Tiga Segi Cinta
Namanya Alamiah Senjani Winata, anak bungsu dari tiga bersaudara yang sering dipanggil Lami.
Menjadi satu-satunya gadis diantara saudaranya yang lain, membuat dirinya begitu disayang dan dimanja hingga tidak tertarik menjalin hubungan dengan orang lain.
Namun, ada alasan lain dibalik mengapa Alamiah tidak tertarik lagi membangun sebuah hubungan baru. Ikuti kisahnya hanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiisy0u, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek Pubertas yang Baru Melanda
Selama pertemuan sore itu di ruang OSIS, Lamia terus-terusan memberi jarak pada Wira. Tapi anehnya, Lamia bisa dengan berani dan tanpa kecanggungan berinteraksi dengan Raja.
"Gimana aplikasinya? Udah bisa belum?" Tanya Bima yang mewakilkan pertanyaan itu karena melihat Lamia yang sepertinya enggan menatap wajah Wira.
"Oh ini udah, lo pada mau uji prototipe dulu ga? Trus kasih masukan kalo ngerasa tampilan antar mukanya ga friendly atau mungkin ada masukan lain."
Raja yang mendengar itu, segera menyahut dari kejauhan tanpa menoleh karena dirinya juga sibuk ditemani Lamia, "Wah, skill lo emang ga main-main ya. Sorry kemarin gue sama yang lain udah ga percaya." Kata-kata itu, entah kenapa bagi Wira terdengar tidak tulus sama sekali. Sedangkan Lamia mengapresiasi Raja yang sudah menurunkan egonya untuk berterima kasih.
"Mi? Lo ga mau uji prototipe juga?" Tanya Wira lantas membuat gadis yang ditanyainya kini menoleh.
"Butuh berapa orang emang buat uji prototipe?"
"11-25 orang. Karena ini mau gue buatin ke skala yang besar dan ganjil." Mia mengangguk pelan, kemudian berjalan keluar ruangan memanggil teman-temannya yang juga tergabung dalam kepanitiaan OSIS untuk segera masuk ke dalam.
"Dua puluh empat? Jadi dua puluh lima kalau Raja ikutan. Raja, bisa kan?" Pertanyaan dari Lamia membuat Raja otomatis menoleh kemudian mengangguk cepat. Langkahnya segera menyusul mendekat ke arah mereka.
"Lo? Ga ikut?"
"Gue pengen berak. Lo mau uji prototipe sekarang kan?" Jawabnya kemudian berlalu.
Langkahnya dengan mulus keluar dari ruangan tanpa dipedulikan oleh seluruh pasang mata. Namun dari keseluruhan pasang mata itu, ada tiga orang lainnya yang menatapnya berbeda.
Yang satu menatapnya dengan tatapan kemenangan, yang satunya lagi menatap dengan tatapan berat disertai desahan berat, dan yang terakhir menatap kepergian gadis itu dengan tatapan marah.
...🍨🍨🍨...
Lamia terkejut setengah mati saat mendapati Wira berada di depan wastafel toilet perempuan.
"LO NGAPAIN DISINI?!"
"Nungguin lo"
"Kan bisa nunggu di ruang OSIS, atau ga minimal nunggu depan toilet lah. Ngapain sampe masuk ke dalam sih? Kalo orang lain liat gimana?! Lo mau di cap cowok mesum, hah?!!" Marah Lamia segera mendorong Wira keluar dari toilet.
"Dari tadi lo ngehindarin gue, jadi gue ambil opsi tempat dimana lo ga bisa hindari gue."
"TAPI GA NYUSULIN SAMPE DALAM TOILET JUGA! Aneh-aneh aja deh lo." Kekesalannya semakin bertambah karena alasan tidak masuk akal itu.
"Kenapa?"
"Uji prototipenya udah?"
"Gue yang nanya duluan."
"Apaan sih, tinggal jawab doang." Ketus Lamia meninggalkan Wira, tapi dengan gesit pemuda itu menahannya.
Cengkeramannya terlalu kuat di pergelangan tangan Lamia, hingga terlihat corak kemerahan di bekas cengkraman itu.
"Lo kenapa sih, Bir? Kenapa jadi kasar gini deh?"
"Elo yang kenapa. Gue salah apa sampe dijauhi tiba-tiba kayak gini?"
"Gue ga ada jauhin lo. Ga usah kepedean deh."
"Ga ada jauhin gue? Dari tadi gue selalu minta pendapat lo, tapi lo ga pernah gubris gue."
"Itu karena gue juga punya kerjaan lain yang lebih mendesak. Lo tau sendiri kan, gue udah ambil tanggung jawab gede untuk jadi ketua panitianya biar lo bisa sesuka hati pake skill lo untuk buat program."
"Tolong lah, Bir. Profesional dikit."
Terdengar helaan nafas berat dari Wira, matanya menyendu.
"Gue udah coba profesional, tapi lo yang selalu ngehindar. Lo ketua panitia kan? Gue butuh saran dari lo, kalo semisal ada yang kurang dari aplikasi buatan gue."
"Ya udah, ayo. Balik ke ruang OSIS."
"Selesain dulu masalah kita berdua. Biar kita bisa sama-sama fokus sama kerjaan."
"Emang kita punya masalah?"
"Lo kali yang punya masalah sama gue? Gue ga ngerasa ada masalah tuh sama lo."
"Pulang nanti, matcha latte? Nanti aku kasih tau sesuatu." Bujuk pemuda itu setelah amarahnya cukup reda membuat Lamia mendelik.
"Oke, yang large. Sama tiramisu cake." Ketusnya setuju kemudian beranjak terlebih dahulu meninggalkan Wira yang sudah terkekeh gemas.
"Sekalian kita beli cafe nya aja ga sih?" Canda pemuda itu sambil merangkul Lamia membuat gadis itu merengut sebal.
"Gimana aplikasinya? Ada yang kurang ga?" Tanya Wira saat sampai di ruangan OSIS, dengan lengannya masih tersampir di pundak Lamia tidak berniat menurunkannya.
Lamia yang tersadar kalau pundaknya masih terasa berat, lantas dengan cepat menurunkan lengan pemuda itu.
"Kalo kata gue sih, udah bagus Wir. Tampilannya informatif banget, keliatan simple tapi pas." Kata Bima disertai anggukan beberapa orang lain yang sependapat.
"Hm, ini juga mempermudah kita untuk liat visi misinya. Jadi kalo udah yakin sama pilihan bisa langsung milih."
"Iya bener banget, terus hasilnya juga langsung keliatan berapa orang yang milih A,B,C tapi kita sebagai pemilih tetap jadi anonim. Dan ga bisa curang sih, karena pas gue nyoba untuk milih dua kali, malah muncul notifikasi kalo gue udah pake hak suara gue."
"Kekurangannya?"
Setara mengangkat tangan, "Kurangnya cuma satu. Kenapa paslon OSIS disini pake bias Mia? Kenapa ga pake bias gue juga? Ga adil banget lo ke sesama kpopers." Seruan yang membuat hampir satu ruangan mengumpat kasar.
"Sorry, soalnya gue ga tau idol lain selain idol kesukaan Mia."
Beberapa orang bersiul menggoda mereka yang masih berdiri depan pintu, Raja tak mau ambil pusing walau giginya sudah menggertak menahan kesal.
"Kalo dilihat-lihat, Lamia sekarang emang sering banget ya lengket sama Wira...Jangan-jangan...." Ceplos seseorang membuat keributan di sore hari itu.
"Tolong dong, jangan buat rumor-rumor ga jelas lagi tentang Lamia. Selama ini dia udah diam dan ga pernah bantah gosip ataupun fitnah tentang dia yang kalian buat sembarangan, jadi untuk sekarang biarin dia tenang dulu di OSIS sampe tanggung jawabnya selesai." Kata Bima mengingatkan kepada murid lainnya namun membuat beberapa temannya tersentak.
"Ya udah sih, Bim. Santai aja. Lagian kalo diliat-liat mereka juga cocok. Mia lagi sendiri, Wira juga sendiri—"
"Kita ga sendiri-sendiri kok. Semalem udah jadian." Potong Wira dengan wajah polosnya membuat semua terkejut.
Lamia sampai menganga karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
Semalam? Dia melewatkan apa sampai lupa kalau dia sudah berstatus sebagai pacar Wira?
Wira ingin tertawa keras saat melihat adanya sinyal umpatan dari dalam hati Bima, tatapan yang seolah ingin menginjaknya karena menyembunyikan fakta ini, padahal dia lah yang berusaha memberikan detail-detail tentang Lamia agar mulusnya jalan pemuda itu untuk mendekati pujaannya.
"Mi? Bisa ditutup dulu ga pertemuan sore ini? Gue harus jemput cewek gue di atmosphere." Kata Raja penuh penekanan pada kata-katanya.
"Oh, okay. Teman-teman makasih banget ya yang udah bantu-bantu hari ini. Kegiatannya udah H-5 lagi, aplikasinya juga udah mau selesai. Dan yang mau pergi, silakan. Hati-hati ya pulangnya."
Raja langsung menyeruak begitu saja diantara mereka berdua, membuat Lamia sedikit terkejut.
"Ja. Titip salam ya sama Denise. Semalam gue ketemu tunangan lo itu pas nyari makan malam di depan atmosphere. Bilangin ke dia sorry gue ga sempat luangin waktu untuk ngobrol karena gue risih anak-anak atmosphere udah banyak banget masuk ke dalam untuk makan juga." Kata Lamia juga penuh penekanan.
Bima masih melongo tak percaya.
Gadis itu, bagaimana cara Wira mencuci otaknya bagaimana akhirnya dia bisa melawan dan tidak hanya diam saja seperti ini?
Kenapa memberontak akibat efek pubertas baru melanda Lamia sekarang? Kenapa tidak dari dulu saat dirinya diinjak-injak hingga babak belur?
Di lain sisi, ada senyum tertahan dari gadis yang sudah berteman dengannya sejak kecil.
Untuk pertama kalinya, dia merasa yakin membiarkan Lamia untuk berdiri di kakinya sendiri daripada terus-terusan menunduk tanpa melindungi apapun, termasuk hati dan perasaannya sendiri.
Haruskah dia berterima kasih kepada Wira?