Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Absurd Penakluk Pewaris Dingin

Gadis Absurd Penakluk Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Komedi / Misteri / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.

Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.

Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.

Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.

Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?

Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Matahari siang menyengat aspal ibu kota saat SUV hitam legam milik Arka kembali meluncur membelah jalanan, menjauhi pertokoan barang antik menuju kembali ke SMA Harapan Warga. Di dalam kabin yang sejuk, Alea duduk bersila di atas jok kulit mewah, sama sekali tidak memedulikan etika berkendara.

Gadis itu tengah memelototi kartu hitam legam berlambang naga emas yang baru saja berpindah tangan padanya.

"Bos," panggil Alea memecah keheningan. Suaranya terdengar sangat serius hingga membuat Arka menoleh sekilas dari kemudi.

"Gue butuh kejelasan kontrak. Kartu ini limitnya berapa? Terus, PIN-nya apa? Jangan bilang lo ngasih gue kartu ini cuma buat gaya-gayaan, tapi pas digesek di minimarket buat beli detergen diskonan malah decline."

Urat di pelipis Arka berdenyut pelan.

"Kartu itu tidak memiliki limit. lo bisa membeli satu cabang minimarket beserta seluruh detergennya jika lo mau. Kartu ini nggak pakai PIN. Kartu itu menggunakan otorisasi tanda tangan digital yang sudah disambungkan ke sistem perbankan."

Alea menelan ludah dengan susah payah. Matanya membulat sempurna menatap kepingan plastik di tangannya, seolah itu adalah bom waktu berdaya ledak nuklir.

"Nggak ada limit? Lo gila, Bos?! Gimana kalau gue diculik terus kartu ini dikuras buat beli helikopter?! Lo tahu nggak beban mental megang barang yang nilainya lebih tinggi dari harga diri dan kontrakan gue disatukan?!"

"Jika ada yang berani mencuri kartu itu dari lo" suara Arka mendadak turun satu oktaf, berubah menjadi desisan dingin yang menggetarkan kaca jendela, "mereka tidak akan hidup cukup lama untuk melihat wujud helikopter yang mereka beli. Simpan saja. Itu kompensasi karena lo berhasil membuat gue... tidak membuang waktu di tempat kumuh itu."

Alea merinding mendengar nada ancaman itu, namun insting kapitalisnya jauh lebih kuat dari rasa takutnya. Ia segera memasukkan Black Card itu ke bagian paling dalam dompet dekilnya, lalu menjahit mentalnya dengan doa perlindungan dari malaikat maut.

Tak berapa lama mereka tiba di sekolah tepat saat bel tanda masuk usai istirahat berbunyi. Arka menghentikan mobilnya sejenak, namun tidak mematikan mesin.

"Gue nggak masuk kelas lagi," ucap Arka tiba-tiba, menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.

"Lo bolos?"

"Ada urusan penting yang harus segera gue selesaikan."

Alea menaikkan sebelah alisnya, namun tidak mau ambil pusing.

"Oke, lah! Asal gaji gue nggak dipotong! Bye!" Gadis itu melompat turun dari mobil, berlari mengendap-endap melewati pagar belakang, dan berhasil menyelinap masuk ke kelas tanpa ketahuan.

Sementara itu, SUV Arka langsung melesat pergi meninggalkan area sekolah.

Pukul empat sore, bel pulang berbunyi. Seperti biasa, Alea harus segera bergegas menuju Kafe Sudut Temu untuk shift sorenya.

Alea berjalan kaki menyusuri trotoar yang mulai lengang. Demi menghemat waktu lima belas menit, ia mengambil jalan pintas melewati gang sempit yang diapit oleh tembok tinggi pabrik garmen tua.

Baru setengah jalan menyusuri gang lembap tersebut, langkah Alea terhenti.

Tiga puluh meter di depannya, sebuah sedan abu-abu tanpa pelat nomor terparkir melintang, memblokir jalan keluar.

Dari balik bayang-bayang tembok, muncul empat orang pria bertubuh tegap. Namun, berbeda dengan preman kafe yang berpakaian norak, keempat pria ini mengenakan setelan jas hitam rapi, kacamata hitam, dan earpiece di telinga kanan mereka. Postur mereka kaku dan memancarkan aura profesionalisme berdarah dingin.

Di belakang Alea, suara langkah kaki terdengar. Dua pria dengan setelan serupa kini memblokir jalan mundurnya.

"Kau yang bernama Alea?" tanya salah satu pria di depan. Suaranya sedatar mesin, sementara tangannya perlahan merogoh sesuatu dari balik jas.

Alea mengerjap. Otaknya dengan cepat memproses situasi. Setelan jas mahal, kacamata hitam di sore hari, dan wajah tanpa ekspresi. Kesimpulan logis Alea hanya satu.

"Wah, gila! Debt collector pinjol sekarang upgrade seragam pakai jas?!" seru Alea tak percaya.

"Bang! Gue udah bilang ke operator kalian, nomor gue ini nomor bekas! Yang ngutang dua juta itu pemilik kartu perdana yang lama, bukan gue! Jangan mentang-mentang kalian debt collector elite, kalian bisa nyegat orang sembarangan di gang sempit gini dong!"

Pemimpin pria berjas itu tertegun sejenak, bingung dengan respons absurd targetnya. Mereka adalah pembunuh bayaran elite tingkat satu yang disewa langsung oleh tangan kanan Hartawan Adiwangsa, ayah Arka. Tugas mereka sore ini adalah membersihkan hama kecil dari sekolah pinggiran yang mulai berani menempel pada sang pewaris takhta keluarga.

"Kami tidak menagih utang," desis pria itu dingin. Ia mencabut sebuah pisau taktis berwarna hitam matte dari balik jasnya. Kilat baja memantul dari ujung mata pisau yang tajam.

"Kami diutus untuk menagih nyawamu, Gadis Manis. Kau terlalu dekat dengan Tuan Muda Arka. Dan Tuan Besar tidak menyukai kotoran yang menempel pada putra mahkotanya."

Melihat pisau militer sungguhan itu, orang normal pasti akan menjerit atau memohon ampun. Namun, mata Alea justru menyipit. Ego kelas pekerjanya seketika mendidih.

"Kotoran?! Heh, cowok-cowok cosplay agen rahasia dadakan!" bentak Alea. Ia menurunkan tas punggungnya yang berat dan mulai memutar-mutar talinya di udara.

"Gue mandi dua kali sehari pakai sabun antibakteri! Lo pikir setelan jas kalian itu lebih bersih dari seragam gue?! Dan satu lagi, kalau bapaknya Bos Tuan Muda Arka, kalau nggak suka gue dekat-dekat anaknya, suruh bapaknya bayar pembatalan kontrak freelance gue! Jangan Main kirim orang pakai pisau dapur gini, kalian pikir nih syuting sinetron laga Indosiar?!"

Tanpa aba-aba, pria berjas itu menerjang maju dengan kecepatan mematikan, mengayunkan pisau tepat ke arah leher Alea. Gerakannya efisien dan terlatih.

Tapi Alea dibesarkan oleh kerasnya jalanan dan kejamnya ibu kota. Refleksnya lebih cepat dari kedipan mata.

Gadis itu menunduk tajam menghindari tebasan, lalu mengayunkan tas punggungnya dengan tenaga penuh. Tas itu bukan tas sekolah biasa. Di dalamnya terdapat buku cetak sejarah setebal tiga ratus halaman, dua botol minum stainless steel penuh air, dan sekantong koin logam hasil kembalian kafe. Berat totalnya nyaris empat kilogram.

Baaakk!!

Tas punggung ya g kini jadi senjata darurat menghantam telak sisi wajah sang pembunuh bayaran. Pria itu terpental ke samping, kacamata hitamnya pecah, dan hidungnya menyemburkan darah segar. Ia ambruk ke aspal dengan bunyi gedebuk keras, pingsan seketika sebelum memahami apa yang baru saja menghantamnya.

"Satu buku sejarah siap mendarat!" teriak Alea garang, kembali menarik tas punggungnya.

"Maju lo semua! Gue lagi buru-buru ngejar absen fingerprint kafe! Kalau gue dipotong gaji lima puluh ribu gara-gara telat, gue bakal tagih gantinya pakai ginjal kalian.

Kelima pria berjas yang tersisa terbelalak. Target yang dilaporkan sebagai 'gadis miskin tanpa latar belakang bela diri' baru saja merobohkan pemimpin mereka hanya dengan sebuah tas sekolah usang. Merasa dihina, mereka langsung mencabut senjata masing-masing dan menyerbu Alea secara bersamaan.

Di ujung gang, tepat di atas atap pabrik garmen yang terbengkalai, dua sosok berpakaian serba hitam yang merupakan regu bayangan yang diutus Arka semalam, tengah berjongkok. Mereka bersiap melompat turun untuk menyelamatkan target lindungan Tuan Muda mereka.

Namun, pemimpin regu bayangan itu mengangkat tangannya, menghentikan pergerakan rekannya. Matanya membesar di balik topeng taktisnya, menatap ke bawah dengan rasa takjub yang luar biasa.

"Tahan dulu," bisik sang ketua bayangan.

"Lihat itu."

Di bawah sana, Alea sama sekali tidak terlihat seperti butuh diselamatkan. Gadis itu menari di antara ayunan pisau mematikan dengan kelincahan seekor kucing jalanan. Ia menendang tulang kering seorang pria, menarik dasi pria lainnya, dan membenturkan kepala mereka berdua hingga terdengar bunyi gemeletuk yang mengerikan.

Saat seorang pria mencoba menyerangnya dari belakang, Alea menyiramkan air panas dari botol termosnya tepat ke wajah pria itu, membuatnya menjerit histeris.

"Ini buat waktu gue yang terbuang sia-sia!" teriak Alea sambil menendang dada pria yang kepanasan itu.

Bugh!

"Ini buat kalian yang bikin tenaga gue jadi terkuras!"

Duakh!

"Dan ini... ini karena jas norak kalian bikin seragam gue semakin lecek!"

Hanya dalam waktu empat menit, enam pembunuh bayaran elite tingkat satu dari keluarga Adiwangsa terkapar mengerang di atas aspal kotor.

Mereka ditumbangkan oleh seorang siswi SMA yang mengamuk murni karena takut terlambat masuk kerja shift sore.

Alea memungut tas punggungnya, meniup poni rambutnya yang berantakan, lalu mendengkus keras. Ia melangkahi tubuh-tubuh yang mengerang kesakitan itu dengan santai.

Namun, tepat saat ia mencapai ujung gang, sebuah bayangan tinggi besar mendadak muncul dari balik tembok. Napas Alea tertahan. Ia baru saja bersiap mengayunkan tasnya lagi saat pergelangan tangannya lebih dulu ditangkap oleh sebuah cengkeraman kokoh yang familier.

Cengkeraman yang dingin, namun anehnya terasa sangat aman.

"Berhenti, Ini gue."

Alea mendongak. Arka berdiri di sana. Napas pemuda itu memburu dan kemejanya sedikit berantakan.

Mata sehitam obsidian itu memancarkan kilat kekhawatiran yang sangat langka, menyapu seluruh tubuh Alea untuk mencari luka. Di belakang Arka, mobil SUV-nya terparkir sembarangan dengan mesin masih menyala, tanda bahwa pemuda itu mengemudi seperti orang gila setelah menyelesaikan urusannya hanya untuk menyusul Alea.

"Oh, lo Bos?" Alea mengerjap, menurunkan tasnya.

"Lo ngapain di sini? Mau nagih balik Black Card?!"

Arka tidak menjawab tuduhan receh itu. Tatapannya beralih dari wajah Alea ke tumpukan manusia berjas hitam yang terkapar di belakang gadis itu.

Aura mematikan Arka yang sedari tadi ditahannya kini meledak keluar, membuat suhu di gang itu terasa seolah membeku seketika. Ia mengenali seragam jas dan emblem kecil di kerah mereka. Itu adalah anjing-anjing peliharaan ayahnya.

Hartawan Adiwangsa telah melewati batas. Pria tua itu telah menyentuh satu-satunya hal yang berhasil membuat Arka merasa hidup.

Arka melepaskan tangan Alea perlahan. Seringai iblis yang sangat gelap, jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah Alea lihat sebelumnya, perlahan terukir di wajah tampannya.

"Masuk ke mobil," titah Arka dengan suara bariton yang terlampau tenang, namun terlalu mematikan.

"Biar gue yang mengurus 'sampah-sampah' yang mengotori jalan lo ini."

Bersambung...

1
Umi Zein
awas ya Al di iming2i uang 1M kamu tergiur aku suruh malaikat mau bawa kamu gak perlu tawar2 lagi🤣🤣🤣
Umi Zein
astagaa Al uangmu skrng udh bnyak, lagian mnta bayarin nyalon ke Arka, kan dia yg mau ngajak kamu ke pestanya 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣🤣
Umi Zein
makanya Loe mikir dl klo mau lawan Alea. bukan untung malah buntung loe 🤣🤣🤣
Umi Zein
mantaaaap Alea👍🏻👍🏻👍🏻😀
neny
kek mana sih makan Wagyu itu,,aku juga penasaran Alea,,slnya dompet ku suka menjerit klau dengr kata Wagyu,, apalagi yg unlimited 🤣🤣
neny
wkwkwk,,emng bs ya Alea nawar ke malaikat maut,,serem iih kata2 nya,,yg ada sebelum kamu ngomong malaikat maut udh nyabut nyawa km duluan🤣🤣🤣
neny
yes,,makan malam gratis plus dapat bayaran yg memuaskan 🤣🤣
neny
wkwkwk,,dmn ada gaun butik makan nambah jd sobek🤣🤣,,ada2 ajh Alea mah,,lucu banget sih km😍
neny
yes,,aq dukung rencana mu arka,,biar papa mu malu udh merencanakan lamaran itu buat mempermalukan alea,dan biar Clarissa jg gk kepedean sm km,,biar di lawan sm si bar bar alea🤣🤣
neny
is apa sih hartawan ini,,Alea kan GK tau siapa arka sebenarnya,,GK perduli dia mah,,yg tertarik kan arka,,Alea mah nganggap nya bos besar,,yg sayang klau di lepas,,lagian ngapain nyuci otak arka,,mending nyuci baju🤣🤣
neny: 😄😄😄😄😄
total 2 replies
Umi Zein
kenapa Al?! jantung nya msh aman kaan dibaperin bos' Arka 🤣🤣🤣
Umi Zein
dasar Alea pikirane, gak uang ya makanan. dah lah Al sekarep mu 😂😂
riniandara: /Grievance//Grin/
total 1 replies
Umi Zein
Alea di lawan soal harga jasa dirinya. ooh no 🤣🤣🤣
Umi Zein
ya ampun Al yaa kalii sekelas Arka nyuruh jaga katering hajatan 🤦🏻‍♀️🤣🤣
riniandara: otak Alea gak nyampe mikir panjang kak/CoolGuy//Facepalm/
total 1 replies
Umi Zein
yakin pak tua Alea bakalan pergi?!😏 yakin banget Loe! belum tau aja Alea bar2 mah bukan pacarnya Arka jdi kyanya dia gak akan perduli tuh sma stts hubungan Arka 🤣🤣🤣
riniandara: yupz ketebak banget ya wataknya alea hehe
total 2 replies
Umi Zein
wkwk Kaka othor bisa aja ngasih nama2 turunan pemaran tokohnya. Hartawan punya Suryanegara 🤣🤣🤣
riniandara: biar beda dari yang lain kak /Shhh/
total 1 replies
neny
itu 2 sales suruhan nya hartawan,atau cecunguk nya Kevin,,lemah banget,,GK ada gerakan taktis untuk menangkal serangan Alea,,secara kan anak buah nya hartawan dr kelompok elite
Dewi kunti
memalukan🙈
Dewi kunti
Alexa sp lagi ini thooor
riniandara: Alea kak salah ketik maaf ya
total 1 replies
Umi Zein
dasar sodara tiri gak tau diri. pake fasilitas tuan muda tp seolah2 dia yg punya kuasa... ngaca woiii Klevon🙄😠 hrsnya elu tuh sungkem sm Arka 😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!