Adam seorang yatim piatu yang menemukan cinta pada seorang ustadzah cantik bernama Hawa di sebuah masjid.
Sayang, kisah mereka terendus oleh ayah Hawa yang kaya lagi otoriter, seorang single fighter yang over protektif, pilih-pilih. Ia pilihkan jodoh yang bonafit, seimbang menurut derajat kacamata pandangan sendiri padahal seorang bajingan level audzubillah min dzalik.
Demi menjauhkan dengan Adam sementara Hawapun dibuang menempuh pendidikan di India. Dan disanalah ia juga mendapatkan cinta luar biasa dari seorang pujaan kampus nan tampan lagi pintar bernama Qudsi. Hawa menolak demi janji cinta pada Adam.
Sayangnya Adam mengkhianati Hawa menikah dengan Maemunah karena terpaksa.
Waktu bergulir Hawa tahu Adam telah mengkhianati cinta. Ia memutuskan tindakan bodoh menikah dengan laki laki bajingan pilihan ayahnya.
Bagaimana kisah Hawa dan Adam selanjutnya, adakah cinta mereka bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon budi sulistyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan Cinta
“Aku telah khianati dia, Mas”
“Ngomong apa kamu?” tanya sang laki-laki sedikit gusar.
“Ya, kita telah khianati Aisyah” ungkap wanita dihadapannya. Buncit nampak
menggunung darib perutnya, ia mengandung, “Wanita yang malang”.
“Ah.. sudahlah nggak usah mbahas itu..” sergah sang lalki-laki yang tak bukan adalah
suaminya. Rokok menyala dari bilah jemarinya. Asap menggunung di ruangan yang
tak seberapa luas itu. Sesekali mulutnya hisap bongkahan-bongkahan racun-racun
pengikis nafas hidup.
Sesaat mereka diam. Hanya detak jantung yang masih menyala dan berbunyi lirih memecah
keheningan malam yang senyap.
“Lha bila iya terus bagaimana? Apa kamu mau kita cerai? Gitu?” ucap sang laki-laki melonjak. Alisnya
terlihat terangkat.
Sang wanita diam beribu bahasa. Tak sanggup ia jawab tanya itu. Terlalu sakit bila
ia hanya jawab dengan mengangguk.
”Lha terus bagaimana dengan jabang bayi yang kau kandung itu, Num?” ucap sang
laki-laki sambil sekali lagi ia sedot rokok kretek yang ia jepit di sela-sela
jarinya.
”Mas farhan..” panggil sang wanita yang tengah berbadan dua itu sembari pegangi perut buncitnya.
Ia tahan nafas yang terasa sesak. Ia tak ingin bayinya sejak dini telah makan racun yang dihidangkan
bapaknya dengan hembusan asap itu.
Laki-laki yang tak lain adalah farhan atau ustadz farhan itu menoleh, ”Opo..?”
”Kembalilah kau pada Aisyah. Aku rela” ucap sang wanita yang tak bukan adalah Hanum pelan
namun tegas.
Farhan terkaget, “Edan piye..”
Hanum menatap suaminya penuh kesungguhan, kepasrahan dan kesantunan, “Bener. Aku
rela. Minimal untuk tebus dosaku pada sahabatku itu. Dosa pengkhianatan yang
aku lakukan pada dia”.
Tak gampang bagi seorang Hanum untuk katakan hal itu. Tapi bagaimana lagi, hati
kecilnya selalu menterornya sebagai perebut suami orang, hati kecilnya seakan
menjadi musuh dalam dirinya. Ia tak tahan. Walau sejatinya, perpisahan yang
ustadz Farhan lakukan bukan semata-mata karena kehadirannya. Tapi karena Aisyah
dianggap Farhan tak bisa memberi keturunan. Itu saja.
“Nggak. Nggak mungkin. Nggak mungkin aku mau kembali pada wanita mandul itu. Wanita
yang nggak bisa beri aku momongan itu”. Serapah Farhan. Ia lesakkan batang
rokok yang telah habis dimakan api pada asbak yang penuh berisi batangan
rokok-rokok sebelumnya.
“Mas..”
“Wes...” potong farhan, “Jangan pekso aku, Num. Kamu ini yo aneh-aneh ae..” ucap Farhan
agak gusar. Ia punguti lagi batangan rokok lain pada bungkus rokok
dihadapannya. Ia sulut.
”Ataupun kalaupun tidak. Akupun rela bila aku dimadu, Mas”.
“Aku ingin bagaikan Sarah yang rela suaminya berhijrah pada wanita lain demi
dapatkan bahagia. Lillahi ta’ala...”.
”Bila akupun jadi beliau, mungkin akan sangat sakit rasanya suaminya meninggalkannya
di ujung penderitaan seorang diri..”.
”Mungkin saja ia kini butuh dukungan, mas. butuh orang yang mampu mengusir segala
laranya.”
”Dan mungkin itu kita. Kamu terutama, Mas!” ungkap hanum tenang. Tak sedikitpun
nampak gurat cemburu yang semestinya ada. Bukannya tak ada, ia telah mampu atur
sedemikian rupa rasa yang seringkali mematikan itu agar tak menyala dan membakar
diri membabi buta.
Farhan terdiam. Bayangan mantan istrinya yang telah ia tinggalkan muncul. Bayangan
Aisyah itu nampak tersenyum. Manis sekali, penuh dengan gairah cinta yang
membuncahi diri. Hati Adam sedikit luluh. Jujur, jejak-jejak keustadazan masih
ada dalam hatinya, ia tak ingin bagian dari orang yang akan dinash oleh
Al-Qur'an sebagai orang yang akan mendapatkan karma dari laku sendiri. ia akan
punya anak, ia punya saudara wanita, walau ia telah tak beribu lagi. Dan ia tak
ingin lakunya akan dibalas pada orang-orang yang ia sayang.
Walau jujur, ia masih pula mencintai Aisyah. Mantan istrinya.
Ia tatap wajah istrinya dengan sedikit kelembutan, Hanum tersenyum manis bak gadis
penggoda, ada rasa bangga yang muncul menyeruak dalam diri Farhan pada astrinya
itu, tak gampang dan tak lumrah wanita sodorkan sesuatu yang akan hanguskan
dirinya, dan itu bisa istrinya lakukan,
”Baik, besok kita kesana, Num. Ke kampung Sawojajar. Siapkan segala sesuatunya..” ucap
farhan sembari matikan nyala rokok yang baru saja disulutnya pada asbak kayu
akar pohon. Kepulan asap masih sedikit keluar dari pucuk batangnya, menebarkan
bau yang begitu tak nyaman, minimal bagi istrinya yang sedang hamil. Dan
sesaat, laki-laki itu ngeloyor pergi meninggalkan Hanum sendirian ke pelataran
rumah mungil yang mereka tempati, mengambil luapan-luapan hawa segar yang
datang menyapa alam kota Pasuruan. Ya sejak ia bercerai dengan Aisyah, ia
memutuskan untuk menikahi Hanum, teman mengajarnya di TPQ Nurul Firdaus.
Dan bukankah itu yang dulu pernah Hanum harapkan pada diri farhan. Dan sejak itu
pulalah, jalan hidup farhan beralih menjadi seorang karyawan di salah satu
usaha mebel di kota Pasurun itu.
Hanum tersenyum. Himpitan rasa bersalah seakan raib dari jiwanya. Sebagai sesama
wanita, tak layak baginya buat hati yang lain dicandu lara. Iapun juga manusia
yang segala rasa mungkin saja akan ia rasakan.
* * * *
“Maaf, aku tak bisa Mas. Sungguh aku tak bisa”.
“Kenapa? Adakah sesuatu yang menurut kau kurang indah dalam diri ini?”
“Adakah cinta ini kurang tulus dan ikhlas bersemi untukmu?” tanya laki-laki tampan
dihadapannya penuh tanda tanya kurang mengerti. Hatinya kecewa, kesal. Dan baru
kali ini, ketika cinta datang menyeruak dalam diri, maka cinta itupun
ditolaknya dengan menyakitkan.
”Entahlah, tapi sungguh aku tak bisa. Mohon jangan paksa aku, Mas” sergah sang wanita
didepannya cepat. Ia begitu gigih untuk tolak tawaran indah yang datang
mengalir dari laki-laki dihadapannya. Tapi kenapa? Kenapa ia tolak geliat
pesona keindahan yang kini semerbak menimpa dirinya. Kenapa ia tolak tawaran
cinta yang sedemikian harum dari laki-laki pujangga kampus yang kewangiannya
tak tertangguhkan lagi. Dan bukankah itu adalah anugrah duniawi yang sungguh
nilainya luar biasa? Adakah hal lainnya yang menghimpiti Hawa.
”Kau sudah punya, Hawa?” ucap sang arjuna spontan tanpa basa-basi tanpa bermaksud
menyudutkan.
Wanita yang tiada lain ternyata Hawa itu terdiam tanpa jawab. Ia malah semakin
menundukkan wajahnya dalam kedalaman kerudung lebarnya. Laki-laki itu
mengangkat nafas. Ia tahu makna dan arti kediaman itu. Baginya bahasa tubuh
wanita ayu dihadapannya sudah cukup sebagai jawaban. Sudah cukup untuk menampar
cintanya yang tengah menggebu. Ia tahu bila itu adalah jawaban yang sangat
menyakitkan baginya.
Laki-laki tampan yang dilanda gulana cinta yang juga tak lain adalah Qudsi, sang maestro
dan pujangga cinta New Delhi itu ambil sebongkah nafas yang berat dan segera
hamburkan dengan paksa. Bukan Qudsi namanya bila dengan alasan itu, maka ia
akan mundur, bahkan seandainya iblis datangpun untuk mencambuknya mundur, maka
ia tak akan lakukan. Minimal sebelum janur ada dipelataran rumah Hawa.
”Maafkan aku, Mas Qudsi. Maafkan” ucap wanita ayu itu masih dengan wajah tertunduk.
Dalam tunduknya, Hawa seakan melihat bayangkan Adam kini sedang melambaikan tangan, tersenyum
lalu mengajaknya dan menariknya untuk beri dia anugrah dan piala ketabahan dan
kesetiaan yang tak terganti. Adam cium keningnya dengan kasih sayang yang
semerbak.
”Oh.. cinta begini indahnyakah?”.
Dalam hati Hawa terseyum.
“Tunggu aku, Dam”
“Balas setiaku dengan setiamu, niscaya takdir akan buat kita bersatu dalam cinta”.
“Percayalah, aku akan selalu ada untukmu. Dan akan aku pertahankan mahkota cinta ini hanya
untukmu. Aku janji…” ucap batin Hawa.
Dan gemuruh tubuhnyapun seakan mengamininya. Tapi akankah segalanya akan berakhir nyata nan indah?
* * * *
Di kampung Sawojajar tengah berlangsung suatu pernikahan. Sederhana. Bahkan
tak lebih marak dari orang yang akan naik haji, arisan ibu-ibu, atau bahkan
kumpulan anak-anak yang tengah bermain pasir-pasiran di tanah lapang. Hanya ada
beberapa gelintir orang yang datang di rumah Bu Tris untuk mengucapkan selamat
pada mempelai yang bersanding bak raja-ratu di malam itu. Sang laki-laki hanya
memakai celana panjang hitam dan baju koko yang sehari-harinya dipakainya
bertugas sebagai juru panggil, sedangkan sang wanita hanya memakai busana
muslim biasa. Tak ada kursi kebesaran. Tak ada mahkota yang mereka kenakan. Tak ada bunga-bunga
yang harum semerbak iringi perhelatan itu. Hanya gelaran karpet yang dipinjam
dari Masjid yang dapat dijadikan tempat menyambut para tetamu.
Tak ada suguhan yang layak. Hanya bihun bumbu kecap pedas yang jadi sajian bagi mereka yang datang
memberi ucapan selamat bagi Adam dan istrinya, Maimunah. Itupun yang datang tak
seberapa, hanya kalangan jamaah yang aktif hadir di masjid saja. Tak lebih.
Di luar Bu Tris dengan Pak Rohim seakan menjadi manusia yang paling berperan layani tetamu
yang datang satu persatu atau bahkan sepasangan. Senyum merekah dari bibir mereka seakan
merekalah orang tua yang berbahagia yang telah berhasil hantarkan tangga biduk
rumah tangga bagi anak-anaknya.
Sang mempelai wanita tak beda jauh. Ulasan senyum berulang kali tersungging manis
dari lipatan bibirnya. Ia tak tahu bagaimana kecamuk dan gejolak perasaan
laki-laki yang kini tengah bersanding dengannya. Akankah sang suami juga
mengecap bahagia sebagaimana dia?
Walau begitu, sang mempelai yang tak lain adalah Adam berusaha tersenyum walau
hatinya getir. Hatinya tercabik. Bagaimanakah ia nanti akan mempertanggung
jawabkan hal ini dihadapan janjinya. Dihadapan serapah yang ia lantunkan. Dihadapan
wanita paling elok dimatanya, Hawa. Bukankah sebelum ia pergi ke India ia
sungguh telah berjanji akan selalu menantinya bagaimanapun keadaannya.
Dan kini, ia betul-betul jadi seorang pecundang, bahkan lebih tepatnya kini ia jadi
sosok pengkhianat dan durjana cinta diatas janji suci.
Hati Adam teriris. Pedih. Sekali lagi, takdir tak berpihak pada keinginannya.
Dan lebih teriris yang Adam belum sadari adalah adanya suara-suara sumbang yang
muncul tak terkendali dari mulut orang-orang. Mereka tahu betul, bila ada
sesuatu yang tak beres dari perut Maimunah, gadis manis penjual bakul jamu.
Akankah sang marbot yang nampak alim dan taat itu telah nista dan memalukan
berbuat hal seperti itu. Tak disangka, sungguh tak disangka. Berbaju takwa
namun berjiwa setan.
Dan begitulah gunjingan yang akhirnya menyebar. Mulut tiada bertulang, maka siapa
yang akan bisa kendalikan bila ia telah maju didepan panggung kedunguan hamba. Dihadapan
kepicikan akal dan iman. Adam bagaikan jatuh tertimpa batu koral pula.
“Doakan kami segera nyusul kamu, dam”
Adam hanya tersenyum kecil, ”Pasti ustadz, pasti. Saya doakan selalu. Ya Shin?”
Shinta yang datang menghadiri peta kecil pernikahan Adam dengan selimut cintanya
tersenyum lebar. Betul, bulan depan ia dan ustadz Hariri akan melangsungkan
perkawinan pula. Walau umurnya masih dalam kisaran 20 tahunan bukanlah halangan
baginya untuk segera rumuskan hidupnya bersama kekasih hati yang akan sanggup
jadi imam bagi diri dan anak-ananknya kelak. Ustadz Hariri.
TPQ Nurul Firdaus telah bagus terbangun. Dan itu semua atas jasa dari ustadz Hariri
dan Shinta. Tapi sayang, sepekan setelah mereka menikah mereka akan pergi
meninggalkan Malang menuju Kalimantan. Disana Hariri akan berdakwah, disana ia
akan berjuang. Di tanah kelahirannya. Banjarmasin. Dan sebuah institusi kependidikan telah
berhasil dibangun dan akan dibuka diatas lahan tanah 2 hektar. Disanalah Hariri
akan menjadi pemilik sekaligus pengelola utamanya. Orang tiada tahu, bila
ternyata dia adalah anak seorang pengusaha besar kota Banjarmasin.
”Jangan lupakan kami ustadz Hariri?”
Ustadz Hariri tersenyum, ”Alasan apa bagiku untuk melupakan orang yang telah
mempertemukan aku dengan gadis pujaan hati”
Dan sebuah cubitan manja gadis peranakan sebelahnya mendarat di dada Hariri.
Dan mereka sama tersenyum. Walau seorang masih saja tersisa duka. Adam.
* * * *