SEQUEL PERFECT MAN
Leander Bennington adalah pria tampan dan jenius yang lebih suka sendiri. Karena ketampanan dan kejeniusannya membuat ia menjadi idola wanita sejak kecil, dan sering menjadi pusat perhatian dimanapun ia berada, dan membuat Leander sangat membenci berdekatan dengan mereka.
Summer Joy Brooklyn adalah wanita cantik dan ceria serta anak angkat dari keluarga Brooklyn yang rumahnya tak jauh dari rumah Leander. Sejak kecil Summer terang-terangan menyukai Leander dan berusaha keras mengejar cinta pria itu meski sering ditolak. Hingga kejadian memilukan menimpa keluarga Brooklyn, membuat Summer dituduh menjadi penyebabnya. Dan Leander adalah satu-satunya orang yang mempercayai dan membela Summer.
Akankah cinta Summer terbalaskan? Ataukah Leander sebenarnya diam-diam telah jatuh cinta pada Summer?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athaya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Summer berpaling ketika mendengar ketukan di pintu apartemennya. Ia baru saja tertidur selama dua jam sejak ia tiba dan memutuskan datang ke apartemen Leander yang lebih dekat dengan bandara.
Ketukan itu semakin terdengar lebih keras dan terus menerus, membuat Summer bergegas menuju pintu. Ia mengintip lewat lubang kecil dan melihat dua orang wanita paruh baya dan juga satu pria berdiri didepan pintu apartemennya.
Summer terdiam dengan tangan tertahan dipegangan pintu. Sudah sangat lama ia tidak bertemu dengan saudara dari ayahnya dan mengapa mereka bisa berada disini?
''Aku sangat yakin wanita itu berada didalam. Orang yang aku minta mengawasinya melihat dia masuk kedalam beberapa saat lalu.'' Summer mendengar ucapan salah satu wanita yang berada diluar.
''Mungkin dia hanya mengambil sesuatu dan kembali ke rumah suaminya'' kali ini suara laki-laki yang terdengar.
Summer mencoba tidak bersuara sedikitpun sampai mereka akhirnya pergi. Ia melirik jam ditangannya dan teringat jika hari ini ia harus melapor ke rumah sakit tempat dirinya akan memulai magang.
Saat berkemas, Summer menghubungi ibu Leander dan meminta sopir untuk menjemputnya. Ia takut saudara ayahnya masih menunggu di luar gedung apartemen.
Summer membuka pintu perlahan dan melihat Julia berdiri didepan pintu apartemennya bersama sopir pribadi wanita itu. "Mom.''
"Aku tahu terjadi sesuatu padamu. Apakah mereka masih datang mencarimu?'' Tanya Julia setelah mereka berada didalam mobil menuju rumah sakit.
''Kali ini paman dan bibi dari daddy yang datang.'' Jawab Summer pelan.
Julia menatap menantunya dan menggenggam tangan wanita itu. "Setelah anak-anak mereka tidak berhasil menemuimu, mereka memutuskan untuk datang sendiri. Apakah kau baik-baik saja, sweety?''
''Aku baik-baik saja, mom. Maafkan aku membuat kalian khawatir'' jawab Summer dengan menundukkan kepalanya dihadapan Julia.
Julia menyentuh dagu Summer dan mengangkatnya perlahan. Wajah Summer yang cantik sangat berbeda dengan kedua orang tuanya. Summer memiliki wajah putih bak boneka dengan warna mata yang sama dengan milik Leander.
"Aku akan melindungimu dengan segenap jiwaku. Aku menyayangimu, Summer. Dan Leander tidak ingin sesuatu terjadi padamu selama kalian berjauhan.'' Gumam Julia lembut, kemudian tersenyum.
Summer masuk kedalam pelukan Julia dan memeluk wanita itu erat. "Thank you, mom.''
Beberapa saat kemudian mobil berhenti didepan rumah sakit. Summer dan Julia turun dan masuk bersamaan ke gedung tinggi yang merupakan milik keluarga Leander.
Beberapa orang menyapa ibu mertuanya ketika berpapasan dengan mereka. Seharusnya ia menolak ketika namanya termasuk daftar dirumah sakit ini. Tapi Leander bersikeras bahwa ia harus banyak belajar dari ibunya.
Julia menggandeng lengannya ketika mereka menaiki lift menuju lantai dua. "Kapan kau mulai bekerja?''
''Besok, mom'' jawab Summer tersenyum.
''Baiklah. Setelah kau melapor pada atasanmu. Temui mom diruangan dilantai lima. Kita akan makan siang bersama nanti.'' ucap Julia ketika pintu lift terbuka dan Summer melangkah keluar.
Summer melambaikan tangannya ketika pintu lift akan menutup. "Sampai jumpa nanti, mom.''
Summer duduk menunggu gilirannya dan mencoba menghubungi Leander tapi tidak mendapatkan balasan dari pria itu. Kemudian ia bangkit berdiri begitu namanya dipanggil.
''Jadi, Summer Bennington. Kau tidak akan mendapatkan hak istimewa meskipun kau menantu pemilik rumah sakit ini'' sahut salah satu dokter yang duduk diruangan bersama atasannya.
''Tentu saja. Aku mengerti karena aku datang kesini untuk belajar lebih banyak dan bisa menandingi kehebatan ibu mertuaku'' jawab Summer dan ditertawakan oleh semua orang yang berada didalam ruangan.
********************************
''Maaf aku tadi bersama dosen ketika kau menghubungiku'' ucap Leander ketika akhirnya bisa berbicara dengan Summer.
''Maafkan aku. Aku hanya ingin mengabarimu.'' Balas Summer cepat tak ingin Leander mengira ia mengganggunya.
Mereka mengobrol sedikit lama diruangan Julia. Summer terlihat malu ketika Leander memintanya memberikan ciuman jarak jauh.
"Apakah itu Lean?" Tanya Julia ketika melihat Summer menutup teleponnya.
Summer mengangguk dan duduk disamping Julia, membantu ibu mertuanya menyiapkan makan siang mereka. "Leander akan pulang pekan depan."
"Apakah tidak masalah dengan studynya?" Tanya Julia kemudian menyodorkan sup kesukaan Summer.
"Leander tidak mengatakan alasannya. Dia hanya bilang tidak akan lama. Mungkin Leander memiliki sesuatu yang harus dikerjakan, Mom." Jawab Summer pada Julia.
"Maafkan aku tidak bisa mengajakmu makan siang diluar, Summer. Aku memiliki jadwal operasi setelah ini." Ucap Julia meminta maaf.
Summer tersenyum dan menatap wajah ibu mertuanya dengan penuh kebanggan. "Mom. Aku ingin bisa sepertimu."
"Kau harus lebih hebat dariku. Seperti kedua orang tuamu." ucap Julia dalam hati.
Julia mengambil udang dan mengupas kulitnya, kemudian menyuapkan dimulut Summer. "Makanlah. Kau akan membutuhkan banyak tenaga mulai besok."
Ketika selesai membersihkan peralatan makan siang mereka, Summer melihat seorang dokter wanita yang sangat cantik masuk dan berbicara dengan Julia.
"Aunty. Putra anda sedang berada di instalasi gawat darurat. Kali ini Landon berkelahi dan mendapatkan beberapa luka diwajahnya." Ucap wanita itu.
Julia terdiam sejenak kemudian mengendalikan dirinya menjadi tenang kembali. "Aku tidak tau lagi bagaimana menghadapi putraku yang satu itu."
"Dia sangat berbeda dengan Leander. Saudara kembarnya itu lebih baik dari sikap dan juga otaknya" sahut wanita itu kemudian melirik ke arah Summer berdiri.
Julia menarik lengan Summer dan membawanya disisinya. "Perkenalkan ini menantuku. Summer. Dia istri Leander." Ucap Julia dengan tersenyum.
Summer bisa melihat wanita itu berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Summer."
"Aku Eliza. Apa kau seorang dokter?" Tanya wanita itu ketika melihat nama universitas di kemeja yang dipakai Summer.
"Benar. Besok aku akan mulai magang disini." Balas Summer kemudian menundukkan sedikit kepalanya.
"Wah. Aku tak menyangka Leander memiliki istri yang juga seorang dokter. Mengingat dia dulu begitu tidak menyukai pekerjaan ibunya." Ucap Eliza sambil mengerutkan keningnya.
Julia tertawa kemudian merangkul tubuh Summer dan membawanya keluar ruangan diikuti Eiiza. "Itu saat dia masih kecil. Leander sangat marah ketika aku terlalu sibuk di rumah sakit."
"Landon dan Leander sering ikut mommy bekerja saat mereka kecil. Begitu juga dengan Eliza. Ayahnya dokter jantung dirumah sakit ini juga. Mereka bertiga sering bermain bersama" lanjut Julia lagi. "Kau pulanglah bersama sopir. Mommy akan selesai tiga jam lagi. Kau pasti lelah."
Summer menganggukkan kepalanya kemudian masuk kedalam pelukan Julia. "Sampai jumpa dirumah, mom."
Setelah kepergian Julia. Summer menatap kearah Eliza yang sedang memperhatikan dirinya dari atas kebawah. "Apakah ada yang salah dengan pakaianku?"
"Apa kau dan Leander sudah menikah? Aku tidak pernah mendengar apapun mengenai pernikahan kalian berdua." Tanya Eliza dengan nada suara tak suka.
"Bagaimana menurutmu? Apakah kau meragukan ucapan dokter Julia?" Jawab Summer membalas tatapan Eliza padanya.
setiap kali kamu mencintai, cintai sedalam-dalamnya seolah-olah selamanya - hanya, tidak ada yang abadi