Indonesia
NovelToon NovelToon
Kara Ina

Kara Ina

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Selama hidupnya, tidak sekalipun Kara menjalin hubungan serius dengan lawan jenisnya. Pemikir dan kekhawatiran berlebih adalah penjara tak kasat mata. Itu yang menghalangi dirinya untuk bisa mengenal apa itu cinta. Hidupnya yang datar tiba-tiba berubah saat Luis, si tetangga baru menaruh perhatian pada Kara.

Sekeras apapun Kara menghindar, Luis punya seribu satu cara untuk mendekati Kara. Bagaimana kisah mereka? Apakah Kara bisa melanjutkan hidupnya yang damai tanpa kehadiran Luis, atau berhasilkah Luis menggenggam erat Kara?

Halaman pertama akan membawamu masuk dalam kehidupan membosankan seorang Kara Ina. Check this out!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Keluarga Luis

Announcement di sebuah stasiun berbunyi, menandakan beberapa saat lagi kereta akan tiba dan berhenti di sana. Membuat seorang pria paru baya terbangun dari istirahat singkatnya. Pria itu melirik jam tangan yang telah menunjukkan pukul 7 lewat 30.

Merasa kesadarannya sudah pulih 100 persen, pria itu bergegas merapikan barang bawaannya. Laju kereta yang semakin melambat membuat beberapa orang yang turun di stasiun yang sama dengan pria itu juga ikut bersiap-siap.

Masih ada waktu beberapa saat untuk kereta benar-benar berhenti, pria itu mengambil ponsel disaku jasnya, segera memesan taksi secara online agar pada saat turun tidak perlu menunggu lama untuk ke tujuan selanjutnya.

Stasiun di pagi hari penuh dengan orang-orang sibuk, mereka berjalan tergesa untuk melakukan boarding pass atau kegiatan lainnya.

"Terimakasih Dimas, " ucap si pria paru baya saat seorang kondektur kereta yang sudah dikenalnya cukup lama membuka pintu kereta.

"Sama-sama Pak Shis." Kondektur muda bernama Dimas itu menyahut sembari menunduk penuh hormat.

Shis, nama pria baru baya itu, kemudian bergegas menuju pintu keluar saat taksi online pesanannya sudah menelepon.

Pria yang merupakan ayah dari Luis itu secara mendadak mengambil cuti kerja saat mendapat kabar dari sang istri jika anaknya ingin menikah dalam waktu dekat. Pria itu juga bertambah kaget saat dirinya di minta untuk segera pulang dan melakukan pertemuan dengan keluarga calon istri Luis.

Sampai di depan rumah, setelah membayar tagihan taksi, Shis segera menemui istrinya itu. Ketukan pintu beberapa kali tidak membuat penghuni rumah keluar. Akhirnya Shis langsung masuk saat mengetahui jika pintu ternyata tidak di kunci.

"Assalamu'alaikum Bun." Langkah Shis menuju ruang makan dan menemukan istrinya yang tengah memasak sembari bersenandung.

Istri Shis, Hapsari kaget saat mendengar suara suaminya. Wanita itu lantas berbalik, meninggalkan nasi goreng kesukaan Luis.

"Waalaikumsalam, Ayah sudah pulang ternyata." Hapsari mencium tangan Shis. "Maaf lagi masak, jadi tidak dengar."

Shis mengangguk maklum. "Dimana anak itu?" tanyanya.

"Sedang mandi, sebaiknya Ayah bersih-bersih dulu, nanti kita bicara setelah sarapan."

"Baiklah ... Ayah pengen makan mie, bun."

"Pagi-pagi makan mie? tidak!" Hapsari menatap tajam Suaminya. "Aku bikin nasi goreng banyak."

Tidak ada lagi obrolan, Shis berlalu, pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Sedangkan Hapsari kembali menyiapkan sarapan.

"Tidak ayahnya, tidak anaknya, semua sama aja yang diminta. Aneh-aneh." Hapsari ngedumel.

Sekita 15 menit berlalu, Shis sudah duduk tenang di meja makan. Menunggu Luis turun sambil memperhatikan Hapsari menuangkan teh tawar hangat ke dalam gelas.

"Lama sekali anak itu," pungkas Shis. Sedetik kemudian menoleh saat mendengar suara anaknya dari belakang.

"Ayahh.... " Luis kaget saat melihat punggung ayahnya. Luis mendekat, mencium tangan ayahnya. "Kapan datang? kenapa Luis tidak tahu."

"Barusan ... Kamu ini bikin ayah ketar-ketir tau enggak?" Shis menarik telinga Luis, membuat anaknya itu mengadu kesakitan.

Luis langsung melindungi telinganya sembari membuat jarak. Namun ayahnya tidak kunjung melepas tangannya di telinga Luis.

"Kalau ngasih kabar itu jangan dadakan, habis ayah dimarahi atasan sebab mengambil cuti mendadak. Untuk ayah pintar berkilah."

"Maaf Ayah, Luis tidak bermaksud," sesal Luis ditengah ringisannya.

Hapsari yang sedari tadi hanya menonton lantas menengahi keduanya, tentunya setelah puas melihat Luis kesakitan. "Sudah-sudah, cepat makan dulu, perangnya lanjut nanti saja."

Luis merasa lega saat Shis akhirnya melepaskannya, cowok itu segera duduk di kursi sebrang ayahnya. Menghindar, jika tiba-tiba Shis akan melakukan kekerasan lagi padanya.

Hapsari mengambilkan nasi sepiring nasi goreng untuk Shis dan Luis, kemudian teh hangat diletakan di depan piring keduanya. "Makan cepat!" serunya, seperti memerintah anak kecil yang nakal untuk makan.

"Kenapa tiba-tiba ingin menikah?" tanya Shis di tengah-tengah kegiatan makannya. Pria itu sudah tidak sabar berbicara dengan anaknya itu. Habis kesabarannya jika menunggu sampai sarapan selesai.

"Sebab Luis sudah menemukan jodoh," jawab Luis apa adanya.

"Benar juga, maksudnya kenapa mendadak?" Shis berpikir sejenak, sedetik kemudian melirik Luis dengan penuh curiga. "Apa kau menghamili anak orang?"

"Astaghfirullah Ayahh!" kali ini refleks Hapsari terlampau seru. Tidak menyangka suaminya berpikir seburuk itu.

"Benar kan?" Shis menuntut jawaban.

"Ayahh!" Hapsari kembali menegur.

"Maaf Bun." Shis tertawa canggung, menatap istrinya seakan menyesal telah berprasangka buruk pada anaknya.

"Kalau tidak cepat-cepat nanti keduluan orang lain, Luis tidak rela." Luis menengahi, meredam kekesalan Hapsari. "Gadis yang ingin Luis nikahi ini sangat langka ,Yah. Seperti manusia yang hidupnya terisolir. Jauh dari peradaban modern," sambung Luis, melebih-lebihkan cerita.

"Kamu ingin menikahi gadis dari suku pedalaman?" tanya Shis, heran dengan cerita anaknya itu. Setengah tidak percaya. Entah gadis dari pedalaman mana yang bisa menggaet hati putranya itu dan bagaimana pula mereka bisa bertemu.

Mendengar pertanyaan itu, Luis refleks menatap Hapsari yang juga tengah menatapnya. Ibu dan anak itu saling diam beberapa saat, seakan sedang berkomunikasi lewat pandangan. keduanya sama-sama tidak habis pikir dengan pertanyaan Shis yang terlampau polos.

"Ayah akan terkejut jika tau siapa calon istri Luis," tutur Hapsari. Nadanya terkesan santai, sebab telah menduga apa reaksi sang suami selanjutnya. Hapsari meminum tehnya sejenak, kemudian kembali berbicara, "anak tetangga baru kita."

"Hah?" Shis melongo, menatap Luis dan Hapsari bergantian. "Yang benar saja?" tanyanya tidak percaya.

Hapsari mengangguk. "Benar 100 persen."

"Luis... " Luis menatap Ayahnya yang tengah menatapnya juga Meminta penjelasan. "Ayah tidak habis pikir. Kok bisa? apa kalian sudah kenal lama?"

Luis menggeleng. "Namanya juga jodoh, mau bagaimana lagi?" cowok itu balik bertanya, "apa ayah setuju?"

Suapan terkahir Shis sebelum menjawab pertanyaan Luis, pria paru baya itu kemudian bersandar. "Padahal Ayah hendak menjodohkan kamu dengan anak rekan kerja ayah, untung belum tersampaikan niat itu," jelasnya. Shis mengambil gelas teh dan meminum habis isinya, kemudian mengelap area bibir dengan tisu.

Luis berbinar, merasa lega mendengar kalimat ayahnya itu. "Jadi Ayah setuju?"

Namun sayang binar bahagia itu tidak bertahan lama sesaat Shis memberikan jawaban yang berbanding balik dengan apa yang Luis pikirkan.

"Tidak," singkat Shis.

Luis mengatur raut wajahnya agar tidak terpengaruh dengan Shis. "Baiklah, restu Ayah juga tidak berati bagiku, yang penting ayah mertua sudah merestui," ucapnya enteng.

"Anak kurang ajar... jam 1 siang nanti ikut ayah ke mall, kita beli cincin untuk mantu ayah nanti."

Hapsari tertawa ringan menyaksikan tingkah suami dan anaknya yang jarang sekali akur.

"Tidak perlu, kata Pak Hendra cincinnya besok saja kalau jadi menikah. Malamini kita hanya akan silahturahmi sembari mengatur rencana pernikahan." Luis beranjak dari tempatnya setelah menghabiskan sarapan.

"Luis ke atas dulu, banyak kerjaan yang belum selesai," sambungnya, kemudian kembali ke kamar. Meninggalkan Ayah dan Bundanya.

Lagi-lagi Shis terkejut. "Sudah dibela-belain ambil cuti tapi malah sesantai ini?" tanyanya tidak habis pikir.

Pandangan Shis beralih menatap Hapsari. "Anak itu benar-benar ingin menikah?" Shis kembali bertanya untuk yang terakhir kalinya dan dibalas anggukan sang istri.

"Ternyata anak kita sudah dewasa, Bun."

1
Rini Anggraini
Luar biasa
✨Susanti✨
sukaaaaa
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
next...
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
😩🤣🤣
✨Susanti✨
nextt..
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
bagussss
aku suka bgt karyamu ini kak
alurnya ringan ga belibet sama konflik
sukses ya kak
bintang: terimakasih sangat, jadi seneng ☺😊
total 1 replies
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
semangat terus kakak
semoga segala hal berjalan lancar
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
next...
✨Susanti✨
bener bgt
✨Susanti✨
nextt
✨Susanti✨
next..
✨Susanti✨
next....
✨Susanti✨
nextttt
✨Susanti✨
next
✨Susanti✨
sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!