Wang Xi Yue adalah anak gadis dari seorang perdana menteri yang suka sakit-sakitan sejak kecil. Suatu saat, ia meninggal dalam usia 17 tahun dan pada saat itu juga roh Nara masuk ke dalam tubuh Xi Yue (Yue-er).
Nara adalah seorang wanita muda di era 21 yang melakukan transmigrasi ke abad kuno. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa berada di era kuno tersebut setelah ia tewas akibat pengkhianatan kekasihnya sendiri.
Nara melanjutkan hidupnya dengan tubuh Xi Yue. Ia banyak mengalami lika-liku dalam kehidupannya sekarang baik itu di harem perdana menteri Wang (ayah kandung Xi Yue) bahkan sampai saat ia berhasil masuk ke harem istana kerajaan.
Adapun kisah cinta yang tersirat dalam cerita ini. Mau tau kelanjutan kisah Nara? Yuk, ikuti terus ceritanya! Jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya, vote jika suka, dan likenya juga!😊
Selamat membaca🙏😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jilid 19
"Sama-sama, paman," jawab Nara yang ingin membuka pakaian paman namun ditahan oleh Feng Xi.
"Kau mau apa?" tanya Feng Xi.
"Mau membalur ini ke tubuhnya. Memangnya mau apa lagi?" tanya balik Nara yang menanggapi sikap aneh Feng Xi.
"Jangan kamu!" larang Feng Xi. "Kamu saja yang membalur tanaman itu ke tubuh paman!" serunya yang menyuruh salah satu pria dibelakangnya untuk menggantikan tugas Nara.
"Kenapa harus dia? Aku bisa," kata Nara bersikeras.
"Kamu adalah wanita. Tidak baik seperti ini."
"Benar, nona! Biar aku saja yang membantumu," timpal pria yang ditunjuk Feng Xi tadi.
"Baiklah!" kata Nara setuju. "Tolong kamu oleskan keseluruh permukaan kulitnya. Ini harus dilakukan sesering mungkin agar tidak begitu gatal."
"Penyakit ini sungguh menyiksa," keluh paman yang hampir menangis.
"Paman, tahanlah! Aku akan membuat makanan dan minuman untuk membantumu agar cepat pulih," kata Nara yang coba menenangkan hati paman.
"Sungguh merepotkan nona," kata paman sungkan.
"Tidak apa-apa. Ini memang sedikit merepotkan, tapi kalian harus sembuh," kata Nara yang membuat orang sekelilingnya bangga dengan kemampuannya. "Teruskan!" seru Nara pada pria yang menggangtikannya.
Nara keluar dari rumah paman diikuti Feng Xi dan kedua pria lainnya. Mereka masuk ke dalam rumah warga yang lain untuk memeriksa kondisi warga lain apa terinfeksi virus yang sama atau tidak.
Setelah diperiksa, hampir seluruh warga desa sini mengalami virus yang sama. Mau tidak mau, Nara dibantu beberapa orang sama-sama mengobati orang yang sakit.
Feng Xi meneruskan pertapaannya di luar sambil berjaga-jaga. Nara sibuk mencari tanaman herbal lain untuk dimasak menjadi minuman yang membantu proses penyembuhan dari dalam. Kebetulan ada lahan kebun yang menanam berbagai jenis sayur dan rempah, jadi sangat menghemat pengeluaran.
'Makin menjelang malam, aura jahat ini makin terasa,' batin Feng Xi merasakan ada sesuatu yang akan terjadi.
Datang angin kencang secara tiba-tiba dan merusak beberapa jerami milik warga serta ingin menyerang Feng Xi yang sedang bertapa. Karena Feng Xi tahu kalau dirinya akan diserang, ia pun sudah menyiapkan satu jimat ditangannya untuk menangkis aura mistis yang dirasakannya. Aura yang terpancar dari diri Feng Xi mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan mata bagi yang melihatnya hingga menarik perhatian Nara.
"Cahaya apa itu?" tanya Nara penasaran sambil melirik keluar.
Nara melihat Feng Xi fokus mengeluarkan jurus-jurusnya melawan sesuatu yang kasat mata. Untung saja dia berhasil dan aura mistisnya pergi dengan jimatnya.
Setelah kejadian itu, semua kembali seperti semula. Hanya saja disekitaran halaman para warga agak porak poranda.
"Ada apa, tuan?" tanya salah satu warga menghampiri Feng Xi.
"Tidak apa-apa. Hanya gangguan kecil," jawab Feng Xi yang tidak ingin menambah kekhawatiran.
Nara berlari kecil menghampiri Feng Xi.
"Tadi itu, apa?" tanyanya penasaran.
"Itu..." baru saja Feng Xi ingin menjawabnya, tapi ia melirik Nara. "Hahahaha...." tawanya tak tahan setelah melihat Nara.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Nara yang bingung sendiri.
"Wajahmu aneh. Hampir hitam semua. Hahahaha...." tawanya makin kencang. "Aduh! Perutku sakit sekali. Hahahahaha...." lanjutnya sambil memegang perutnya.
'Jangan-jangan mukaku kotor kena tiupan kayu bakar tadi,' pikir Nara saat membantu masak di dapur.
"Menyebalkan!" seru Nara sambil berlalu pergi.
Seperti yang Nara bilang kalau dia akan membantu warga disini. Ia bekerja keras memasak bubur dan minuman herbal serta mengoles cairan lidah buaya pada yang mengidap cacar.
"Nona terima kasih atas bantuannya," ucap Hai Tho saat mereka kumpul bersama didepan api unggun.
Mereka menikmati makan malam bersama dengan menu ayam panggang sederhana dengan cara manual.
"Sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu nona. Sungguh memalukan jika diingat," ucap Hai Tho menyesal. "Siapa nama nona?"
"Namaku, Nara."
"Anda sangat cantik dan pintar. Orang tua anda pasti sangat beruntung mempunyai seorang putri seperti anda," timpal seorang ibu yang ikutan duduk bersama menikmati angin malam.
"Terima kasih, bi," ucap Nara sopan.
'Dia memang cantik,' batin Feng Xi yang melihat Nara dengan jelas dekat cahaya api unggun.
*Nara
*****
Kurang lebih sudah tiga hari Nara dan Feng Xi di desa sambil membantu para warga merawat yang sakit dan sudah berangsur membaik. Untuk sandang pangan, mereka makan umbi-umbian agar dapat bertahan hidup.
"Nona! Nona!" panggil salah satu warga yang sibuk berlarian entah darimana mencari keberadaan Nara di dapur.
Mendengar panggilan mengejutkan itu, Nara menemui sumber suara.
"Aku disini," sahut Nara yang menampakkan dirinya dekat pintu utama dapur.
"Nona, ada sekelompok orang berkuda mencarimu. Sekarang mereka ada di luar."
"Siapa?"
"Entahlah."
"Nara, ada apa?" tanya Feng Xi yang baru saja masuk ke area dapur.
"Kata paman ini, ada sekelompok orang berkuda mencariku," adu Nara.
"Biar ku lihat dulu!" kata Feng Xi yang memutuskan untuk keluar terlebih dulu.
Feng Xi terlihat sangat melindungi Nara. Ia sudah beberapa kali menjadi yang terdepan saat ada masalah yang dihadapi Nara.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh paman tadi, kalau ada sepuluh orang berkuda datang mencari Nara. Mereka membawa secarik kertas yang menggambarkan wajah Nara.
"Ada keperluan apa para tuan kemari?" tanya Feng Xi langsung dengan gaya elegannya.
"Ini!" jawab salah satunya sambil menunjukkan kertas gambar wajah Nara yang terpampang jelas. "Kami mencari nona ini," jelasnya singkat.
Nara yang baru tiba menyusul Feng Xi, ia tampak heran melihat gambar wajahnya ada di kertas yang dibawa seorang pria berkuda. Pria tersebut turun dari kudanya dan membandingkan antara wajah di gambar dengan wajah asli Nara.
"Ternyata benar, nona ada di desa ini," kata pria itu setelah menyelidiki keberadaan Nara.
"Kalian, siapa?" tanya Nara penasaran karena sama sekali tidak mengenal mereka.
"Kami hanya orang lewat yang mencari uang. Kebetulan kami menemukan kertas ini terpampang di papan. Jadi kami mencarimu untuk mendapatkan imbalan."
'Aku pikir, mereka orang suruhan ayah,' batin Nara kecewa. 'Ternyata preman yang sedang mencari keuntungan.'
"Apa kau ingin ikut dengan mereka?" tanya Feng Xi pada Nara.
"Sudah beberapa hari aku hilang, tapi hanya dengan kertas itu keluargaku berupaya menemukanku. Cih!" sahutnya kesal sambil melihat kertas yang dianggapnya tak berguna itu.
"Ayo, nona! Ikut pulang dengan kami!" ujar pria tadi. "Namaku, Bun San. Aku dan teman-teman akan melindungimu selama perjalanan," kata pria itu.
Melihat adanya keraguan pada wajah Nara, Feng Xi tidak ingin mengulangi hal yang sama lagi. Feng Xi tetap maju menghalau Nara agar tidak ikut dengan mereka.
"Dia tanggung jawabku," kata Feng Xi.