Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pagi datang tanpa membawa ketenangan. Sejak membuka mata, Amira sudah melihat beberapa orang mondar-mandir di depan kamarnya. Ada yang membawa kain, kotak perhiasan, sampai beberapa berkas yang berkaitan dengan persiapan pernikahan.
Dua minggu ternyata terasa jauh lebih singkat daripada yang ia bayangkan. Amira keluar dari kamar sambil merapikan rambutnya.
"Baru juga bangun, rumah sudah seperti pasar."
Seorang pelayan yang sedang membawa beberapa kotak tersenyum. "Nona, sebentar lagi penata rambut dan perias datang."
Amira berhenti. "Perias?"
"Iya. Katanya dari keluarga Abraham."
Amira mengerutkan kening. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"
Pelayan itu terlihat bingung. "Saya kira Nona sudah tahu."
Amira menghela napas. "Baiklah. Hari ini aku harus siap menghadapi kejutan lagi."
Dari arah ruang makan terdengar suara seseorang. "Kalau kau belum siap menghadapi kejutan, berarti kau belum siap menikah."
Amira langsung mengenali suara itu. Ia menoleh.
Kaizar sudah berada di ruang makan dengan kemeja hitam dan celana panjang yang rapi. Sebuah berkas terbuka di atas meja, sementara secangkir kopi berada di dekat tangannya.
Amira berjalan menghampirinya. "Sejak kapan kamu suka mengagetkan orang pagi-pagi?"
"Aku hanya menjawab keluhanmu."
"Aku sedang bicara dengan diriku sendiri."
"Aku mendengarnya."
Amira menarik kursi dan duduk di seberangnya.
"Tuan Dingin memang tidak punya kegiatan lain?"
"Menjaga rumah ini agar tidak berubah menjadi pasar adalah salah satunya."
Amira melirik orang-orang yang sejak tadi sibuk berlalu-lalang. "Sayangnya gagal."
Kaizar menatap sekeliling. "Benar."
Amira mengambil sepotong roti. "Semua ini karena pernikahan."
Kaizar kembali membuka berkas. "Karena kau ingin menikah."
Amira menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
Kaizar mengangkat wajah. "Bukankah kau setuju?"
Amira terdiam sesaat. "Iya."
"Lalu?"
"Aku cuma baru sadar kalau menikah ternyata merepotkan."
Kaizar kembali membaca berkas. "Aku sudah pernah mengatakannya."
"Kapan?"
"Ketika kau mengusulkan pernikahan dipercepat."
Amira langsung menunjuknya. "Jangan mulai, sudah jelas kamu sendiri yang menginginkan pernukahan dipercepat."
Sudut bibir Kaizar bergerak sedikit, mendengar omelan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Amira memperhatikan itu. "Kamu hampir tersenyum."
"Tidak."
"Aku lihat."
"Kau salah lihat."
"Berarti mataku yang bermasalah?"
"Mungkin."
Amira mendengus. "Dasar raja gengsi."
Suasana pagi itu terasa jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya. Sampai seorang pelayan datang membawa sebuah kotak.
"Nona Amira, ini baru saja diantar."
Amira menatap kotak tersebut. "Untukku?"
"Iya."
Ia menerimanya. Di bagian atas terdapat kartu kecil tanpa nama. Amira membukanya. Untuk persiapan hari pernikahan. Semoga kau menyukainya.
Amira mengenali tulisan itu.
Alika.
Ia membuka kotaknya. Di dalamnya terdapat sebuah set perhiasan yang indah. Kalung, anting, dan gelang dengan desain sederhana.
Amira terdiam beberapa saat. "Bagus."
Kaizar memperhatikan dari seberang meja. "Dari siapa?"
"Alika."
Kaizar tidak berkata apa-apa. Amira mengambil kalung tersebut.
"Dia mungkin benar-benar ingin membantuku."
"Atau?"
Amira menoleh. "Atau apa?"
Kaizar menyandarkan punggungnya. "Jangan terlalu cepat percaya kepada orang hanya karena mereka memberimu sesuatu."
Amira tersenyum kecil. "Kamu curiga kepada semua orang?"
"Tidak."
"Termasuk Alika?"
Kaizar diam sejenak. "Aku belum mengenalnya cukup baik."
Amira mengangguk. "Bagus, kau begitu teliti."
Ia memasukkan kembali perhiasan itu ke dalam kotak. "Aku akan berterima kasih kepadanya nanti."
Kaizar tidak melarang. Ia hanya berkata, "Kalau kau ingin memakainya, pastikan kau sendiri yang memilih."
Amira menatapnya. "Kenapa?"
"Karena pernikahan ini milikmu juga."
Kalimat sederhana itu membuat Amira berhenti. Selama ini hampir semua orang selalu mengatakan kepadanya apa yang harus ia lakukan. Apa yang harus dipakai.
Bagaimana harus bersikap. Bahkan dengan siapa ia harus menikah. Tetapi Kaizar justru memberinya pilihan.
Amira tersenyum. "Baik."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Di tempat lain, Alika sedang duduk di ruang tamu rumah Wijaya. Ponselnya berada di atas meja. Pesan yang ia kirim tadi malam belum mendapatkan balasan.
Akhirnya sebuah pesan masuk. Besok bisa dilakukan.
Alika membaca pesan itu.
"Bagus."
Ia segera menghapus percakapan tersebut Tidak ada nama bahkan nomor yang tersimpan,
juga tidak ada sesuatu yang bisa dengan mudah menghubungkannya. Alika memang tidak ingin meninggalkan jejak.
Lalu beberapa saat kemudian, Ricki turun dari lantai atas. Alika segera memasang wajah seperti biasa.
"Ricki."
Ricki berhenti. "Kau sudah sarapan?"
"Belum."
"Aku minta dibuatkan."
Ricki mengangguk. Ia hendak pergi ketika Alika berkata,
"Semalam kamu ke rumah Kaizar?"
Langkah Ricki berhenti. Ia menoleh.
"Dari mana kamu tahu?"
Alika tersenyum. "Aku hanya bertanya."
Ricki menatapnya beberapa detik. "Siapa yang memberitahumu?"
"Tidak ada."
Alika bangkit dari sofa. "Aku cuma khawatir."
"Khawatir apa?"
"Takut kamu membuat Amira semakin sulit melupakan masa lalu."
Ricki mengerutkan kening. "Aku tidak datang untuk itu."
"Aku tahu."
Alika mendekatinya. "Aku percaya kamu."
Ricki terdiam.
"Tapi Ricki..." Alika menatapnya dengan lembut.
"Sebentar lagi Amira menikah."
"Aku tahu."
"Kalau kamu terus datang kepadanya, orang-orang akan menganggap kau masih menginginkannya."
Ricki langsung menjawab, "Aku tidak peduli apa yang orang katakan."
Alika menghela napas. "Aku peduli."
Ricki menatapnya.
Alika melanjutkan, "Aku tidak ingin pernikahan kita dimulai dengan orang-orang yang mengatakan aku merebutmu dari adikku."
Raut wajah Ricki berubah. "Aku tidak pernah mengatakan itu."
"Aku tahu."
Alika menggenggam lengannya. "Karena itu aku tidak menyalahkanmu."
Ricki menatap tangan Alika yang menggenggam lengannya. Ada rasa bersalah yang muncul. Alika segera melepaskannya.
"Kalau kau masih ingin memastikan Amira baik-baik saja, aku mengerti."
Ricki mengernyit.
"Tapi?" kata Alika akhirnya. "Jangan sampai perhatianmu membuat semuanya semakin rumit."
Ricki tidak menjawab. Alika berjalan kembali ke sofa. Sebelum duduk, ia berkata,
"Aku hanya ingin kau bahagia."
Ricki menatap punggungnya. Entah kenapa, ia merasa kalimat itu terdengar seperti permintaan yang harus ia turuti.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sore harinya, Amira sedang berada di ruang keluarga ketika ponselnya berdering. Nama Alika muncul di layar.
Amira mengangkatnya.
"Halo, Kak."
"Amira, perhiasannya sudah sampai?"
Amira melirik kotak di meja. "Sudah."
"Kau suka?"
"Perhiasannya sangat cantik."
"Akhirnya kamu mau," suara Alika terdengar lega. "Aku sebenarnya takut kamu tidak menyukainya."
"Kenapa harus takut?"
"Aku cuma ingin memberikan sesuatu untuk pernikahanmu."
Amira tersenyum. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu."
"Kenapa?"
"Karena aku punya satu permintaan."
Amira mengerutkan kening. "Permintaan?"
"Iya."
Alika tertawa kecil. "Aku ingin datang ke rumah Kaizar besok. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan tentang pernikahanmu."
Amira tidak langsung menjawab. "Besok?"
"Iya. Kalau tidak merepotkan."
Amira melirik ke arah ruang kerja. Pintu ruangan itu tertutup. Kaizar sedang bekerja.
"Sepertinya tidak masalah."
"Benarkah?"
"Iya."
"Baik. Kalau begitu aku datang besok."
Sambungan berakhir. Amira meletakkan ponselnya. Ia tidak melihat seseorang berdiri di balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.
Kaizar ternyata sudah mendengar sebagian percakapan itu. Ia tidak mengatakan apa pun.
Hanya memandang kotak perhiasan di atas meja. Lalu pandangannya beralih pada Amira.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Ia belum tahu apa. Tetapi firasatnya mengatakan satu hal. Kedatangan Alika besok bukan sekadar untuk membicarakan pernikahan. Dan kali ini, Kaizar memutuskan untuk memperhatikan setiap langkahnya.
Bersambung...