William Arthur Schopenhauer, seorang pemuda kepolisian yang merasa bosan dengan kesehariannya. Namun semua berubah seketika setelah ia memasuki pasukan khusus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flozzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14: Tyrant 8 Mission (2)
Seorang kurir narkoba terbangun di sebuah ruang penyiksaan, menemukan dirinya terikat di sebuah kursi penyiksaan. Keringat dingin bercucuran, membasahi dahi dan baju, melihat bercak darah kering di dinding dan lantai. Aroma logam dan darah sangat menusuk hidung... pintu cokelat di ujung ruangan terbuka kedalam, suara kernyitannya terdengar nyaring di ruangan hening.
Disana, berdiri seorang pria berkaos hitam dengan rambut terikat kebelakang. Dia berjalan pelan, menuju ke meja yang menempel di dinding, berbagai alat tajam seperti gunting, silet, pisau dan lain-lain tersusun rapi, telunjuknya yang kasar mengetes ketajaman alat-alat.
"Yosh, sudah bagus" pikirnya
Dia berjalan pelan, menyeret sebuah kursi kayu dan meletakkannya ke tengah 5 kurir terikat di kursi penyiksaan dan disusun berjejer tersebut. Baru satu kurir yang tersadar, yaitu yang ditengah, keempat kurir lain masih dalam keadaan pingsan.
Masaru kemudian duduk perlahan dan menatapnya dengan tajam. Kurir itu merasa sangat ketakutan, ia sampai memohon ampun,
"Kumohon, jangan lakukan ini" ucapnya dengan nada bergetar, Masaru terdiam sejenak, merenungkan sesuatu, kemudian menatap mata kurir itu dengan penuh makna,
"rasanya sudah lama sekali, menembak, menyiksa, membunuh seseorang. Terasa sangat menyenangkan", ucap Masaru pelan, ia memandang tangannya yang jari-jarinya ditekuk-tekuk perlahan.
" Yah, melawan manusia mulai terasa membosankan, menjadi penyihir memang yang terbaik, bisa melawan makhluk dengan kekuatan unik", Masaru kembali memandang dekat kurir didepannya
"Aku tidak ingin melakukan ini, tapi kalau kau mau bekerjasama, maka tidak ada yang perlu tersakiti, paham?", ucapnya pelan, namun mengintimidasi.
Kurir itu hanya mengangguk, sementara tubuhnya mulai bergetar tak terkendali. Masaru merespons dengan mengangguk pula, menunjukkan bahwa ia mengerti. Cahaya redup terlihat samar, dan dengan setiap kedipan mata, mereka mulai menyadari sesuatu. Keempat kurir lainnya mulai bangkit dari pingsan mereka, reaksi mereka sama persis dengan kurir pertama—berusaha untuk bergerak, memandangi sekeliling dengan ketakutan yang melanda.
"mari kita mulai saja" ucap Masaru,
ia memasang alat perekam di bawah kursinya, sambil mencoba meluruskannya, kemudian mengeluarkan secarik kertas yang kusut dari saku. Matanya kembali terfokus pada kurir di depannya yang terikat pada kursi penyiksaan.
"Baiklah, yang harus kau lakukan hanyalah me-" ucapannya terpotong tiba-tiba.
seorang kurir di ujung ruangan dengan tegas memotongnya, "Lepaskan kami, sekarang juga! Kalian akan segera mati mengenaskan, kalian bajingan. Bos kami pasti akan memastikan setiap detik kematian kalian penuh dengan penderitaan!!" Teriakan itu terlontar dari mulutnya dengan amarah yang membakar, sementara kurir-kurir lainnya tetap terikat pada kursi penyiksaan, diatur berbaris dengan rapi.
Masaru menatapnya dengan tatapan tajam, menekan jari telunjuknya di dekat mulut sebagai isyarat untuk diam.
"Sshhh, tolong kerjasamanya, aku tidak ingin membuat kalian kesakitan"
"Hehh memangnya siapa kalian? kalian hanya sekelompok polisi kecil tidak bergu-" buakk, suaranya terpotong,
Masaru meninju wajahnya dengan kuat, buakkk buakkk, dia meninjunya berkali-kali,
"Dengar, aku tidak main-main sekarang. Cobalah macam-macam dan kalian akan mati kukiliti hidup-hidup" teriaknya,
Kurir-kurir itu seketika terdiam ketakutan, meninggalkan suasana ruangan menjadi hening dengan napas tersengal-sengal,
"Hah hah...ehem, Baiklah, mari kita lanjutkan" ucap Masaru, dia menatap kurir didepannya kembali,
"Yang perlu kalian laku-" ucapannya dipotong lagi,
"Hah, coba saja bajingan", ucap seorang kurir lainnya,
Masaru memegang kursinya dan melemparkannya kuat, ia lalu pergi kearah kurir yang memotong ucapannya, dan menghajarnya tanpa ampun.
"Baiklah, langsung saja. Aku ingin kalian memberikan jawaban yang memuaskan.... Pertanyaan pertama, siapa bos kalian dan di mana dia berada?" tanya Masaru geram.
Cuih, kurir itu meludah ke arah Will dengan muka bonyok.
"Mati sana," ucapnya sinis. Masaru menatapnya dengan sikap tenang, tanpa mengedipkan mata sedikit pun saat diludahi.
"baiklah, kalian yang memaksaku" balas Masaru dengan tatapan biasa, ia mengambil sebuah palu dan diputar-putarkannya dengan santai.
***
AAAAAA, suaranya terdengar sampai keatas.
"Sial, padahal ruangan penyiksaannya ada dibawah tanah, tapi terdengar sampai keatas", gumam Will. terduduk santai di sofa sambil sedikit berkhayal,
" Tidak kusangka dia sangat berpengalaman dalam pasukan khusus, kukira hanya seorang penyihir biasa yang kerjanya membunuh iblis",
"Pak, ini tehnya" ucap seorang wanita, menghampiri Will, dia meletakkan secangkir teh ke meja depan sofa.
"Ah ya, terimakasih, dan jangan terlalu formal, jadi panggil aku bang saja" balas Will,
"Ah ya baik Pak, eh bang" jawabnya malu-malu,
Will menyeruput tehnya, slurrp ahh, dia meletakkannya lagi ke meja, dia kemudian menoleh kebelakang, melihat wanita itu menyiapkan minuman di dapur
"namamu Putri kan?" tanya Will tiba-tiba,
"Ah, iya, saya Putri" jawabnya malu-malu sambil mengusap rambut disekitar telinganya kebelakang
"Putri, apa menyiksa seseorang tanpa konfirmasi dan koordinasi dulu diperbolehkan?" tanya Will sembari memainkan rambut hitamnya,
"Ah.. untuk kepolisian biasa mungkin tidak boleh, tapi berbeda untuk kepolisian pasukan khusus. Mereka diperbolehkan mengambil tindakan sendiri" jawab Putri, ia menuangkan air panasnya kedalam cangkir.
"Hooo... Lalu apakah orang-orang seperti kalian sudah sering melakukan hal seperti ini?"
"Maksud bapak, eh abang, orang-orang dari pasukan khusus? ya, hal seperti ini sudah biasa. Karena melawan kejahatan super di gelapnya malam, maka tindakan keras harus dilakukan. Kalau tidak, mungkin sudah banyak anggota yang gugur" jelas Putri
"Kau masuk pasukan khusus tapi tidak tau itu?", potong Hana tiba-tiba,
" Oh, kau darimana barusan?", tanya Will memandangnya dari sofa, terlihat Hana hanya memakai kaos putih dengan celana pendek.
Hana kemudian membanting kan dirinya ke sofa, ikut bergabung bersama Will,
"Toilet", jawabnya.
Ruangan tiba-tiba terdiam, seolah waktu berhenti. Suara kipas angin melengkapi keheningan dengan helaian udara yang lembut, sementara tetesan air panas yang disiram melodi menambahkan sentuhan misteri. Detik jam berdenting, seperti tikus yang berlari di malam gelap... tik tok tik tok....
Seolah terpancing oleh ketenangan, tubuh mulai terpukau oleh kantuk yang menghampiri. Will menguap lelah, matanya berat seiring dengan kedipan yang semakin jarang....
"Tukk", Kepala Hana terjatuh ke pangkuan Will, rambut hijau tuanya terurai, sontak Will terkejut dan menghilangkan kantuknya,
" Sial, cewek ini sesuka hatinya saja. Padahal kita baru saja berkenalan, tapi dia terbuka sekali", gumam Will dalam hati,
Perlahan, Will mengangkat kepala Hana dari pangkuannya, kemudian ia berdiri dan meletakkan kepalanya ke sofa dengan hati-hati.
"Sial, Masaru lama sekali, sudah sejam lewat sepertinya".
Will kemudian sedikit meregangkan badannya dan berjalan kearah meja makan, ia melihat Putri yang sedang bermain dengan ponselnya.
" Kau tidak pulang?", tanya Will menghampiri.
Putri langsung menutup HPnya dan melihat kearah Will,
"Ah, tidak bang. Aku menunggu tuan Masaru selesai dulu", jawabnya ramah.
Will menarik kursi kayunya dengan perlahan.
" Begitu ya. Aku penasaran, Masaru orangnya seperti apa?", tanya Will memandang Putri, mereka berdua duduk di satu meja makan dan berhadapan.
Putri terdiam sejenak, menundukkan kepalanya,
"Tu-tuan Masaru orangnya sangat mengerikan",
" Mengerikan? seperti apa?", tanya Will penasaran,
Putri terdiam lagi, memikirkan kenangan masa lalu,
"Tuan Masaru orangnya sangat kasar, nada bicaranya, tatapannya juga sangat menakutkan. Dia dulu juga pernah bekerja di pasukan khusus selama lima tahun, sebelum akhirnya memutuskan keluar bergabung dengan para penyihir.
Aku ingat saat pertama kali bertemu dengannya, waktu itu aku baru diterima masuk sebagai karyawan. aku diperintahkan untuk membuatkan sebuah minuman untuknya, sialnya aku malah menumpahkannya dan membuat bajunya terkena noda. Aku dimarahin habis-habisan olehnya didepan banyak orang, sampai-sampai nangis terisak-isak, itu momen yang tak terlupakan hahaha", cerita Putri sambil tertawa,
Will hanya tersenyum mendengarnya,
"Apa yang membuatnya keluar kalau begitu?" tanya Will,
"Ah, benar. Aku bertemu dengannya hanya sebulan sebelum akhirnya ia keluar dari pasukan khusus. Dari yang kutahu, tuan Masaru bertengkar hebat dengan nona Maria. kudengar mereka berdua memang sudah lama bersitegang, dan puncaknya adalah berhentinya tuan Masaru dan bergabung ke penyihir", jelas Putri,
"Begitu ya, dia sebenarnya adalah sosok yang keras", bisik Will dalam hati
Tep... tep... tep..., suara langkah kaki mulai terdengar dari ruang bawah tanah, perlahan seseorang muncul dari tangga yang menuju kesana,
" Masaru, kau sudah selesai?", sapa Will begitu melihatnya menginjakkan kaki ke lantai,
"Ya", jawabnya singkat, terlihat darah berlumuran di wajah dan rambutnya. Tetes demi tetes darah mengalir ke sela-sela jarinya terjatuh ke lantai. Ia mengusap darah yang di keningnya
" Sial, dimana Hana?", tanya Masaru dengan ekspresi lelah,
"Dia sudah tertidur di sofa", jawab Will menunjuk kearahnya
Masaru menoleh,
" Baguslah, setidaknya tenang kembali rumahku", ia melihat tajam kearah Putri,
"Oe, Kau sudah siapin apa yang kusuruh?", tanyanya dengan suara berat
Putri sontak gemetar, segera mengambilkan handuk yang terlipat rapi,
" Su-sudah tuan Masaru. I-i-inn-ni handuknya, silahkan mandi dulu, saya sudah menyiapkan air hangat dan minumannya", jawab Putri pucat,
Masaru mengangguk,
"Baguslah", ia berjalan perlahan kearah Putri, kemudian mengambil handuknya dengan tangan berlumuran darah, kemudian
Berjalan Masaru ke toilet yang tak jauh dari situ, menutup pintu dan menguncinya.
" Haaa...", Putri menghela nafas, membantingkan dirinya ke kursi meja makan, ia memegang dadanya sambil sedikit tersengal,
sementara Will hanya duduk memerhatikan dari tadi, "Hahaha, memang menakutkan rasanya", ledek Will melihat kearah Putri yang berada didepannya.
Putri hanya menelan ludah, kemudian segera berdiri dan menyiapkan baju yang akan dipakai Masaru. Will mengalihkan pandangannya melihat kearah tangga ruang bawah tanah yang gelap,
" Wah, ngeri juga. Tangga dan lantainya jadi bebercak darah semua begitu, separah apa dia menyiksa para kurir itu?", bisiknya dalam hati.
Beberapa menit berlalu,
Will duduk di karpet depan sofa, disandarkannya punggung kekaki-kaki sofa, sambil menonton TV.
Sementara Putri masih terduduk di kursi meja makan terkantuk-kantuk menunggu Masaru.
"Putri, bajunya..", ucap suara memecah kantuk,
Sontak Putri terbangun setengah sadar dan memberikan baju yang di lipatnya.
" Ah, iya, maaf. I-", ucapannya terputus, betapa terkejutnya dia melihat Masaru yang berdiri disampingnya dengan telanjang dada dan rambut panjang yang tak diikat, segera ia membuang mukanya kearah yang berlawanan dengan gugup,
"Ma-ma-ma-ma maafkan a-a-aku tu-tuan Masaru. A-aku beneran ti-tidak sengaja. Tolong jangan marah padaku", teriak Putri memberikan bajunya sembari menutup mata dan membuang muka.
Masaru perlahan mengambil bajunya,
" Kau kenapa? aku hanya mau mengambil bajunya. Jangan berlebihan",
"Ba-baik", jawab Putri cepat.
Masaru kemudian kembali ke toilet dan memasang bajunya. setelah beberapa detik, ia kembali dengan tampilan baru, memakai kaos putih dan celana training, rambut panjangnya yang terikat kini terurai bebas. Ia kemudian kembali menghadap Putri,
"A-apa lantainya perlu dibersihin terlebih dahulu?", tanya Putri, matanya terlihat sangat lelah.
Masaru hanya diam memandanginya, yang tentu saja membuat Putri mematung ketakutan, Tiba-tiba, Masaru menangkat tangannya. Putri langsung menutup matanya, mengira dia akan dipukul atau ditampar.
Tap, Masaru memegang pundaknya dengan tangan kanannya, Putri membuka perlahan-lahan matanya,
"Tidak usah, biar aku saja. Kau beristirahatlah, ini sudah jam dua malam. Masih ada satu kamar kosong, kau bisa tidur disana",
" Ba-baik", jawab Putri, ia segera menuju kamar tersebut.
"Bagaimana dengan para kurir itu? apa kau membuat mereka mati?", tanya Will tiba-tiba dari kaki-kaki sofa.
" Tidak, begitu mendapat informasinya, aku langsung mengobati mereka. Nanti pagi polisi akan datang menjemput", jawab Masaru, ia berjalan ke toilet mengambil kain pel.
"Hmmm begitu ya...", gumam Will, ia memandang kearah televisi didalamnya,
Suara samar-samar TV mulai memasuki telinga, kepalanya mulai tersandar pasrah. Suasana remang-remang menyambut kantuk yang tak tertahankan, lampu kuning rumah mulai terasa gelap, pandangan semakin kabur...
dukk.
Kalau ada waktu sempatkan untuk mampir juga ya.