Bismillah.
Giya tak pernah menyangka ketika hidup di kota akan terkena masalah demi masalah yang terus menghampiri dirinya. padahal Giya sudah sebisa mungkin menghindari dari banyak masalah yang ada, keputusannya mendaftar biaya siswa disalah satu universitas di kota justru membuat Giya bertemu dengan seorang Hamzah si badboy kampus.
Giya hanya mampu pasrah , dia tidak bisa berubat banyak. Ketika dia harus dihadapkan pada seorang badboy kampus yang suka membuat onar, padahal Giya sudah berusaha agar tidak bertemu dengan Hamzah merupakah badboy kampus. Apakah Giya bisa melewati hari-harinya dengan tenang setelah tertimpa masalah dengan Hamzah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentarikelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acuh
Bismillah.
Seorang deosen segera masuk untuk mengisi kelas Giya dan teman-temannya. Melihat pak Arlan mulai menjelaskan materi Giya mersa lega, setidaknya dia tak perlu berbicara sepatah katapun pada Hamzah. Giya merasa kali ini dosennya itu telah menyelamatkan dirinya.
'Ayo Giya, jangan beurusan dengan Hamzah lagi.' Batin Giya memperingati dirinya.
Sejujurnya Giya tidak masalah bisa mengenal Hamzah, Giya juga sebenarnya tidak menyalahkan Hamzah atas kejadian yang menimpa ibunya. Hanya saja hati dan pikiran gadis itu belum dapat disatukan untuk saat ini.
Hatinya sudah menerima semua ini, hanya saja logikanya tak ingin berheti terus berperang sendiri selalu menyalahkan Hamzah atas kejadian yang menimpa dirinya dan sang ibu. Maka, dari itu Giya memutuskan untuk menghindari dari Hamzah, bahkan tidak ingin mengenal pria itu lagi.
Pikiran Giya selama kelas pagi ini entah melalang buana kemana, dia benar-benar tidak bisa fokus. Biasanya dia bisa menangkap dengan cepat penjelasan dosen atau tidak aktif dalam bertanya, tapi kali ini Giya tidak mengeluarkan suara apapun.
"Hamzah, Giya." Tegur sang dosen, karena melihat mahasiswa dan mahasiswinya itu melamu tidak memperhatikan apa yang sedang beliau jelaskan.
Tangan Hamzah terlihat memutar-mutar sebuah pulpen berwaran hitam, sedangkan tatapan matanya kosong entah kemana. Sementara Giya hanya menatap pada dosennya seperti orang tak memilki pemikiran apapun, otak Giya terasa kosong saat ini.
"Hamzah, Giya. Jika kalian tidak ingin mengikuti kelas saya sihlakan pergi!" tegas pak Arlan.
"Astagfirullah." Giya tersentak kaget buru-buru dia meminta maaf pada dosennya itu.
"Maafkan saya pak Arlan, saya tidak akan mengulanginya lagi. 'Insya Allah'." Ucap Giya yang Insya Allahnya dia ucapkan di dalam hati.
'Ya Allah, kok Giya bisa ngelamun sih.' Sesalnya.
Sesaat Giya dan Jia saling melirik satu sama lain, Jia ingin memastikan apakah sahabatnya itu baik-baik saja. Untuk Giya, dia melirik Jia, dia pikir apakah temannya itu sedari tadi tidak memperingati dirinya. Atau Jia benar-benar fokus dengan kuliah pagi ini.
"Hamzah kau mau ikut kelas saya atau terus melamun seperti itu!" kesal pak Arlan.
Pasalnya Hamzah masih tetap dengan kegiatannya, tanpa mengacukan perkataan dosenya itu. Jangankan menghiraukan dosen, menatap kearah dosenya saja tidak.
Mendengar bentakan dari dosenya, Hamzah menatap pak Arlan sejenak lalu dia memutar kedua bola matanya malas secara terang-terangan tepat di depan dosen, sampai membuat pak Arlan melotot tajam, kedua bola mata beliau seakan ingin keluar dari temaptnya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Hamzah bangkit dari duduk. Dia mengambil tasnya yang hanya dia letakan disalah satu pundaknya. Lalu setelah itu Hamzah beranjak dari tempat duduknya, berjalan melewati sang dosen tanpa mengucapkan apa-apa, bahkan Hamzah tidak membungkuk sedikitpun di hadapan dosen tanda hormat, dia tetap jalan tegak, ala Hamzah seperti biasanya.
"Di mana sopan santu kamu, Hamzah!" tegur pak Arlan, sekarang muka dosen yang masih sedikit muda itu berubah merah karena marah.
Rupanya Hamzah seakan tuli betul, dia langsung keluar dari kelas tanpa berkata-kata, atau menyahuti perkataan pak Arlan, tidak sama sekali.
Brak!
Pintu kelas ditutup secara kasar oleh Hamzah, membuat hampir semua orang yang berada di dalam kelas itu terlonjak kaget, termasuk Giya.
"Astagfirullah." Ucap pak Arlan sambil mengelus dadanya tanda untuk membuat dirinya lebih sabar lagi menghadapi mahasiswa macam Hamzah.
Rupanya bukan pak Arlan saja yang mengucapkan istighfar, hampir semua mahasiswa dan mahasiswi yang beragam islam di dalam kelas itu mengucapkan istighfar secara bersamaan.
'Ada apa dengannya.' Batin Giya merasa heran.
Tapi cepat Giya menepis pikirannya sendiri tentang Hamzah, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi bersimpati ataupun penasaran pada seorang Hamzah.
"Nggak Giya, ingat kamu tidak boleh berusuan dengan dia lagi." Gumun Giya tanpa di dengar siapapun.
Setelah kepergian Hamzah, tak lama kelas kembali normal. Pak Arlan mampu mengembalikan kelas dengan semula.
"Ingat baik-baik, jangan tiru kelakuan Hamzah pada siapapun itu tidak sopan." Peringat pak Arlan pada seluruh mahasiswa/i nya.
"Baik pak!" jawab mereka semua kompak, kecuali Nizam yang masih bertahan di dalam ruang kelas itu.
Ingin sekali Nizam meninggalkan kelas pak Arlan saat ini juga, tapi dia tidak bisa. Karena ketuanya itu menyuruh dirinya terus menjaga Giya dan Jia selama Hamzah tidak ada didekat merekam. Aneh memang si Nizam padahal mereka berada di dalam kelas, tapi tetap saja dia tidak ingin meninggalkan Giya dan Jia.
Hamzah yang bolos dari kelasnya langsung menuju kantin, di tempat duduk khusus gang mereka. Tidak ada siapapun di wilayah geng Alpha selain dirinya, Hamzah hanya menatap datar dirinya.
"Sepertinya aku sudah jatuh hati dengan gadis itu." Ucap Hamzah pada diri sendiri.
Hamzah tidak tahu kenapa dia ingin terus melindungi Giya, tidak ingin menyakiti atau membuat gadis itu menangis. Melihat Giya setiap hari di rumah sakit menangis saat menjanga ibunya benar-benar membuat Hamzah terus menyalahkan dirinya sendiri dan hatinya merasa sakit.
Dia bahkan berjanji akan selalu melindungi Giya, walaupun gadis itu mungkin tidak mau lagi bertemu atau sekedar berbicara sejenak pada dirinya.
"Es lemon, Zah." Ucap penjaga kantin sambil menyodorkan segel es lemon di hadapan Hamzah.
"Terima kasih, mbak Ria." Ucapnya sopan.
Siapa sangka Hamzah bisa begitu sopan dengan orang lain. Sejujurnya Hamzah memang sopan terhadap orang yang benar-benar menghargai dirinya. Seperti mbak Ria yang sudah biasa bertemu para kelompok Alpha, mbak Ria juga baik pada mereka.
Jika ada orang yang bisa ditanyakan apakah anak-anak geng Alpha itu baik-baik atau nakal-nakal. Maka sudah pasti mbak Ria akan menjawab mereka begitu baik dan sangat sopan. Berbeda dengan orang lain yang tidak mengenal geng Alpha seperti mbak Ria.
"Dihabiskan minumnya Zah, jangan melamun. Nanti kesambet bahaya loh." Tegur mbak Ria.
"Iya mbak, makasih sudah diingatkan."
Mbak Ria berlalu pergi karena dia harus melayani pembil yang lainnya.
"Wih, kenapa muka bete banget ketua." Ucap Laska yang datang entah dari mana.
Hamzah tak menjawab langsung menyerobot roko milik Laska yang laki-laki itu letakan begitu saja di atas meja.
"Bos, ada kabar tentang ketua dragon." Ucap Laska tiba-tiba yang sudah mulai memasang mode serius.
Lagi-lagi tak langsung Hamzah tanggapi, dia menghisap asap rokok itu lebih dulu. Lalu Hamzah buang asapnya perlahan yang keluar dari mulut dan hidungnya.
"Apakah mantan ketua geng dragon itu sudah mati?" tanya Hamzah tanpa ada rasa bersalah.
"Tidak juga ketua, tapi kabar yang gue dapat dia dipenjara udah 3 hari ini. Dan kabar yang gue dengar hari ini ada yang akan membebaskannya." Jelas Laska.
Brak!