Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Mantan Adikku

Suamiku Mantan Adikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Vinora_BP

Kehilangan seorang Ayah untuk selamanya adalah pukulan terberat bagi anak perempuan. Baginya Ayah adalah cinta pertama mereka.

Itulah yang di rasakan seorang gadis bernama Tari, ia pun enggan untuk menjalani hubungan kembali dengan lawan jenisnya.

Namun siapa sangka, ternyata sang Ibu justru menjodohkannya dengan seorang pria yang juga ia kenali.


Siapkah Tari menerima perjodohan yang dilakukan oleh Ibunya?

Yuk simak lanjutan ceritanya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinora_BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buaya VS Belut

Rama baru saja keluar dari kamarnya, tentu saja dari atas sampai bawah tampak terlihat sangat segar di pagi buta ini. Ia yakin Ibu mertua beserta Adik Adik iparnya pasti belum pada bangun mengingat acara baru selesai tengah malam tadi, pasti lelah bin capek.

Sehingga membuat pria yang sudah meninggalkan gelar bujangnya itu berjalan santai melewati ruang tengah yang memang dalam keadaan sedikit remang remang hanya tersorot lampu dari arah dapur.

" Mau pergi subuhan nak Rama?" Celetuk seseorang yang baru saja melintas melewatinya saat beliau hendak pergi ke dapur, orang itu tidak lain adalah Ibu mertuanya sendiri.

Tentu saja Rama terlonjak kaget setengah mati, pria itu pun segera mengusap usap dadanya demi menenangkan detak jantungnya yang berdegub cukup kencang saking kagetnya.

" Eh i-iya ini Bu, Rama kira Ibu belum bangun. Maaf, kalau begitu Rama pergi dulu, Assalamualaikum." Pria itu segera melipir pergi bahkan sebelum mendengar balasan dari sang mertua.

Jangan sampai Ibu mertuanya mengetahui kantung matanya yang mirip seperti mata panda, sebab hampir semalaman ia terus terjaga karena tidak nyamannya tidur di lantai beralaskan selimut tipis yang ia temukan di dalam tumpukan baju istrinya di dalam keranjang yang sepertinya belum sempat di lipat oleh gadis itu.

" Wa'alaikumsalam." Balas Ibu Ambar terlihat menahan senyum sebab tahu pasti apa gerangan yang membuat menantunya jadi canggung begitu dengannya, terlebih saat ia tak sengaja melirik rambut hitam Rama yang terlihat masih basah. Tentu saja ia sangat paham apa yang kedua anak menantunya lakukan tadi malam di kamar.

Semoga tahun depan aku sudah menimang seorang cucu Ya Allah.

Harapan seorang Ibu yang baru saja menikahkan anak gadisnya memanglah tidak muluk muluk, hanya mendengar kata cucu saja sudah membuatnya semangat menjalani hari tuanya, yang tentunya membuat hari tuanya juga jadi lebih berwarna walau tanpa pasangan hidup.

Sementara itu di dalam kamar, tepatnya di kamar pengantin baru, Tari baru saja mengeliat bangun tepat saat Adzan subuh berkumandang. Tubuhnya jadi lebih ringan dari pada semalam, mungkin karena efek istirahatnya yang cukup.

" Alhamdulillah." Ia segera beringsut turun dari ranjang, namun pandangannya justru tidak sengaja menangkap selimut bulu miliknya yang teronggok di bibir ranjang.

Tari mengernyit sembari mengingat ingat." Siapa yang taruh disini? Perasaan aku letakan di dalam keranjang baju." Gumamnya meraih selimut yang ia kira bisa bejalan sendiri.

Karena tidak ingin ketinggalan banyak waktu, Tari segera berjalan ke arah kamar mandi untuk bersih bersih juga berwudhu. Setelah selesai melaksanakan empat rakaat beserta sunnahnya, Tari langsung membereskan tempat tidur dan menata kembali barang yang ia pakai ke tempat semula, tak terkecuali selimut tadi yang langsung ia masukkan kembali ke dalam keranjang.

" Keluar ah, cari angin segar." Tanpa menunggu lagi, gadis itu segera melangkah keluar ingin pergi ke samping rumahnya yang kebetulan terdapat taman mini yang sengaja Ayahnya buatkan dulu, juga ada sedikit tempat untuj bersantai ataupun ingin sekedar berolah raga.

Namun belum sampai ke depan pintu belakang, tiba tiba suara sang Ibu mengintrupsi membuatnya mengurungkan niat lalu segera menoleh ke belakang dimana sang Ibu berada.

" Mau kemana kamu?" Heran sang Ibu menatap sedikit curiga pada putri sulungnya yang baru melepas masa lajang." Hari masih gelap ini." Imbuhnya lagi.

" Kenapa, Ibu perlu bantuan? Kalau tidak, Tari mau ke samping rumah." Balasnya masih berdiri mematung di tempat semula.

" Dari pada kamu repot repot ke samping buang waktu, mending buatin kopi untuk suamimu? Apa sekalian buat sarapan juga untuk berdua, siapa tahu ingin masakin masakan kesukaan ayang." Celetuk sang Ibu menggoda seraya menahan senyum bahagianya, namun tidak dengan Tari yang terlihat sedikit menegang.

" Menikah! Aku menikah? Kapan?" Sepertinya otaknya belum terkoneksi dengan baik di pagi buta ini. Namun tak berselang lama gadis itu pun menepuk jidatnya sendiri saat ingatannya sudah mulai kembali lagi.

" Jangan bilang kalau kamu lupa sudah menikah Tari!" Sindir Ibu Ambar yang tepat sasaran.

Mendengar ucapan Ibunya Tari hanya nyengir saja, karena ingat kodratnya sekarang sudah menjadi seorang istri gadis itu segera berjalan ke arah dapur ingin membuat sarapan beserta segelas kopi untuk pertama kalinya buat sang suami.

" Nah gitu baru istri sholehah!" Ujar Ibu Ambar tersenyum senang dengan usaha baik putrinya.

Tari langsung membuat nasi goreng pete, menggoreng krupuk ikan juga tak lupa urak arik telor di campur sawi putih kesukaannya, setelah selesai dan makanan pun sudah di hidangkan di atas meja makan, kini hanya tinggal membuat minuman saja.

Entah dari mana ide isengnya muncul begitu saja saat tatapannya tak sengaja melirik sesuatu, senyum smirk nya langsung merekah seraya mengaduk segelas kopi yang baru saja ia seduh.

Tepat pukul setengah enam Rama baru pulang dari Mushola, matanya panda kini sudah mulai berkurang dari pada tadi pagi sebelum pergi.

" Nak Rama ayo kita sarapan bersama, kami tunggu di meja makan ya." Ujar Ibu Ambar saat melihat menantunya sudah kembali, ia tak melihat Tari, sepertinya putrinya saat ini sedang mandi di kamar.

" Iya Bu, Rama ganti baju dulu." Tanpa berpikir lagi, langkah pria itu ringan menuju ke kamar Tari yang sudah berbagi dengannya.

Begitu pintu kamar berhasil dibuka, pria itu langsung mematung di ambang pintu, begitupun dengan Tari yang juga berdiri mematung di depan lemari pakaian miliknya.

Sepasang netra saling mengunci beberapa saat dengan degub jantung yang saling seirama. Jangan lupakan tatapan lapar yang sudah Rama perlihatkan saat ini, bagaimana tidak, sudah sekian lama berpuasa juga bertapa di gua hira kini sudah saatnya baginya untuk berbuka puasa dengan yang gurih gurih.

Dan saat ini di depannya sudah terhidang makanan paling lezat dan juga gurih siap untuk di santap seorang diri. Jangan sampai mangsanya kabur kali ini, cukup semalam saja ia amat tersiksa.

Netranya tak berkedip sedari tadi saat melihat kulit mulus sang istri, juga surai hitam yang cukup panjang sungguh memanjakan semua miliknya. Bahkan bee nya mulai mengeliat pelan hingga semakin mengencang saja.

" Tutup pintunya, dasar buaya mesum!" Teriak Tari sedikit kencang. Begitu menyadari posisinya tidak aman Tari segera melarikan diri kembali masuk ke kamar mandi, demi menyelamatkan diri dari terkaman buaya buntung.

Beruntung ia sudah membawa serta pakaian ganti yang sudah ia ambil dari dalam lemari tak lupa juga jilbab instannya yang ia ambil asal.

Tari sungguh merutuki dirinya sendiri saat lupa mengunci pintu kamar, sehingga membuat pria mesum berkedok suami sah sudah melihat semua bagian tubuhnya yang mati matian ia sembunyikan.

Walaupun ia masih memakai handuk dati batas dada hingga sampai ke pahanya, namun tetap saja pria mesum itu sudah melihat tubuhnya yang suci ini.

" Dasar pria mesum! Buaya buntung!"

Sementara di luar Rama juga sama sedang merutuki diri sendiri, kali ini gagal lagi, kenapa lambat sekali gerakannya tadi. Seharusnya ia sudah mendapatkan haknya, atau paling tidak morning kiss sudah awal yang baik.

" Kita lihat saja sampai mana kamu terus kucing kucingan dengan suamimu sendiri Mbak!" Senyum smirk nya muncul kembali.

Rama pikir Tari adalah seorang gadis yang akan nurut pada suami jika sudah menikah, itu pikirannya dulu saat pertama kali bertemu, juga lumayan seringnya berkomunikasi via gawai pintar.

Namun ternyata dugaannya melesat sangat jauh, istrinya jika di ibaratkan layaknya seekor belut sawah yang sulit sekali di tangkap apalagi di luluhkan.

.tbc

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!