Mona, adalah anak konglomerat yang berkunjung ke desa ibunya, tapi naasnya saat dia sampai di sana, dia dihadapkan dengan teror mengerikan yang sedang menimpa desa itu.
Tak punya pilihan lain, dia pun ikut menyelesaikan konflik itu, sampai dia diharuskan menikah dengan orang yang seumur ayahnya.
Setelah dia pulang ke kota, dia juga dihadapkan dengan teror mengerikan di kampusnya, di mana setiap mahasiswa yang menerima beasiswa mrngalami teror yang mengharuskan dia bunuh diri.
Mampukah Mona mengungkap siapa dalang di balik teror itu?
Silakan baca novelnya!
Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maunah mom's zuzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meringkus Begal
Hari telah berganti malam, Entah kenapa Aku melihat wajah kang Arman sangat ketakutan. Kulihat dia memanggil pegawainya dan menyuruhnya untuk mengumpul kan warga.
"Neng, Ayo ikut Akang! kita jangan berada di rumah," ajaknya dengan raut cemas. Baru mau kujawab dia bicara lagi.
"Neng, katakan pada papa Neng, suruh minta polisi datang kesini" tambahnya lagi membuatku semakik bingung.
"Memangnya ada apa sih Kang?" tanyaku penuh kecemasan.
"Mereka akan balas dendam, akang takut mereka akan membakar kampung kita."
"Apa, kenapa mereka sejahat itu? kalau begitu bagaimana kalau kita ke luar kampung, kita cari mereka. Aku yakin akang tahu markas mereka"
"Iya, baiklah, tapi kita beri tahu paman dan orang tua Neng dulu."
Aku dan kang Arman bergegas ke rumah paman.
"Pak lurah, ada apa ? kenapa kalian terlihat cemas ?" tanya paman ketika melihat kami.
"Para begal itu akan balas dendam, saya takut mereka akan membakar kampung.
Jadi tolong himbau warga agar tidak berada di dalam rumah"
"Innalillahi, Apa ini ulah nenekmu, Arman?" Sahut mama yang ikut keluar bersama paman dan papa.
"Sepertinya begitu Mar, Sekarang kita bagi tugas saja. Saya minta pak Faiz menelfon polisi agar datang kesini. Dan saya minta kamu Mar, dan Mira mengumpulkan warga terutama anak anak dan perempuan serta orang tua dihalaman masjid. Pak Kiyai dan pak Ahmad dibantu para Warga nanti kita bagi menjadi dua kelompok.
Pak kiyai dan para santri tolong ikut saya ke hutan , kita akan mencari nenek saya di sana. Pak Ahmad dan Mona, tolong pergi halau para begal. Saya yakin mreka berada di dekat kampung."
Tutur kang Arman didepan kami.
Sebelum dia pergi, aku menarik tangan nya dan berbisik.
"Kang, tolong kasih tau siapa saja anak buah akang itu, Mona akan melihat ke rumah nya. Kalau mereka mau membakar kampung ini, Mona yakin mreka pasti akan menyuruh keluarga mreka keluar dari kampung"
"Iya, baiklah Neng. Akang akan kasih tahu, tapi Neng harus hati-hati ya!" jawabnya sambil mengelus pucuk kepalaku.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Setelah dia menyebutkan semua nama anak buahnya, dia dan pak kiyai langsung bergegas pergi. Sementara papa, mama dan bi Mira segera menemui ketua RT untuk mengumpulkan warga di depan masjid.
"Sayang, kamu hati hati ya!" ujar mama sebelum aku pergi.
"Ya mah, mama dan papa juga dann semuanya hati hati ya!" Jawab ku sambil menyalami mereka smua.
" Mon, Ayo kita berangkat!, kita ke rumah Simon dulu ya" ..
Aku dan paman Ahmad segera menuju rumah anak buah kang Arman.
Seperti dugaanku, benar saja kulihat istri dan anak Simon sedang berjalan menembus malam menuju luar kampung.
Tak mau menyia nyiakan kesempatan, aku dan paman segera membuntuti mereka dari jauh
Kulihat dari kejauhan Keluarga Simon berjalan menuju luar kampung.
Setelah tiba di jalan yang sepi, tiba-tiba ada sosok laki-aki yang menghampiri mreka.
"Paman, sperti nya itu Simon, ayo kita ikuti dia. Kita lihat kemana dia akan pergi" Bisikku pada paman di sampingku.
Kulihat simon membawa mereka ke Tengah kebun milik warga. Disana ada sebuah saung yang bisa dijadikan tempat berteduh.
Ternyata di sana sudah ada beberapa orang menunggu. Mereka sperti nya kluarga anak buah kang Arman yang lainnya.
Setelah mereka menyuruh pra wanita itu duduk di Gardu, ku lihat beberapa orang laki laki keluar dari kebun dan berjalan menuju arah kampung. Mereka masing masing membawa satu jerigen yang kutaksir berisi bahan bakar yang akan mereka gunakan untuk membakar kampung.
"Mon, itu mereka. Ayo kita hadang mereka sebelum mereka sampai di kampung " Bisik paman padaku.
Aku pun mengangguk dan mengikuti langkah paman.
"Permisi, Bapak-bapak" terkakku sedikit lantang. Mereka tersentak dan serempak menoleh pada kami.
"Kalian?" ucap mereka bersamaan.
"Ya, ini kami, pak Simon," jawab paman.
Simon yang dipanggil nama nya kini terlihat tegang.
" memangnya anda anda ini mau kemana, bapak bapak?"
Timpalku mengejek mereka.
" Kang, sebaiknya kita habisi saja mereka..biar gak buang waktu. Nanti kita bisa terlambat memenuhi perintah Nenek Saraswati."
Bisik laki laki di samping simon, Simon langsung mengangguk dan di ikuti yang lainnya.
Aku yang sudah menangkap gelagat mereka, kini sudah memasang kuda kuda.
..Sreek..
Mereka mengeluarkan golok mereka dan tanpa aba aba lgi mereka segera menyerang kami secara membabi buta.
" Gadis bodoh, kali ini kami tak akan main main lagi," teriak Simon sambil menyabetkan golok nya kearah ku.
"Justru aku yang tak akan membiarkanmu lepas lagi, Simon," jawabku sambil menangkis serangan Simon dan memukul lengan nya hingga membuat golok nya terjatuh..
Kesempatan itu tak ku sia siakan, aku pun segera menyikut dada nya dan menendang perut nya hingga terhuyung ke belakang.
Setelah hampir setengah jam kami bertarung, Alhamdulilah para warga datang membantu kami sampai kami berhasil meringkus mereka dan mengikat mereka.
"Ya ampun, ternyata kamu Simon, kamu penjahat yang selama ini meneror kami dan Kamu.
Kirman, oh kami benar-benar gak menduga kalian sekeji itu pada kami," ujar para warga itu saat mereka melihat wajah-wajah penjahat yang meneror mereka selama ini.
"Pak Ahmad, bagaimana sekarang? Kita apain mereka? Tanya salah seorang warga.
" Kita bawa mereka ke kantor kelurahan, nanti kita serahkan pada polisi" Jawab paman.
Mereka pun segera menggiring para penjahat itu menuju kantor kepala desa.
" Paman, Bagaimana kalau kita ke hutan, saya khawatir sama kang Arman dan pak kiyai" Pinta ku pada paman.
" Ya sudah, ayo kita kesana"
Aku dan paman bergegas pergi ke Tengah hutan.
Dengan sangat hati hati, kami berjalan menembus gelapnya malam menuju hutan yang masih terbilang rimbun dan angker.
Dengan diterangi senter yang kami bawa, kami menyusuri jalan setapak yang biasa di lalui warga saat pergi mencari kayu di tepi hutan.
"Paman, kita sudah berjalan jauh dari kampung, tapi kita belum menemukan mereka" Keluh ku ditengah perjalanan kami.
"Kita lanjut lagi perjalanannya, mungkin kita belum sampai" Jawab paman.
Kami pun melanjutkan perjalanan lagi sampai akhirnya kami mendengar suara orang merintih kesakitan.
"Ah, aduuh sakiit sekali tubuhku " Suara rintihan itu terdengar nyaring, mungkin karena di dalam hutan yang sepi.
" Paman, paman dengar itu?" ..
" Iya, sepertinyanya, berasal dari sana,"
Aku dan paman berusaha mendekati tempat di mana suara itu terdengar.
Benar saja, setelah kami berjalan, kami melihat sesosok tubuh laki laki yang meringkuk dibawah pohon.
"Assalamualaikum, siapa disana?"
Sapa paman pada mereka.