya.
Dania memegangi pipinya yang panas karena tamparan keras Alma. Gadis itu tak terima Alma menampar wajahnya.
"Dasar anak pelakor. Enggak ada sopan santunnya sama sekali," ucap Dania.
"Dasar anak pelakor. Sikapnya nggak jauh beda dengan ibunya. Bar bar dan kasar," imbuh ibu Dania.
Alma menghentikan langkahnya. Dia berbalik kembali dan menghampiri keduanya. Tanpa banyak bicara, Alma melayangkan tamparan di pipi kanan Dania dan di pipi kiri ibunya Dania.
"Sekali lagi kalian bilang nyokap gue pelakor, gue robek mulut kalian!" ancamnya.
Mendengar keributan di depan rumahnya, Pak Handi dan Bu Tiwi keluar dari dalam rumah.
"Ada apa ini?" tanya Pak Handi.
"Tanya aja sama dua orang nggak tahu sopan santun itu." Ucap Alma sembari menunjuk tepat ke arah bibi dan sepupunya itu.
"Dasar nggak punya sopan santun. Gini-gini aku masih bibimu. Dasar anak pelakor nggak tahu diri," pekik wanita paruh baya itu.
Mendengar itu, Alma kembali menjadi berang. Dia berbalik dan akan menyerang bibinya itu. Tapi dengan cepat Bu Tiwi mencegahnya.
"Lepasin! Biar gue robek mulut kurang ajar itu," ucap Alma marah.
"Udah Nak. Sabar. Tahan emosi kamu!"
Pak Handi memberi isyarat lewat pandangan mata. Bu Tiwi mengerti kode itu. Wanita itu kemudian segera membawa Alma masuk ke dalam rumah.
Awalnya Alam berontak. Hingga membuat Bu Tiwi kewalahan. Tapi akhirnya Alma bisa juga dibawa masuk ke dalam rumah.
"Keringkan dulu badan dan rambut kamu. Setelah itu ganti bajunya ya." Ucap Bu Tiwi seraya memberikan selembar handuk pada Alma.
Alma menerima handuk itu tanpa bicara sepatah katapun. Dia masih merasa marah karena perkataan Dania dan juga ibunya tadi. Dalam hati, Alma berniat untuk membalas dendam pada Dania dan juga ibunya.
"Besok Ayah mau bicara sama Garland. Suruh dia ke sini besok pagi," ucap Pak Handi.
...****************...
Hari berganti hari. Tak terasa sudah masuk waktu akhir bulan. Itu artinya saatnya untuk meeting bulanan bersama dengan para petinggi kantor.
Garland memimpin jalannya meeting hari ini. Pertama-tama dia mengucapkan terimakasih pada semua SPG dan juga para Canvaser yang telah bekerja keras selama sebulan ini.
Garland kemudian membacakan hasil penjualan para SPG yang berada dibawah naungannya.
"Wah Mas Andi keren nih. Penjualannya naik nih bulan ini," ucap Garland saat melihat catatan penjualan Andi.
Andi tersenyum. Dia menatap Destyan yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Pertahanin Mas. Kalau bisa ditingkatkan lagi. Biar dapat banyak bonusnya," ucap Garland lagi.
Andi sedikit menundukkan kepalanya. Kemudian, Garland kembali membacakan catatan penjualan SPG yang lain. Saat tiba giliran Alma, raut wajah Garland berubah masam.
"Tumben banget Al. Bulan lalu penjualan kamu tembus 150%. Kenapa sekarang turun drastis?" tanya Garland.
"Kamu ada kendala apa di lapangan? Atau kamu lagi ada masalah sehingga mempengaruhi kinerja kamu di lapangan?" tanya Garland lagi.
"Tunggu... tunggu! Maksudnya apa nih turun drastis? Selama ini aku selalu dapat jualan lho. Enggak pernah nggak dapat jualan. Dan setiap hari aku juga langsung setoran ke Kak Bella," ucapnya membela diri.
"Buktinya ini penjualan kamu bulan ini nggak sampai 50% lho Al! Kamu ada masalah?"
"Enggak sampai 50% gimana? Aku tiap hari juga ngerekap hasil jualan aku kali Land. Dan hasilnya bulan ini aku dapat hampir 160%. Lebih banyak dari bulan lalu," ucap Alma. Dia lantas membuka buku catatan hasil penjualan hariannya.
Garland melihat catatan itu dan mencocokkannya dengan data yang ada di kantor.
"Tapi ini buktinya penjualan kamu nggak sampai 50%. Masa iya sih Bella bohong sola ginian?" ujar Garland dengan suara agak meninggi.
Alma membelalak tak percaya. Sedangkan Bella, hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah Garland.
Di sudut lain ruangan itu, Dania tersenyum penuh kemenangan. Rencananya berhasil. Dia berhasil memanipulasi data penjualan bulan ini.
"Mampus lo! Makanya jangan main-main sama Dania," ucapnya dalam hati.
"Aku selama ini selalu jualan Land. Kalau booth lagi sepi aku selalu keliling nyamperin calon customer. Aku nggak berdiam diri aja," ucap Alma.
"Iya. Tapi buktinya mana? Penjualan kamu jeblok banget. Bahkan penjualan kamu kalah dari Dania. Dia yang jarang ikut event aja bisa 100% jualannya. Sedangkan kamu apa? Mana?"
Dania tersipu malu saat Garland memuji dirinya di depan semua karyawan. Sedangkan Alma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak bisa percaya bahwa kekasihnya justru percaya pada sebuah kertas yang bisa saja telah dimanipulasi daripada dirinya.
"Oke. Meeting kali ini kita tutup. Terimakasih untuk kalian yang udah berjuang sampai akhir bulan ini. Dan semoga bulan depan kalian lebih hebat lagi. Sukses semuanya dan selamat bekerja," ucap Garland menutup meeting pagi ini.
Alma membereskan tasnya dan segera keluar ruangan tanpa menoleh ke belakang. Dania yang melihat itu semakin tersenyum puas. Dirinya telah berhasil mempermalukan Alma di depan semua orang yang selama ini memuji dirinya. Termasuk Garland.
Dania berjalan perlahan mendekati Garland. Dia tersenyum manis pada pemuda yang selama ini selalu bersikap dingin padanya.
"Makasih ya!" ucap Garland.
"Gue harap bulan depan penjualan lo lebih bagus lagi. Terus tingkatkan penjualan kamu ya," lanjutnya.
"Pasti. Ini semua juga berkat elo. Gue jadi semangat jualan karena ada elo di sini," jawabnya.
Garland tersenyum membalas ucapan Dania. Melihat senyuman Garland, Dania seolah melayang tinggi ke awan. Hatinya berbunga-bunga saat melihat senyuman manis itu.
Sementara itu, Alma dan kawan-kawannya sedang berada di kantin. Mereka tampak menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Gue nggak nyangka si Dania bisa jualan sebanyak itu," ucap Andi.
"Padahal dia itu nggak pernah sekalipun gue lihat jualan. Saat ikut event pun dia lebih banyak diam daripada jualan," lanjutnya.
"Betul itu. Gue jadi curiga, jangan-jangan ada yang memanipulasi data penjualan lagi!" sahut Mia.
"Yups! Gue sependapat sama elo Mi. Gue juga mikir gitu. Di sosmed juga Dania nggak pernah posting tentang jualan," timpal Destyan.
"Menurut lo gimana Al?" tanya Destyan.
Alma menghela napas panjang. "Gue nggak tahu. Gue kecewa aja pas tadi dengan kasarnya Garland bentak gue di depan semua orang. Gue tahu dia mau bersikap profesional. Tapi... ah udahlah malas gue bahas dia," ucap Alma sama sekali nggak nyambung.
Mia menepuk pelan bahu sahabatnya itu. "Elo boleh marah. Elo boleh kecewa. Tapi elo harus bangkit. Elo tunjukkin tuh sama Garland kalau emang elo bisa mencapai target."
Alma menatap Mia dan tersenyum. "Makasih ya kalian udah percaya sama gue," ucapnya.
"Sama-sama Al. Karena yang tahu elo di lapangan kan kita-kita ini. Bukan Garland atau Pak Dhika," ucap Andi.
Alma tersenyum. Dia bersyukur teman-temannya masih mempercayai dirinya. Saat tengah asik mengobrol tiba-tiba....
"Permisi, boleh gabung?"
, bantu dukung novel ku juga ya kak ?
Terimakasihh …