Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Ujian Potensi Elemen
"Mmm, aku sudah tidak marah lagi padamu," sahut Chongyue sambil tersenyum tipis.
Beberapa saat kemudian, Kuda Terbang Surgawi yang membawa mereka akhirnya mendarat dengan sangat mulus di atas permukaan tanah.
Begitu tirai kereta disingkap, Chongyue orang pertama yang melangkah turun.
Seorang pelayan tua yang telah menunggu di luar seketika melotot kaget saat melihat gadis berparas cantik jelita keluar dari kereta tuannya. Dia bahkan mengucek kedua matanya berkali-kali, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di bawah tatapan penuh keterkejutan sang pelayan, Bei Mingye melangkah turun dari kereta sambil menggendong Huang di dalam pelukannya.
"Bawa anak ini dan mandikan sampai benar-benar bersih. Juga, ganti seluruh perlengkapan di dalam kabin kereta dengan yang baru," perintah Bei Mingye dengan nada dingin dan tegas.
Melihat keadaan Huang yang begitu lusuh, pelayan tua itu segera memahami alasan tuannya menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Hamba mengerti," sahutnya patuh sambil membungkuk. Setelah itu, dia segera memanggil beberapa pelayan lain untuk membawa Huang pergi.
Chongyue bahkan belum berbicara ketika Bei Mingye tiba-tiba meraih pinggangnya dan membawanya melesat pergi.
"Kita akan pergi ke mana?" tanyanya sambil mendongak menatap pria di sampingnya.
"Kau akan tahu nanti," Bei Mingye menanggapi datar.
Seandainya bukan karena mempertimbangkan perasaan Chongyue, dia pasti sudah melempar bocah lusuh itu keluar dari keretanya sejak tadi. Kabin keretanya kini dipenuhi aroma tidak sedap—entah sudah berapa lama bocah itu tidak mandi.
Melayang di udara tanpa perlindungan apa pun merupakan pengalaman pertama bagi Chongyue. Namun bukannya merasa takut, matanya justru berbinar penuh semangat.
"Bei Mingye, tingkatan kultivasi seperti apa yang harus kucapai agar bisa terbang bebas di udara sepertimu?" tanyanya antusias sambil menatap pemandangan di bawah.
Bei Mingye meliriknya sekilas dan saat melihat senyum di wajah Chongyue, ekspresi dinginnya perlahan melunak.
"Setidaknya kau harus mencapai tingkat delapan seniman bela diri," jawabnya tenang.
Chongyue mengangguk sambil menatap langit luas di hadapannya. "Saat ini aku baru berada di tingkat tiga. Sepertinya jalanku masih sangat panjang."
Bei Mingye tidak menanggapi lagi.
Sebulan yang lalu, ketika pertama kali bertemu Chongyue di pegunungan, gadis itu belum memancarkan aura seorang praktisi bela diri. Namun, hanya dalam waktu satu bulan, dia sudah berhasil menembus tingkat tiga.
Dengan kecepatan perkembangan seperti itu, mencapai tingkat delapan bukanlah sesuatu yang mustahil baginya.
Dari ketinggian, Chongyue memandangi hamparan bangunan dan pemandangan di bawah yang tampak semakin kecil.
Sekitar dua belas menit kemudian, Bei Mingye mendarat bersama Chongyue di sebuah istana yang megah.
Suasana istana itu tampak sepi dan sunyi. Ditambah kegelapan malam yang telah menyelimuti sekelilingnya, Chongyue bertanya-tanya apakah keberadaan mereka di tempat ini akan dianggap sebagai penyusup.
"Yang Mulia Raja Hantu?"
Sebuah seruan penuh keterkejutan tiba-tiba terdengar.
Chongyue mendongak dan melihat seorang pria tua berambut putih berdiri tegak di hadapan mereka. Wajahnya dipenuhi kerutan, seolah telah menjalani kehidupan selama ratusan tahun.
"Mmm," sahut Bei Mingye singkat sambil menatap pria tua itu dengan dingin. "Aku membawanya kemari untuk menguji potensi elemennya, tidak lebih."
Mendengar penegasannya, pria tua itu mengembuskan napas lega. Dia bahkan tanpa sadar menepuk dadanya sendiri.
"Kalau begitu, silahkan ikuti saya," ujarnya sambil berbalik dan berjalan menuju bagian dalam istana.
Chongyue yakin penglihatannya tidak keliru. Pria tua itu benar-benar terlihat lega setelah Bei Mingye menegaskan bahwa kedatangan mereka hanya bertujuan melakukan pengujian elemen.
Dia berbisik penasaran, "Bei Mingye, apa kau pernah membuat keributan di tempat ini sampai dia setakut itu padamu?"
Bei Mingye berpikir sejenak sebelum menjawab dengan santai, "Aku hanya pernah menghancurkan sebuah pilar di tempat ini."
"Menghancurkan pilar?!"
Pria tua yang berjalan di depan mereka tiba-tiba berhenti dan berbalik. Dia memelototi Bei Mingye dengan wajah penuh kemarahan.
"Itu adalah Pilar Batu Amethyst yang sangat langka! Bocah kurang ajar, tahukah kau berapa banyak tenaga dan bahan yang harus kukeluarkan untuk memperbaikinya?!" bentaknya sambil menunjuk Bei Mingye dengan jari gemetar.
Namun, di mata Bei Mingye, harta karun yang tak ternilai itu tampaknya hanya dianggap sebagai sebuah pilar biasa. Melihat sikapnya yang sama sekali tidak merasa bersalah, dada pria tua itu terasa semakin sesak menahan amarah.
"Memperbaikinya?" Bei Mingye mengangkat sebelah alisnya sambil menatap pria tua itu dengan senyum tipis. "Sepertinya sudah cukup lama berlalu. Apa kau ingin aku menghancurkannya sekali lagi?"
Mendengar ancaman santainya, wajah pria tua itu langsung berubah.
Dia menelan ludah dengan susah payah sebelum buru-buru berbalik dan mendorong pintu kayu raksasa di hadapan mereka.
"Silakan masuk," ujarnya cepat sambil mempersilakan mereka masuk.
Setibanya di dalam aula yang luas, pandangan Chongyue langsung tertuju pada deretan pilar tinggi yang memancarkan warna-warna berbeda.
"Kau datang ke sini untuk menguji potensi elemenmu, bukan?" tanya pria tua itu kepada Chongyue.
"Benar," Chongyue mengangguk.
Pria tua itu menunjuk sebuah pilar berwarna merah dan berkata, "Pergilah ke pilar berwarna merah itu, lalu tempelkan telapak tanganmu pada permukaannya."
Chongyue mengikuti instruksinya dan melangkah perlahan menghampiri pilar merah itu.
Saat mendongak, dia melihat ukiran lambang api terukir jelas pada permukaannya, menandakan bahwa pilar itu digunakan untuk menguji potensi elemen api.
Dia menempelkan telapak tangan pada permukaan pilar, memejamkan mata, lalu menenangkan pikirannya.
Bei Mingye berdiri tidak jauh di belakangnya, mengawasi dengan tenang.
Tepat ketika pria tua itu hendak menggeleng kecewa karena tidak melihat reaksi apa pun, pilar merah tiba-tiba memancarkan cahaya terang yang menyilaukan.
"Dia memiliki bakat mengendalikan elemen api!" seru pria tua itu dengan wajah penuh keterkejutan.
Chongyue membuka mata dan menatap pilar merah di hadapannya.
Pengendali elemen api?
Dia tidak merasa bangga. Setahunya, elemen api merupakan salah satu elemen yang paling umum di benua ini.
"Selanjutnya, mari kita uji potensi elemen tanahmu," ucap pria tua itu sambil menunjuk pilar berikutnya yang dihiasi ukiran bebatuan.
Chongyue mengangguk, lalu melangkah menuju pilar tersebut. Seperti sebelumnya, dia kembali menempelkan telapak tangannya pada permukaan pilar dan memejamkan mata.
Namun kali ini, pilar elemen tanah tetap diam tanpa memancarkan reaksi sedikit pun.
"Sepertinya kau tidak memiliki bakat pada elemen tanah," pria tua itu menggeleng pelan.
Chongyue membuka mata dan menatap pilar yang tetap redup. Namun, dia sama sekali tidak merasa kecewa.
Sejak awal, dia memang tidak berharap memiliki bakat pada elemen tanah.
"Kalau begitu, sekarang cobalah menguji elemen es," lanjut pria tua itu sambil mengarahkan tangannya ke pilar berikutnya.
Sebenarnya, dia ingin menjelaskan bahwa kebanyakan praktisi hanya mampu menguasai satu jenis elemen. Namun saat merasakan tatapan dingin Bei Mingye yang mengarah kepadanya, dia segera menelan kembali kata-katanya.
Berurusan dengan Raja Hantu memang bukan pekerjaan yang menyenangkan.
Chongyue kembali menempelkan telapak tangannya pada pilar elemen es. Sama seperti sebelumnya, pilar elemen es juga tidak menunjukkan reaksi sedikit pun.
"Elemen es pada dasarnya merupakan cabang dari elemen air. Sementara air dan api memiliki sifat yang saling bertentangan, sehingga sangat mustahil bagi seorang praktisi untuk menguasai elemen es dan api secara bersamaan," jelas Bei Mingye dari belakang. Setelah itu, dia mengarahkan dagunya ke pilar berikutnya. "Sekarang, pergilah ke pilar elemen kayu."
Chongyue mencerna penjelasannya dan merasa masuk akal. Karena itu, dia tidak terlalu memikirkan kegagalannya pada elemen es.
Di sisi lain, pria tua yang berdiri di samping mereka justru membelalakkan mata.
Siapa bilang mustahil menguasai elemen es dan api sekaligus? Aku sendiri merupakan pemilik dwi-elemen es dan api!
Namun, dia tidak berani menyanggah ucapan Bei Mingye.
Chongyue melangkah menghampiri pilar berwarna hijau, lalu menempelkan telapak tangannya dengan penuh harap.
Selama seorang praktisi memiliki kombinasi elemen kayu dan api, dia memenuhi syarat untuk menjadi seorang alkemis.
Meskipun di kehidupan sebelumnya dia mampu meracik berbagai obat, Chongyue tetap ingin menguasai ilmu alkimia di dunia kultivasi ini.
Namun, kenyataan kembali mematahkan harapannya. Pilar berwarna hijau itu tetap redup tanpa memancarkan sedikit pun cahaya, menunjukkan bahwa dia tidak memiliki potensi elemen kayu.
Chongyue menatapnya dalam diam.
Melihat hasilnya, pria tua itu tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Dia dapat melihat dengan jelas kekecewaan di wajah Chongyue.
Terlebih lagi, Yang Mulia Raja Hantu tampak sangat melindungi gadis itu. Jika dia sampai salah bicara dan membuat Chongyue menangis, bukan tidak mungkin seluruh pilar di ruangan ini akan dihancurkan oleh Bei Mingye.
Bei Mingye sendiri juga memperhatikan ekspresi Chongyue.
Sebenarnya, dia ingin menghiburnya. Namun karena tidak tahu harus berkata apa, dia akhirnya memilih tetap diam.
saya ingin sekali mencabik Xuan meng😡