Suatu kesalah pahaman, membuat Zehra Almeera harus menanggung rasa kebencian dari sang kakak, Kakak laki laki yang menjadi matahari dalam hidupnya, cahaya yang menyinarinya, sehingga dirinya berusaha bangkit dari keterpurukan. Padahal Zehralah yang menyumbangkan Ginjalnya pada Rafa, tapi perlakuan Rafa sungguh buruk, dikarenakan sesuatu yang di yakini Oleh Rafa bahwa Zehralah pembunuh sang Mama, Akankah hubungan mereka menjadi manis, ataukah sebaliknya hancur tak tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shuci Icuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkorban untuk menyelamatkan
"Papa, kapan Papa pulang?" tanya Rafa sedikit merasa senang, karena ini adalah waktu yang tercepat mereka bertemu kembali, karena biasanya sang Papa paling cepat kembali setelah empat bulan.
"Tadi jam tujuh, kamu kemana saja sampai pulang selarut ini, bahkan kamu sampai tidak tau kalau adikmu sakit."
"Dia bukan adiku, kalau sakit ya ke rumah sakit, manja bener." Rafa sama sekali tak bersimpati mendengar Zehra sakit.
"Rafa, dimana hati nurani kamu, dia memang bukan adik kandung mu, tapi dia tetap adikmu, karena dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini." Rendy mulai meninggikan suaranya karena emosi.
"Kenapa sih pa, Papa selalu aja ngebelain dia dibanding aku anak Papa sendiri, dia itu cuma anak pungut, karena dia juga Mama meninggal." suara Rafa tak kalah meninggi karena emosi.
"Kamu salah Raf, bukan Zehra penyebab Mama meninggal." Rendy merendahkan suaranya, dirinya mulai pusing karen anak laki lakinya ini tak mau menurut dan terus melawan.
"Aku benar Pa, karena aku sendiri yang melihat dengan mata kepalaku sendiri, Mama terjatuh kejurang karena menyelamatkan Zehra, Mama harus mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Zehra, kenapa, kenapa Mama lebih menyayangi Zehra di bandingkan aku, Papa juga sama, terus membelanya, padahal dialah sumber masalah didalam keluarga ini." Jelas Rafa yang membuat Rendy terkejut.
"Kamu melihat kejadian itu Raf, bagaimana mungkin." gumam Rendy tak percaya jika Rafa melihat kejadian yang mengerikan tersebut.
"Sampai kapan pun, aku gak akan pernah mengakui dia sebagai adikku, aku benci dia, sangat sangat membencinya." Rafa hendak menaiki tangga setelah mengatakan hal tersebut, tetapi di tengah tengah tangga, berdiri Zehra dan Mama Dewi yang hendak turun.
mereka berdua tentu saja mendengar semua apa yang di katakan Rafa, hal itu membuat Zehra semakin syok.
Rafa tidak peduli, dua wanita itu, adalah wanita yang sangat dibencinya, dengan langkah besar Rafa cepat cepat menaiki tangga menuju kamarnya sendiri.
Zehra sampai terduduk lemas setelah Rafa melewati mereka berdua.
"Apa semua itu benar, jadi aku yang sudah ngebunuh Mama. meskipun tanpa sengaja. hiks hiks." Tangis Zehra membuat Rendy langsung menghampiri dan memeluknya.
"Gak sayang itu semua gak bener, kamu mana mungkin membunuh Mama Sita. itu gak benar." Rendy berusaha meyakinkan Zehra bahwa apa yang di katakan Rafa tidaklah benar.
"Lalu bagaimana yang benar Pa, aku gak papa kok kalau harus, masuk penjara, aku akan tanggung jawab Pa, biar Kak Rafa gak benci aku."
"Kita masuk ke kamar kamu dulu ya, besok kalau kondisi kamu sudah baikan, Papa akan menceritakan semuanya sayang,"
"Gak Pa, Zehra mau Papa cerita sekarang." Paksa Zehra.
"Ceritakan lah Mas, buruan kamu bawa Zehra ke kamarnya, biar aku yang mengambil air minum di dapur." Pinta Dewi.
Rendy menuntun Zehra kembali ke kamarnya, sementara Dewi mengambil air minum untuk Zehra.
Tadi Zehra terbangun dan ingin minum, ternyata minumnya habis dan belum diisi lagi, Zehra ngotot ingin mengambil sendiri ke dapur terpaksa Dewi mengiyakan dengan syarat Dewi menemaninya.
Kondisi demam Zehra sudah sedikit menurun, karena itu Zehra bisa terbangun dan mampu berjalan meskipun masih sedikit pusing.
tetapi siapa yang menyangka, begitu mereka keluar dari kamar, dan perlahan berjalan menuruni tangga, sebuah fakta baru mereka dapatkan.
selama ini Zehra tidak pernah tau jika Mama Sita mengorbankan diri untuk menolong dirinya, karena saat kecelakan itu terjadi. Rendy meminta Zehra untuk memejamkan matanya sampai dirinya mengizinkan membukanya.
Maka dari itu Zehra tidak melihat jatuhnya Sita ke daam jurang, dan ternyata malah Rafa yang menyaksikan hal mengerikan tersebut.
Pasti tidak mudah bagi Rafa yang kala itu baru berusia sepuluh tahun, dan sudah mengalami hal sepeprti itu.
"Kamu Tau, sebenarnya Papa tak ingin menceritakan hal ini pada siapapun, karena cerita ini juga sebuah bukti bahwa Papa sudah gagal melindungi Mama sita, Zehra." ungkap Rendy memulai cerita.
"Aku mau ingin dengar semuanya Pa, biar aku bisa melanjutkan hidup, karena rasanya sekarng aku gak pantas lagi untuk ada di dunia ini."
"Sayang, jangan bicara sepeprti itu, Papa jadi sedih mendengarnya, Mama sita pun pasti juga sedih bila mendengar apa yang barusan kamu katakan."
"Baiklah, Papa akan beritahu yang sebenarnya."
"Sebenarnya, waktu dimana kita pertama kali bertemu, disitulah kami baru mengetahui jika Sita mengindap kangker payudara setadium akhir,"
"Apa?" Zehra terkejut dengan kabar tersebut.
"Itu benar, Papa hampir putus asa, Istri Yang Papa cintai tengah sakit kangker, yang dokter perkirakan waktunya hanya dua bulan saja, sementara Rafa anak laki laki satu satunya, mengindap gagal ginjal dan butuh donor ginjal segera.
Kau tau nak, kedatangan mu yang dengan berani itu, bagaikan cahaya matahari yang menyinari bumi yang tertutup oleh awan mendung.
Kau yang menawarkan ginjalmu, membuat Papa kembali berani berharap dengan adanya keajaiban.
Mama sita sngat bahagia, meskipun dalam hatinya juga merasa bersalah karena telah memanfaatkan gadis kecil secantik dirimu.
tapi Papa rasa itu sudah tidak lagi, dengan menyelamatkan nyawamu, maka nyawa Rafa pun juga akan selamat.
hari kecelakaan itu, adalah hari dimana kalian harus dioperasi, itu adalah jadwal Rafa mendapat donor ginjal darimu, jika Papa tidak menolong mu, Rafa pun juga tidak akan tertolong.
semua itu, Mama sita yang meminta Nak, Mama sita yang memohon agar Papa menolong kamu, agar kamu bisa menolong Rafa." Rendy meneteskan air matanya teringat dengan hari naas tersebut.
"Aku gak tau kalau Mama sakit kangker." Zehra juga menngis medengar semua cerita Rendy.
"Mungkin karena tau jika hidupnya tak bisa lama lagi, maka dari itu, Mama memilih untuk menjatuh kan diri, dan mendorongmu naik agar selamat." Lanjut Rendy.
"Jangan lagi menyalahkan dirimu sayang, Rafa hanya salah paham."
"Iya Pa, makasih sudah menceritakan semuanya pada Zehra," ucap Zehra yang kemudian memeluk Rendy dengan erat.
Dewi yang sedari tadi duduk disofa dan mendengarkan cerita Rendy pun tersenyum melihat Zehra dan Rendy berpelukan.
"Pa, Zehra boleh minta tolong?"
"Boleh dong sayang. "
"Tolong, jangan kasih tau Kak Rafa, kalau aku adalah orang yang mendonorkan ginjal padanya, aku gak mau Kak rafa semakin salah paham padaku, saat tau syarat yang aku ajukan pada kalian." Pinta Zehra seraya menunduk.
"Tapi Sayang, Rafa akan terus bersikap tidak baik padamu."
"Gak papa Pa, Zehra akan hadapi Kak Rafa, sampai Kak Rafa menyadari dengan sendirinya, kalau bukan Zehra yang bunuh Mama, Papa hanya boleh kasih tau kak Rafa jika bukan Zehra yang bunuh mama, itu sudah cukup."
"Baiklah, jika itu mau mu, sudah sangat larut, beristirahat lah, Papa harap besok kamu sudah sehat kembali."
"Siap Pa, sekarang pun Zehra sudah merasa sehat kembali kok." Zehra memberikan senyuman terbaiknya untuk meyakinkan sang Papa jika dirinya sudah baik baik saja.
"Ayo Ma kita keluar, biarkan Zehra istirahat." Ajak Rendy pada Dewi.
"Baiklah. selamat tidur Zehra cantik." Dewi mengucapkan selamat tidur pada Zehra.
"Selamat tidur juga Mama Dewi dan Papa. Semoga mimpi indah."