"Karena cantik saja tidak bisa ibu jadikan dia menantu. Sekalipun berasal dari keluarga kaya raya."
"Aku mencintai dia, Bu."
"Cinta saja tidak cukup untuk jadi pondasi sebuah pernikahan. Jika sudah menikah, bukan cinta lagi yang jadi prioritas hubungan."
"Jika bukan sama dia, aku tidak akan menikah."
"Sekalipun dia tidak jelas asal usulnya?"
Percakapan itu berhenti saat seseorang yang sedari tadi mendengarkan berani menampakkan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Biaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau kulepaskan
"Alu kenapa sih? Ih, gila banget sumpah! Bisa-bisanya aku mau kissing sama Dimas, padahal aku marah banget sama kak Jeno karena hal yang sama."
Aku terus uring-uringan saat mengingat apa yang aku lakukan waktu itu.
"Apa karena aku kepancing karena melihat adegan itu ya. Ah, gau ah!"
Aku membenamkan wajah di atas bantal, menutup seluruh tubuh dengan selimut.
Ponsel berbunyi, ada sebuah chat masuk.
Dimas.
Kak Jeno.
[Besok ke asrama aku jemput, ya.]
[Aku kayaknya dianter sama papa deh, Dim]
[Oke, kita ketemu di kampus aja kalau gitu.]
[Sipp]
[Good night, Babe]
"Aku harus balas apa, ya? Dimas kok manggil aku 'babe'? Balas biasa aja kali ya, belum jadian ini."
[Nigth.😘]
"Eeeh, kenapa malah emot itu. Aaaah, sialan!"
Aku kesal sendiri karena telah salah mengirim emot.
"Ah bodo lah. Buka chat dari kak Jeno dulu aja."
[Bukankah sudah aku katakan, kalau marah ngomong aja. Jangan diam dan mengabaikan.]
[Kakak itu nuntut apa ke siapa sih?]
[Ayo ketemu. Kita bicara.]
[Udah malam.]
[Aku di bawah]
"Hah, ngapain dia di depan rumah? Duh, gila sih, ya, kak Jeno."
Mau tidak mau aku turun untuk menemuinya.
"Kak."
Jeno mengangkat kepalanya dan mata kamipun bertemu.
"Kenapa pake masker? Kakak sakit?" Aku mendekat, lalu menyentuh keningnya, dingin.
"Kok bau alkohol, kakak minum?"
"Sedikit doang."
"Gak penting banget sih, Kak. Ngapain coba minum-minum."
Jeno menggelengkan kepala. Kemudian dia duduk di atas tanah sambil memijat kepalanya.
"Kakak pulang aja harusnya, kenapa malah ke sini?"
"Aku ingin bertemu sama kamu."
"Mau apa, Kak? Mau ngajak berantem lagi sama aku?
"Kamu bilang ... Kamu akan menjadi pacar masa depanku. Kamu melarangku berpacaran dengan wanita lain. Tapi kenapa, kenapa kamu malah memilih bocah itu setelah sekian lama aku menunggumu dewasa."
Tubuhku lemas saat mendengar apa yang dikatakan Jeno.
"Wanita itu ... Dia hanya anak temen orang tuaku yang memaksa untuk bertunagan denganku, tapi kami tidak pernah berpacaran karena aku punya janji pada seorang anak, akan menjadikan dia pacarku."
Jeno menjelaskan panjang lebar dengan suara yang terkadang hilang karena dia dalam kondisi mabuk.
"Kakak, pulang ya. Nanti aku telpon Kak elvan dulu."
Jeno duduk lemas dalam keadaan setenga sadar di depan mobilnya.
"Kak, ada kak jeno depan rumah. Dia mabuk."
"Mabuk? Jeno? Dia mabuk?"
"Mmm, mulutnya bau alkohol."
"Masa iya dia mabuk?"
"Iya, masa aku bohong. Ini gimana sekarang? Gak mungkin dia pulang sendiri bawa mobil. Minta tolong siapa kek."
"Lo ambil hp nya aja, cari nomor supirnya."
"Gak apa-apa ambil hp orang?"
"Darurat."
"Ya udah, iya."
Dengan sangat terpaksa aku mengambil ponsel Jeno yang ada di tasnya.
"Kak, pasword nya berapa?"
Jeno hanya diam dengan kepala tertunduk begitu dalam.
"Ish, bodo banget sih aku. Pake sidik jari dia aja biar gampang."
Setelah mencari beberapa lama, akhirnya aku menemukan kontak supirnya. Meminta dia untuk datang menjemput.
Melihat Jeno yang menunduk begitu dalam, aku merasa kasihan karena itu pasti sangat tidak nyaman.
Akhirnya aju duduk di sampingnya agar dia bisa menjadi sandaran untuknya.
Hatiku kembali berdebar saat Jeno bersandar padaku. Rasa itu kembali muncul, atau memang dia hanya bersembunyi sesaat.
Aku meliriknya sekilas, lalu menoleh dan melihat pipinya yang sempat aku tampar waktu itu.
"Maaf, ya, Kak." Kuelus lemabut pipi nya yang putih mulus.
Lama menunggu membuat aku jenuh dan bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba mataku terhenti di ponsel milik Jeno yang sedang aku pegang.
Rasa penasaran yang begitu besar membuatku lancang dan kembali membuka ponsel miliknya.
Awalnya aku penasaran dia menyimpan kontakku dengan nama apa. Aku mulai menekan nomor ponselku dan akhirnya muncul.
Unyil kesayangan.
Aku sedikit kecewa meski tidak tau nama apa yang aku harapkan muncul di layar ponsel.
Saat itu ada sebuah chat masuk, tidak sengaja aku menekan notifikasinya dan akhirnya terbuka.
Sebuah foto wanita yany ada di atas ranjang dengan pose yang seronok dan hanya menggunakan underware minim.
Dadaku panas melihatnya. Aku sangat kesal.
Dari situlah aku penasaran untuk melihat isi galeri ponselnya. Namun, aku tidak menemukan apa-apa. Hanya foto selfi dirinya dan juga ....
"Hah, yang bener aja. Isinya kenapa foto aku semua?"
Aku scroll semakin jauh dan ternyata hanya ada fotoku dan dirinya saja. Bahkan fotoku waktu SD pun masih ada.
"Ih, parah!" Aku kembali kesal saat melihat ada fotoku yang sedang tidur menganga, dengan posisi tubuh sepertu kodok terlentang.
"Ngapaim coba nyimpen foto jelek gini. Hapus aja kali, ya. Eh, tapi kalau aku hapus, nanti dia tau aku diam-diam membuka ponselnya."
Akhirnya aku membiarkan foto itu tetap di sana, toh dihapus pun percuma saja karena dia sudah melihatnya selama ini.
Ponsel Jeno kembali berdering, seseorang menelpon dengan nama kontak.
Love 💜
Lagi, aku harus merasakan sakit. Tidak heran, itu karena aku yang memang tidak pernah sadar diri.
Lebih baik aku abaikan panggilan itu karena tidak ingin ada salah faham antara Jeno dan kekasihnya.
Udah pling bener aku mulai membuka hati untuk Dimas. Aku saja sakit melihat orang yang aku cintai mencintai orang lain. Tak apa, mungkin kalau sudah berjalan, aku akan bisa mencintai Dimas.
Aku memgembalikan ponsel Jeno kembali ke dalam tasnya. Tidak lama berselang, ada mobil datang. Seseorang turun.
"Maaf, neng. Saya supirnya den Jeno."
"Oh, iya."
Setelah Jeno masuk, supir itu berpamitan padaku dan mengucapkan terimakasih.
"Ya, mulai sekarang aku akan mulai menghapus nama kakak dari hatiku. Aku anggap janji kita tidak pernah terucap. Selamat tinggal, Kak."
Sakit, sangat sakit. Melepaskan dia yant begitu kita cintai bukanlah hal yang mudah.
Bagaimana aku bisa begitu saja melupakannya, sementara cinta ini tetap bertahan selama 7 tahun lamanya.