Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISA-SISA KEHANCURAN DI TENGAH MALAM

Jakarta pukul 02.00 pagi adalah rimba kelam bagi jiwa-jiwa yang tersesat dan hancur.

Di sudut sebuah klub malam eksklusif yang remang dan bising oleh dentuman bass musik techno, seorang pria duduk bersandar sendirian di sofa VIP paling pojok.

Kemeja batik tulis mewahnya sudah kusut, dua kancing teratasnya terbuka sembarangan, dan baret militer kebanggaannya tergeletak mengenaskan di atas meja marmer di antara botol-botol wiski tinggi yang telah kosong.

Gibran Mahendra sang Letnan Jenderal Komando yang biasanya berdiri tegap bagai benteng karang kini tak ubahnya bagaikan sebuah reruntuhan yang siap roboh.

Setiap tegukan alkohol keras yang ia paksakan masuk ke tenggorokannya adalah upaya putus asa untuk membunuh bayangan Ziva yang tersenyum manis dalam dekapan Aris.

Penyesalan demi penyesalan datang bertubi-tubi tanpa ampun, menghantam dadanya jauh lebih membakar ketimbang luka serpihan granat di perbatasan utara tiga tahun silam.

Ia meratapi keputusannya memperistri Anindita, ia meratapi kebebalannya mengusir Ziva dari kehidupannya, dan ia membenci dirinya sendiri setengah mati karena baru menyadari bahwa pangkat bintang tiga setinggi apa pun tak mampu mengobati rasa hampa yang membunuh jiwanya setiap hari.

"Ziva..." gumam Gibran parau, suaranya yang serak tenggelam di antara keriuhan musik malam.

"Kenapa harus Aris... kenapa dari sekian banyak pria... harus keponakan saya sendiri?"

Kepalanya terkulai lemas di sandaran sofa leather yang dingin.

Pandangannya kabur berlapis bayangan ganda, dunianya berputar hebat.

Sang Jenderal yang paling disegani di Markas Besar itu akhirnya tumbang bukan oleh serbuan musuh di medan perang, melainkan oleh rasa bersalah dan cinta terlambat yang membusuk di dalam hatinya.

Seorang manajer keamanan klub malam itu mendekat dengan langkah ragu-ragu.

Ia paham betul pria yang tak sadarkan diri ini bukanlah orang sembarangan, terlihat dari dua ajudan bersetelan gelap yang bersiaga di luar pintu masuk utama (yang kini sibuk dan panik karena sempat diancam akan dipecat oleh Gibran jika berani melangkah masuk ke dalam area bar).

"Pak?

Maaf, Pak... klub kami sudah harus tutup," tegur manajer itu pelan sambil menyentuh bahu tegap sang Jenderal.

Gibran sama sekali tidak merespons.

Hanya erangan rendah dan helaan napas berat beraroma alkohol yang keluar dari bibirnya.

Manajer itu dengan hati-hati merogoh saku kemeja Gibran dan mengambil ponsel dinasnya yang terus menyala menampilkan panggilan tak terjawab.

Ponsel mahal itu ternyata tidak terkunci.

Di daftar kontak teratas yang ditandai dengan ikon bintang (kontak favorit), tertera sebuah nama tanpa pangkat, tanpa jabatan formal: ZIVA (HOME).

Si manajer mengira nama ini adalah istri atau kekasih pemilik ponsel.

Tanpa berpikir panjang demi mengamankan tempat usahanya, ia langsung menekan tombol panggil.

*ZIVA YANG DATANG*

Di apartemennya yang sunyi di kawasan Jakarta Selatan, Ziva masih terjaga sepenuhnya.

Ia baru saja selesai menangis sesenggukan setelah melewati makan malam traumatis di rumah Gibran.

Aris sudah lama pamit pulang ke rumah orang tuanya, namun bayangan tatapan hancur Gibran di balkon malam tadi terus membayangi dan merobek pikirannya.

Tiba-tiba, ponselnya di atas meja nakas bergetar keras.

Nama yang tertera di layar membuat napas Ziva terhenti seketika: Gibran Mahendra.

Ziva bermaksud keras untuk mengabaikannya dan membiarkan ponsel itu mati.

Namun, jemarinya seolah memiliki memori dan kehendak sendiri saat menggeser tombol hijau ke kanan.

"Halo?" suara Ziva terdengar bergetar menahan cemas.

"Halo, selamat malam, Mbak.

Ini kami dari manajemen area VIP Klub X," suara petugas di seberang sana terdengar tergesa-gesa.

"Pemilik ponsel ini dalam kondisi mabuk berat dan sudah tidak sadarkan diri.

Klub kami akan segera tutup 15 menit lagi.

Mohon bantuannya untuk menjemput beliau, karena ajudan militernya dilarang masuk oleh beliau sendiri dan kondisi di luar mulai ramai."

Ziva membeku seketika.

'Mabuk?

Gibran Mahendra yang selalu disiplin baja?

Pria yang paling membenci konsumsi alkohol berlebih?'

"Saya... saya bukan siapa-siapanya—" Ziva hendak menyangkal dan menolak, namun logikanya mendadak lumpuh kalah oleh insting protektif yang selama bertahun-tahun ini secara alami mengakar di jiwanya untuk pria itu.

"Baik.

Saya ke sana sekarang juga.

Tolong jaga dia jangan sampai ada yang mengambil foto."

Ziva tiba di area VIP klub malam itu dengan napas terengah-engah dan jantung berdebar kencang.

Matanya membelalak saat menyaksikan Gibran duduk lunglai tak berdaya, teramat jauh dari sosok Jenderal kaku bertangan dingin yang selama ini dikenal publik.

Ada rasa sakit yang mendalam meremukkan dada Ziva saat melihat pria yang ia puja sepenuh hati itu kini tampak begitu rapuh dan tak berkutik.

"Om..." Ziva menyentuh lengan tegap Gibran dengan lembut.

Gibran mendongakkan kepalanya secara perlahan.

Manik mata hitamnya yang biasa tajam kini memerah dan sayu.

Saat penglihatannya yang kabur akhirnya mampu menangkap garis wajah Ziva, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya sebuah senyuman yang begitu tulus, manis, namun sarat akan penderitaan.

"Ziva...?

Aku... aku pasti sudah mati, ya?" igau Gibran dengan suara tidak jelas dan terbata-bata.

"Kenapa... kenapa malaikat yang menjemputku wajahnya mirip sekali denganmu...?"

Ziva menarik napas panjang, berusaha keras menahan lelehan air mata yang siap menetes.

"Ayo bangun dan pulang, Om.

Malu dilihat orang banyak."

Ziva merangkul erat lengan kekar Gibran, memapah tubuh tegap dan berat itu melangkah keluar menembus lorong klub menuju area parkir.

Ajudan Gibran yang melihat hal itu bergerak sigap ingin membantu, namun Ziva memberi isyarat tegas agar mereka cukup mengawal dari belakang dengan mobil dinas.

Aroma wiski bercampur dengan wewangian woody maskulin khas tubuh Gibran menyerbu indra penciumannya, membawa kenangan Ziva melayang kembali pada masa-masa nekat di mana ia selalu mengejar pria ini tanpa peduli harga diri.

Di dalam mobil Honda Jazz milik Ziva, Gibran yang duduk di kursi penumpang tak berhenti meracau.

Jemari kekarnya yang gemetar memegang erat tangan kiri Ziva yang sedang memegang setir memegangnya begitu kuat, seolah ia takut Ziva akan menghilang menjadi asap jika ia melonggarkan genggamannya sedikit saja.

"Ziva... tolong... jangan menikah sama Aris..." bisik Gibran lirih.

Setetes air mata tampak menetes dari sudut matanya yang terpejam rapat.

"Saya salah...

Saya pria paling bodoh dan pengecut di dunia...

Maafkan saya, Ziva...

Maafkan saya..."

Ziva menggigit bibir bawahnya erat-erat, membiarkan air matanya lolos membasahi pipi.

"Kenapa baru sekarang Om bilang semua ini?!

Kenapa baru diucapin saat aku sudah mati-matian mencoba membuka hati buat orang lain?!"

"Karena saya takut..." sahut Gibran tiba-tiba dengan suara yang sedikit lebih jelas, meski matanya tetap terpejam rapat dalam kepungan alkohol.

"Saya takut mencintaimu akan membuat saya kehilangan kendali sebagai prajurit...

Dan sekarang... saya benar-benar telah kehilangan segalanya..."

Malam itu, Ziva tidak membawa Gibran kembali ke rumah mewahnya di Menteng yang kosong dan dingin.

Ia membawa pria itu ke apartemen pribadinya.

Logika dan hatinya sama-sama menolak untuk membiarkan pria yang sedang hancur ini sendirian di rumah besarnya.

Saat Ziva bersusah payah merebahkan tubuh tegap Gibran di atas sofa empuk ruang tengahnya, Gibran secara refleks menarik kuat pergelangan tangan Ziva hingga tubuh gadis itu hilang keseimbangan dan jatuh tepat ke dalam dekapan dadanya.

Dalam kondisi mabuk dan setengah sadar, Gibran merengkuh dan memeluk tubuh Ziva dengan begitu posesif dan erat, menyembunyikan wajah tampannya yang basah di lekukan leher Ziva.

"Jangan pergi lagi...

Saya mohon, Ziva..." rintih Gibran dengan nada yang meremukkan hati.

"Kali ini saja... biarkan saya memilikimu dalam mimpi saya..."

Ziva membeku tak berkutik di dalam dekapan hangat itu.

Hatinya kembali bergemuruh hebat dalam medan perang batin.

Di satu sisi ada Aris yang teramat tulus mencintainya tanpa syarat, dan di sisi lain ada Gibran Mahendra pria kaku yang selalu dan akan tetap menjadi pusat gravitasi dari seluruh semestanya.

Aroma keberadaan Gibran yang mendekat terasa begitu dekat, namun jalan menuju kebahagiaan itu kini dipenuhi duri tajam pengkhianatan kepada satu-satunya orang yang paling tidak bersalah dalam takdir gila ini: Aris.

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!