Indonesia
NovelToon NovelToon
Saint Roland'S Durandal

Saint Roland'S Durandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Pusaka Ajaib / Barat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arif Billah

Perjalanan Saint Roland dengan pedang durandal pemberian Raja Karel Yang Agung terhenti setelah pengepungan pasukan Saracen yang dipimpin oleh Raja Marsile menyerang pasukan Perancis di Jalur Pegunungan Roncevaux. Tetapi, kisah keberanian Roland Sang Paladin akan terus tersampaikan sampai ke seluruh keturunan Perancis di bawah naungan Raja Karel Yang Agung serta para paladin hebat lainnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arif Billah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 22: Mendobrak Desa

Begitu terkejutnya semua orang ketika kembali bangkit ke dunianya. Mereka tidak sadar saat sebelumnya terpenjara dalam dunia mimpi buatan penyihir yang dicari-cari. Hanya Mouton dan Lector yang merasa lega dengan keadaan. Lainnya sama sekali kebingungan.

Udara hampa masih tetap terasa sama di kulit dingin mereka yang diselimuti besi dan tembaga. Lelah juga menggerogoti hati dan tulang rusuk mereka. Sebuah lelah tak berarti yang hadir dalam kesia-siaan, menghabiskan energi dalam dunia mimpi.

Gerbang desa masih berdiri tegak dikawal pagar-pagar pelindungnya. Tatapan kosong pasukan kecil itu memburu sesuatu di antara mereka, memburu kebenaran, dan mengenyahkan kebingungan.

Tak ada serigala melolong, jangrik berderik, atau angin berdersik. Hanya udara kedap di sekeliling mereka dan pasukan musuh di dalam desa.

Lihatlah Chevre dan Vache yang masih dalam keadaan saling bahu membahu dan meneriakan semangat peperangan, padahal mereka sudah tak lagi sedang memanahi para goblin. Pun Poulet yang tetap membara matanya dan hampir mengeluarkan cambuk-cambuk akar dari tanah, untungnya Lector langsung menahan gerakan calon paladin paling muda itu.

Perpindahan dimensi membuat sesak dada, Linglung, seperti zombie yang mayatnya baru digali.

Cletus merasa kosong. Para warga yang sedang dievakuasi menghilang belaka dari pandangannya. Keadaan itu benar-benar membuatnya tak tau harus bagaimana, malah seolah-olah dia dihipnotis di kenyataan ini, padahal sebaliknya.

Dengan sigap Lector langsung menenangkan semuanya, memerintahkan Mouton memasangkan selubung bayangan ke dalam lapisan sel-sel otak pasukan kecil itu untuk menghindari keadaan serupa, hipnosis yang entah dari mana datangnya.

Tanpa bertanya lebih jauh para pasukan kecil itu setuju untuk dipasangi selubung bayangan dalam kepala mereka. Mouton pun merapalkan mantra, bayangan segera menjalar dari masing-masing orang, merambat dari ujung kaki hingga masuk ke dalam mata, merayap seperti tentakel yang sedang mencari mangsa.

Setelah rasa tak nyaman dan sedikit geli di telinga telah mereka tahan, akhirnya mereka aman untuk segera melancarkan serangan. Dapat dianulir bahwa Dormir harusnya sudah tau akan serangan ini, dibuktikan dengan hipnosisnya yang sudah terjadi.

Agar tak ada waktu yang terbuang lagi, Lector langsung mengarah ke sisi timur desa. Dia akan menyelamatkan semua orang di sana, dan memerintahkan lainnya untuk menyerang Muguet, melumatkan segalanya, sesegera mungkin harus menyelamatkan warga yang sedang diserap energi kehidupannya oleh pohon sycamore di tengah gereja.

Mendengar hal tersebut, Chevre menghunuskan pedang besar miliknya, pedang yang harus digenggam menggunakan dua kepal tangan kokohnya, lalu merapalkan mantra api untuk membuat bilah pedang itu menyala dan membakar musuhnya seketika hingga menjadi bara.

Raungan perang telah diteriakan Vache, penggandaan stamina dan masa otot pada tubuhnya membuat dia sekarang jadi sebesar orc. Dengan bahunya, dia mendobrak gerbang masuk desa Muguet. Gerbang pecah belah seperti sebuah guci yang dibanting keras-keras ke lantai.

Saat Vache masuk ke desa dengan dobrakan badannya, Chevre melompati koleganya itu dengan pedang berapi-api yang di bawanya. Pose mereka di depan gerbang seperti duo badai dalam satu malam terbakar. Badan besar Vache yang gagah tertutup armor dan nyala bilah pedang Chevre yang memantul di matanya pula.

Vache menerkam beberapa bandit, mematahkan tulang punggungnya dengan lutut, memecah kepala hanya dengan kekuatan genggaman, dan meremukan dua goblin dalam satu kali tumbukan.

Chevre menebas apa saja makhluk yang dilihatnya. Tepisan tameng-tameng orc lumer seperti margarin, tubuh mereka terbelah serupa babi guling dipotong jadi dua, kapak-kapak kobolt tak mampu menahan panas pedangnya, pun goblin gosong dibuatnya bahkan sebelum tertebas oleh pedang, hanya terkena jilatan aura.

Dengan senantiasanya penyerangan dimulai. Menara-menara pengawas berkoar-koar untuk memanggil pasukan lain ke arah gerbang depan. Tak ada lagi gerilya, tak ada lagi penyergapan dalam diam. Semua konfrontasi dilakukan secara langsung. Bahkan akhirnya hal tersebut membuat sebagian makhluk yang menjaga peternakan berduyun-duyun pergi ke arah keributan.

Mereka semua berlarian menyerang pasukan paladin di depan gerbang desa. Bandi-bandit mabuk disadarkan dari tidurnya untuk siaga. Kobolt berlarian lincah dan melolong saling bersahutan. Goblin-goblin sesuai kelasnya mengisi formasi serang.

Bagian perapal mantra melantunkan jampi-jampi sihir mereka, untuk memperkuat pasukan, menembakan bola api, atau membuat perlindungan diri. Lalu goblin pemanah mencari sudut tergelap agar tak diketahui, memicingkan mata untuk mencari mangsa di sela-sela terang obor. Pun para goblin rider menunggangi babi atau serigala mereka dengan beringas.

Rombongan orc berbaris tak rapi selayaknya sebuah infanteri. Mereka adalah petarung-petarung kelas berat.

Poulet akhirnya melanjutkan rapalan matranya tadi yang sempat dihentikan Lector, dia menjalarkan sulur-sulurnya ke arah menara-menara. Serasa ular python raksasa melilit puluhan merasa sekaligus. Semua ambruk hampir bersamaan, mengepulkan debu-debu dan jelaga ke udara. Membuat suasana semakin menggila.

Pun Poulet menggunakan akarnya untuk ditunggangi, dia berselancar di atas akar, menebas musuh dalam jangkauannya, menggunakan sulur-sulur lain yang dia keluarkan dari tanah untuk musuh diluar jangkauan pedang.

Pedang Chevre yang menyala membuatnya menjadi sasaran goblin-goblin pemanah. Beberapa anak panah menerjang armornya, berdentingan, anak panah patah, terpelanting tak mampu menembus armor, semua itu hanya terlihat bagai gerimis di atas punggung badak.

Chevre menancapkan pedangnya ke tanah, apinya pun padam.

Goblin pemanah yang berdembunyi dari berbagai arah sempat kehilangan. Tak tahu lagi mereka dimana si pedang api itu berada. Hanya auman si pasukan paladin berbadan besar yang sedang mengamuk mereka dengar. Bukan pilihan bagus jika mereka harus mengarahkan panah ke si buas beramor bisa-bisa mereka langsung diterkamnya.

Namun nasib pasukan goblin pemanah itu memang malang. Api kembali muncul di kegelapan, dan api itu langsung menyambar habis mereka. Dalam kegelapan, satu per satu pasukan pemanah goblin dihanguskan Chevre. Dari telapak tangannya menjukurkan dahsyat lidah api.

Dia bisa tau setiap letak pemanah hanya dari arah datangnya anak panah. Sebuah kesalahan fatal bagi goblin, mereka tidak segera berpindah tempat setelah meregangkan busur. Otomatis dimana letak mereka langsung dapat diketahui.

Pedang kembali dicabut oleh Chevre. Dialirkannya kembali anugrah api, dan diberangusnya siapa pun yang menantang.

Di sisi lain, orc-orc berdatangan. Vache menjadi bersemangat. Dia selayaknya banteng raksasa, barisan orc diseruduk begitu saja, tanpa senjata dia bergulat dengan rombongan badai itu. Debam suara pukulan diantara debu mengepul terdengar. Teknik bertarung tangan kosong Vache amat paripurna, pukulan yang dilayangkan dapat membuat rahang orc pecah terbuang, bahkan upper cu**tnya bisa meluncurkan kepala orc dari lehernya.

Ada pula yang diajak bergulat, Vache mematahkan setiap persendian orc dari lutut hingga lengan, pun memelintir kepala dengan mudahnya. Tak ada orang yang bisa kabur saat Vache ingin menari. Dia akan bertarung tanpa hentu.

"Tenang Cletus. Kita ikuti intuisi saja. Dan kita tetap dapat berjalan bersama seperti dalam mimpi tadi." ucap Mouton kepada Cletus sambil dia menyiapkan diri.

"Jadi tadi hanya mimpi? Setiap warga yang kita selamatkan hanya ada di mimpi?"

"Ya, tapi sekarang tak usah khawatir lagi. Hipnosis tak akan bisa mempengaruhi. Selubung bayang dapat menetralisirnya."

"Berarti sekarang kita tak bisa ragu lagi untuk menyerang kan, Mouton?"

"Begitulah, mari kita tembus desa ini. Dan selamatkan mereka yang terjebak di dalam gereja."

"Kalau begitu, ayo!" Cletus menhunus pedang pemberian Lector ke udara, memantabkan diri untuk menyerang desa.

Di tengah desa Muguet, demi melindungi gereja pohon sycamorenya atau melancarkan rencana lainnya, lebih dari tiga puluh persen pasukan dari total sumber daya dikumpulkan oleh Dormir.

1
վմղíα | HV💕
salam kenal mampir juga kecerita ku
nesaric
gatau kenapa candu banget sama tulisannya 😭 cemungut sayyyy
Arif Billah: Makasi banyak sayy✨
total 1 replies
nesaric
jiwa ingin menyerap sihir ningkat wkwkwkwk
semangat kakkkk
nesaric
cemungut kakkk
Arif Billah
Wah iya, ko kerasa pendek ya
nesaric
cemungut kakkkk
btw bab yg ini agak pendek
nesaric
cemungut kakkkk
jgn lupa mampir
Arif Billah
Iya ka, otw baca karyamu juga nih...
nesaric: oke kakkk
total 1 replies
nesaric
nextt kak semangat
nesaric
suka banget sama bahasanya keren
nesaric
semangat kak
aku hadir
nesaric
semangat kakkkk
nesaric
semangat kak jgn lupa mampir
nesaric
semangat kakk
jgn lupa mampir
nesaric
semangat kakkkk
aku hadirrrrr
nesaric: jgn lupa subscribe cerita aku ya kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!