Cinta terkadang bisa membuat kita buta, cinta terkadang juga bisa membuat kita tak tahu apa menjadi orang bodoh.
artinya ketulusan.
Terkadang Cinta juga bisa membuat kita
Bodoh karna tak pernah berhenti mengejar Cinta sesorang yang bahkan tak pernah memandang kita ada.
Lalu mengabaikan cinta lainnya yang begitu tulus.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Kupikir kamu penyembuhku, ternyata kamu yang semakin menambah luka" Aluna.
~~~~~~~~
"Menjauhlah sejauh jauhnya, karna aku muak melihat wajahmu" Bennicno.
~~~~~~~~
"Menangislah untuk terakhir kalinya Aluna, karena kedepannya hanya akan ada kebahagiaan"_____
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-17
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Setelah selesai latihan basket, Gallan dan yang lainnya pergi istirahat, sedangkan siswa/wi lainnya sudah kembali masuk kekelas karna bell sudah berbunyi satu menit yang lalu.
Gallan berencana pergi keruang ganti yang memang terletak diujung lorong lantai satu buat ganti baju tapi pas tangannya hendak membuka pintu ruang itu tidak sengaja telinga nya mendengar suara tangisan seseorang.
Siang siang begini tidak mungkin ada mbak kunti kan? Pikirnya begitu.
Dengan cepat Gallan menepis pikiran itu, karena rasa penasara Gallan pun mencari asal suara itu dan ternyata dari taman belakang.
Gallan pun kesana dan yang pertama kali ia liat adalah cewek yang beberapa hari ini selalu ada dipikiran nya.
Tanpa pikir panjang setengah berlari cowok itu menghampirinya.
"Luna?" Panggil nya dan Aluna mendongak.
Gallan kaget pas liat wajah gadis itu penuh dengan air mata, ia berjongkok didepan gadis itu, dengan pelan dan lembut ia menghapus bekas air mata itu dengan handuk bersih yang sempat ia bawa.
"Kenapa hmmm?" Tanya nya lembut sambil menatap Aluna dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Aluna tidak ngejawab gadis malah menatap netra abu milik Gallan, disana ada raut kekhawatiran.
Matanya kembali berkaca kaca.
Karena ngak tega Gallan pun membawanya kedalam pelukan, dengan perlahan Gallan mengusap rambutnya.
Diperlakukan seperti itu membuat Aluna kembali menangis dan mungkin ini menjadi tangisan yang jauh lebih kencang dari yang tadi.
Gallan hanya diam, merasakan air hangat yang keluar dari mata gadis itu membasahi bajunya, membiarkan gadis itu tenang dalam pelukannya, meskipun firasat cowok itu mengatakan jika sebab gadis ini menangis tidak jauh dari yang nama nya Ben.
Memikirkan itu membuat Gallan benar benar marah, ia mengeratkan pelukannya,"Menangislah untuk terakhir kalinya, karna kedepannya hanya akan ada kebahagian yang akan menanti!" Ujar nya lirih atau lebih tepatnya berbisik tepat ditelinga Aluna.
Aluna hanya mengangguk dalam tangisannya dan juga semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah puas menangis Gallan membawa gadis itu ke roftoop atas, dalam keadaan begini yang dibutuhkan gadis itu adalah ketenangan dan keheningan...
Gallan pun sudah berganti baju basket sengan seragam sekolahnya.
Aluna duduk disofa yang ada disana tanpa berbicara, kedua mata gadis itu bengkak akibat terlalu lama menangis, hidungnya memerah, sesekali suara sesugukan mansih terdengar darinya.
Sedangkan Gallan juga ikut duduk di atas tembok pembatas balkon, tak lupa ditangan cowok itu juga ada gitar yang entah dapat dari mana.
Sesekali tangan cowok itu memetik snar gitar itu.
"Kak!" Panggil gadis itu.
Gallan melihat kearah gadis itu.
"Hmm, kenapa?" Tanyanya
"Boleh pinjem?" Tanya Aluna menujuk kearah kegitar.
"Gitar?" Tanya Gallan dan di ngangguk Aluna.
Gallan berdiri dan berjalan kearahnya,"Emang bisa?" Tanya Gallan lagi, dan Aluna kembali mengangguk.
Gallan pun duduk disampingnya lalu memberikan gitar itu pada Aluna.
"Mau nyanyi lagu apa?" Tanya Gallan.
Aluna tidak menjawab, dia malah memetik satu satu snar gitar itu dan Gallan pun langsung tahu lagu apa yang akan dinyanyikan Aluna.
Gallan beranjak dari duduknya lalu ia kembali ketembok pembatas yang berhadapan dengan Aluna lalu duduk disana.
Dengan sengaja cowok itu mengeluarkan ponselnya dan masuk ke sebuah aplikasi , diambilnya Vitur Live lalu diarahkan dimana Aluna berada.
Gadis itu mulai memetik snar snar gitar dengan serius dan menyayikan lagunya dengan penuh penghayatan tanpa sadar apa yang tengah dilakukan Gallan.
Dan baru beberapa detik saja siaran langsung itu langsung ditonton 200 ribu lebih penonton.
Banyak komen positif yang dilayangkan para penonton.
Sedangkan di tempat lain, tepat nya dikelas Gallan.
Kelas itu sudah di hebohkan dengan siaran langsung yang menjadi perdana selama Gallan memiliki aplikasi tersebut, dan...boom... Live tersebut langsung menjadi viral.
"Wahh...gila..ini benaran suara Aluna? Daebak ngak nyangka ternyata Aluna punya suara banguus banget!" Ujar siswi 1.
"Iya, gue juga ngak nyangka dia juga jago main gitar njir!" Siswa 2.
"Omo...Aluna nangis dong!" Ujar siswi3.
"Eh..eh tunggu dulu ini kan rooftop atas?" Ujar Ajik.
"Lah iya njir, jadi sekarang Aluna ada diatas sama Gallan?" Seru Aldo.
"Wahh.. gila... ini live pertama pak wakil dan liat yang nonton, gokil...200k lebih Nyet!" Seru Bimo sambil menepuk nepuk bahu Ajik dengan cukup keras.
"Anjing, gokil sih gokil tapi kagak usah nabok orang juga, sakit bego!" Keluh Ajik.
Tak hanya kelas mereka yang heboh, hampir keseluruh penjuru sekolah dibuat heboh dan Aluna kembali mendadak viral.
Ben yang melihat itupun entah kenapa ia merasakan hatinya tidak nyaman ada rasa bersalah dan menyesal bercampur menjadi satu entahlah, Ben bingung dengan perasaannya sendiri, bukankah ini yang dia inginkan?
Agar gadis itu menjauh darinya, tapi setiap kali Gallan datang menyelamatkannya membuat hati Ben panas.
Cowok itu mendengus lalu menepis pikiran yang datang dikepalanya itu.
...💜💙🤎💚🤍💛❤️🧡🖤...
Setelah mendadak Viral dan tentu saja gadis itu tidak tahu apa apa, hanya saja tadi pas pulang sekolah banyak siswa/wi yang menatap aneh kearahnya.
Namun dengan acuh gadis itu memilih masuk kedalam mobil yang sudah menjemputnya.
Dan kini Aluna berada dikamarnya.
Sejak pulang sekolah tadi Aluna sama sekali belum keluar kamar, bahkan Bunda Alea menyuruhnya turun untuk makan pun gadis itu menolak dengan alasan sudah makan.
Saat ini ia sangat malas bertemu dengan Ben setelah kejadian yang tadi menimpanya.
Dan lagi ia ketahuan oleh Gallan sedang menangis.
Gadis itu menatap langit langit kamarnya, entah kanapa ia merasa tak nyaman dengan perubahan Ben, entah kenapa ia lebih menyukai Ben yang membenci dirinya, ia menyukai Ben yang ngak peduli padanya.
Dan lagi Gallan..
Ya cowok itu entah kenapa selalu ada saat dirinya sedang menangis atau ada masalah lainnya yang bersangkutan dengan Ben.
Aluna akui jika dirinya saat bersama Gallan ia memang merasakan nyaman dan aman, dan jantungnya selalu berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, namun jika dibilang cinta?
Entahlah dia pun tidak mengerti dengan perasaannya sendiri untuk saat ini, perasaan yang ia rasakan ini perasaan cinta atau hanya sekedar kenyamanan semata...
Jika memang cinta maka biarkan berjalan sesuai jalannya, ia tak akan lagi mengejar ngejar, ia yakin jika sudah berjodoh maka tak akan kemana.
Untuk saat ini biarkan ia merasakan perasaan yang membuat dirinya merasa bahagia, biarkan seperti ini.
Bukan bermaksud mempermainkan hanya saja ia takut.
Ia takut jika ia mengatakan cinta lagi pada seseorang ia takut kata penolakan yang kembali ia dengar, ia takut hal itu akan terjadi lagi, karna belum tentu Gallan juga akan menyukainya.
Mungkin saja selama ini Gallan hanya kasihan padanya yang disakiti oleh sahabatnya.
Ya ...mungkin Gallan hanya merasa kasihan padanya.
Memikirkan itu entah kenapa air matanya kembali turun, dan hatinya kembali berdenyut sakit,bahkan lebih sakit dari yang tadi ia rasakan.
"Benarkah dia hanya sebatas mengasihaniku??" Gumamnya pelan.
"Apa perlu aku memastikannya?? Tapi bagaimana caranya?"ujarnya lagi.
"Apa aku harus mengatakan kalau aku suka dia?"
"Tapi..kalau nanti dia bilang tidak bagaimana??"
"Aahk sudahlah lupakan, saat ini aku hanya akan fokus pada diriku sendiri, untuk saat ini aku hanya ingin sendiri dan menata kembali hatiku namu entah kedepannya..."
Lalu tanpa sadar ia pun tertidur.
Malam hari
Aluna kini duduk dimeja makan bersama yang lainnya, sedari tadi seseorang terus menatapnya dan dia adalah Ben.
Hal itu membuat Aluna merasa tak nyaman.
Suasana meja makan terasa canggung, jika biasanya akan ribut dengan ocehan Aluna, maka beberapa hari ini gadis itu terlihat lebih pediam.
"Ekheemm!" Dehem Ayah Dion.
"Kenapa pada canggung begini sih, ayo ayo makan, Luna ayo Nak makan, Gisell juga" ujar Ayah Dion.
Akhirnya merekapun langsung makan tanpa bersuara.
...🤎💙💜🖤🧡❤️💛🤍💚...
Kediaman Dirgantara.
"Gallan, bagaimana sekolah hari ini?" Tanya Daddy Alex.
"Baik Dad!" Jawabnya sekenanya.
Keluarga itu saat ini sedang makan malam, hanya ada tiga orang itu disana, karna Gallan memang putra tunggal keluarga itu.
"Tahun ini kamu ikut perlombaan?" Tanya Daddy Alex lagi.
"Ikut Dad, tapi bukan olimpic" jawabnya.
"Terus??"
"Basket!"
Daddy Alex mangut mangut,"Bagus Daddy bangga sama kamu, lalu tahun ini siapa yang wakilin olimpic?" Tanya Daddy Alex lagi.
"Ben, Gisell,Andra dan Tiara!" Pria setengah baya itu hanya mangut mangut megerti.
Daddy Alex, atau nama lengkapnya adalah Alexsander Dirgantara, pengusaha terkaya di indonesia, keluarganya juga masuk kejejeran 5 besar orang terkaya didunia.
Dan SMA Alexsander High School salah satu asetnya.
Memang sudah menjadi rahasia umum jika Gallan adalah anak dari pemilik sekolah tersebut, makanya setiap kali cowok itu berbuat ulah dia hanya akan mendapat hukuman ringan ringan saja.
Tidak adil memang.
Sedangkan Mommy nya, Zarra Dirgantara haya seorang ibu rumah tangga, sebenarnya Mommy Zarra seorang disainer hanya sejak memiliki anak Daddy Alex tak lagi mengizinkan Mommy Zarra bekerja.
Back to story.
Keluarga itu kembali melanjutkan makan malam dengan sesekali diselangi obrolan obrolan kecil.
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Terimakasih karna sudah membaca, jangan lupa tinggalkam jejak kalian ya, maaf jika banyak typo yang bertebaran, semoga suka.
See youe next time.🥳😘🥰
semangat update nya thor 💪🏿
Awal cerita yg menarik..
Jangan lupa mampir ya
*°Hati yang terluka°*