Indonesia
NovelToon NovelToon
Prahara Cinta Adam Hawa

Prahara Cinta Adam Hawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: budi sulistyo

Adam seorang yatim piatu yang menemukan cinta pada seorang ustadzah cantik bernama Hawa di sebuah masjid.

Sayang, kisah mereka terendus oleh ayah Hawa yang kaya lagi otoriter, seorang single fighter yang over protektif, pilih-pilih. Ia pilihkan jodoh yang bonafit, seimbang menurut derajat kacamata pandangan sendiri padahal seorang bajingan level audzubillah min dzalik.
Demi menjauhkan dengan Adam sementara Hawapun dibuang menempuh pendidikan di India. Dan disanalah ia juga mendapatkan cinta luar biasa dari seorang pujaan kampus nan tampan lagi pintar bernama Qudsi. Hawa menolak demi janji cinta pada Adam.

Sayangnya Adam mengkhianati Hawa menikah dengan Maemunah karena terpaksa.

Waktu bergulir Hawa tahu Adam telah mengkhianati cinta. Ia memutuskan tindakan bodoh menikah dengan laki laki bajingan pilihan ayahnya.

Bagaimana kisah Hawa dan Adam selanjutnya, adakah cinta mereka bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon budi sulistyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Cinta

“Aku telah khianati dia, Mas”

“Ngomong apa kamu?” tanya sang laki-laki sedikit gusar.

“Ya, kita telah khianati Aisyah” ungkap wanita dihadapannya. Buncit nampak

menggunung darib perutnya, ia mengandung, “Wanita yang malang”.

“Ah.. sudahlah nggak usah mbahas itu..” sergah sang lalki-laki yang tak bukan adalah

suaminya. Rokok menyala dari bilah jemarinya. Asap menggunung di ruangan yang

tak seberapa luas itu. Sesekali mulutnya hisap bongkahan-bongkahan racun-racun

pengikis nafas hidup.

Sesaat mereka diam. Hanya detak jantung yang masih menyala dan berbunyi lirih memecah

keheningan malam yang senyap.

“Lha bila iya terus bagaimana? Apa kamu mau kita cerai? Gitu?” ucap sang laki-laki melonjak. Alisnya

terlihat terangkat.

Sang wanita diam beribu bahasa. Tak sanggup ia jawab tanya itu. Terlalu sakit bila

ia hanya jawab dengan mengangguk.

”Lha terus bagaimana dengan jabang bayi yang kau kandung itu, Num?” ucap sang

laki-laki sambil sekali lagi ia sedot rokok kretek yang ia jepit di sela-sela

jarinya.

”Mas farhan..” panggil  sang wanita yang tengah berbadan dua itu sembari pegangi perut buncitnya.

Ia tahan nafas yang terasa sesak. Ia tak ingin bayinya sejak dini telah makan racun yang dihidangkan

bapaknya dengan hembusan asap itu.

Laki-laki yang tak lain adalah farhan atau ustadz farhan itu menoleh, ”Opo..?”

”Kembalilah kau pada Aisyah. Aku rela” ucap sang wanita yang tak bukan adalah Hanum pelan

namun tegas.

Farhan terkaget, “Edan piye..”

Hanum menatap suaminya penuh kesungguhan, kepasrahan dan kesantunan, “Bener. Aku

rela. Minimal untuk tebus dosaku pada sahabatku itu. Dosa pengkhianatan yang

aku lakukan pada dia”.

Tak gampang bagi seorang Hanum untuk katakan hal itu. Tapi bagaimana lagi, hati

kecilnya selalu menterornya sebagai perebut suami orang, hati kecilnya seakan

menjadi musuh dalam dirinya. Ia tak tahan. Walau sejatinya, perpisahan yang

ustadz Farhan lakukan bukan semata-mata karena kehadirannya. Tapi karena Aisyah

dianggap Farhan tak bisa memberi keturunan. Itu saja.

“Nggak. Nggak mungkin. Nggak mungkin aku mau kembali pada wanita mandul itu. Wanita

yang nggak bisa beri aku momongan itu”. Serapah Farhan. Ia lesakkan batang

rokok yang telah habis dimakan api pada asbak yang penuh berisi batangan

rokok-rokok sebelumnya.

“Mas..”

“Wes...” potong farhan, “Jangan pekso aku, Num. Kamu ini yo aneh-aneh ae..” ucap Farhan

agak gusar. Ia punguti lagi batangan rokok lain pada bungkus rokok

dihadapannya. Ia sulut.

”Ataupun kalaupun tidak. Akupun rela bila aku dimadu, Mas”.

“Aku ingin bagaikan Sarah yang rela suaminya berhijrah pada wanita lain demi

dapatkan bahagia. Lillahi ta’ala...”.

”Bila akupun jadi beliau, mungkin akan sangat sakit rasanya suaminya meninggalkannya

di ujung penderitaan seorang diri..”.

”Mungkin saja ia kini butuh dukungan, mas. butuh orang yang mampu mengusir segala

laranya.”

”Dan mungkin itu kita. Kamu terutama, Mas!” ungkap hanum tenang. Tak sedikitpun

nampak gurat cemburu yang semestinya ada. Bukannya tak ada, ia telah mampu atur

sedemikian rupa rasa yang seringkali mematikan itu agar tak menyala dan membakar

diri membabi buta.

Farhan terdiam. Bayangan mantan istrinya yang telah ia tinggalkan muncul. Bayangan

Aisyah itu nampak tersenyum. Manis sekali, penuh dengan gairah cinta yang

membuncahi diri. Hati Adam sedikit luluh. Jujur, jejak-jejak keustadazan masih

ada dalam hatinya, ia tak ingin bagian dari orang yang akan dinash oleh

Al-Qur'an sebagai orang yang akan mendapatkan karma dari laku sendiri. ia akan

punya anak, ia punya saudara wanita, walau ia telah tak beribu lagi. Dan ia tak

ingin lakunya akan dibalas pada orang-orang yang ia sayang.

Walau jujur, ia masih pula mencintai Aisyah. Mantan istrinya.

Ia tatap wajah istrinya dengan sedikit kelembutan, Hanum tersenyum manis bak gadis

penggoda, ada rasa bangga yang muncul menyeruak dalam diri Farhan pada astrinya

itu, tak gampang dan tak lumrah wanita sodorkan sesuatu yang akan hanguskan

dirinya, dan itu bisa istrinya lakukan,

”Baik, besok kita kesana, Num. Ke kampung Sawojajar. Siapkan segala sesuatunya..” ucap

farhan sembari matikan nyala rokok yang baru saja disulutnya pada asbak kayu

akar pohon. Kepulan asap masih sedikit keluar dari pucuk batangnya, menebarkan

bau yang begitu tak nyaman, minimal bagi istrinya yang sedang hamil. Dan

sesaat, laki-laki itu ngeloyor pergi meninggalkan Hanum sendirian ke pelataran

rumah mungil yang mereka tempati, mengambil luapan-luapan hawa segar yang

datang menyapa alam kota Pasuruan. Ya sejak ia bercerai dengan Aisyah, ia

memutuskan untuk menikahi Hanum, teman mengajarnya di TPQ Nurul Firdaus.

Dan bukankah itu yang dulu pernah Hanum harapkan pada diri farhan. Dan sejak itu

pulalah, jalan hidup farhan beralih menjadi seorang karyawan di salah satu

usaha mebel di kota Pasurun itu.

Hanum tersenyum. Himpitan rasa bersalah seakan raib dari jiwanya. Sebagai sesama

wanita, tak layak baginya buat hati yang lain dicandu lara. Iapun juga manusia

yang segala rasa mungkin saja akan ia rasakan.

* *  * *

“Maaf, aku tak bisa Mas. Sungguh aku tak bisa”.

“Kenapa? Adakah sesuatu yang menurut kau kurang indah dalam diri ini?”

“Adakah cinta ini kurang tulus dan ikhlas bersemi untukmu?” tanya laki-laki tampan

dihadapannya penuh tanda tanya kurang mengerti. Hatinya kecewa, kesal. Dan baru

kali ini, ketika cinta datang menyeruak dalam diri, maka cinta itupun

ditolaknya dengan menyakitkan.

”Entahlah, tapi sungguh aku tak bisa. Mohon jangan paksa aku, Mas” sergah sang wanita

didepannya cepat. Ia begitu gigih untuk tolak tawaran indah yang datang

mengalir dari laki-laki dihadapannya. Tapi kenapa? Kenapa ia tolak geliat

pesona keindahan yang kini semerbak menimpa dirinya. Kenapa ia tolak tawaran

cinta yang sedemikian harum dari laki-laki pujangga kampus yang kewangiannya

tak tertangguhkan lagi. Dan bukankah itu adalah anugrah duniawi yang sungguh

nilainya luar biasa? Adakah hal lainnya yang menghimpiti Hawa.

”Kau sudah punya, Hawa?” ucap sang arjuna spontan tanpa basa-basi tanpa bermaksud

menyudutkan.

Wanita yang tiada lain ternyata Hawa itu terdiam tanpa jawab. Ia malah semakin

menundukkan wajahnya dalam kedalaman kerudung lebarnya. Laki-laki itu

mengangkat nafas. Ia tahu makna dan arti kediaman itu. Baginya bahasa tubuh

wanita ayu dihadapannya sudah cukup sebagai jawaban. Sudah cukup untuk menampar

cintanya yang tengah menggebu. Ia tahu bila itu adalah jawaban yang sangat

menyakitkan baginya.

Laki-laki tampan yang dilanda gulana cinta yang juga tak lain adalah Qudsi, sang maestro

dan pujangga cinta New Delhi itu ambil sebongkah nafas yang berat dan segera

hamburkan dengan paksa. Bukan Qudsi namanya bila dengan alasan itu, maka ia

akan mundur, bahkan seandainya iblis datangpun untuk mencambuknya mundur, maka

ia tak akan lakukan. Minimal sebelum janur ada dipelataran rumah Hawa.

”Maafkan aku, Mas Qudsi. Maafkan” ucap wanita ayu itu masih dengan wajah tertunduk.

Dalam tunduknya, Hawa seakan melihat bayangkan Adam kini sedang melambaikan tangan, tersenyum

lalu mengajaknya dan menariknya untuk beri dia anugrah dan piala ketabahan dan

kesetiaan yang tak terganti. Adam cium keningnya dengan kasih sayang yang

semerbak.

”Oh.. cinta begini indahnyakah?”.

Dalam hati Hawa terseyum.

“Tunggu aku, Dam”

“Balas setiaku dengan setiamu, niscaya takdir akan buat kita bersatu dalam cinta”.

“Percayalah, aku akan selalu ada untukmu. Dan akan aku pertahankan mahkota cinta ini hanya

untukmu. Aku janji…” ucap batin Hawa.

Dan gemuruh tubuhnyapun seakan mengamininya. Tapi akankah segalanya akan berakhir nyata nan indah?

* *  * *

Di kampung Sawojajar tengah berlangsung suatu pernikahan. Sederhana. Bahkan

tak lebih marak dari orang yang akan naik haji, arisan ibu-ibu, atau bahkan

kumpulan anak-anak yang tengah bermain pasir-pasiran di tanah lapang. Hanya ada

beberapa gelintir orang yang datang di rumah Bu Tris untuk mengucapkan selamat

pada mempelai yang bersanding bak raja-ratu di malam itu. Sang laki-laki hanya

memakai celana panjang hitam dan baju koko yang sehari-harinya dipakainya

bertugas sebagai juru panggil, sedangkan sang wanita hanya memakai busana

muslim biasa. Tak ada kursi kebesaran. Tak ada mahkota yang mereka kenakan. Tak ada bunga-bunga

yang harum semerbak iringi perhelatan itu. Hanya gelaran karpet yang dipinjam

dari Masjid yang dapat dijadikan tempat menyambut para tetamu.

Tak ada suguhan yang layak. Hanya bihun bumbu kecap pedas yang jadi sajian bagi mereka yang datang

memberi ucapan selamat bagi Adam dan istrinya, Maimunah. Itupun yang datang tak

seberapa, hanya kalangan jamaah yang aktif hadir di masjid saja. Tak lebih.

Di luar Bu Tris dengan Pak Rohim seakan menjadi manusia yang paling berperan layani tetamu

yang datang satu persatu atau bahkan sepasangan. Senyum merekah dari bibir mereka seakan

merekalah orang tua yang berbahagia yang telah berhasil hantarkan tangga biduk

rumah tangga bagi anak-anaknya.

Sang mempelai wanita tak beda jauh. Ulasan senyum berulang kali tersungging manis

dari lipatan bibirnya. Ia tak tahu bagaimana kecamuk dan gejolak perasaan

laki-laki yang kini tengah bersanding dengannya. Akankah sang suami juga

mengecap bahagia sebagaimana dia?

Walau begitu, sang mempelai yang tak lain adalah Adam berusaha tersenyum walau

hatinya getir. Hatinya tercabik. Bagaimanakah ia nanti akan mempertanggung

jawabkan hal ini dihadapan janjinya. Dihadapan serapah yang ia lantunkan. Dihadapan

wanita paling elok dimatanya, Hawa. Bukankah sebelum ia pergi ke India ia

sungguh telah berjanji akan selalu menantinya bagaimanapun keadaannya.

Dan kini, ia betul-betul jadi seorang pecundang, bahkan lebih tepatnya kini ia jadi

sosok pengkhianat dan durjana cinta diatas janji suci.

Hati Adam teriris. Pedih. Sekali lagi, takdir tak berpihak pada keinginannya.

Dan lebih teriris yang Adam belum sadari adalah adanya suara-suara sumbang yang

muncul tak terkendali dari mulut orang-orang. Mereka tahu betul, bila ada

sesuatu yang tak beres dari perut Maimunah, gadis manis penjual bakul jamu.

Akankah sang marbot yang nampak alim dan taat itu telah nista dan memalukan

berbuat hal seperti itu. Tak disangka, sungguh tak disangka. Berbaju takwa

namun berjiwa setan.

Dan begitulah gunjingan yang akhirnya menyebar. Mulut tiada bertulang, maka siapa

yang akan bisa kendalikan bila ia telah maju didepan panggung kedunguan hamba. Dihadapan

kepicikan akal dan iman. Adam bagaikan jatuh tertimpa batu koral pula.

“Doakan kami segera nyusul kamu, dam”

Adam hanya tersenyum kecil, ”Pasti ustadz, pasti. Saya doakan selalu. Ya Shin?”

Shinta yang datang menghadiri peta kecil pernikahan Adam dengan selimut cintanya

tersenyum lebar. Betul, bulan depan ia dan ustadz Hariri akan melangsungkan

perkawinan pula. Walau umurnya masih dalam kisaran 20 tahunan bukanlah halangan

baginya untuk segera rumuskan hidupnya bersama kekasih hati yang akan sanggup

jadi imam bagi diri dan anak-ananknya kelak. Ustadz Hariri.

TPQ Nurul Firdaus telah bagus terbangun. Dan itu semua atas jasa dari ustadz Hariri

dan Shinta. Tapi sayang, sepekan setelah mereka menikah mereka akan pergi

meninggalkan Malang menuju Kalimantan. Disana Hariri akan berdakwah, disana ia

akan berjuang. Di tanah kelahirannya. Banjarmasin.  Dan sebuah institusi kependidikan telah

berhasil dibangun dan akan dibuka diatas lahan tanah 2 hektar. Disanalah Hariri

akan menjadi pemilik sekaligus pengelola utamanya. Orang tiada tahu, bila

ternyata dia adalah anak seorang pengusaha besar kota Banjarmasin.

”Jangan lupakan kami ustadz Hariri?”

Ustadz Hariri tersenyum, ”Alasan apa bagiku untuk melupakan orang yang telah

mempertemukan aku dengan gadis pujaan hati”

Dan sebuah cubitan manja gadis peranakan sebelahnya mendarat di dada Hariri.

Dan mereka sama tersenyum. Walau seorang masih saja tersisa duka. Adam.

* *  * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!