Di dalam sebuah rumah tangga, terkadang hadir pihak ketiga. Tidak selalu berwujud perempuan cantik yang ingin merebut suami kita, tetapi bisa juga berwujud mertua kejam yang selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Mertuaku tidak menyukaiku karena aku miskin. Berulang kali suamiku disuruh menceraikan aku dan menikah dengan perempuan yang lebih kaya. Aku pikir semuanya selesai setelah suamiku meninggal, ternyata aku salah, mertuaku justru semakin kejam. Sanggupkah aku menghadapinya? Namaku Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kembali Waras
Handi keluar untuk menyambut Mas Harun dan Mbak Eka. Sementara aku di dalam kamar tidak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus keluar dan ikut menyambut mereka? Atau aku tetap di dalam kamar seperti yang dikatakan Handi saja? Akhirnya aku hanya mengamati mereka melalui kaca jendela.
Aku tidak begitu mengenal Mbak Eka dan Mas Harun. Meskipun sudah satu tahun menikah dengan Handi, aku tidak begitu mengenal kakak-kakak Handi, apalagi Mas Hasan dan Mbak Rina. Yang aku tahu mereka semua sangat baik tidak seperti mertuaku.
Aku jadi sadar, selama ini hanya Handi dan Heni yang memperhatikan ibunya. Kedua kakak Handi jarang sekali berkunjung atau menanyakan kabar ibu mereka.
"Ibu bagaimana Han? Tadi malam Heni memberi tahu aku kalau ibu jatuh?" tanya Mas Harun.
"Kelihatannya sih tidak apa-apa Mas, tetapi mengeluh sakit pinggang atau punggungnya. Aku juga sudah mengajaknya untuk periksa ke rumah sakit tetapi ibu tidak mau. Sebaiknya Mas harun dan Mbak Eka lihat sendiri di dalam."
Lalu mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Aku terus mengamati dari jendela kamarku.
Beberapa saat kemudian aku mendengar suara mertuaku meraung-raung sambil menceritakan kejadian semalam. Kedengarannya sangat lebay, seperti aku sudah melakukan penganiayaan berat kepadanya.
"Lihat yang sudah istrinya Handi lakukan pada ibu? Tega-teganya dia mendorongku sampai aku terjatuh! Salah apa aku sampai dia tega berbuat seperti itu?" Dan drama pun dimulai.
"Iya Bu, Heni sudah memberi tahuku," balas Mas Harun.
"Tetapi ibu tidak apa-apa kan? Apa ada yang luka? Ibu bisa jalan?" tanya Mbak Eka.
"Bisa, tapi pinggangku sakit sekali. Semalaman aku tidak bisa tidur, tanya saja pada Heni. Dia yang menemaniku dan memijit pinggangku semalam."
Seingatku tadi malam mertuaku mengeluh punggungnya yang sakit, sekarang berubah pinggangnya yang sakit. Nanti kalau Mas Hasan datang entah apanya lagi yang sakit.
"Ya sudah. Bagaimana kalau kita bawa ibu ke rumah sakit sekarang Mas?" Sepertinya Mbak Eka sedang meminta pendapat Mas Harun. "Kalau memang ada cidera dan harus dioperasi biar bisa dilakukan secepatnya sebelum terlambat."
"Aku terserah ibu. Kalau ibu merasa ada yang sakit sebaiknya kita berangkat sekarang. Bagaimana bu? Apa masih terasa sakit?"
"Apakah harus dioperasi?" Mendadak mertuaku kehilangan suaranya, yang tadinya nyaring sekarang menjadi pelan tetapi masih terdengar sampai kamarku.
"Ya kalau ternyata ibu mengalami cidera serius kemungkinan harus dioperasi," jawab Mbak Eka.
"Sekarang sudah terasa lebih baik, tidak sesakit tadi malam. Mungkin ibu tidak perlu dibawa ke rumah sakit."
"Coba ibu jalan, biar kami yakin kalau ibu benar-benar tidak apa-apa."
Rasanya aku ingin sekali keluar dari kamar dan melihat secara langsung bagaimana ekspresi mertuaku. Harus aku akui Mbak Eka memang the best.
"Tidak usah, yang penting ibu bisa jalan. Tadi juga ibu ke kamar mandi sendiri kok. Tidak usah ke rumah sakit, ibu sudah tidak apa-apa."
"Apa ibu yakin?"
"Iya, tapi ... " mertuaku menggantung kalimatnya.
"Tapi apa Bu?"
"Tapi aku harus membeli obat di apotek."
"Obat apa? Biar aku belikan sekarang," tanya Mas Harun lagi.
"Ibu tidak tahu nama obatnya, Heni yang tahu. Biar dia saja nanti yang membelikan. Kamu cukup memberi uangnya saja."
Aku tertawa geli di kamarku. Drama sepanjang ini endingnya hanya ingin minta uang. Pantas saja tadi malam mertuaku menolak ajakan Handi untuk periksa ke rumah sakit, ternyata ini alasannya.
Kalau mertuaku sudah ke rumah sakit dengan Handi, tentu Mas Harun dan Mbak Eka tidak akan datang dan tidak akan memberi uang. Padahal mereka berdua sudah memberikan jatah rutin tiap bulan. Tetapi sepertinya itu belum cukup. Kesempatan seperti ini pun masih digunakan mertuaku untuk meminta uang.
"Iya, nanti aku akan beri Heni uang."
"Titipkan aku saja, Heni kan sedang keluar." Aku semakin geli mendengarnya. Soal uang, bahkan sama Heni anaknya sendiri saja mertuaku tidak percaya.
"Ya sudah kalau ibu tidak apa-apa. Aku ingin melihat anaknya Handi sekarang. Emma dimana Han?"
"Ada di kamar Mbak," jawab Handi.
Lega sekali rasanya. Tadinya aku khawatir jika Mbak Eka dan Mas Harun akan ikut-ikutan menyalahkan aku. Aku memang mendorong pintu itu, dan benar itu yang membuat mertuaku jatuh. Tetapi aku melakukannya karena aku punya alasan.
Aku sempat berpikir jika mereka datang untuk menghakimiku.
Tetapi ternyata mereka tidak seperti itu. Bahkan aku sangat salut kepada Mbak Eka. Dia benar-benar pintar, tahu bagaimana cara menghadapi ibu mertua dengan cara halus tetapi tepat sasaran. Aku harus belajar darinya.
Tak sampai satu menit terdengar pintu kamarku diketuk.
"Emm, boleh aku masuk?" Itu suara Mbak Eka.
"Masuk saja Mbak," jawabku. Kebetulan aku sedang membuat susu untuk Damar. Perlahan pintu terbuka lalu Mbak Eka masuk.
"Apa kabar? Bagaimana si jagoan kecil?" sapa Mbak Eka ramah. Kemudian dia berjalan mendekati Damar yang aku baringkan di tempat tidur. Terakhir aku bertemu Mbak Eka adalah ketika aku melahirkan di rumah sakit.
Dulu sebelum Handi memperkenalkan aku kepadanya aku membayangkan jika Mbak Eka ini sosok yang sombong dan judes. Dalam benakku, gambaran sosok orang kaya selalu seperti itu. Apalagi keluarga Mbak Eka cukup terkenal di kota ini. Aku minder sekali, takut dia akan menganggap aku sampah seperti mertuaku. Tetapi ternyata aku salah. Mbak Eka sangat ramah dan luar biasa baik.
"Apa tidak diberi ASI?" tanya Mbak Eka. Mungkin dia melihat ada kotak susu formula di dalam kamar.
"Tadi malam tiba-tiba ASI ku berhenti keluar. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba berhenti begitu saja. Jadi sementara Damar diberi susu formula, sampai ASI ku kembali lancar."
"Bisa begitu?"
"Aku juga tidak tahu Mbak. Padahal biasanya ASI ku lancar tidak ada masalah."
"Apa kamu merasa stress akhir-akhir ini?" Aku tidak tahu kenapa Mbak Eka menanyakan hal itu.
"Stress???" Aku tidak tahu kenapa Mbak Eka menanyakan hal itu.
"Mungkin saja Mbak." Handi tiba-tiba masuk ke dalam kamar. "Dia ini moodnya naik turun tidak jelas. Sebentar dia lembut. sebentar marah, sebentar kemudian nangis. Aku sampai bingung menghadapinya. Kadang hampir seperti orang gila," terang Handi lepas. Sepertinya Handi cukup dekat dengan Mbak Eka.
"Memang aku separah itu ya Han?"
"Iya, kalau seperti ini kamu sedang waras. Tapi kalau kumat seperti tadi malam, huh ... sudah seperti orang kesurupan!"
Aku tertawa mendengar kata-kata Handi, sekarang itu terdengar lucu. Coba saja tadi malam dia berkata seperti itu, pasti dia sudah habis kena amukanku.
Memang yang dikatakan Handi benar, aku sendiri merasakannya.
"Kok bisa seperti itu Emma?"
"Tidak tahu Mbak. Mungkin karena sekarang ada anakku di sampingku. Aku merasa tenang, aku bisa berpikir jernih dan normal. Kemarin-kemarin aku merasa seperti orang gila, seperti yang Handi katakan."
"Lah, memangnya anakmu kemana?!"
keluarga besar heni belum tulus ngakui kesalahannya...huhuhu
Semangat ka author,di tunggu upnya ka
Terima kasih telah menghadirkan cerita bagus untuk kami