Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahirnya Pahlawan Terkuat

Lahirnya Pahlawan Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Perperangan / Sistem / Kelahiran kembali menjadi kuat / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hapand

"Lahirnya Pahlawan Terkuat"
Ari Saat diserang begal, nyawanya melayang lalu ia terbangun sebagai bayi bangsawan di dunia lain. Kini bernama Esadior de Godwin, ia mewarisi darah pahlawan legendaris Serigala Putih, pedang bersejarah, dan kebenaran yang disembunyikan oleh kerajaan.

Dior berlatih, bersekolah di Akademi Breton, menemukan Lunaedge Pedang Bulan dan membuka satu per satu gerbang warisan yang memberi kekuatan luar biasa… sekaligus mengundang kegelapan. Di satu sisi ada Tobias, pengawal setia di sisi lain ada Nancy, gadis penyihir yang menjadi sekutu dan perasaan baru yang menguji hatinya. Di balik itu semua, organisasi bayangan dan kekaisaran yang haus kuasa mengincar rahasia keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hapand, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LPT 11 - BAYANGAN MASA LALU

Cahaya putih itu perlahan memudar. Saat Dior membuka matanya, ia tidak lagi berdiri di padang salju, melainkan di ruangan bawah tanah yang sama, di depan patung serigala batu. Nafasnya berat, seolah baru menempuh perjalanan jauh, dan tubuhnya terasa ringan namun kosong di bagian dada.

“Ardyn De Godwin…” bisiknya pelan. Nama itu masih terngiang di telinganya. Ia memandang ke arah kristal putih yang kini redup, lalu menyentuhnya perlahan. Dingin. Tidak ada lagi suara.

Dior menatap patung serigala itu lama, mencoba memahami arti pertemuannya barusan. Sosok yang muncul dalam cahaya tadi rambut hitam, mata tajam, dan sorot penuh kebijaksanaan—itu bukan sekadar penglihatan. Ia tahu, itu nyata.

Mungkin… bagian dari dirinya yang lama.

Dior menggenggam pedang di pinggangnya dan berkata pelan, “Jika benar aku mewarisi darahmu, maka aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.”

Ia berjalan keluar dari lorong bawah tanah, langkahnya bergema lembut di antara dinding batu. Begitu keluar ke udara malam, langit sudah gelap penuh bintang. Dior memejamkan mata sejenak, membiarkan udara malam yang dingin menyentuh wajahnya.

“Jadi ini… awal semuanya,” gumamnya.

 

Keesokan harinya, suasana akademi terasa tenang seperti biasa. Para siswa sibuk dengan pelajaran pagi, sebagian berlatih, sebagian lagi berkerumun di taman tengah. Tidak ada yang tahu bahwa semalam, seorang siswa telah membuka rahasia kuno di bawah perpustakaan.

Dior duduk di kelas, menatap keluar jendela. Suara profesor terdengar samar di telinganya, tapi pikirannya melayang ke pertemuan semalam. Kata-kata Ardyn masih terpatri di pikirannya:

"Warisan Serigala Putih menunggumu, pewaris darah De Godwin."

Ia memegang pena di tangannya tapi tak menulis apa-apa.

“Tuan De Godwin,” suara lembut membuatnya sadar. Lyra, teman sekelasnya, menatap dengan sedikit khawatir. “Kau melamun lagi. Ada yang mengganggu pikiranmu?”

Dior tersenyum tipis. “Tidak… hanya memikirkan sesuatu.”

Lyra mengangguk pelan, meski ia tahu Dior tidak sepenuhnya jujur. Ia sudah belajar bahwa Dior sering menyimpan sesuatu sendiri.

 

Selepas kelas, Dior berjalan ke lapangan latihan. Ia ingin menguji sesuatu. Di bawah bayangan menara akademi, ia mencabut pedangnya dan menarik napas dalam-dalam. Dalam hati, ia memanggil nama yang semalam terdengar di pikirannya Wolf Soul.

Pecahan ingatan dari leluhur ku ini sangat luar biasa.

Cahaya keperakan tipis menyelimuti tubuhnya. Kali ini berbeda, lebih stabil, seperti energi itu mengenali pemiliknya. Dior merasakan setiap denyutnya, setiap tarikan napas seirama dengan energi yang mengalir di dalam darahnya.

“Jadi ini… yang dimaksud Ardyn,” ucapnya perlahan. “Bukan sekadar kekuatan, tapi bagian dari jiwaku sendiri.”

Ia berlatih beberapa gerakan. Udara di sekitarnya bergetar lembut setiap kali pedangnya diayunkan. Tidak ada ledakan, tidak ada kekuatan liar seperti sebelumnya hanya kesempurnaan yang tenang.

Namun tak lama kemudian, suara langkah menghentikan latihannya.

“Latihan yang menarik.”

Dior menoleh. Di sana berdiri Rivel Vernhart, memandangi Dior dengan ekspresi sulit dibaca.

“Sepertinya kau tidak berhenti berlatih sejak duel itu,” kata Rivel dengan nada datar.

“Aku hanya ingin memahami pedangku lebih dalam,” jawab Dior tenang.

Rivel berjalan mendekat, menatap pedang Dior. “Energi yang keluar darimu bukan aura biasa. Dari mana kau mempelajarinya?”

Dior menatapnya sejenak. “Kau terlalu ingin tahu, Rivel.”

Rivel tersenyum tipis. “Mungkin saja. Tapi aku hanya ingin tahu lawan ku yang sebenarnya.” Ia berbalik, berjalan pergi tanpa menoleh lagi. “Ujian seleksi antar kelas sudah diumumkan. Aku harap kau siap aku akan memperlihatkan hasil latihan ku setelah kalah dari mu tiga kali tunggu saja dan lihat, De Godwin.”

Dior menghela napas panjang. “Jadi waktu itu sudah tiba.”

 

Malamnya, Dior duduk di balkon asrama. Tobias datang membawa teh hangat. Udara malam membawa aroma bunga dari taman akademi.

“Tuan muda,” kata Tobias sambil menuang teh, “saya mendengar kabar ujian besar akan diadakan dalam waktu dekat.”

“Ya,” jawab Dior tanpa menoleh. “Dan aku rasa bukan hanya sekadar ujian biasa.”

Tobias menatapnya, wajahnya serius. “Apakah ini tentang orang-orang kekaisaran yang anda lihat beberapa hari lalu?”

“Benar,” kata Dior pelan. “Mereka datang bukan untuk melihat akademi. Mereka mengamati seseorang.”

“Anda?”

Dior menatap langit. “Kemungkinan besar.”

Keheningan melingkupi balkon beberapa saat. Hanya suara angin malam yang terdengar.

Tobias lalu berkata pelan, “Saya percaya, apa pun yang mereka cari… mereka tidak akan mudah mendapatkannya. Anda bukan orang yang sama seperti dulu, bukan anak kecil lagi.”

Dior menatap Tobias dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Tobias.”

 

Keesokan paginya, suasana akademi berubah menjadi lebih hidup dari biasanya. Spanduk ujian seleksi digantung di aula utama, dan semua siswa tampak bersemangat atau gugup.

Dior berdiri di tepi lapangan utama, memandangi deretan nama yang terdaftar. Di sana tertulis jelas:

“Dior De Godwin vs Rivel Vernhart – Ujian Seleksi Kelas 1.”

Cain menghampirinya sambil tertawa kecil. “Kau tahu, rasanya seperti nasib memang ingin kalian terus bertarung.”

Dior hanya menjawab singkat, “Mungkin saja.”

Lyra menatap papan pengumuman itu lalu berbisik, “Berhati-hatilah, Dior Aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan ujian kali ini.”

“Janggal?”

“Ya. Aku melihat beberapa orang asing berbicara dengan para instruktur. Mereka bukan dari akademi.”

Dior mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Ia menggenggam pedangnya di pinggang, menatap langit yang mulai cerah. Dalam hatinya, pecahan ingatan suara Ardyn kembali terdengar samar:

“Kekuatan sejati bukanlah tentang mengalahkan musuh, melainkan memahami apa yang ingin kau lindungi.”

Dior menarik napas panjang, lalu melangkah meninggalkan aula.

 

Sore hari, di tepi danau akademi, Dior duduk sendirian di atas batu besar. Ia menatap pantulan dirinya di air jernih. Di matanya yang abu-abu itu, kini ada kilau samar keperakan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Ia menggenggam kalung kecil yang tergantung di lehernya kalung yang diberikan ibunya, Selena, sebelum ia berangkat ke akademi.

“Ibu, Ayah… aku rasa kehidupan akademi ini baru begitu menyulitkan.”

Angin sore berhembus lembut, membawa dedaunan jatuh perlahan ke air.

Dior berdiri, menatap ke arah menara akademi tempat lonceng besar tergantung. Suara lonceng itu akan berbunyi satu kali lagi esok pagi tanda bahwa ujian seleksi dimulai.

Namun Dior tahu, ujian itu bukan sekadar adu keterampilan antar siswa. Ada sesuatu yang lebih besar menunggu di baliknya.

Dan kali ini, ia tidak hanya membawa nama keluarga De Godwin.

Ia membawa warisan dari pahlawan legendaris Serigala Putih.

1
Fairuz
semangat kak jangan lupa mampir yaa
🟡♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
Follow balik bng /Casual/
🟡♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
Awalan kalimat pakai huruf besar
🟡♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
Tiga minggu ✅
3 minggu ❌
🟡♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
realistis sekali../Facepalm/
🟡♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
setiap awal kalimat dialog harus huruf besar ya..😉
🟡♨ˢᶜѕ⍣⃝✰❤️⃟Wᵃf₭Ⱡ₳Ɽ₳♕⃟ᶜᶻⱽ🍇
Koreksi thor, awal kalimat pakai huruf besarrr
Hapand: ok kak terimakasih sekali lagi,jika ada yang kurang bisa di beritahu lewat komentar kak, terimakasih
total 3 replies
Dexter Villain
aku mampir bang
Hapand: terimakasih banyak sudah mampir /Pray/
total 1 replies
Cherlys_lyn
Saran aku mungkin setiap karakter mengucapkan sesuatu, di dalam ucapannya diberikan tanda petik. misalnya saja dari

*dion : kita harus bekerja!!

menjadi

"Kita harus bekerja!" perintah Dion.

atau

Dion melipatkan lengan di depan dada dan berkata agar para bawahannya kian semangat, "Kita harus bekerja!"
Cherlys_lyn: Iya, sama sama Kak. Semangat dan terus berkarya. Jika berkenan boleh mampir di karya saya yah, kita saling mendukung dan berbagi feedback satu sama lain.
total 2 replies
Yadi
Mantap thor, cerita nya lumayan dramatis.

Tapi awal kalimat usahakan di awali huruf besar, dan akhir kalimat juga di akhir tanda titik.

Dan setelah koma, tulisan nya di jarak ya.
Hapand: terimakasih banyak sarannya 🙏🏼tolong terus berikan masukan kedepannya saya sangat respect dengan baik pendapat anda🙏🏼
total 1 replies
zhouzhou_zz
Datang ke platform ini cuma buat satu cerita, tapi ternyata ketemu harta karun!
Hapand: terimakasih sudah membaca/Pray/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!