Jingga Wibowo, kelas 3 SMP dia anak no 3 dari pasangan Amelia dan Dodi Wibowo, ayah dan ibu jingga sudah bercerai.
Mereka bercerai karena Dodi, menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda dari ibunya setelah berpisah dari ayahnya, ibu jingga membawa semua anaknya kembali ke desa kelahiranya di sini lah kisah jingga dan kedua kakaknya di mulai, kakak pertama jingga laki laki dia kelas 3 SMA bernama Al biru Wibowo kakak perempuanya bernama Nila Wibowo dia baru kelas 1 SMA. bagaimana kisah hancurnya rumah tangga ibu dari 3 anak tersebut? dan kisah jingga dan kakaknya di tempat baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda bisam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu teman lama
Ketika Clara sedang melamun pintu kamarnya di buka oleh Dodi, yang baru saja sampai di masion.
"Kamu lagi apa sayang?" tanya Dodi, pada istrinya.
Clara kaget karena setahunya tadi Dodi belum pulang kerja, tapi sekarang sudah ada di dalam kamarnya.
"Kamu sudah pulang mas?"bukanya menjawab pertanyaan suaminya Clara malah balik bertanya.
"Kamu itu kalau di tanya bisa nggak jangan jawab dengan pertanyaan lagi! kenapa sich kelihatan lagi banyak pikiran?" tanya Dodi setelah duduk di samping istrinya dia melihat raut muka istrinya yang tidak seceria dulu.
"Oma tadi siang kesini terus ngomong ke aku kalau aku harus program hamil ke dokter kandungan." ucap Clara.
"Lalu!" tanya Dodi menunggu lanjutan cerita istrinya.
"Dia ngasih aku waktu 3 bulan agar aku hamil jika tidak mas akan di minta untuk menceraikan aku." jawab Clara, dia melihat ke arah suaminya ingin tahu bagaimana reaksi suaminya itu, terlihat suaminya diam lalu tersenyum sedikit.
"Jangan terlalu di pikirkan yeah nanti mas bicara pada Oma." jawaban Dodi sedikit membuat hati Clara lega tapi benar-benar hanya sedikit karena dia tahu suaminya ini sangat mematuhi apa pun perintah mamanya itu yang biasa di panggil Oma.
Siang di rumah Amelia,
Teman-teman Jingga sudah datang berkunjung mereka sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton film.
"Ca yang nganter loe tadi siapa?" tanya Mila.
"Lah bukanya Caca naik ojol tadi ya kan Ca?" tanya Rani.
Caca hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Wih gila tuh ojol ganteng banget tahu kaya Song Jong Ki!" ujar Mila.
Jingga tersenyum mendengar penuturan Mila, bahkan Caca langsung tersedak makanan uhuk uhuk
sedangkan Rani langsung memegang kening Mila
"loe nggak demam loh Mil, tapi ngapa jadi ngigo gini." tanya Rani.
"Mila kayaknya tadi kesambet waktu otw kesini pan ngelewatin pohon beringin yang ada di jalan ya kan?" Caca bertanya setelah minum.
"Kalian yang ngaco, orang gua lihat tadi amang ojol nya ganteng kelihatan dari bentuk rahangnya walaupun dia pake kacamata!" ungkap Mila, sambil menyingkirkan tangan Rani keningnya.
kali ini Jingga tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mila, Ketiga temanya menoleh ke arahnya.
"Loe Napa kok jadi tertawa sendiri gitu?" heran Rani.
"Kayaknya setan yang di bawa Mila, ngrasukin Jingga!" Sambung Caca, sambil bergidik ngeri membayangkan ucapannya barusan.
"Sembarangan kalo ngomong." Mila berkata sambil menyentil kepala Caca.
"Dengerin gua ya loe bilang tadi dia kaya oppa Korea kan terlihat ganteng walau dia pakai kacamata, berarti delman di pasar tuh yang suka di tutup matanya sama dong ganteng walau nggak kelihatan matanya." Jingga menjelaskan setelah berhenti tertawa.
Rani dan Caca ikut tertawa sedangkan Mila, cemberut saja mendengar ucapan Jingga, tapi bener juga sich emang kita nggak boleh menilai seseorang setengah-tengah yang terlihat belum berarti itu benar.
"Ikh kok rame boleng gabung ngga?" tanya Nila yang tiba-tiba kepo mendengar suara dari adik dan teman-temanya.
"Boleh banget kak." Jawab ketiga teman Jingga, sedangkan Jingga hanya mengangguk.
Mereka melanjutkan acara nonton dan mengobrol nya.
Sedangkan Amelia yang sedang berada di tokonya dia sedang sibuk, karena hari ini lumayan banyak pembeli di tokonya, ketika sedang ikut melayani pembeli karena pekerjanya keteter dengan banyaknya pembeli.
Tiba-tiba ada seorang pria menepuk pundaknya dia reflek menengok ke belakang melihat siapa yang menepuk pundaknya itu ternyata seorang laki-laki yang sudah lama tidak dia temui.
"Hai..." ucap laki-laki tersebut.
"Liam..." ucap Amelia, ya dia Wiliam salah satu teman laki-laki Amelia, waktu kuliah.
Setelah waktunya senggang Amelia mengajak Liam, makan siang di cafe dekat tokonya.
"Gimana kabar kamu?" tanya Amelia, dia mencoba memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Aku tidak baik setelah kau memutuskan untuk menikah dengan suamimu itu." Jawab Liam, ya Liam adalah kekasih Amelia dulu saat masih kuliah mereka menjalin kasih cukup lama tapi setelah selesai kuliah Liam pergi ke negara kelahirannya untuk mengurusi ibunya yang sedang penyakitan karena hanya dia anak satu-satu dari ibunya,
Sedangkan ayahnya tinggal di Jakarta dan sudah berkeluarga lagi.
"Dia bukan lagi suami ku." jawab Amelia sambil setelah meminum jus di depannya.
"Jadi...?" tanya Liam.
"Ya apa yang ada di pikiranmu itu benar." Amelia menjawab seolah tahu apa isi pikiran Liam, yang tak jauh-jauh dari kata perceraian.
"Sejak kapan?" tanya Liam masih penasaran.
"Tepatnya sudah 5 bulan yang lalu kalau tidak salah." jawab Amelia.
"Kamu lagi ngapain di sini dan ya kenapa nggak ngajak anak atau istrimu?" sambung Amelia.
"Aku belum menikah tentu saja tidak mempunyai anak dan istri." jawab Liam.
"Dan aku kesini karena ada pekerjaan, tadinya aku ingin membeli baju untuk ganti di tokomu dan kebetulan aku melihatmu di sana." jelas Liam.
Amelia menganggukkan kepala, mereka kembali terdiam entah karena canggung atau karena tidak ada lagi yang ingin di bicarakan.
"Rumah kamu di dekat sini atau tidak?" akhirnya Liam, lah yang bertanya lagi pada Amelia.
"Ya tidak terlalu jauh dari sini kamu sendiri menginap di mana?" Amelia kembali bertanya.
"Aku menginap di rumah seorang teman, kebetulan dia punya pondok pesantren juga." jawab Liam.
"Oh ya apa itu juga masih daerah sini?" tanya Amelia.
"Masih, apa kamu mau berkunjung ke sana itu?" tawar Liam.
"Sebenarnya aku hanya ingin mencari ustad yang mau mengajarkan ngaji ketiga anak-anakku." jawab Amelia.
"Bagaimana kalau kamu berkunjung ke ponpes nanti aku tanyakan pada temanku yang mengajar di sana ada yang bersedia mengajar di luar pondok atau tidak?" ujar Liam memberi solusi.
Amelia menganggukkan kepalanya, setelah selesai mengobrol sambil makan siang keduanya pergi dari kafe kembali ke kegiatan masing masing-masing.
Setelah hari menjelang sore Al, baru pulang dari urusannya di luar, dia melihat di depan rumahnya ada teman-teman adik bungsunya itu yang sedang memakai sepatu bersiap untuk pulang.
"Assalamualaikum." ujar Al, yang membuat ke empat pasang mata melihat ke arahnya.
"wa'alaikum salam." jawab Jingga, sedangkan ketiga temanya hanya terbengong melihat ketampanan Al, soalnya waktu mereka datang ke rumah Jingga tadi siang Al, sudah pergi dari rumah.
"woy pada bengong!" ujar Jingga mengagetkan ketiga temanya yang sedang asyik menikmati keindahan di depannya.
"Ini baru oppa Korea iya kan Rin?" tanya Caca pada Rina.
"Bener banget nggak kaya tadi yang samar-samar." jawab Rina.
Sedangkan Al, dia bingung melihat teman-teman adiknya itu, dia melihat ke arah Jingga, bertanya dengan matanya Jingga yang tahu arti tatapan mata kalanya hanya mengangkat bahunya.
"Kalian ok?" tanya Al.
"yes i'am ok!" Mila menjawab dengan semangatnya.
Ketiga temanya sudah tertawa mendengar Mila yang sangat semangat menjawab pertanyaan Al.