Di pernikahan Rachel dan Arlan yang baru seumur jagung, Arlan mengalami hal tak terduga yang membuatnya di pisahkan oleh sang istri. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kondisi yang berbeda.
****
Kehidupan Arlan sebagai Dokter terbilang lurus-lurus saja. Tidak pernah tersandung kasus apapun, apalagi tidur dengan wanita.
Namun kejadian malam itu ketika dia berniat menolong Rachel, anak dari keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun harus berakhir menjadi tuduhan berdasar dan membuat Arlan mau tidak mau harus menikahi Rachel.
Rachel terkenal cukup bermasalah, disebut pembuat onar dan tingkat kenakalannya diluar batas. Terbukti Rachel berniat menjebak seorang wanita yang sudah beristri agar tidur dengan pria lain yang merupakan orang suruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Dengan santainya Arlan menyodorkan dress tidur warna maroon tanpa lengan pada Rachel. Dia sengaja memilih dress tidur itu karna satu-satunya dress tidur yang cukup terbuka. Dengan tali spaghetti dan belahan yang rendah, dress warna maroon itu terlihat sangat seksi. Sebenarnya Arlan sempat terkejut ketika sedang mencarikan baju tidur milik Rachel dan menemukan dress seksi itu di antara tumpukan set baju tidur yang biasa dipakai oleh Rachel. Dress itu tidak pernah dipakai Rachel sebelumnya, jadi Arlan baru tau kalau Rachel menyimpannya di lemari.
Mata Rachel membulat sempurna, dia langsung merebut dress yang terpampang didepan wajahnya karna Arlan sengaja merentangkan dress itu dengan kedua tangannya.
“Aku bilang baju tidur, bukan dress.” Protesnya. Rachel tidak bodoh, dia tau Arlan sengaja mengambil dress itu karna paling terbuka.
Arlan mengangkat kedua bahunya. “Mana aku tau, yang jelas baju itu ada ditumpukan baju tidurmu. Aku asal mengambilnya karna posisinya paling atas.”
Rachel memutar malas bola matanya. Siapa yang akan percaya dengan alasan itu? Rachel yakin Arlan sengaja mengambil dress itu karna sejak awal sudah berfikir kotor.
“Aku tidak mau pakai yang ini. Cepat ambilkan aku set baju tidur celana panjang, pakaian dalamnya jangan lupa!” Serunya memerintah.
Arlan menggeleng cepat. “Jika berani, ambil saja sendiri. Hati-hati saja, tadi aku sempat melihat kecoa di atas lemari bajumu.”
Arlan tampak acuh, dia langsung naik ke atas ranjang dan tidak peduli meski Rachel terlihat sangat kesal mendengar penolakannya.
“Arlan! Ambilkan dulu baju tidurku. Kamu tega membiarkanku tidur dengan handuk kimono ini?!” Rachel merengek, tapi dia juga memarahi Arlan.
““Pakai itu saja jika tidak berani mengambil baju sendiri. Lagipula apa gunanya dress yang sudah terlanjur ada di tanganmu itu. Daripada tidak memakai baju sama sekali, lebih baik pakai yang ada saja.” Ujar Arlan sembari menyilangkan kedua tangan di atas dada dengan posisi bersandar pada kepala ranjang. Arlan seperti sudah tidak sabar menunggu Rachel memakai dress berwana maroon itu.
Rachel mengomel panjang lebar, tapi dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Rachel tidak cukup berani untuk mengambil baju ganti karna takut dengan kecoa.
“Rachel, mau sampai kapan kamu berdiri di situ? Ingat, kamu masih ada tugas jika tidak ingin uang jajanmu dipotong.” Arlan memperingatkan Rachel soal tugas memijat yang harus dikerjakan setiap malam karna permintaan uang bulanan yang telah disepakati. Sebenarnya Arlan bisa memberikan uang bulanan tanpa harus ada persyaratan karna itu sudah menjadi kewajibannya memberi Rachel uang. Tapi Arlan ingin membuat Rachel sadar bahwa mendapatkan uang sebanyak itu tidak mudah.
Dulu mungkin Rachel bisa mendapatkan berapapun uang yang dia inginkan dengan cara cuma-cuma karna kedua orang tuanya terlalu memanjakan Rachel. Tapi di tangan Arlan, Rachel harus bekerja untuk mendapatkan uang itu. Meskipun hanya sekedar mengerjakan pekerjaan rumah dan memijat, yang sebenarnya sudah sewajarnya dilakukan oleh istri.
“Kamu benar-benar menyebalkan! Bagaimana bisa aku memakai dress ini tanpa pakaian dalam?! Kamu pasti akan berbuat macam-macam padaku kan?” Cecar Rachel sewot.
Arlan menahan senyum tipis. Entah kenapa dia semakin tidak sabar menggoda Rachel. “Jika kamu terus menuduhku seperti itu, aku benar-benar anak melakukan sesuatu padamu.” Sahutnya sembari turun dari ranjang dan menghampiri Rachel yang tampak melangkah mundur.
“Arlan stop! Aku sedang tidak ingin berdebat atau main-main denganmu. Aku benar-benar lelah dan ingin tidur sekarang.” Rachel terlihat malas menanggapi Arlan kali ini. Dia sedang banyak pikiran dan tidak ingin diganggu, tapi Arlan malah membuatnya semakin kesal.
“Jika sejak awal kamu langsung memakai baju, mungkin sekarang kamu sudah selesai memijat ku dan bisa tidur dengan nyenyak. Tapi kamu sendiri yang mengulur-ulur waktu sampai lebih dari 30 menit hanya karna mempermasalahkan baju tidur yang aku bawakan untukmu.” Terang Arlan.
Rachel berhenti mundur karna punggungnya sudah menabrak dinding. Dia tidak bisa lari kemana-mana lagi, tubuhnya berhasil di kurung oleh Arlan menggunakan kedua tangannya.
“Arlan please, aku sangat lelah.” Rachel terlihat sudah sangat malas menanggapi candaan Arlan. Dia merasa tidak punya energi untuk mengamuk meski sebenarnya sudah sangat marah.
“Kalau begitu biar aku yang membantumu memakai dressnya.”
Tiba-tiba saja Rachel merasakan tali handuk kimononya terlepas. Saat melihat kebawah, dia langsung melotot dan reflek memegangi handuknya agar tidak terbuka.
“Arlan kamu membuatku muak!!” Maki Rachel sembari mendorong tubuh Arlan sekuat tenaga dan berhasil melarikan diri. Rachel segera keluar dari kamar setelah mengambil selimut di ranjang.
Arlan sempat terdiam sesaat, dia cukup terkejut melihat reaksi Rachel yang sangat berlebihan. Ekspresi Rachel juga terlihat jika wanita itu benar-benar sangat marah padanya. Rachel memang sudah terbiasa marah-marah padanya, tapi Arlan baru merasakan kemarahan Rachel kali ini.
Pintu kamar sempat di banting oleh Rachel hingga membuat Arlan tersadar dari lamunan. Dia langsung menyusul Rachel yang ternyata sudah berbaring di sofa ruang keluarga dan membalut tubuhnya dengan selimut.
Melihat kedatangan Arlan, Rachel langsung memejamkan mata dan berbalik menghadap sofa.
“Jangan menganggu ku lagi!” Seru Rachel memperingatkan.
Arlan tampak kebingungan dan merasa bersalah karna Rachel benar-benar marah sampai lebih memilih tidur di sofa, Arlan yakin seumur hidupnya Rachel belum pernah tidur di sofa. Tapi malam ini Rachel malah memilih tidur disana.
Arlan berdiri di sisi sofa dan membungkuk untuk mengusap kepala Rachel. “Ayo kembali ke kamar, aku hanya bercanda. Jangan tidur menggunakan handuk seperti ini. Akan aku ambilkan baju tidurmu.” Bujuknya.
“Sudah ku bilang jangan menggangguku! Apa kau tidak dengar?!!” Pekik Rachel sembari menepis tangan Arlan dari kepalanya. Rachel tampak menatap tajam dengan mata memerah menahan tangis. Dan hal itu membuat Arlan kebingungan sekaligus khawatir dengan kondisi Rachel.
“Rachel, apa yang terjadi? Apa ada masalah di kampus?” Arlan merasa sesuatu terjadi pada Rachel hingga membuat emosinya meledak-ledak. Sebenarnya sejak Rachel pulang, Arlan sudah melihat raut wajah Rachel yang tidak terlihat seperti biasanya.
Rachel hanya memberikan tatapan tajam pada Arlan tanpa menjawab sepatah katapun. Pikirannya sedang berkecambuk, Rachel juga tidak tau kenapa dia sangat marah dan ingin menangis hanya karna bersikap jahil padanya. Jika biasanya dia hanya sekedar marah di mulut dengan melontarkan kata-kata pedas, kali ini kemarahannya benar-benar sampai ke hati.
Rachel menyembunyikan wajahnya dan diam-diam dia menangis. Rachel merasa semua orang tidak ada yang benar-benar peduli padanya. Selama ini Rachel masih percaya diri karna ada Arlan di sampingnya yang terlihat benar-benar peduli padanya, tapi setelah mengetahui fakta dibelakangnya, Rachel merasa dia hanya sendiri tanpa seorangpun yang peduli padanya.
“Rachel?” Panggil Arlan lembut. Dia sampai. berlutut di depan Rachel karna masih berusaha membujuknya. “Maaf sudah membuatmu kesal. Ayo kembali ke kamar, tidur di sofa tidak akan nyaman. Jika masih kesal padaku, biar aku saja yang tidur disini. Kamu tidur di kamar.”
“Kalau kamu masih disini, aku akan tidur di ruang tunggu apartemen.” Ancam Rachel.
“Baiklah.” Lirih Arlan pasrah.
Arlan segera kembali ke kamar, dia takut Rachel benar-benar nekat dan tidur di ruang tunggu apartemen. Lebih baik membiarkan Rachel tidur di sofa, setelah itu memindahkan Rachel ke kamar.
Udah ditunggu hampir sebulan kak
Kisah David dan Elena 🙏
Udah gak sabar nungguin novel baru nih
udah kutunggu loh😊