Bagi setiap orang, kata "hantu", "horror" atau "misteri" memiliki makna yang berbeda-beda. Ya benar, karena tidak semuanya berwujud makhluk astral, tapi hantu juga bisa berwujud manusia. Mereka adalah golongan orang yang memiliki sifat iblis.
Membaca GHOSTPITAL akan membuat kalian menemukan banyak cerita creepy dengan lakon makhluk astral maupun manusia. Baca setiap cerpennya, dan rasakan merindingnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Johar Edogawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUAN MUDA
Aku berjalan dengan membusungkan dada sambil menebar senyum penuh pesona menuju ruang atas kantor Halmahera Group. Pesonaku tidak bisa ditolak oleh siapapun. Jika lelaki yang melihatku, pasti mereka akan jatuh cinta. Tapi jika perempuan yang melihatku, mereka pasti akan iri, ingin memiliki apapun yang ada dalam tubuhku saat ini.
"Nona Merry, tuan muda sudah menunggu untuk bertemu sejak tadi."
Rey, sekretaris tuan muda Ben membungkukkan tubuhnya di depanku. Aku tersenyum puas, sudah bisa membuat seseorang paling angkuh di negeri ini mau menunggu. Pesonaku memang luar biasa.
Setelah sampai di ruangan Ben, aku yakin dia sedang menahan amarah. Tapi sayangnya ia sudah luluh oleh rayuanku, bahkan sebelum dia berhasil memelototkan matanya lebih dari lima detik.
"Sayang... Maafkan aku sudah membuatmu menunggu. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"I... iya sayang, aku mengampuni kamu. Untuk apa aku marah dengan wanita secantik kamu."
Aku meraih tangannya, dingin. Sepertinya dia sedang gerogi, tapi entahlah. Aku tarik tubuhnya agar mengikuti langkahku.
"Ah, pelan-pelan sayang... jangan asal tarik tangan," kata Ben sambil meringis.
"Tangan kamu sakit? Kenapa?" tanyaku dengan wajah yang dipenuhi rasa khawatir.
"Nggak apa-apa kok... Hanya sedikit sakit saja kalau ditarik." Ben menghentikan kalimatnya guna menelan salivanya ketika dengan sengaja ku kedipkan sebelah mata. "Mau makan dimana kita?"
"Terserah," jawabku ketus.
"Kok terserah, sayang? Kamu dong yang menentukan..."
"Kalau cewek bilang terserah itu ya tergantung isi dompet yang kamu punya... Jadi kamu yang menentukan karena kamu sendiri yang tahu isi dompetmu!"
"Kamu kan tahu sendiri aku tuan muda terkaya di negeri ini. Masih meragukan ku? Ya sudah... mulai sekarang kamu yang pegang sebagian uangku."
Yesss...!
Kalimatku berhasil membuatnya memberikan sebagian harta kekayaannya. Hahaha... mudah saja kamu terjebak, tuan muda! Makanya jangan sombong...
"Tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi."
"Apa itu?" tanyaku sambil tersenyum.
"Kamu harus menikah denganku. Dan kamu tidak boleh mengingkari janji. Apapun itu!"
"Tentu saja tuan muda Ben... Seluruh tubuh ini beserta isi jiwa dan hatinya ada milikmu.."
"Baik, ini ATM yang harus kamu pegang. Kamu boleh menggunakannya untuk apapun dan kapanpun terserah kamu. Tidak perlu ijin dulu padaku. Karena saldo di dalamnya masih cukup untuk hidup tujuh turunan kita berdua."
Ben menyerahkan sebuah ATM yang tentu saja aku sambut dengan suka cita. Wanita mana yang tidak mau berada di posisiku seperti saat ini? Cantik, memiliki pacar seorang tuan muda kaya raya, dikasih uang banyak... Oh, inikah sebuah kenikmatan itu?
Ketika memasuki restoran, aku melihat satpam yang sangat tampan. Sebenarnya masih tampan Ben sih... kalau dilihat-lihat. Tapi entah mengapa mataku enggan berpaling dari satpam itu. Sampai saat aku menyadari bahwa....
"Aw!" seruku sambil memegangi pinggang yang sakit karena dicubit Ben.
"Jangan lihat laki-laki lain. Di sebelah kamu sudah ada laki-laki yang benar-benar mencintaimu, bodoh...!"
Cup!
Belum sempat aku menimpali perkataannya, Ben sudah membungkam mulutku dengan sebuah ciuman. Gila, ini tempat umum! Banyak orang yang memperhatikan kegiatan kami di tengah-tengah restoran. Bahkan beberapa diantara mereka segera mengabadikan momen menyebalkan ini sambil bersorak-sorai kesenangan. Oh, God... mereka tidak tahu bagaimana rasanya aku. Ini benar-benar memalukan!
"Mau makan apa?" tanya Ben setelah kami duduk di sebuah meja.
Aku memasang ekspresi cemberut. Kesal, gara-gara kejadian tadi si mbak-mbak pelayan ini senyum-senyum sambil menyodorkan buku menu.
"Sayang... kok cemberut begitu?"
"Mmmm..."
"Kamu mau pesan apa? Ini sudah waktunya makan siang, lho... Kamu nggak mau makan?"
"Nggak!"
"Ya sudah kalau tidak mau makan. Aku mau cium lagi di sini."
"Enggak... enggak... Eh, iya... iya... aku mau makan sama kayak kamu, minumnya juga samaan ya..." jawabku gugup.
Ben tersenyum melihat tingkah konyolku. Aku harus makan dan membuang jauh-jauh wajah cemberutku ini. Kalau tidak, Ben akan benar-benar nekat.
Aku berusaha menikmati makan siang kali ini. Spaghetti dengan taburan keju melimpah di tasnya sudah tidak menggugah selera makanku kali ini. Rupanya rasa kesalku menang atas rasa laparku.
Sedangkan Ben, lihat! Dia makan dengan lahap sambil sesekali mencuri pandang ke arahku yang hanya memainkan garpu. Sial... satpam tampan yang tadi aku lihat masuk ke dalam restoran. Jangan sampai Ben tahu dan menciumku lagi di sini.
"Sayang... udah selesai kan, makannya? Kita pulang yuk..."
"Tapi kamu bekum makan. Dari tadi juga gapunya cuma dimainkan. Kamu pikir aku tidak melihat apa?"
"Iiih... Aku mau makan di kantor kamu aja. Terus disuapin ya..."
"Beneran?"
"Iya lah..."
"Ya sudah, ayo..."
Aku menghembuskan nafas lega karena Ben tidak curiga sedikitpun. Untungnya dia juga tidak melihat satpam tampan tadi.
☠☠☠
Pagi ini aku berniat memberikan kejutan ulang tahun untuk Ben. Biasanya aku akan datang ke rumahnya agak siang atau malam sekaligus. Dan aku langsung masuk saja karena sudah memiliki kunci duplikat rumah dan kamarnya.
Aku masuk dengan mengendap-endap. Berharap si empunya rumah tidak mendengar suara langkah kaki uang sudah tidak beralas lagi. Sepi, mungkin penghuninya masih tidur.
Perlahan aku menapaki tangga menuju kamarnya. Aku buka pelan-pelan pintunya dan oh... ternyata tidak dikunci. Lumayanlah, suara kunci bisa saja menjadi berisik jika kamar ini dikunci dan aku harus membuka dengan duplikatnya.
Aku mengendap-endap seperti maling di Akane pacarku sendiri. Ah, dimana orangnya? Mengapa ia tidak terlihat di kasur atau dimana saja?
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Aku segera menyembunyikan diri di balik tumpukan baju kotor. Sedangkan kue yang aku bawa mungkin sudah berantakan di dalamnya. Ah... bagaimana aku ini? Payah sekali!
Saat aku perhatikan dengan seksama, betapa terkejutnya aku ketika mendapati siapa yang keluar dari kamar mandi tadi. Bukan Ben yang tampan atau tuan muda terkaya. Tapi bapak-bapak dengan usia 60 tahunan. Ya, kira-kira begitu.
Aku amati setiap gerak-geriknya. Dia melangkah menuju sebuah lemari. Tengok kanan-kiri sebentar, seperti memastikan tidak ada siapapun di kamar ini selain dirinya.
Lelaki tua itu melanjutkan aktivitasnya. Aku memperhatikan dengan seksama apa yang dia lakukan. Oh, God! aku mencoba menahan pekikanku sendiri dengan tangan kananku.
Laki-laki tua itu sedang menggigit seorang lelaki. Ia seperti menikmati darah segar, aku melihat bekas darah itu di ujung bibirnya. Selesai menghisap darah, kulit keriputnya perlahan mengencang kembali. Membuat ia, bahkan wajah nya berubah. Dan keterkejutanku kembali muncul ketika dia sempurna bermetamorfosa. Ben? Tuan muda? Lelaki tua tadi berubah menjadi tuan muda, pacarku!
Ben keluar dari kamar dan mengunci pintunya. Sepertinya dia sama sekali tidak menyadari bahwa aku ada di dalam kamarnya. Untunglah...
Setelah aku yakin Ben sudah pergi, aku mengendap-endap menuju tempat Ben menghisap darah seorang lelaki. Keterkejutanku datang yang ke tiga kalinya saat melihat lelaki yang dihisap darahnya oleh Ben. Satpam tampan yang aku temui di restoran!
Aku memeriksa bekas gigitan di lehernya dengan seksama. Setelah itu, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi...
semangat up nya,,
Haiii mampir yuk kekrya q 'Rasa yang tak lagi sama'🤗
tkn prfil q aja yaa jan lupa tingglkan jejaakk😍
vielen danke😘
-Ajari Aku Mencintaimu Dengan Iman-
..
mayat 5bulan d kasur .?
mampir juga di cerita ku yuk thor mari saling mendukung♡♡
mampir ya kak di tulisan ku like dan vote nya