Indonesia
NovelToon NovelToon
All You Need Is Love

All You Need Is Love

Status: tamat
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:20.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Fujiwara

Alice seorang remaja dan merupakan korban broken home, memiliki tiga saudara. Kakak laki-laki kembar dan seorang adik perempuan. Keluarga Ardhani yang sedang mendapat musibah dan cobaan.

Alice dan saudara-saudaranya harus saling menguatkan ketika tidak ada kasih sayang serta peran sang ayah. Ayah mereka terlalu sibuk untuk mengembalikan nama baik perusahaan.

Mampukah Alice dan saudara-saudaranya nelewati hari-hari tanpa peran sang ayah? Ayo, merapat dan ikuti kisah Alice!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Thirteen

Monik mengambil minumannya dan meminumnya, bersamaan dengan seorang anak yang memasuki kantin seorang diri. Dia berjalan santai dengan tangannya dimasukkan kantong

celana, terkesan cool memang.

Namun, hal itu malah membuat Monik kaget dan akhirnya tersedak minumannya.

“Uhuk... uhuk.”

“Kenapa lo, Mir?” tanya Satrio santai.

“Monik, nggak apa-apa?” tanya Zhaza panik.

Monik mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.

“Lo takut ya, minuman lo gue embat lagi?”

Monik yang sudah sedikit tenang langsung memukul kepala Satrio.

Anak yang tadi membuat Monik kaget berjalan kearahnya, ia semakin dekat dengan meja Monik. Membuat Monik menjadi gelisah, bukan apa-apa. Namun, Monik masih mengingat kejadian kemarin lusa. Dan dia sedang tidak ingin bertemu dengan anak itu.

“Hai? Hai, Monik?” sapa anak itu pada penghuni meja.

Anak itu langsung duduk disebelah Monik, semuanya menatap anak itu heran.

“Kok kamu di sini?” tanya Monik bingung, dia meminta suatu penjelasan.

“Dia anak baru di sekolah ini, dia pindah kemarin pas lo nggak masuk. Dia sekelas sama gue,” jelas Satrio, dia sedikit heran juga karena Monik terlihat akrab dengan si anak baru.

“Kamu pindah sekolah, lagi?”

“Aku kan pengen bisa setiap hari ketemu kamu,” ucap anak itu tersenyum manis.

Membuat penghuni yang lain menatap heran pada dua anak itu.

‘Kevin, Kevin. Gombalan lo kagak manjur sekarang, gue udah muak sama lo,’ batin Monik.

Monik hanya tersenyum kecut dengan perlakuan Kevin. Dengan perlahan Monik menurunkan lengan Kevin yang berada di pundaknya.

Sedangkan Satrio, entah mengapa dia merasa tidak nyaman dengan adegan didepannya.

Ia pun beranjak dari tempat duduknya, membuat semua menoleh kearahnya termasuk Monik.

“Sorry, gue ke kelas dulu,” kata Satrio dan langsung pergi dari kantin.

Melihat Satrio pergi, Zhaza dan Varo juga ikut pamit untuk ke kelas mereka.

“Nanti pulang sekolah aku mau ajak kamu ke suatu tempat," ajak Kevin.

“Maaf, aku nggak bisa,” jawab Monik dan berdiri, lalu meninggalkan Kevin.

Kevin hanya menatap kepergian Monik dengan dahi berkerut, ia mengangkat bahu tak peduli dan dia juga menuju ke kelasnya.

...🏡🏡🏡...

Satrio sedang men-dribble bola basketnya di lapangan kompleks rumahnya, dia bermain seorang diri. Shoot pertama berhasil masuk ke ring basket, kedua, ketiga, dan keempat berhasil masuk dengan mulus tanpa menyentuh pinggiran ring.

Terlihat dari cara bermainnya, dia sedang dilanda emosi. Satrio terus men-dribble dan sesekali meng-shoot bola itu. Shoot yang entah keberapa, bola itu membentur papan ring dan gagal masuk ring. Dengan kesal Satrio memantulkan bola itu dan ia biarkan menggelinding entah kemana.

Dia duduk di pinggir lapangan dengan keringat yang mengucur di seluruh tubuhnya. Entah mengapa kejadian tadi di kantin kembali teringat, saat anak baru itu sangat akrab dengan Monik.

Seketika dirinya menjadi kesal, dia tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa. Satrio membaringkan tubuhnya di pinggir lapangan, menatap langit yang terlihat cerah di sore hari.

‘Padahal, gue udah nunjukin tanda-tanda ke lo. Kenapa lo nggak peka?’ batin Satrio memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata sejenak untuk menetralisir rasa kesalnya.

Setelah sedikit tenang, Satrio memutuskan untuk pulang ke rumah. Diambilnya bola yang sempat dia buang tadi, lalu mendribblenya menuju rumah.

Saat melewati depan rumah Monik, terlihat Monik sedang duduk di balkon kamarnya dengan beberapa buku disekitarnya. Satrio tidak berniat menganggunya, dia langsung masuk ke rumah.

Selesai mandi, Satrio langsung menuju balkon kamarnya yang berada persis di sebelah balkon kamar Monik. Dia bermaksud melihat apakah Monik masih berada disana.

Sepertinya Monik tidak menyadari ada Satrio disana, karena Monik tengah melamun. Pandangannya lurus ke depan terlihat kosong.

Rambutnya acak-acakan, matanya sembab seperti habis menangis. Satrio sedikit heran, karena tadi Monik di sekolah terlihat seperti biasanya. Saat Satrio kembali memperhatikan Monik, terlihat ada air mata jatuh di pipi Monik. Namun, Monik hanya diam membiarkan air matanya jatuh.

Pandangannya masih tetap ke depan, juga masih belum menyadari ada Satrio yang sedang memperhatikannya dari balkon rumahnya.

‘Si Amir kenapa? Perasaan tadi di sekolah dia keliataan slengekan kayak biasanya, atau mungkin lagi ada masalah. Baru kali ini gue lihat Amir nangis,’ batin Satrio dan kembali memperhatikan balkon kamar Monik.

Monik beranjak dari duduknya, mengahapus air matanya kasar dan membereskan buku-bukunya kemudian masuk ke kamar. Satrio hanya bisa memperhatikan itu semua, ingin rasanya dia tahu penyebab Monik menangis. Namun, dia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa bagi Monik.

...🏡🏡🏡...

Kurang lebih pukul sembilan malam. Monik masih duduk di halaman belakang dengan sebuah novel ditangannya. Kakinya ia ceburkan ke dalam kolam ikan. Ia termenung disana.

Langit malam begitu cerah, dengan bulan yang menyinari dan juga bintang-bintang yang berkelip. Monik menengadahkan kepalanya agar air matanya tidak jatuh menetes. Monik memandang ikan-ikan yang berada di kolam.

“Gue harus gimana?” tanya Monik seolah-olah sedang mengajak ikannya berbicara.

“Gue bener-bener bingung kali ini, gue ngerasa bersalah banget sama mama karena harus bohongi beliau,” curhat Monik.

“Mir, lo sehat 'kan? Gila kali ya, ikan diajak ngobrol,” celetuk seseorang dari belakangnya.

Membuat Monik langsung menoleh dan membulatkan matanya.

“Heh, Getuk ngapain lo disini? Mau maling ya?” tanya Monik kaget.

“Enak aja.”

“Mal...” Monik bersiap teriak, tetapi mulutnya segera dibekap Satrio.

“Getuk, gue engp. Kgk bisa napas,” teriak Monik berusaha melepaskan tangan Satrio yang berada dimulutnya dan sedikit menutupi hidungnya.

“Hah? Apaan, gue nggak denger.”

“Budek lo ya?” kata Monik dan menggigit tangan Satrio.

“Aduh, sakit bego. Lo belum makan? Jangan makan tangan gue dong!”

“Idih, kagak doyan gue. Kok lo bisa masuk?”

“Noh! Lompat pagar,” jawab Satrio menunjuk pagar yang agak pendek.

“Terus ada urusan apa lo ke sini?”

“Kagak ada urusan apa-apa sih, iseng aja gue.”

Monik tidak menjawab lagi, dia kembali menatap langit yang cerah. Melihat bintang-bintang yang berkelip, berharap ada bintang jatuh yang lewat didepannya. Sedangkan Satrio sibuk memperhatikan wajah Monik yang terlihat berbeda saat tadi sore. Lalu dia mengikuti Monik menatap langit.

“Lagi ngapain lo?” tanya Satrio.

“Ngitung bintang,” jawab Monik sekenanya.

“Udah dapat berapa?”

“999.”

“Dikit amat.”

“Gue belum selesai ngitungnya, dodol. Tuh 'kan, lupa gue tadi sampai angka berapa.”

“Elo sih dodol. Eh, gue mau tanya sesuatu ke lo,” ucap Satrio yang terdengar mulai serius.

“Apaan?” tanya Monik yang belum menyadari keseriusan Satrio.

“Lo kenal Kevin?”

“Emang kenapa?”

“Gue cuma pengen tau aja, soalnya lo sama dia keliatan deket gitu. Dia kan masih anak baru, terus kemarin juga lo nggak masuk. Tau-tau waktu masuk udah kayak deket gitu,” jelas Satrio.

Ekspresi Monik terlihat berbeda dengan tadi, Satrio menyadarinya.

“Sebenernya dia itu...” Belum selesai Monik bicara, ada sebuah panggilan masuk dari ponselnya.

Monik pun agak menjauh dari Satrio dan menjawab telpon itu. Namun, sayup-sayup Satrio mendengarnya.

“Halo? Belum, iya bentar lagi tidur kenapa? Ketemu di sana aja, aku berangkat sendiri. Iya.” Monik menutup telponnya dan kembali menemui Satrio.

“Sorry, Tuk. Gue ngantuk, gue masuk duluan ya?” kata Monik dan langsung masuk ke rumah.

Satrio hanya memandang Monik dan dia segera kembali kerumahnya agar tidak dicurigai sebagai maling.

...🏡🏡🏡...

1
Bubur Ketan
🤗
Henny Pristyawatie
sbnrya msh pengen baca lg, seru kak cm msh pd gantung sii..
hehehe.... msh penasaran, zhazha bgm ma varo? kehidupan sakti sbnrya? maf ya kak
HaFu: Terima kasih, Kak sudah mau baca karya abal² ini 😂
Itu karya pertama yang kutulis, jadi ya memang masih kurang seru ceritanya 🤭
total 1 replies
Yenz_Azzahra
Hadirrr
renaivyl'🍫_
mampir ni kak, semangat^_^
HaFu: Makasih sudah mampir
total 1 replies
Esther
nine.. give you like
HaFu: Thank you
total 1 replies
Om Rudi
Happy ending
Om Rudi
satu lagi
Om Rudi
Pendekar sanggana hadir bersama Om
Om Rudi
Pendekar sanggana hadir bersama Om.
Om Rudi
Pendekar sanggana hadir bersama Om
Om Rudi
lanjut neNeng hana
Om Rudi
sampai sini dulu
Om Rudi
selalu ada meski telat
Om Rudi
lanjuut, PENDEKAR SANGGANA
Om Rudi
Pendekar Sanggana hadir
Om Rudi
salam dari PENDEKAR SANGGANA
Om Rudi
😜😜😜
Om Rudi
dasar lelaki,
Om Rudi
sukses sukses
Om Rudi
salam dari PENDEKAR SANGGANA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!