Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : KEHANGATAN YANG TERUSIK

...BAB 23...

...KEHANGATAN YANG TERUSIK...

Handi masih memikirkan sosok Rian yang pernah dilihatnya bersama Wulan dan anak-anak di taman hiburan.

Karena penasaran, ia akhirnya mencari tahu lebih banyak tentang kehidupan pribadi direktur utama perusahaannya itu. Dari seorang rekan kerja, Handi mendapat informasi bahwa Rian baru saja bercerai dari Nita, seorang model terkenal yang selama ini menjadi istrinya.

Handi terdiam mendengar kabar tersebut. "Jadi, pria kaya yang bersama Wulan itu sekarang sudah berstatus duda rupanya?" gumamnya pelan.

Pikiran Handi mulai dipenuhi berbagai dugaan. Ia belum tahu apa hubungan sebenarnya antara Wulan dan Rian, tetapi kabar perceraian itu membuat rasa penasarannya semakin besar.

Ia pun mulai bertanya-tanya, apakah Wulan memang hanya bekerja di rumah Rian, atau ada sesuatu yang lebih dari itu?

*****

Seminggu kemudian.

Minggu siang itu, suasana halaman rumah Rian terasa jauh lebih ramai daripada biasanya.

Matahari bersinar cukup terik, tetapi angin yang berembus membuat suasana taman tetap nyaman. Beberapa tanaman hias berjajar rapi di sepanjang jalan setapak, sementara mobil hitam milik Rian terparkir di dekat garasi.

Rian sedang mencuci mobilnya sendiri. Lengan kausnya digulung sampai siku. Sesekali ia mengusap keringat di dahinya sebelum kembali menggosok bagian pintu mobil menggunakan spons.

Namun, pekerjaannya tidak berjalan semulus yang ia bayangkan.

Sebab, ada tiga anak kecil yang sejak tadi terus mengganggunya.

“Papa! Airnya semprotkan ke sini!” seru Delon sambil berlari kecil mendekati mobil.

Rian mengangkat selang yang dipegangnya. “Sebentar. Papa nyuci mobil dulu.”

“Cuma sebentar aja!” pinta Delon.

Astrid yang berdiri tidak jauh darinya ikut mengangkat kedua tangannya. “Aku juga mau!”

Rana bahkan sudah berjingkat-jingkat kegirangan. “Papa! ayo mainan ail!”

Rian menggeleng sambil tertawa kecil. “Ya ampun, kalian ini. Niatnya Papa mau nyuci mobil, malah jadi taman bermain.”

“Kan seru, Pa!” Delon menyahut.

“Seru buat kalian. Nanti Papa yang capek bersihin halaman!” dumelnya.

Meski begitu, Rian akhirnya mengarahkan ujung selang ke tanah, membiarkan air memancar membentuk lengkungan kecil.

Ketiga anak itu langsung menjerit kegirangan.

“Yeay! Ha ha ha” tawa Delon, Astrid dan Rana.

Mereka berlari-lari kecil melewati pancuran air, tertawa sambil berusaha menghindar ketika Rian menggerakkan selang sedikit ke arah mereka.

“Papa! Jangan ke mukaku!” protes Delon ketika beberapa percikan air mengenai wajahnya.

“Lho, katanya tadi mau main air?”

“Mau, tapi jangan ke muka, nanti gantengku hilang!” celoteh Delon membuat Rian tertawa lepas.

Di sisi taman, Wulan sedang menyiram tanaman menggunakan penyiram air berwarna hijau. Ia mengenakan pakaian rumah sederhana dengan rambut yang diikat rapi.

Mendengar suara tawa anak-anak, Wulan menoleh. Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Kalian jangan terlalu dekat sama mobil, ya! Nanti kepeleset!” serunya mengingatkan.

“Iya, Mama!” jawab Delon.

“Astrid juga hati-hati!” tambah Wulan.

“Iya, Mama!”

Rana berlari kecil ke arahnya dengan kedua tangan terentang. “Mama Wulan!”

Wulan segera meletakkan penyiram tanamannya. “Iya, Sayang?”

Rana memeluk kakinya. Ujung gaun kecilnya sudah basah, begitu pula rambut halus di sekitar dahinya.

Wulan tertawa pelan. “Aduh, Rana. Kamu sudah basah semua.”

“Mainan air!” ocehnya senang.

“Iya, tapi kamu jangan sampai masuk angin, ya.”

Rana mengangguk cepat, meskipun belum tentu benar-benar memahami nasihat itu.

Rian yang melihat mereka dari dekat mobil ikut tersenyum.

“Wulan! Jangan cuma Rana yang diingatkan. Tuh Delon sama Astrid juga dari tadi sudah basah kuyup.” sahutnya.

Wulan menoleh pada Rian. “Kan, Bapak sendiri yang menyemprotkan airnya ke mereka.”

“Lho, mereka sendiri yang minta.”

“Kalau begitu, Bapak juga harus bertanggung jawab kalau nanti mereka masuk angin.” timpal Wulan.

Rian pura-pura menghela napas. “Baik-baik, Bu Guru.”

Wulan menggeleng kecil.

Delon tiba-tiba berlari mendekati Rian. “Papa, sekarang giliranku yang pegang selang!”

“Jangan. Nanti garasi Papa bisa banjir."

“Aku bisa, kok!” Delon tertawa.

Rian akhirnya menyerahkan selang itu kepadanya, tetapi tetap memegangi bagian ujungnya bersama-sama.

“Nih, pegang yang benar. Arahkan ke bawah.”

Delon mengangguk penuh semangat. Namun, begitu air kembali menyembur, ia tanpa sengaja mengarahkannya ke samping.

Byur!

Airnya mengenai celana Rian. Rian sontak terdiam. Delon ikut terdiam. Astrid menutup mulutnya, menahan tawa.

“Delon...” Rian menatap putra kecil itu dengan wajah dibuat serius. “Kamu sengaja?”

“Enggak, Pa!” geleng Delon.

“Benar?”

Delon mengangguk cepat.

Rian menyipitkan mata, lalu tiba-tiba lelaki itu mengarahkan selang ke tanah di dekat kaki Delon.

Byur!

“PAPAAA!”

"Rasakan pembalasan Papa!" Rian tertawa jahat.

Tawa anak-anak kembali memenuhi halaman. Wulan ikut tertawa melihat tingkah mereka. Delon berlari menghindari semprotan Rian, Astrid dan Rana juga ikut berlarian di sekitarnya, mereka tertawa kegirangan.

Hingga akhirnya Delon berlari ke arah Wulan.

Byur!

Percikan air mengenai kaki Wulan. Wulan terkejut. Ia spontan mundur sambil menatap ujung selang itu.

“Pak Rian!”

Namun, bukannya langsung meminta maaf, ia malah tertawa melihat wajah Wulan yang terkejut.

“Wah, akhirnya kamu kena juga.”

Wulan menatapnya tidak percaya. “Bapak malah tertawa?”

“Ya, habis lucu.”

“Lucu dari mana? Rok saya jadi basah.”

Rian mengangkat kedua tangannya, berpura-pura menyerah. “Baiklah, baiklah. Aku minta maaf.”

Namun, saat Wulan kembali menyiram tanaman, Rian tanpa sengaja menggerakkan selang sedikit terlalu tinggi.

Semprotan air kembali mengenai lengan dan bagian depan pakaian Wulan.

“Pak Rian!”

Rian langsung menurunkan selangnya. “Aduh, maaf! Kali ini benar-benar nggak sengaja.”

Wulan memandangnya dengan mata menyipit. “Bapak yakin?”

“Yakin.”

“Jangan-jangan Bapak memang sengaja?”

Rian menahan senyum. “Kalau sengaja, dari tadi kamu sudah basah kuyup.”

“Jadi Bapak mengaku bisa membuat saya basah kuyup?”

“Eh, bukan begitu maksudku!”

Delon dan Astrid langsung tertawa mendengar perdebatan mereka.

“Papa kena marah Mama!” seru Delon.

“Papa nakal!” tambah Astrid.

Rana ikut menirukan, meskipun ucapannya belum terlalu jelas. “Papa... nakal!”

Rian menatap ketiga anak itu dengan wajah pasrah. “Hebat sekali! Sekarang semuanya kompak melawan Papa.”

Wulan akhirnya tertawa. Ia mengusap air yang menetes-netes dari lengannya.

Rian memperhatikan gerakannya beberapa saat. Ada sesuatu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.

Rambut Wulan yang biasanya diikat rapi kini sedikit berantakan dan basah karena terkena percikan air. Beberapa helai rambut menempel di dekat pipinya. Wajahnya tampak segar, sementara senyum yang masih tersisa membuatnya terlihat berbeda dari biasanya.

Rian terdiam. Selama ini, ia lebih sering melihat Wulan dalam kesibukannya mengurus anak-anak atau menyelesaikan pekerjaan rumah. Perempuan itu selalu tampil sederhana dan jarang menunjukkan sisi santainya.

Namun, siang itu, ketika Wulan tertawa lepas bersama anak-anak, Rian baru menyadari betapa manis senyumnya.

Bahkan, ia sempat terpaku ketika Wulan menoleh ke arahnya.

“Kenapa, Pak?” tanya Wulan heran.

Rian tersadar. “Enggak. Kenapa-napa?”

“Dari tadi Bapak lihatin saya terus.”

Rian buru-buru mengalihkan pandangan ke mobilnya. "Siapa yang liatin? Aku lagi lanjutin ini."

Rian berusaha melanjutkan pekerjaannya. Namun, entah mengapa, bayangan senyum Wulan masih tertinggal di pikirannya.

Ia menggeleng pelan. "Kenapa aku malah memperhatikan hal seperti itu?"

Rian mencoba menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Mungkin karena selama ini ia jarang melihat Wulan bercanda sebebas itu. Mungkin juga karena suasana siang ini memang menyenangkan.

Setidaknya, itulah alasan yang berusaha ia berikan kepada dirinya sendiri.

“Papa!” Suara Rana membuat Rian kembali menoleh.

“Iya, Sayang?”

“Main air lagi!”

Rian tersenyum dan mengangkat selang sedikit. “Sebentar. Mobil Papa belum selesai.”

“Sekarang!” Delon dan Astrid ikut merengek. “Papa, sebentar aja!”

Rian menghela napas dramatis. “Baiklah. Tapi setelah ini kalian harus ganti baju.”

Ketiga anak itu bersorak.

Wulan menggeleng sambil tersenyum melihat mereka.

Untuk beberapa saat, halaman rumah kembali dipenuhi tawa. Rian bermain air bersama anak-anak, sedangkan Wulan sesekali ikut tertawa ketika mereka saling menggoda.

Pemandangan itu terlihat begitu akrab. Seolah-olah mereka memang sebuah keluarga yang sedang menikmati hari libur bersama.

Namun, kehangatan itu tidak berlangsung lama.

Sebuah mobil memasuki halaman rumah.

Wulan yang sedang berdiri di dekat tanaman menoleh ke arah gerbang. Rian pun menghentikan gerakan tangannya.

Mobil itu berhenti. Pintu terbuka, dan Nyonya Ranti turun lebih dahulu. Seorang wanita muda yang anggun menyusul dari sisi penumpang. Clarissa Mahendra...

Langkah Ranti terhenti ketika melihat pemandangan di taman.

Putranya berdiri dengan pakaian sedikit basah, dikelilingi anak-anak yang tertawa riang. Wulan berada tidak jauh darinya, dengan rambut dan pakaian yang juga terkena percikan air.

Mereka tampak begitu dekat.

Senyum yang sempat menghiasi wajah Ranti perlahan menghilang. Tangannya mengencang menggenggam tas.

Bersambung...

1
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
✨Kayla Rane✨
Terimakasih atas dukungannya ♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!