Hidup yang dari awal sudah berantakan ditambah lagi dengan masalah baru yang membuat hidupnya makin susah diatur kembali
berawal dari pertemuan tak terduga,membuat keakraban terjalin, hingga niat perjodohan terbentuk, tanpa meminta persetujuan dari kedua pihak yang dijodohkan
Bagaimana kisahnya, ??
Apakah hidup akan semakin rumit atau malah akan bahagia ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fenhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15
“Iya kak, mereka udah tidur kayaknya”
“hmm, ini lagi hubungi Kaysa, belum ada balasannya”
“Udah kak”
“Iya, aman”
“Iya”
Devan selesai bicara lewat hp dengan kakaknya. Dena masih saja khawatir dengan keadaan Arsen walau Kaysa telah disuruhnya menginap. Seorang ibu sepertinya akan terus bersikap seperti itu jika berjauhan dengan anaknya, walau dia yakin keamanan anaknya terjamin, walau dia tahu anaknya sudah mandiri, para ibu akan tetap khawatir jika tak melihat atau mendengar suara dari anaknya. Devan masih berharap dapat balasan dari Kaysa. Begitupun yang dialami Devan saat ini. walaupun sedikit berbeda. Dia bukan seorang ibu yang khawatir dengan anaknya yang jauh dari jangkauannya. Dia adalah seorang penanti dan pejuang kasih dari sang kinasihnya yang belum jua terbalaskan. Rasa khawatir melanda semenjak jarak memisahkan beberapa meter, tembok dua lapis menghalang, satu ruang kosong terisi diantara mereka. Kosong berisi, namun tak hidup. Hati mereka sedikit sama. Selalu ada kekosongan mengisi disetiap celah yang terabaikan. Devan khawatir akan semua. Hati, fisik, dan seorang Kaysa. Sedikit langkah kedepan saja. Bisa merubah ketiganya. Semoga saja hati dan fisiknya selalu melangkah bersama meraih yang ketiga, tanpa memberi celah perubahan yang merugi bagi keduanya. Pandangan Devan terus menerawang ke langit-langit kamar. sesekali lirikan mata pada hp yang tergeletak disampingnya.
Pintu kamar kedua dari kamar Devan perlahan terbuka. Seseorang membuka dan menutup dengan perlahan. Mengendap-endap turun tangga menuju dapur. Mengisi setengah gelas air dan menambahkan beberapa balok es dan sedikit perasan jeruk. Kembali mengendap menaiki tangga dan menuju balkon tidak jauh dari kamar tempatnya keluar. Ia menggeser kursi dan meja sedikit kedepan tepat seluruhnya beratap langit malam. Mencari posisi duduk ternyaman dan segera ia menengadah ke atas. Mata menelusuri langit malam. Mencari gugusan bintang atau sedikitnya setitik cahaya bintang yang bisa ia pandang. Setelah mendapatkan yang dicari. Ia mulai menyetel musik, menghubungkan dengan headphone yang telah nangkring sedari tadi dilehernya. Mulai memasang diantara telinga dan merenungi setiap kata yang tercipta dalam iringan musik. Sesekali mencecap asam dingin air tak berwarna dalam gelas kaca bening. Transparan. Semua nampak. Cahaya langitpun masih terlihat jelas dari gelas kaca bening itu. Bagaimana dengan hatinya? Fisiknya?, bisakah setransparan gelas kaca bening itu?. Tanya terus mengalir. Jawab terus hanyut diantara tanya tanpa bertegur sapa, tanpa mengenal siapa aku, aku siapa, yang muncul hanya keasingan. Kosong berisi terasa asing. Sayup-sayup asing mulai mencipta kata. Semakin jelas mencoba meredam keterasingan dan keheningan malam.
“Hai”
“Nona malam”
“Haloo, nona malam”
Tak mendapat balasan, perlahan mulai menyentuh penghalang suara. Memaksa masuk diantara kata-kata yang telah termaktub. Namun, tak mengusik sang pemilik.
“Hai, nona malam”
Seolah telah terjadi kesepakatan diantaranya. Sang penerobos langsung saja mencari posisi ternyaman disamping sang pemilik. Menjeda alunan musik terdengarkan hanya untuk sang pemilik dan dengan lancang merebut gelas kaca bening, mencecap isinya.
“Gak bisa tidur?”
“Hmm”
“Kok minumnya begini?”
“Hmm”
“Arsen langsung tidur tadi yah?”
“…”
“Pasti cari bukunya dulu”
“Hmm”
“Kalian pasti ngobrolin dulu”
“Hmm”
“Dilema yah?”
“Hmm”
“Sama”
“Hmm”
“Memangnya dengan mata dibuka tutup gitu, bisa nenangin?”
“Hmm”
“Gak apa kan, aku jeda lagumu?”
“Hmm”
“Gak ada balasan lain?”
“Hmm”
“Beneran?”
“Hmm”
“Gak mau bagi rasa bimbangmu?”
“. . .”
“Aku salah nanya kayaknya”
“Hmm”
“Iya juga”
“Hmm”
“Gak bosan?”
“. . .”
“Langit disini mendukung banget yah”
“Hmm”
“Gak mau pindah tempat?”
“. . .”
“Iya juga yah. Masih ada setitik diatas sana”
“Hmm”
“Lihat, kamu lihat cahayanya sedikit tambah terang”
“Hmm”
“Kayaknya, kita harus sering-sering begini”
“. . .”
“Yah, biar tambah terang”
“. . .”
“Atau kamu ingin banyak terang dari titik lain”
“. . .”
“Iya juga sih, titik ini saja terangnya masih harus dirawat”
“Hmm”
“Kamu mau rawat?”
“. . .”
“Aku selalu disisimu”
“. . .”
“Jangan suka menjauh”
“. . .”
“Mending aku ditarik ulur, pernah dekat, walau sakit”
“. . .”
“Celah didiriku lebih cocok diisi dirimu”
“. . .”
“Aku udah berpuluh kali renungi, jawabannya selalu sama, kamu”
“. . .”
“Kamu gak mau buka ruang untukku?”
“. . .”
“Kalau kamu khawatir ada yang marah diluar sana, mending buang jauh-jauh pikiran itu”
“. . .”
“Gak ada yang benar-benar kuijinkan dekat selainmu, kamu harus tahu itu”
“. . .”
“Aku benar-benar yakin sama kamu”
“. . .”
“Aku gak bisa maksa kamu, walau aku ingin”
“. . .”
“Pada akhirnya, itu tergantung dari satu kata darimu”
“Hmm”
“Aku senang, Hmm”
“Hmm”
“Indah yah”
“Hmm”
“Kamu indah, pantas sekitar begitu hening, semuanya takjub akan indahmu”
“Hmm”
“Hahahahah, Percaya diri sekali yah”
“Hmmm”
“Hmm, nona malam”
“Hmm”
“Sering-sering yah”
“Hmm?”
“Kalau selalu kan, berarti kamu setuju”
“. . .”
“Hahahahah, lucu”
“. . .”
“Jangan bosan, hmm . . hmm. . hahaha”
“Hmmmmm”
“Udah habis nih air asam dinginnya”
“Kamuu” Kaysa sedikit kesal, minumnya dihabiskan oleh Devan
“Kokk, langsung berubah?”
“Inii”
“Yah kan, aku ingin coba juga, kamu gak larang daritadi kok”
“Hm”, Devan seketika merusak kekhusyukan malam ini
“Cepat banget kembalinya, hmm. . hmm”
“. . .”
“Hei, hmm hmm hmm”
“Tidurr”, Kaysa mulai melangkah menjauhi balkon
“Aduh, kamu, kayak roller coaster, bikin pusing”, Akting Devan mulai bermain seolah benar kepalanya pusing
“Hmm”
“Mau kemana?”
“Tidur”
“Udahan hmm hmm?”
“Hmm”
“Pusing aku tiba-tiba, wahananya naik turun daritadi”
“Dahh”
“Aku berasa mual nih”
“Hmm”
“Aku mau muntah, hoooeek”, Devan terus berakting, namun tak digubris Kaysa. Ia malam ditinggalkan di balkon.
“Aku udahan”
“Yah, kamu kok gitu”
“(Lambaian tangan mengiringi kepergian)”
“Okelah, aku ikut”, mau tidak mau Devan mengikuti langkah masuk Kaysa ke dalam
Tanpa mengucap pamit, keduanya masuk kembali ke muasal. Mereka kembali menambah tanda Tanya tanpa jawab. Semakin memberi jarak kekosongan dalam ruang berisi. Mereka tahu itu tidak baik-baik saja. Namun, mereka sama-sama tahu itu hanya perlu momen yang menyatukan. Momen yang memberi celah mengikis jarak kosong yang berisi. Yah, yang ketiga semakin tersudutkan. Semakin menjadi pion terakhir kemenangan atau mungkin kekalahan dari keduanya. Hah. Rumit terumitkan. Mudah terkungkung rumit. Rumit ditarik dalam. Dalam terperosok jauh ke tak berhingga. Tak berhingga, tak ada suara. Gelap.
Kaysa dan Devan tak langsung menghampiri kasur. Mereka melanjutkan menatap langit diperantara kaca jendela. Mencari titik tadi. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing yang sama tetapi tak bisa bertemu. Sama tetapi tak saling menghadirkan. Devan secara fisik yakin. Namun, ia sendiri masih ragu akan beban dari perkataannya. Jika sampai Kaysa setuju, makin beratlah beban itu. Mereka akan menjalin komitmen yang sama. Mengucap janji yang sakral dan harus siap risiko besar akan menghadap didepan. Begitupun, jika Kaysa tidak setuju, akibatnya tidak jauh beda, sedikit sama, namun sakit lebih mendominasi. Retak akan bertumbuh dicelah-celah. Semua tidak ada yang baik-baik saja. Selalu buruk-buruk saja. Mereka saja telah menggiring, namun tak bisa mengendalikan.