Kisah cinta jarak jauh antara Diya dan Adit yang terpaksa harus dilalui karena keadaan, bertahun-tahun mereka bertahan karena bagi Diya, Adit adalah sosok yang sempurna baginya.
Namun, suatu ketika bencana LDR itu datang juga. Ada cinta-cinta yang berlabuh di hati keduanya.
Akankah Diya tetap bertahan dengan hubungan jarak jauhnya bersama Adit, ataukan dengan sosok lain?
Ikuti kelanjutan kisah cinta Diya dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecanduan Kamu
Setelah kejadian saat itu, malamnya, Diya muntah-muntah. Padahal kata dokter, sebelumnya kondisinya membaik. Entah karena memikirkan Putra saat itu atau karena apa. Putra juga telah menghubungi Diya kembali namun tak satupun panggilan dijawab, begitu juga dengan pesan-pesan Putra yang tak dapat balasan satupun dari Diya.
“Diy, maaf seharin aku sibuk gak sempat hubungi kamu.”
“Diy, angkat telepon aku ya.”
“Diy, kamu gak kenapa-napa kan?”
“Plis bales pesan aku Diy, jangan bikin aku khawatir.”
“Diy, kamu marah?”
“Semoga kamu memang lagi tidur ya Diy, semoga keadaan kamu membaik, aku pengen kamu cepat pulang Diy.”
“Mimpi indah ya Diy.”
Begitulah isi pesan Putra, 4 panggilan dan 7 pesan terabaikan oleh Diya.
Waktu menunjukkan pukul 01.35, Putra masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih tertuju pada Diya. Apakah Diya marah karena seharian Putra tak menghubunginya, ataukah Diya marah karena suara perempuan tadi? Pertanyaan-pertanyaan itu yang ada dalam benak Putra. Berkali-kali dia cek hpnya berharap Diya membalas pesan-pesannya.
...****************...
Pagi hari, Diya yang sudah merasa badannya terasa lebih segar, mulai mengecek hpnya. Ia dapati banyak pesan dan panggilan dari Putra yang tak terbalas.
“Dari banyaknya pesan, tidak ada satupun Putra membahas tentang siapa perempuan kemarin. Apa pacarnya? Atau siapanya? Memang lagi di mana sampai malam-malam ada perempuan di sebelahnya. Pantas saja dia cuek kemarin,” gerutu Diya.
Hingga Putra kembali mengirim pesan padanya.
“Diy, kamu udah bangun belum?”
“Diy, plis bales pesan aku.”
Diya pun benar-benar tak menghiraukan pesan Putra.
Putra kembali menelepon Diya.
Mau tak mau dengan perasaan kesal, Diya mengangkat telepon dari Putra.
“Halo Diy,” sapa Putra di telepon.
“Apa?” jawab Diya ketus.
“Diy, kamu marah?” tanya Putra memelas.
“Gak,” jawab Diya singkat.
“Diy, aku bener-bener minta maaf kemarin sibuk banget jadi gak sempat hubungi kamu,” jelas Putra penuh penyesalan karena Putra sudah berjanji pada Diya akan selalu ada untuknya.
“Gak apa-apa,” jawab Diya dengan malas.
Diya kesal kenapa Putra tak juga menjelaskan siapa perempuan kemarin, namun Diya gengsi untuk menanyakan langsung.
“Diy, gimana keadaan kamu sekarang?” tanya Putra khawatir.
“I’m oke. Put, aku istirahat dulu ya, bye,” Diya menutup telepon.
Putra pun semakin kepikiran kondisi Diya, dan mengirim pesan pada Diya.
“Kalau kamu masih marah soal kemarin, aku minta maaf Diy. Semoga setelah ini kamu udah gak marah lagi ya Diy. Aku rindu,” pesan Putra.
Dengan senyum malu-malu Diya membaca pesan Putra hanya dari notifikasi tanpa membukanya.
Di satu sisi, Diya semakin takut bila benar-benar jatuh hati pada Putra. Yang ia rasakan sekarang bahkan Putra sudah menjadi candu baginya. Sehari saja tanpa berkomunikasi dengan Putra, rasanya ada yang kurang di hati.
...****************...
“Kamu kenapa sih jadi dingin begini sama aku hun?” tanya Maya lembut pada Adit yang berada di hadapannya.
“Kamu udah gak jujur sama aku May,” jawab Putra dengan kesal
Akhir-akhir ini, mereka memang lebih sering bertengkar, penyebabnya adalah ketika Risyad masuk lagi di kehidupan Maya.
“Aku gak tau kenapa dia ganggu aku lagi, kita udah putus lama hun,” jelas Maya.
“Yang aku permasalahkan kenapa kamu gak terbuka sama aku, bahkan diam-diam kamu temui dia di belakang aku,” tegas Adit.
“Aku cuma mau urusan aku sama dia selesai, itu saja, aku gak bilang sama kamu bukan berarti aku nutupin, aku cuma mau dia gak ganggu aku lagi,” pinta Maya.
“Kasih tau aku cara untuk bisa percaya sama kamu, kamu udah terlalu banyak berbohong. Kamu tau kan aku belum pernah semarah ini sama kamu, bahkan dengan siapapun aku gak pernah seperti ini kamu tau kan? Sekarang aku persilakan kamu selesaikan urusan kamu sama dia,” ucap Adit sembari pergi meninggalkan Maya di restoran.
Dalam mobil, Adit benar-benar sedang berusaha menguasai emosinya, karena dia memang tak pernah seperti ini. Bahkan ketika masih berpacaran dengan Diya pun, tak pernah ada masalah yang membuat Adit semarah ini. Seketika Adit merindukan sosok Diya, dia pun teringat Diya yang masih di rumah sakit, dan ingin meneleponnya. Jujur, ingin rasanya Adit menemui Diya tapi sepertinya sangat mustahil bila melihat sikap Diya pada Adit sekarang, terlebih Adit menganggap Diya sudah ada pacar. Kemudian, Adit terpikir untuk menelepon Neta menanyakan keadaan Diya.
“Halo, Neta,” sapa Adit.
“Halo iya, kenapa Dit?” jawab Neta.
“Bagaimana keadaan Diya sekarang?” tanya Adit.
“Sudah lebih baik Dit, tapi katanya semalam dia abis muntah-muntah, jadi sekarang masih harus istirahat dulu, tapi kemungkinan besok atau lusa sudah boleh pulang,” terang Neta.
“Oh, benar cuma karena kelelahan? Gak ada yang serius kan Net?” tanya Adit khawatir.
“Cuma gejala tipus aja Dit tapi untungnya cepat ditangani. Karena kelelahan itu tadi, tapi sejauh ini kesehatannya terus membaik kok apalagi sekarang sudah ada yang selalu hibur Diya,” ucap Neta.
“Pacar barunya itu ya?” tanya Adit penasaran.
“Kamu udah tau? Belum jadi pacar. Tapi memang mereka lagi dekat. Kemarin Diya cerita katanya si Putra ini sering hubungin Diya, biar Diya gak kesepian semenjak kamu pergi, jadi si Putra ini mau menggantikan kamu, begitu intinya,” jelas Neta.
Mendengar cerita Neta, tak dipungkiri ada kesedihan yang dirasakan Adit, karena Diya sudah memiliki tempat cerita pengganti dirinya, namun di satu sisi, Adit lega akhirnya Diya bisa tersenyum lagi.
“Oh, Putra namanya. Kamu tau gak Net Putra orang mana dan kerja di mana?” tanya Adit ingin tau.
“Di Jakarta juga Dit. Jadi dia lahir dan besar di Malang, tapi semenjak ayahnya harus pindah kerja ke Jakarta, keluarganya ikut pindah ke sana juga sampai sekarang, cuma kalau kantor tempat Putra kerja aku kurang tau Dit,” terang Neta.
“Oh oke Net terima kasih ya informasinya, salam buat Diya,” ucap Adit mengakhiri pembicaraannya.
...****************...
Sementara itu, Putra yang gak bisa fokus kerja karena masih kepikiran Diya yang sedang marah padanya, memutuskan untuk mengirim pesan suara untuk Diya.
“Diy, aku gak tau pasti kenapa kamu marah, apakah karena seharian kemarin aku gak hubungin kamu, atau karena telepon kamu yang angkat teman aku? Kalau karena aku yang gak memberi kamu kabar, aku minta maaf banget Diy, karena ada urusan kantor yang harus aku urus bahkan sampai harus lembur. Salah aku memang gak kasih kabar kamu dulu. Tapi kalau kamu marah karena dengar suara perempuan yang angkat telepon kamu, aku cuma bisa jelasin, dia terpaksa angkat karena kamu udah telepon dua kali, takutnya penting dan takut ganggu kerja yang lain juga karena lupa aku silent, waktu panggilan pertama gak ada jawaban kan, baru deh yang kedua dia angkat. Dia temen aku Diy, sumpah demi Allah. Aku lagi ke bawah sebentar ambil dokumen, jadi barang-barang aku termasuk hp aku tinggal di meja. Atau mungkin karena kamu masih sakit jadi terkesan males-malesan sama aku. Aku gak papa kok Diy kalo kamu marah asal bukan karena alasan yang ketiga ya Diy, aku mau kamu cepat sehat.”
“Aku janji kalau sekiranya aku akan sibuk seharian aku akan kabari kamu dulu. Tapi aku yakin sebenarnya kamu kesal karena cemburu dengar suara perempuan kaaan Diy? Oh begini ya rasanya kalau kamu lagi ngambek, hahahah.”
Begitulah isi pesan suara Putra yang membuat Diya senyum-senyum sendiri dan reflek membalas pesan putra.
“Gila lo, cemburu dari hongkong. Kepedean!” ketik Diya ketus.
“Nah ini baru Diya tukang ngegas! Kamu udah sehat kan Diy?” balas Putra.
“Udah, cuma tinggal pusing,” balas Diya.
“Istirahat lagi gih Diy, nanti malam aku telepon lagi ya,” balas Putra.
“Kamu gak perlu hubungi aku setiap hari, Put. Aku gak mau ganggu kesibukan kamu, terkesan jadi beban buat kamu kalau harus teleponin aku tiap hari,” balas Diya.
“Kalau aku gak hubungi kamu tiap hari bahaya Diy! Aku bisa nyusul kamu tidur di rumah sakit,” balas Putra
“Kenapa?” balas Diya penasaran.
“Rindu itu menyakitkan Diy,” balas Putra
“Dih! Bye!” ketik Diya ketus.
“Ahahahahh sampai nanti lagi ya Diy,” balas Putra menutup pembicaraan.
Pipi Diya memerah melihat tingkah manis Putra.
...****************...