Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Sakit hati.
Bang Dante terdiam sejenak, menatap manik mata itu yang kini dipenuhi keraguan dan kebingungan. Ia menarik napas panjang, membiarkan kata-katanya terucap pelan namun tegas, tanpa ada satu pun yang disembunyikan.
"Kamu tidak akan paham apa yang terjadi, apa yang saya sembunyikan. Afrinald Diego Wira, Dailago Pascal Wira... adalah nama yang saya pakai saat bertugas. Nama yang diberikan kepada saya untuk menyembunyikan identitas asli, di setujui atasan, sesuai dengan prosedur yang berlaku, agar saya bisa menjalankan tugas dengan aman. Dan... Agar orang-orang yang saya sayangi juga tetap aman." Bang Dante menatap kedua mata sejenak, tangannya bergerak hendak menyentuh punggung tangan Sea tapi Bang Dante mengurungkannya. "Termasuk kamu, Rintan."
Rintan terhenyak namun kemudian ada senyum tipis menghias wajah cantiknya. Ada rasa lega yang sulit untuk di ungkapkan. Pria di hadapannya ini, meskipun hidup dengan banyak nama dan bagai hidup dalam dua dunia, ternyata bukanlah seseorang yang jahat, melainkan seseorang yang menyembunyikan dirinya demi melindungi banyak hal yang sulit di pahami oleh kebanyakan orang.
"Setidaknya... sekarang aku tau, Om bukan orang yang berbohong tanpa alasan." Ucap Sea jauh lebih tenang.
Bang Dante tersenyum tipis. "Sekarang tidurlah, kamu butuh banyak istirahat."
\=\=\=
Hari-hari berlalu dengan tenang dan penuh kehangatan. Sea dalam ingatannya kini mulai terbiasa dengan kehadiran Bang Dante. Ia perlahan mulai mengenal sifat pria itu.. galak namun penuh perhatian, tegas namun selalu lembut padanya.
Di setiap pagi Bang Dante datang dengan sarapan, setiap sore duduk di sampingnya bercerita tentang hal-hal sederhana meskipun hanya sebentar, setiap malam memastikan pintu kamarnya terkunci rapat sebelum pergi ke ruang kerjanya.
Namun takdir punya rencana lain. Sebuah berkas rahasia yang dikirimkan dari markas mengubah segalanya. Berkas itu di terima Sea saat Bang Dante saat pria itu sedang ada kegiatan khusus di luar kota. Anggota baru itu tidak mendengar instruktuksi untuk mengirimkan ke meja kerja di kantor Batalyon.
Sea yang kebetulan lewat berniat meletakan di ruang kerja rumah, namun apa yang lancang di lihatnya disana membuat kakinya terpaku di tempat.
Dunia Sea seakan runtuh seketika. Tangannya gemetar hebat, berkas itu terjatuh ke lantai.
Satu Ayah... beda ibu...
Mereka bersaudara. Pria yang ia mulai cintai, pria yang ia percaya dengan seluruh hidupnya... adalah kakaknya sendiri.
"Jangan... Tidak mungkin..." bisiknya lirih, air mata mulai menetes tanpa ia sadari.
Saat itu juga Bang Dante masuk. Langkahnya terhenti mendadak saat melihat berkas itu tergeletak di lantai, dan melihat wajah Sea yang pucat pasi, matanya penuh air mata dan ketakutan.
"Ada apa, dek??" Tanya Bang Dante langsung mengambil berkas itu.
Sejenak ia membaca isi dari berkas tersebut, seketika Bang Dante jatuh berlutut di tempatnya. Tubuhnya terhuyung, seakan baru saja menerima pukulan paling berat seumur hidupnya. Berat yang membuat hatinya serasa hancur. Ia menunduk dalam, kedua tangannya mencengkeram berkas itu dengan kuat.
'Apalagi ini Tuhan??????'
Sea menangis tersedu-sedu, jerit tangisnya sungguh histeris. "Lalu... selama ini... yang aku rasakan... untuk kakakku sendiri??? Perempuan macam apa aku ini?? Kenapa Tuhan mempermainkan perasaanku seperti ini?????"
"Jangan, dek..!! Jangan salahkan dirimu..!!" Bang Dante merangkak mendekat, ingin sekali memeluknya, namun ia menahan diri.
Sea yang kesal memukuli Bang Dante, ia sulit menerima kenyataan ini.
Bang Dante menarik Sea ke dalam pelukannya. "Jangan salahkan dirimu. Abang.. Abang yang seharusnya sadar untuk tidak mendekatimu. Abang yang salah." Hatinya pedih namun batin yang penuh itu, sulit untuknya mengatakan bahwa dirinya juga merasakan sakit yang sama.
Pria itu kini menunduk, air mata jatuh membasahi lantai. Dirinya yang tak pernah takut pada peluru, tak pernah gentar pada musuh, di hari ini hancur lebur oleh kenyataan tersebut.
Jerit tangis Sea membuat hati Bang Dante semakin teriris, ia pun semakin mengeratkan dekapannya.
'Aku benci jatuh cinta. Ini untuk terakhir kalinya dan aku tak akan pernah mau lagi mengenal ataupun menjalin hubungan dengan wanita manapun, apalagi sampai menikah.'
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara