Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
BAB 17: Kota Para Penyamun
[Sudut Pandang: SURA]
Kota Mistry menyambut mereka dengan bau amis ikan busuk dan tatapan permusuhan.
Kota ini terletak di teluk berkabut di ujung selatan Ostand. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu lapuk yang menghitam karena uap garam, bertumpuk-tumpuk tidak beraturan seperti gigi tonggos.
Sura, Kian, Ren, dan Lila berdiri di bukit yang menghadap gerbang kota. Mereka melihat pasukan Lysander dan Jenderal Hanzor sudah mendirikan kemah di dataran rendah. Bendera Iron Wall berkibar gagah, meriam-meriam besar diarahkan lurus ke gerbang kayu kota.
"Lihat itu," tunjuk Kian. "Hanzor melakukan blokade total. Tidak ada makanan masuk, tidak ada orang keluar."
"Taktik klasik," komentar Sura. "Lapar membuat orang patuh."
BOOM!
Salah satu meriam Hanzor meletus. Peluru besi menghantam tembok luar kota, merontokkan batu-batu. Jeritan warga terdengar sayup-sayup.
"Itu 'negosiasi' versi mereka," kata Lila ngeri, memeluk tas perbekalannya erat-erat. "Bagaimana kita bisa masuk? Kalau kita mendekat, kita akan ditembak panah pemberontak atau ditangkap pasukan Hanzor."
Sura menatap gerbang kota yang tertutup rapat. Di atas benteng, terlihat puluhan pria bersenjata parang dan senapan kuno. Mereka tidak memakai seragam tentara. Mereka memakai rompi kulit dan bandana. Bajak laut.
"Pemimpin pemberontak ini..." kata Ren, memegang teleskop kecilnya. "Namanya Baron Zale. Mantan laksamana angkatan laut yang dipecat karena korupsi. Dia mengubah Mistry menjadi sarang penyelundup. Dia tidak takut pada meriam. Dia punya sandera."
"Sandera?" tanya Kian.
"Penduduk kota," jawab Ren. "Zale menjadikan warga sipil sebagai tameng manusia di tembok. Hanzor tidak bisa menyerbu masuk tanpa membantai ribuan rakyat tak bersalah. Itu sebabnya dia cuma menembak tembok luar."
Sura tersenyum miring. Situasi ini sempurna.
"Jadi, kita punya deadlock (jalan buntu)," kata Sura. "Zale tidak bisa keluar, Hanzor tidak bisa masuk. Mereka butuh penengah."
"Atau penipu," koreksi Kian.
Sura menoleh pada Ren. "Surat mandatnya sudah siap?"
Ren mengangguk. Dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas perkamen yang terlihat sangat resmi. Segel lilinnya berwarna ungu tua—warna Biro Audit Kerajaan.
"Ini mahakaryaku," kata Ren bangga. "Surat Tugas dari 'Biro Pengawas Korupsi Militer'. Lembaga ini sebenarnya tidak ada, tapi aku membuatnya terdengar sangat menakutkan."
"Bagus," kata Sura. Dia mengambil surat itu. "Rencananya begini: Kita tidak masuk sebagai pemungut pajak. Kita masuk sebagai musuh Hanzor."
"Apa?" Lila bingung. "Tapi kita di pihak Raja?"
"Zale membenci Hanzor," jelas Sura. "Musuh dari musuhku adalah temanku. Kita akan bilang pada Zale bahwa kita adalah auditor rahasia yang dikirim untuk menyelidiki 'kebrutalan militer' Hanzor. Kita di sana untuk 'menolong' Zale agar tidak dibantai."
Kian tertawa kecil. "Kita menipu pemberontak dengan berpura-pura menjadi birokrat yang baik hati? Itu jahat sekali, Sura."
"Itu politik, Sayang," Sura mengedipkan mata. "Lila, siapkan bendera putih. Ren, pasang wajah paling menyedihkanmu. Kian, siapkan akting bangsawannmu."
Mereka berjalan menuruni bukit menuju gerbang utama, melewati barisan tentara Hanzor.
Seorang letnan pasukan Iron Wall menghadang mereka. "Berhenti! Area terlarang! Kembali atau kami tembak!"
Kian maju, membusungkan dada. Dia mengenakan jubah beludru termahalnya.
"Minggir, Sersan," kata Kian angkuh. "Saya Kian Arselio, Utusan Khusus Raja. Kami punya izin masuk untuk negosiasi."
"Jenderal Hanzor memerintahkan tidak ada yang boleh masuk!" bentak letnan itu.
Tiba-tiba, dari arah tenda komando, Lysander muncul. Dia menatap rombongan kecil itu dengan geli.
"Biarkan mereka lewat, Letnan," perintah Lysander.
"Tapi Tuan..."
"Biarkan adikku mencoba," Lysander tersenyum mengejek pada Kian. "Mungkin Baron Zale butuh hiburan badut sebelum dia mati kelaparan. Lagipula, jika mereka dipenggal di dalam sana, itu mengurangi pekerjaanku."
Pasukan Hanzor membelah jalan, membiarkan Sura dan timnya lewat.
Mereka berjalan menuju gerbang kota yang tertutup. Di atas benteng, puluhan busur panah ditarik, mengarah ke jantung mereka.
"Siapa kalian?!" teriak seorang penjaga bertato gurita di wajahnya.
"JANGAN TEMBAK!" teriak Sura, melambai-lambaikan bendera putih (yang sebenarnya adalah taplak meja Lila). "KAMI BUKAN TEMAN HANZOR!"
Sura mengangkat gulungan kertas palsu buatan Ren tinggi-tinggi.
"KAMI DARI BIRO PENGAWAS! KAMI MEMBAWA BUKTI BAHWA JENDERAL HANZOR MELANGGAR KODE ETIK PERANG! KAMI INGIN MENAWARKAN BANTUAN HUKUM UNTUK BARON ZALE!"
Hening di atas benteng. Para pemberontak saling pandang. Bantuan hukum? Di tengah pengepungan? Itu hal paling absurd yang pernah mereka dengar.
Tapi Baron Zale adalah orang yang licik. Dia tahu dia tidak bisa bertahan selamanya. Jika ada celah politik untuk menjatuhkan Hanzor, dia pasti tertarik.
Gerbang kayu raksasa itu berderit terbuka sedikit. Cukup untuk satu orang lewat.
"Masuk," suara berat terdengar dari dalam. "Tapi jika kalian berbohong, kulit kalian akan jadi layar kapal baruku."
Kian menelan ludah. Dia menatap Sura.
"Setelah kau, Nona Penasihat Hukum," bisik Kian.
Mereka melangkah masuk ke dalam perut singa.
Markas Baron Zale bukanlah balai kota, melainkan sebuah gudang pelelangan ikan yang disulap menjadi istana dadakan.
Zale duduk di atas tumpukan peti kargo, dikelilingi anak buahnya yang bertampang sangar. Baron Zale bertubuh raksasa, perutnya buncit, dan dia memiliki janggut merah yang dikepang dengan koin emas. Di pinggangnya tergantung dua pedang melengkung.
Di sudut ruangan, seekor buaya muara yang diikat rantai sedang mendesis ke arah Lila. Lila bersembunyi di balik punggung Ren yang gemetar.
"Jadi," suara Zale menggelegar. Dia sedang memakan kepiting hidup-hidup, cangkangnya berbunyi krak di giginya. "Kalian bilang kalian musuh Si Jagal Hanzor?"
Sura maju. Dia tidak membungkuk.
"Benar, Baron," kata Sura mantap. "Saya Sura, Sekretaris Biro. Ini Tuan Kian, Kepala Auditor."
Sura menunjuk gulungan di tangan Ren.
"Kerajaan tidak suka cara Hanzor. Meriamnya merusak properti yang seharusnya membayar pajak. Raja ingin Hanzor dipecat, tapi dia butuh alasan. Dia butuh kesaksian dari Anda."
Zale tertawa. Tawanya mengguncang lemak di perutnya.
"Kalian pikir aku bodoh? Raja mengirim kalian untuk menipuku agar menyerah!"
Zale mencabut pedangnya.
"Potong lidah mereka!" perintah Zale.
Dua anak buah Zale maju, menyeret Sura dan Kian. Kian meronta, tapi cengkeraman bajak laut itu terlalu kuat.
"Tunggu!" teriak Kian. "Kami membawa uang! Kami bisa membayar!"
"Uangmu akan jadi milikku setelah kau mati!" bentak Zale.
Pisau sudah berada satu inci dari lidah Sura.
"Bukan uang!" teriak Sura, matanya menatap tajam ke mata Zale. "Kami membawa Rute Penyelundupan!"
Zale mengangkat tangan. "Berhenti."
Pisau itu berhenti tepat di bibir Sura.
"Apa maksudmu?" tanya Zale curiga.
Sura mendorong anak buah Zale menjauh. Dia merapikan kerahnya, berusaha terlihat tenang meski jantungnya mau meledak.
"Baron, Anda adalah penyelundup terbaik di Selatan. Tapi Hanzor memblokade laut. Bisnis Anda mati," kata Sura cepat.
"Lalu?"
"Tuan Kian di sini," Sura menunjuk Kian, "Adalah anak keluarga Arselio. Keluarganya menguasai jalur darat di Utara. Kami tidak datang untuk meminta pajak. Kami datang untuk menawarkan kerja sama."
Sura mengambil napas, masuk ke mode 'Lidah Perak'.
"Kami akan membantu Anda memalsukan laporan pajak. Di atas kertas, Anda membayar penuh pada Raja. Tapi kenyataannya? Anda hanya membayar 30%. Sisanya? Kita bagi dua. Dan sebagai bonus, kami akan berikan peta jalur darat keluarga Arselio supaya barang selundupan Anda bisa lolos dari blokade laut Hanzor."
Mata Zale menyipit. Keserakahan mulai menggantikan amarah di wajahnya.
"Kalian menawarkan diri untuk menggelapkan pajak Raja?" tanya Zale tak percaya. "Kalian mengkhianati Raja kalian sendiri?"
Kian maju, memainkan perannya dengan sempurna. Dia memasang wajah bangsawan korup yang serakah.
"Baron Zale," kata Kian halus. "Raja itu jauh. Tapi Emas itu dekat. Saya pebisnis, bukan patriot. Hanzor ingin menghancurkan kota ini. Saya ingin kota ini tetap kaya supaya saya bisa memerasnya pelan-pelan."
Zale menatap Kian lama. Lalu dia tertawa terbahak-bahak. Kali ini tawa senang.
"Aku suka gaya kalian!" seru Zale. Dia melempar sisa kepitingnya ke buaya. "Bangsawan korup! Akhirnya ada bahasa yang aku mengerti!"
Zale turun dari singgasana petinya, merangkul bahu Kian dengan kasar hingga Kian terhuyung.
"Baik! Kita minum! Jika tawaran kalian benar, kita akan berpesta. Jika bohong... buayaku belum makan siang."
Sura menghembuskan napas lega. Mereka berhasil masuk.
Tapi sekarang masalahnya lebih besar: Mereka baru saja berjanji memberikan Rute Penyelundupan (yang tidak mereka punya) dan menggelapkan pajak (yang melanggar perintah Raja).
Mereka punya waktu satu minggu untuk memutarbalikkan situasi ini: Membuat Zale membayar pajak tanpa sadar, dan membuat Hanzor pergi tanpa perang.
"Kerja bagus," bisik Kian pada Sura saat mereka digiring ke meja perjamuan. "Tapi bagaimana cara kita membuat dia membayar pajak penuh tanpa dia sadari?"
"Ren," panggil Sura pelan.
Ren, yang masih gemetar, menoleh. "Y-ya?"
"Kau pernah memalsukan uang?" tanya Sura.
Mata Ren membulat. "Itu hukuman mati, Sura!"
"Bukan memalsukan uang untuk kita," Sura menyeringai licik. "Tapi memalsukan Surat Pembebasan Pajak. Kita akan jual surat palsu itu pada Zale seharga total pajaknya. Dia pikir dia menyuap kita, padahal dia membayar lunas pada negara."
Kian tersenyum lebar. "Jenius."
Di luar tembok, meriam Hanzor kembali berdentum. Di dalam, pesta para penipu baru saja dimulai.