Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Dewa Naga Ananta

Sang Dewa Naga Ananta

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai / Cinta Beda Dunia / Barat
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Swastika

Berkisah tentang seorang dewa naga yang sangat sakti dan mampu mengubah wujud nya menjadi manusia tampan, Dewa naga yang di sembah umat manusia untuk menjadi pelindung dari segala mara bahaya.

Ananta adalah dewa yang bertugas melawan segala iblis yang menganggu umat manusia, dengan kekuatannya yang sangat besar, bahkan dengan nafas nya pun dewa naga Ananta mampu membakar dan melenyapkan iblis.

Suatu ketika Dewa naga Ananta berubah wujud menjadi manusia dan menyamar menjadi manusia untuk mengontrol kehidupan di bumi, dan di sana lah dewa Ananta bertemu seorang wanita cantik dan sederhana, yang membuat ia kagum ia adalah Virlania, seorang gadis biasa yang hidupnya jauh dari kata layak.

Namun pada saat dewa naga Ananta menyamar menjadi manusia, ia terkejut melihat sifat manusia yang banyak menyerupai iblis, sampai akhirnya dewa naga Ananta murka melihat tingkah manusia yang jahat dan seperti iblis, maka di hukum lah seluruh umat manusia, pada saat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Swastika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17: Kitab suci

Virlania duduk di kursi kayu di dalam kuil pendeta, ia masih menatap buku dengan sampul tebal berwarna coklat yang ada di depannya itu. Sebelum jari jemari yang putih bening itu membuka lembar pertama, Pendeta berkata padanya.

"Jangan sampai rusak bukunya." Ucap pendeta itu kemudian duduk di samping Virlania.

Virlania mengangguk. Tanganya mulai membuka lembar pertama.

"Kekaisaran langit, istana langit, penghuni langit." isi pada lembar pertama.

Jari jemari lentik itu kembali membuka lembar, dan kini menuju lembar ke-dua. Lembar kedua berisi sketsa hitam putih yang berbentuk Istana megah, dengan hiasan awan putih mengelilinginya, itu adalah sketsa yang menggambarkan istana langit.

"Apakah ini istana langit?" Tanya Virlania kepada pendeta yang duduk di sampingnya.

"Iya, itu adalah istana langit." Sahut sang pendeta.

Jari jemari Virlania mengusap kertas di halaman ke dua itu dengan lembut, senyum simpul menghiasi bibir mungil nya.

"Indah sekali, meskipun hanya sekedar sketsa." Ucapnya.

Menuju lembar ke tiga, terpampang sebuah gambar pria berjanggut gagah perkasa yang memakai baju zirah, bertubuh kekar dan membawa pedang besar di tangan kanannya.

Mata Virlania tertuju di bagian atas gambar itu sebuah nama yang tertulis dengan huruf berukuran sangat kecil sampai Virlania harus menyipitkan matanya untuk membaca tulisan itu.

"Fra.. Fra.. " Gumam Virlania sambil berusaha membaca tulisan itu.

"Fray Jordam." Ucap pendeta di sampingnya memperjelas.

"Ah iya, tulisannya Fray Jordam!" Ucap Virlania sembari tersenyum lebar.

"Siapa dia?" Tanya-nya.

"Dia adalah kaisar dewa perang, yang memimpin jalannya perang dan menugaskan seluruh dewa turun ke bumi." Jelas pendeta.

Jari jemarinya kembali membuka ke lembar berikutnya, terlihat sebuah sketsa gambar bara api, dan di kelilingi oleh sepuluh pria perkasa yang membawa pedang.

Belum mengeluarkan sepatah kata untuk bertanya, baru menoleh saja, pendeta yang ada di samping Virlania sudah menjelaskan tentang gambar itu.

"Dewa Api." Ucapnya.

"Dewa api? wow.. jadi selain dewa bumi, ada dewa api juga?" Virlania terheran.

Tentu saja gadis mungil berkulit putih bak salju dan bermata bulat itu hanya tau dewa bumi, karena ia tidak pernah mendapat pelajaran mengenai seratus dewa, ia tak mendapat pendidikan yang wajib.

"Tentu saja, apa kau tidak tau mengenai seratus dewa?" Tanya sang pendeta.

"Tidak, aku tidak tau. yang ku tau hanyalah dewa bumi dan dewa naga tentunya." Jawab Virlania sambil kembali menatap lembar kertas di depannya.

Lembaran berikutnya, Virlania melihat sketsa gambar berupa ombak lautan dengan sepuluh sosok pria yang membawa pedang mengelilingi nya.

"Aku tau ini, ini pasti dewa air." Ucapnya sambil jari telunjuknya menunjuk kertas.

"Ya, dewa air." Sahut pendeta itu dengan lugas.

"Dewa naga dimana?" Tanya Virlania tak sabaran.

"Buka saja lembarnya satu persatu, kau juga harus mengenal dewa yang lain." Sahut sang pendeta.

Virlania kembali mengarahkan jari jemarinya ke buku itu, dan membukanya ke bagian lembar berikutnya.

Lembar berikutnya terlihat sketsa gambar sepuluh pria gagah perkasa dengan pedang mengelilingi sebuah angin tornado di tengahnya.

"Angin tornado! apakah dewa angin mampu mengendalikan angin tornado?" Tanya Virlania sembari menoleh ke pendeta yang ada di sampingnya.

"Tentu saja, dewa angin mampu mengendalikan angin apapun." Sahut sang pendeta.

Lembar berikutnya terlihat sebuah sketsa gambar sepuluh pria dengan pedang di pinggangnya, serta terdapat sebuah gambar petir di tengah-tengah nya.

"Apakah ini dewa petir?" Virlania menoleh.

"Iya benar, itu adalah dewa petir." Sahut sang pendeta.

"Apakah dewa petir yang muncul saat perang ke dua? aku melihat ada petir bercabang yang sangat dahsyat menyambar ke tubuh iblis, dan di bantu oleh dewa naga yang melilitnya pada saat itu." Ujar Virlania.

Pendeta nampak tercengang dengan penjelasan Virlania. Bagaimana tidak, pada saat perang ke-dua pendeta sudah mengarahkan seluruh orang yang ada di desa itu untuk masuk ke kuil pendeta, seharusnya tidak ada seorang pun yang melihat jalannya peperangan kecuali para pendeta pada saat itu.

"Kenapa kau tau?" Tanya pendeta dengan wajah penasaran.

"Aku melihatnya."

"Bagaimana bisa kau melihatnya? kan pintu kuil sudah di tutup pada saat itu." Pendeta penasaran.

"Aku tidak ada di dalam kuil pada saat itu." Sahut Virlania.

"Ha? bagaimana bisa? bukannya seluruh warga sudah ku perintahkan masuk ke kuil? lagi pula aku mengontrol di luar kuil sudah tidak ada orang pada saat itu." Pendeta masih bersikukuh tidak percaya.

"Iya, aku berada di semak samping kuil pada saat itu."

"Sedang apa kau di sana? kenapa tidak masuk ke kuil pada saat itu?" Pendeta kembali bertanya.

"Iya, aku masih mencari teman ku, aku lihat dia belum masuk ke kuil, jadi aku ingin mencarinya dulu. " Jelas Virlania.

"Temanmu? siapa temanmu? kenapa dia juga tidak masuk ke kuil?" Pendeta kembali bertanya.

"Entahlah aku tidak tau, dia bilang saat itu masih ada urusan." Sahut Virlania.

Virlania kembali membuka ke lembar berikutnya, gambar di lembar berikutnya, terlihat sketsa yang hampir sama dengan lembar sebelumnya, beberapa sosok pria membawa pedang terlihat dengan sketsa-sketsa tetesan air hujan di atas mereka.

"Apakah ini dewa air juga?" Tanya Virlania.

"Itu dewa hujan." Sahut Pendeta.

"Dewa hujan? ku pikir masuk ke pasukan dewa air." Celotehnya.

Setelahnya terlihat di lembar berikutnya ada Dewa batu, sepuluh sosok pria bertubuh besar yang membawa pedang dan tameng. Virlania pun membuka ke lembar berikutnya.

Akhirnya tiba ke lembar yang berikurnya, ya itu penjelasan dan gambar dewa bumi, terlihat lukisan bumi di belakang para sosok pria bertubuh kekar dan membawa pedang. Virlania menatap sambil menghitung jumlahnya.

"Lo? kenapa jumlahnya ganjil? hanya dua puluh sembilan dewa?" Tanya Virlania dengan wajah penasaran.

"Kau belum membuka lembar terakhir." Pendeta itu berucap.

Menyadari itu Virlania langsung membuka ke lembar berikutnya, satu kertas full hanya berisi satu gambar namun ukuran gambarnya memenuhi kertas.

"Dewa naga!" Ucapnya sambil sumringah.

"Ya, itulah dewa naga."

"Kenapa dewa naga hanya di tempatkan sendiri? dia dewa apa sebenarnya?" Virlania bertanya polos.

"Dewa naga adalah satu-satunya dewa yang bisa berubah wujud menjadi naga, naga adalah wujud aslinya, namun dengan kesaktian yang ia miliki, dewa naga mampu merubah wujudnya menjadi lelaki tampan, sama seperti dewa-dewa yang lain." Jelas Pendeta.

"Lalu dia masuk ke pasukan yang mana?" Tanya Virlania.

"Ke pasukan dewa bumi." Sahut sang Pendeta.

Virlania menatap kembali gambar naga yang ada di depannya, masih ada banyak lembar berikutnya yang berisi penjelasan masing-masing tentang dewa-dewa, namun waktunya sudah tidak cukup, Virlania harus kembali ke rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Virlania pun berterimakasih kepada Pendeta karena telah mengizinkan nya meminjam dan membaca buku kitab suci itu, ia pun hendak menutup buku itu dan pergi dari kuil, Namun ada sesuatu yang menghentikan tangannya menutup buku yang tebal itu.

Ya, sesuatu di lembar terakhir, di atas gambar naga yang baru saja ia lihat, ada empat patah kata yang di tulis sangat kecil di lembar itu.

Virlania kembali menyipitkan matanya membaca tulisan itu, ia berusaha keras membaca tulisan yang bentuknya hampir abstrak itu. Namun akhirnya ia bisa membacanya.

"Sang dewa naga Ananta."

Seketika Virlania mematung di tempat, tangannya belum menutup buku, matanya masih tertuju di tulisan kecil itu.

"Nama yang familiar." Ucapnya.

^^^Bersambung... ^^^

1
Dewi Swastika
~~
Anonim
kayaknya dewa naga ananta maskulin bgt yaa
Eneng Sumiati
5
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!