Indonesia
NovelToon NovelToon
The Kingdom Unknown

The Kingdom Unknown

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Cinta Murni / Kutukan / Romansa / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Fhadillah

Seorang Lord yang memiliki darah campuran wolf dan demon yang mengalir seimbang dalam tubuhnya dikutuk oleh penyihir kegelapan menyebabkan istananya menghilang, sang Lord harus melakukan perjalanan panjang dan membahayakan bersama tangan kanannya yang paling dipercaya demi menemukan kembali istananya dan menghancurkan kutukan yang diberikan padanya dan adiknya. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan dua gadis asing yang juga sedang melakukan perjalanan mencari warga desa mereka yang melarikan diri dari serangan penyihir hitam. Bisakah kedua gadis itu membantu sang Lord menemukan istananya? Apakah Lord tersebut bisa bertahan hidup dan menghancurkan kutukannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Fhadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pagi-pagi sekali mereka pergi dari desa itu walaupun Clara tidak setuju, dia mengatakan seseorang akan kesini dan menunjukan mereka petunjuk, Allion tidak ingin berdebat. Bahkan walaupun fakta mengatakan pengantinnya bisa melihat hal-hal yang tak bisa dilihat siapapun namun tak ada gunanya disini, dia bisa mencari petunjuknya sendiri.

Di ujung desa yang berbatasan dengan padang pasir yang berwarna hitam dan terasa cukup menyeramkan, mereka berpapasan dengan seorang nenek yang menghentikan langkah mereka. Mellisa merasa kasihan dengan nenek itu karena bawaannya yang banyak dan sepertinya berat.

Nenek itu meminta bantuan dan Mellisa hendak membantunya, namun Allion menahan tangannya, melarang gadis itu untuk mendekati si nenek.

“tidak perlu menggunakan tipuan busuk itu, jadi mau apa sekarang? Bertarung?” mendengar perkataan Allion membuat si nenek tertawa receh, dengan perlahan dia mulai berubah. Kini nenek itu sudah berubah wujud menjadi wanita yang memakai gaun hitam dan memegang tongkat emas, kuku-kukunya mengkilap hitam dan panjang, wanita yang mirip dengan yang ada di dalam mimpi Mellisa membuat gadis itu mundur dengan takut selangkah, matanya terpaku pada wanita yang merupakan penyihir kegelapan itu.

“senang mengetahui kau masih mengingatku dengan baik” kata wanita itu mulai melayang beberapa inci dari tanah, penyihir kegelapan melirik pada Mellisa lalu tersenyum sinis.

“hanya ingin tau sudah seburuk apa keadaanmu, apa jantungmu sudah meledak?” penyihir kegelapan melayang mendekati Allion dan berada tepat di belakangnya sambil menyentuh bahu pria itu, semua orang mulai waspada.

“sayangnya tak akan sebelum kuhancurkan jantungmu” Allion bersikap sangat tenang dan kata-katanya penuh dengan kesinisan tanpa ada rasa takut sedikitpun, dia tidak pernah takut pada wanita sialan itu namun kemampuannya memang masih belum bisa mengalahkan penyihir itu.

“seperti yang diharapkan dari Lord kita” wanita itu tertawa terbahak-bahak dengan keras.

“tapi aku sedikit berbohong, bukan kamu yang akan mati, tentu saja. Kamu pikir aku akan bermain dengan sangat membosankan seperti itu? seseorang, seseorang yang lebih penting, seseorang yang sangat kamu harapkan. Huh intinya seseorang yang lain mengerti!? Jangan buang-buang waktu dengan omong kosong ini aku bosan menunggumu BODOH!!” penyihir itu mengoceh panjang lebar sambil memutari Allion dan membelainya, kuku panjangnya terkadang sengaja mengores tubuh pria itu namun Allion bahkan tak bergeming.

Setelah mengakhiri kalimatnya dengan bentakan, wanita itu melayang mundur dengan senyum mengerikan dan menghilang dalam kabut hitam pekat yang ia ciptakan. Mellisa yang entah sejak kapan menahan napasnya kini mencoba bernapas dengan normal kembali, menyenderkan tubuhnya yang lemah pada Leria yang sigap memeganginya.

Allion berbalik menatap Mellisa dan Clara bergantian, pikirannya kembali bercabang dan terasa sangat menyesakan, dia tak paham apapun lagi saat ini. Allion memang tak pernah merasa jantungnya sakit atau batuk darah atau semacamnya, dia tak pernah merasa sekarang namun penyihir itu mengatakan kalau dia tidak mematahkan kutukan itu secepatnya hidupnya akan berakhir.

Tapi bukan dia??...

Adiknya kah? Apa itu adiknya? Allion bahkan tidak tau dimana keberadaan gadis itu dan dia hanya berdoa semoga adiknya masih hidup. Tapi Allion tak yakin, dia tak pernah yakin pada apapun lagi, semua yang dilakukan atau dikatakan wanita itu hanya untuk mempermainkannya, mempermainkan hati dan pikirannya. Allion kalut, tidak tau harus melakukan apa, dia tiba-tiba merasa semua yang selama ini mereka lakukan, mempertaruhkan nyawa semua orang menjadi sangat sia-sia. Dia merasa menjadi boneka kayu si penyihir dan bermain di papan permainan ciptaan wanita sialan itu.

Hyle menyentuh pundak Allion membuat pria itu tersentak pelan, tangan kanannya itu menyarankan mereka untuk berjalan sedikit lagi lalu beristirahat. Allion menganguk setuju dan mereka kembali melanjutkan perjalanan. Gurun gelap ini sepertinya tempat para vampir tinggal, tempat ini sangat mewaliki mereka dan ada sangat banyak kuburan. Hyle mengerti kegelisahan Allion, dia paham Allion tak sepenuhnya percaya Clara adalah pengantinnya dan pria itu semakin cemas pada adiknya, namun tak ada yang bisa Hyle lakukan selain tetap berada disisinya seperti yang sudah dia lakukan selama ini.

Clara berjalan cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Allion dan gadis itu secara tiba-tiba menggengam tangan Allion.

“jangan khawatir kita bisa menghancurkan kutukan itu tepat waktu dan semuanya akan membaik” kata Clara untuk menenangkan pria itu, Allion hanya menganguk pelan dan melepaskan gengaman tangan Clara.

Mereka terus berjalan hingga memasuki hutan, selama berjalan Mellisa tidak henti-hentinya mengelus kepala Jack, kelinci putih kesayangannya yang tetap berada di dalam tas. Luka Jack sudah lama sembuh namun Mellisa merasa bersalah karena terus membawa kelinci putih yang imut itu pada perjalanan panjang yang membahayakan ini namun dia juga tidak tega melepaskannya kembali ke alam liar.

Perjalanan mereka terhenti karena seekor burung besar dengan sayap biru dan emas berdiri di depan mereka menghalangi jalan. Burung itu hanya berdiri disana sambil memekik dengan aneh. Allion sempat terpaku beberapa detik hingga akhirnya tersadar dan berjalan dengan cepat mendekati burung besar itu lalu memeluk lehernya yang besar yang dipenuhi bulu dengan erat. Burung itu berhenti memekik dan merasa nyaman berada di dalam pelukan Allion. Burung itu adalah burung peliharaan Allion sedari kecil, kata orang burung itu abadi. Allion tidak terlalu yakin burung itu sungguh abadi dan tak pernah mati, namun burung jenis itu adalah satu-satunya burung yang tersisa didunia, semua spesies nya telah menghilang secara misterius dan Allion senang burung itu masih ada.

Saat dia memutuskan untuk melalukan perjalanan panjang itu, dia meninggalkan burung itu dan menyuruhnya menunggu sampai Allion bisa menemukan kembali istananya. Dia tidak ingin membawa burung itu karena takut dia tak mampu melindunginya. Burung langka itu adalah satu-satunya harta dan lambang dari kerajaannya.

Allion memeluk dan mengelus burung itu, betapa dia merindukan makhluk bersayap indah itu. Hyle hanya mengelus burung yang di beri nama Bluerya itu dari sisi lainnya. Setelah dirasa cukup, Allion melepaskan pelukan itu dan membisikan sesuatu pada Bluerya. Menyuruh burung itu untuk terbang dengan hati-hati dan menghindari bahaya lalu menjadi keberadaan Devanna, sang adik yang sampai saat ini masih ia khawatirkan.

Bluerya mengeluarkan suara nyaring dan mulai mengepakan sayapnya dan terbang menjauh dari sana. Allion kembali melangkah saat tak lagi dapat melihat sosok Bluerya yang sudah sangat menjauh. Mellisa selalu menyukai semua hewan berbulu yang terlihat sangat lucu dan menyenangkan, dan dia sangat bersemangat saat melihat burung berbulu biru dan emas itu namun tak berani mendekatinya walaupun Allion dan Hyle terlihat sangat dekat dengannya.

“apa burung itu peliharaanmu?” tanya Mellisa antusias.

“eum” Allion hanya bergumam sambil menganguk sekilas.

“imut sekali” Allion melirik Mellisa dari sudut matanya, gadis itu tersenyum lebar dan matanya berbinar.

“akan kubiarkan kamu mengelusnya nanti” balas Allion datar dan hanya menatap lurus kedepan.

“benarkah?? Sungguh? Baiklah aku akan menantinya” Mellisa melompat pelan karena antusias.

“aku juga mau” Clara muncul disisi lain Allion sambil menampilkan keantusiasan yang sama dengan Mellisa.

“eum” hanya itu balasan Allion.

......................

Mereka sudah berjalan berhari-hari di gurun pasir hitam itu, hanya beristirahat saat malam hari dan harus melanjutkan perjalanan di siang hari yang teramat terik tanpa ada satupun pepohonan disana. Karena saat malam hari para vampir akan bangkit untuk berburu dan mereka akan tidur saat siang hari karena matahari akan membakar habis mereka. Walaupun begitu terkadang mereka juga harus berhadapan dengan vampir yang mencoba menyerang mereka dan Mellisa bahkan tidak tau darimana zombie-zombie bermunculan saat malam hari. Mungkin karena kawasan itu terdapat terlalu banyak kuburan, namun Mellisa tidak menyangka akan ada zombie. Mereka bodoh dan tak bisa melihat, hanya mengandalkan penciuman dan pendengaran mereka yang sensitive, mereka sungguh mayat hidup.

Mellisa tak pernah bisa menghilangkan mimpi buruknya dan entah bagaimana mimpi itu selalu terasa lebih nyata seiring berjalannya waktu. Terkadang Mellisa merasakan sakit yang teramat karena dalam mimpinya dia terluka parah walaupun saat dia bangun tak ada satupun luka ditubuhnya. Tidur menjadi hal yang menakutkan bagi Mellisa oleh karena itu sering kali dia lebih memilih untuk terjaga sepanjang malam daripada tertidur. Kini kantung matanya mulai membesar.

Saat sedang berjalan dan tak ada seorang pun bersuara karena semua orang fokus untuk waspada pada sekitar karena tak ingin tiba-tiba mendapat serangan, Clara terduduk dan terus saja batuk-batuk, dia batuk dengan hebat dan henti-hentinya membuat semua orang menjadi panik.

“apa yang terjadi?” Mellisa memegangi kedua bahu Clara dan bertanta dengan cemas. Clara bahkan tak bisa mengatakan satu hal pun membuat yang lain semakin panik, Mellisa dan Leria hanya bisa terus mengusap punggungnya tanpa tau harus melakukan apa. Saat batuknya telah reda, darah menetes keluar dari mulutnya.

“apa ini? kenapa kamu berdarah?” Hyle tidak bisa memikirkan apapun dan tak ada desa apapun disekitar tempat mereka berada, dimana mereka harus mencari seorang tabib? Tak ada satupun diantara mereka berempat yang mengerti soal medis.

Mereka membuat sebuat tenda dan memindahkan Clara kedalamnya. Allion berkata kalau dia akan terbang untuk mencari seorang tabib secepat yang dia bisa. Selama terbang Allion terus saja memikirkan perkataan sang penyihir kegelapan yang mengatakan kalau orang yang sebenarnya akan mati adalah orang yang penting, orang yang selalu dia nantikan. Kini itu terdengar nyata dan pengantin yang merupakan kunci satu-satunya untuk menemukan kembali istananya kini sedang dalam bahaya dan dia harus segera menemukan tabib itu bagaimanapun caranya.

Di dalam tenda, Clara hanya berbaring dengan lemah, Mellisa berada di sana untuk menjaga dan menemaninya sedangkan Hyle dan Leria berada di luar tenda untuk mengawasi sekitar mereka. Mellisa terus mengengam tangan Clara yang bergetar. Didetik ini Mellisa melupakan kesamaan Clara dan gadis serba putih yang menyerangnya itu, gadis berambut pendek itu terlihat sangat rapuh dan sangat kesakitan membuat Mellisa tidak tega.

Rasanya sudah sangat lama dari Allion pergi tadi, sangat lama hingga bisa membuat Mellisa berpikir ini mungkin sudah berganti hari. Pria itu masih belum kembali sedangkan Clara terus berkeringatan dan menggigil.

Suara ribut-ribut di luar tenda mengalihkan Mellisa, dia melepaskan tangan Clara dan keluar untuk mengecek apa yang sedang terjadi. disana sudah ada Allion dan seorang wanita cantik yang rambutnya di kepang dan memakai pakaian serba merah. Sepertinya wanita itu seorang tabib dan dengan buru-buru mereka menuju ke tenda. Leria menarik Mellisa menjauh sedikit dari tenda agar membiarkan sang tabib mengobati Clara dengan lebih leluasa.

Tabib itu keluar dari tenda dan mengatakan pada mereka kalau dia sudah memberikan obat pada Clara dan gadis itu sekarang sudah tak apa. Semua orang terlihat lega dan pergi menuju tenda untuk melihat keadaan Clara, saat Mellisa juga ingin pergi, tabib itu menahan lengannya.

“kamu sakit?” tanya tabib itu secara tiba-tiba.

“tidak-tidak aku tidak sakit, aku baik-baik saja” Mellisa menjawab terlampau cepat dan tabib itu hanya tersenyum simpul.

“gunakan kekuatanmu dengan tepat, jangan ragu-ragu” setelah mengatakan itu, sang tabib melepaskan Mellisa dan berjalan mendekati Allison dan mengatakan kalau pria itu tidak perlu mengantarnya kembali karena si tabib ingin pergi ke suatu tempat yang dekat dengan itu.

Mereka tidak melanjutkan perjalanan dan membiarkan Clara sembuh terlebih dahulu. Setelah nenek Zahra dulu, kini si tabib yang terlalu cantik itu juga mengatakan sesuatu tentang kekuatan yang dimiliki oleh Mellisa namun semakin gadis itu memikirkannya semakin dia binggung. Pasalnya dia tidak tau kekuatan apa yang sebenarnya dia miliki dan apa maksud mereka tentang hal itu. Mellisa sama sekali tidak mempelajari sihir atau apapun, ayah dan ibunya hanya manusia biasa, dia juga tidak pandai bertarung, lalu kekuatan apa yang mereka bahas?

Setelah dua hari berada di tempat itu dan pasokan makanan yang mulai sangat menipis, mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan karena Clara sudah membaik walaupun terkadang dia masih batuk ringan. Allion bertanya-tanya dalam hati kapan perjalanan sialan ini berakhir, dia bahkan sudah lupa bagaimana penampilan istananya dan bagaimana perasaannya tinggal disana. Allion menatap Mellisa yang tengah mengelus kelinci putihnya sambil berjalan dari sudut matanya, tiba-tiba perasaan bersalah pada gadis itu timbul, Allion mengajak Mellisa untuk ikut dengannya dan membahayakan nyawa gadis itu hanya karena dia berharap gadis itu adalah pengantinnya. Kini kenyataan mengatakan kalau Mellisa bukan seseorang yang dapat membantunya, Mellisa bukan pengantin yang akan membantunya menemukan istana itu.

Mereka sampai disuatu kerajaan Wolf, pemimpin pack itu adalah teman ibu Allion, sebuah kebetulan yang sangat sulit ditebak. Pria bersurai coklat dengan tubuh kekar itu mempersilahkan mereka masuk. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Samuel. Samuel bercerita banyak tentang bagaimana hubungannya dulu dengan ibu Allion dan pria itu menyimak dengan tenang.

Mereka di ajak ke kamar yang sudah disiapkan untuk mereka dan dipersilahkan untuk beristirahat. Allion melucuti pedang yang tersampir di pinggangnya dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk itu. pria itu tidak tertidur dan hanya menatap langit-langit kamar, dia merasa lega ada banyak tempat yang mau menerima mereka dan membiarkan mereka beristirahat dengan layak. Malam semakin larut seiring pemikiran Allion yang berkelana semakin jauh, malam semakin gelap dan hawa semakin dingin. Samar-samar dari kejauhan Allion dapat mendengar suara derap langkah kaki kuda, lalu beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan yang cukup nyaring. Allion melompat bangkit dari ranjang dan meraih pedangnya dengan cepat lalu keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.

Beberapa werewolf sudah berganti shift dan melawan throne besar dan buruk rupa, ada sangat banyak dari mereka. Allion menunduk saat beberapa panah api lewat diatasnya menyebabkan beberapa bangunan terbakar. Suasana ditempat itu menjadi rusuh dan menyeramkan. Samuel yang masih berwujud manusia berlari dengan setengah menunduk mendekati Allion.

“kita sedang diserang oleh pasukan penyihir kegelapan” kata Samuel saat jaraknya sudah dekat dengan Allion. Allion mengerutkan keningnya dalam, bagaimana bisa tiba-tiba penyihir kegelapan menyerang mereka, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Apa wanita licik itu sedang mengumumkan peperangan dengan Allion sekarang?!

“baiklah ayo usir mereka” Allion mengeluarkan pedangnya dan mulai menyerang beberapa throne dan beberapa pasukan penyihir yang dikirim oleh penyihir kegelapan.

Allion tak bisa menemukan keberadaan Mellisa dan yang lainnya, kemana mereka? Apa mereka berada di kamar masing-masing dan masih tak menyadari apa yang sedang terjadi? Hyle juga tak ada disana, ditengah-tengah kekacauan itu, Allion terus mencari semua teman-temannya. Seorang penyihir berhasil melukai tangan kanan Allion membuat sayatan lebar disana, Allion semakin tidak fokus dengan sekelilingnya dan dia mulai merasa sangat pusing.

Allion terus saja mencoba menyerang apapun yang ada didekatnya dengan cakar panjang dan pedangnya, dia mulai semakin merasa pusing. Penyihir yang menyayat Allion menaburkan sesuatu di pedangnya membuat Allion tak bisa menahan rasa pusing yang teramat sangat menghantam kepalanya. Allion jatuh tersungkur ke tanah dan sebelum dia menutup mata, dia dapat melihat wolf Samuel yang tercabik-cabik dan mengeluarkan banyak darah.

1
Bening
marathon lagi..
karena kamu orangnya konstisten..
nia kurniawati
suka..😍 ceritanya singkat tapi luwes
nia kurniawati
Yeeee.. happy ending😍 trimakasih Thor.. karya mu keren lho.. tetap semangat untuk berkarya ya💪
Nurul Fhadillah: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karya ini, senang bisa menghibur😁
total 1 replies
murniati cls
padahal yg mghancurkan Allion Clara,Krn dia Percy sm dia,n Mellisa iga tak kasih tau apa apa
Nurul Fhadillah: Iya kak, soalnya Mellisa juga masih binggung sama kekuatan yang dia punya muehhe
total 1 replies
murniati cls
mknya dia mau disingkirkan,Napa dia tak cerita saja,n Allion tak ingat yg waktu dia liat goblin,n elf waktu mnyerang mereka,Krn Mellisa uga yg ksh tau
murniati cls
dia ingin menyingkirkan Mellisa Krn Mellisa yg dpt mematahkan kutukan itu
murniati cls
padahal dia pengantinnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!