Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebatas Profesional
Denting halus cangkir porselen yang bersentuhan dengan piring alasnya terdengar samar di antara riuh rendah musik jazz instrumental yang mengalun dari sistem suara kafe.
Di meja sudut berpelindung panel kayu walnut itu, hawa dingin dari pendingin udara terasa makin menyengat kulit Nadhira.
Gadis itu berusaha keras mempertahankan senyum tipis di wajahnya, meski jemarinya di bawah meja saling bertautan erat, mencengkeram kain roknya sendiri untuk menyembunyikan rasa gugup.
Bramantyo Satria menyandarkan punggungnya yang tegap, lalu menyeruput kopi hitamnya santai. Tatapannya tidak pernah benar-benar terlepas dari Nadhira.
Setiap kali mata pria itu meneliti wajah Nadhira, ada kilat kepuasan yang teramat kentara, seolah-olah Nadhira bukanlah seorang calon mitra kerja independen, melainkan sebuah barang pameran yang menarik untuk dipajang.
"Jadi, Nadhira," buka Bram dengan intonasi suara yang direndahkan.
"Sebelum kita bahas lebih jauh soal sketsa logo yang kamu bawa, saya penasaran. Mahasiswi berbakat kayak kamu begini... kok mau repot-repot ambil proyek freelance kecil-kecilan? Bukannya anak DKV biasanya lebih suka nongkrong atau cari pacar kaya?"
Nadhira menelan ludah, berusaha menjaga nadanya tetap datar dan netral. "Bagi saya, proyek luar kampus ini bukan sekadar cari uang saku tambahan, Pak Bram. Ini cara saya menguji standar kemampuan saya di dunia kerja nyata. Saya ingin membangun portofolio yang solid atas nama saya sendiri."
"Panggilan 'Pak' itu bikin saya kerasa tua banget, Nadhira," tawa Bram terkekeh pelan.
Pria itu memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan di atas meja, membuat jarak di antara mereka kembali terkikis. "Saya baru tiga puluh dua tahun. Di dunia industri kreatif, kita ini rekan seumuran. Panggil Bram aja. Lagipula, panggilan yang terlalu formal cuma bikin ada jarak di antara kita. Padahal, saya paling suka kalau hubungan kerja itu terasa... hangat."
Kata 'hangat' yang diucapkan Bram terasa aneh di telinga Nadhira. Ada nada menggoda yang sangat kentara, bukan jenis keramahan profesional yang biasa ia temui pada desainer senior lainnya.
"Maaf, Pak-maksud saya, Mas Bram," ralat Nadhira cepat, mencoba menurunkan ketegangan tanpa harus terkesan tidak sopan.
"Tapi untuk menjaga profesionalitas kerja, saya lebih nyaman memakai kata sapaan yang formal. Terutama karena ini proyek pertama kita."
Bram tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Ia sama sekali tidak tersinggung atau mundur. Justru, ketegasan Nadhira seolah menjadi permainan kecil yang menarik baginya.
"Kamu ini kaku banget ya? Makin kaku malah bikin makin penasaran," ujar Bram tanpa alih-alih menyembunyikan niatnya.
"Anak-anak muda sekarang biasanya gampang banget berbaur. Coba kamu agak rileks sikit. Proyek Vektorika ini nilainya nggak kecil lho, Nadhira. Kalau kamu bisa bikin saya terkesan, bukan cuma lewat gambar di atas kertas, tapi juga lewat sikap kamu, saya bisa jamin kontrak ini bakal berlanjut sampai tiga tahun ke depan."
Nadhira menarik napas pendek melalui hidung, menahan kekesalan yang mulai membakar dadanya. Ia segera menggeser folder draf kertas kalkir dan tablet miliknya ke tengah meja, persis di depan Bram, menciptakan benteng pembatas secara tidak langsung.
"Ini draf eksplorasi awal untuk rebranding logo Vektorika," potong Nadhira langsung pada inti bahasan, enggan melayani arah pembicaraan Bram yang makin melenceng.
"Sesuai brief yang dikirim lewat surel kemarin, saya menggabungkan konsep geometris modern dengan bentuk dasar huruf V yang lebih dinamis. Ada tiga alternatif konsep yang bisa dilihat di halaman pertama."
Bram melirik sebentar ke arah lembar kertas kalkir itu tanpa minat yang sungguh-sungguh. Jemari tangannya yang mengenakan cincin perak itu mengetuk pelan meja, lalu matanya kembali terangkat menatap Nadhira.
"Bagus sih," komentar Bram asal.
"Tapi jujur ya, Nadhira... kertas dan garis begini mah siapapun yang kuliah desain pasti bisa bikin. Yang bikin proyek ini istimewa itu kan siapa orang di balik desainnya. Saya pilih kamu bukan cuma karena gambarmu, tapi karena gaya dan kepribadianmu."
Bram mendadak mengulurkan tangannya ke depan. Jemari pria itu meraih pinggiran tablet milik Nadhira yang terletak di dekat tangan gadis itu.
Namun, alih-alih mengambil tabletnya, jemari Bram secara sengaja menggeser mendekat dan menyentuh punggung tangan Nadhira, mengelus kulitnya pelan dengan gestur yang sangat tidak sopan.
Nadhira tersentak hebat. Refleks, ia menarik tangannya dengan cepat ke pangkuan bawah meja, hingga pena yang dipegangnya terjatuh dan menggelinding di atas lantai kayu.
"Maaf!" seru Nadhira kaget, wajahnya mendadak pucat pasi.
Bram sama sekali tidak merasa bersalah. Pria itu justru menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi sambil tersenyum miring, menikmati kepanikan yang terpancar dari raut wajah mahasiswi di depannya.
"Kenapa kaget gitu, Nadhira?" tanya Bram santai, matanya menyipit jenaka. "Saya cuma mau ambil tablet kamu kok. Jangan tegang begitu dong. Kalau sama saya, kamu santai aja. Saya ini tipe klien yang sangat santai... asal partner kerja saya tahu cara menghargai kebaikan saya."
Dada Nadhira berombak kencang. Rasa tidak nyaman yang sejak awal tertahan kini berujung pada rasa terancam yang nyata. Sikap Bram sudah jelas melampaui batas etika kerja.
Pria ini secara terang-terangan menggunakan posisi dan tawaran nilai kontraknya untuk mengintimidasi dan menggoda dirinya.
Di dalam kepalanya, kata-kata Reyhan tadi malam kembali bergema dengan sangat jelas, menghantam kesadarannya, 'Dunia industri kreatif luar kampus tidak sesederhana yang kamu bayangkan. Ada banyak hal dan risiko etika yang belum kamu pahami.'
Nadhira memejamkan mata sejenak, rasa sesal yang teramat sangat mendadak merayapi hatinya. Mengapa ia begitu keras kepala? Mengapa ia menuduh Reyhan hanya ingin mengekangnya, padahal suaminya itu sudah tahu persis betapa liciknya sosok pria yang sedang duduk di hadapannya saat ini? Gengsi dan keinginannya untuk membuktikan diri secara mandiri justru menjebaknya dalam situasi sesulit ini.
Namun, Nadhira menolak untuk terlihat lemah. Sebagai mahasiswi desain yang terbiasa bersikap tegas, ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Ia menegakkan posisi duduknya, menatap lurus mata Bram dengan raut wajah setenang mungkin, meski jemarinya yang tersembunyi di pangkuan masih gemetar tipis.
"Pak Bram," kata Nadhira dengan suara tegas yang diusahakan tidak bergetar.
"Saya hadir di sini atas nama profesionalitas kerja sebagai desainer independen. Jika diskusi sore ini hanya berfokus pada hal-hal di luar batasan kerja dan draf desain yang sudah saya siapkan, saya rasa meeting ini tidak bisa kita lanjutkan."
Bram sedikit terkejut mendengar ketegasan dalam intonasi suara Nadhira. Alisnya terangkat sebelah, lalu kekehan sinis keluar dari mulutnya.
"Wah, galak juga ya ternyata," ujar Bram dengan nada meremehkan.
"Nadhira, Nadhira... Kamu ini masih mahasiswi, baru mau merangkak di dunia industri. Jangan sok jual mahal begitu deh. Kamu tahu berapa banyak desainer kawakan yang ngantre mau dapet proyek dari Vektorika? Saya ngasih kesempatan emas ini ke kamu lho. Harusnya kamu bersyukur dan bisa diajak kerja sama dengan manis."
"Kerja sama profesional, iya. Tapi kalau sikap Bapak seperti ini, saya berhak menolak," balas Nadhira berani, meski hatinya mencelos takut jika pria itu nekad berbuat lebih jauh di tempat umum ini.
Nadhira mulai mengulurkan tangannya untuk membereskan lembaran kertas kalkir dan memasukkan tabletnya kembali ke dalam tas. Ia sudah memutuskan untuk menyudahi interaksi berbahaya ini, peduli setan dengan nilai kontrak besar yang dijanjikan.
Namun, sebelum Nadhira sempat menarik kertas-kertasnya, tangan Bram bergerak cepat menahan ujung folder milik Nadhira di atas meja, menghentikan gerakan gadis itu.
"Tunggu dulu, Nadhira," tekan Bram, nada suaranya mendadak berubah dingin dan penuh intrik.
"Saya belum selesai bicara. Kamu pikir kamu bisa datang, duduk, terus main pergi gitu aja setelah saya luangin waktu buat ketemu kamu? Nggak secepat itu permainan di dunia nyata jalan, Dek."
Bram makin mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Nadhira dengan pandangan mengintimidasi. "Kamu selesaikan dulu persentasi kamu, duduk manis di situ sampai saya bilang selesai. Kalau kamu berani jalan keluar dari kafe ini sekarang, saya pastikan nama kamu bakal di blacklist dari jaringan agensi kreatif yang saya kenal di kota ini. Kamu nggak bakal bisa dapet proyek freelance manapun lagi sebelum kamu lulus."
Ancaman itu menghantam Nadhira bagaikan pukulan telak di dada. Wajah Nadhira kian memucat. Ancaman blacklist di dunia industri kreatif adalah mimpi buruk bagi setiap mahasiswa yang baru ingin merintis karir.
Nadhira membeku di tempat duduknya. Tangannya tertahan di atas folder, matanya menatap Bram dengan rasa takut dan amarah yang bercampur aduk.
Ia merasa terjebak dalam sudut yang sangat menyudutkan, antara mempertahankannya harga dirinya atau mengorbankan masa depannya di dunia desain.
Bram yang melihat Nadhira terdiam kaku seketika menyunggingkan senyum kemenangan. Pria itu kembali mengulurkan tangannya, hendak membelai jemari Nadhira yang mematung di atas meja.
"Nah, gitu dong... mengalah sedikit kan enak," bisik Bram dengan senyum licik yang makin melebar. "Duduk yang tenang, nanti kita-"
Namun, sebelum jemari Bram berhasil menyentuh kulit Nadhira untuk kedua kalinya, sebuah bayangan tinggi tegap mendadak mendekat ke area meja mereka.
...Bersambung......