Kisah seorang wanita sederhana yang mempunyai cinta begitu kuat pada atasannya, tetapi tidak pernah mendapatkan balasan. Namun, saat dia merasa lelah dan mendapatkan perhatian luar biasa dari seorang pria dan membuatnya ingin menjalin hubungan, pria yang pernah dicintainya malah menggoyahkan hatinya.
Siapakah yang akan dia pilih untuk menjadi pasangan hidupnya? Apakah cinta pertamanya? Ataukah pria yang mempunyai cinta begitu besar padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti suami istri
Apa kamu begitu menyukai Ravindra? Jangan terlalu menggantungkan harapan pada laki-laki sepertinya karena kita sekarang bagaikan bumi dan langit bila berada di sampingnya."
Aqila telah menyelesaikan ritual makannya. Dia pun beranjak dari kursi dan membawa piring kotor untuk di cuci.
"Lebih baik kamu segera tidur Al, bisa-bisa kamu bangun kesiangan besok. Kakak juga ingin langsung beristirahat di kamar!"
"Kakak selalu saja menghindar bila aku membicarakan masalah laki-laki. Mungkin kita memang miskin tapi Kakak berhak untuk bahagia dan aku lihat orang itu adalah laki-laki yang baik. Bahkan tadi dia mengatakan sangat menyukai Kakak, apalagi yang kakak tunggu.
"Apa kakak masih menunggu laki-laki yang kakak cintai itu?! Lebih baik Kakak lupakan saja dia dan membuka lembaran baru bersama Pak Ravindra!"
"Ternyata kamu masih mengingat cerita kakak yang dulu. Apakah kamu sangat menyukai dia? Memangnya apa yang tadi dia bicarakan denganmu? Apa benar dia bilang padamu sangat menyukai kakak? Apakah kakak bisa bahagia bersamanya dengan melupakan laki-laki yang telah lama kakak cintai?" Aqila yang sudah kembali duduk di kursi, mengamati mimik muka Aldo dan menunggu jawabannya.
"Dia tadi berterus terang padaku bahwa dia sangat menyukai Kakak dan meminta ijinku untuk memacari Kakak. Tidak ada laki-laki sebaik dia? Meski dia terlihat sangat kaya, tapi dia tidak pernah menghina kita. Lebih baik Kakak menerima cintanya dan melupakan laki-laki yang tidak jelas itu. Setahun sudah berlalu tapi Kakak belum memperkenalkan dia padaku, bukankah itu berarti cinta Kakak bertepuk sebelah tangan?"
"IIssh... tahu apa kamu, apa kamu ingin menghina kakak sekarang dengan mengatakan bahwa kakak sampai sekarang tidak laku?" Aqila mencubit lengan Aldo yang membuatnya langsung meringis kesakitan.
"Auuww... apaan sih Kak, bukankah itu kenyataannya? Kakak bisa-bisa menjadi perawan tua bila tidak menerima cinta pak Ravindra. Pertimbangkan kata-kataku ini kak!" Aldo bangkit dari kursi dan mulai meninggalkan Aqila yang masih terdiam di meja makan.
"Kenapa kamu malah seperti seorang guru yang sedang menceramahi muridnya yang nakal, dasar...! Aqila hanya bisa berbicara di dalam hati karena Aldo sudah menghilang dari pandangannya.
******
Pukul tujuh pagi, Ravindra sudah sampai di depan rumah Aqila, saat ini dia memakai setelan kemeja abu-abu dan jas berwarna hitam serta dasi berwarna biru dengan sepatu pantofel yang berkilat membuatnya terlihat semakin gagah. Dengan rambut klimis memakai pomade dan di sisir dengan rapi, tentu saja menambah ketampanannya.
Mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumah, Aqila melihat dari jendela dengan menyingkap korden pada kaca bening di samping pintu. Senyum manis langsung tampak dari sudut bibirnya saat melihat Ravindra sudah datang menjemputnya. Perlahan Aqila pun membuka pintu dan melihat pria itu yang sudah berjalan ke arahnya dengan senyuman khasnya.
"Pagi, Sayang! Bagaimana tidurmu semalam? Apa kamu memimpikan aku?" Ravindra menatap Aqila dengan sorot mata penuh cinta.
"Pagi juga. Pagi-pagi jangan bersikap lebay. Aku sedang sarapan, apa bapak sudah sarapan?" Aqila berlalu pergi meninggalkan Ravindra yang masih berada di depan pintu, karena ingin meneruskan ritual makan paginya.
Melihat Aqila yang cuek padanya, membuat Ravindra mengerutkan keningnya. Buru-buru dia mengikuti arah kaki wanita itu yang menuju ke ruang makan.
"Kenapa kamu tidak menyuruhku masuk ke dalam? Seharusnya kamu memuliakan kekasih yang sedang bertamu, lagipula aku datang kan untuk mengantarkanmu. Kenapa kamu tidak mencoba untuk lebih bersikap manis kepadaku? Apa semalam aku melakukan kesalahan?"
Ravindra kini duduk di kursi yang berada di sebelah Aqila, seraya mengamati wajah manis kekasihnya yang mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Aku yakin Bapak pasti belum sarapan, lebih baik makan saja sekalian di sini! Anggap saja rumah sendiri karena Bapak bukanlah orang asing, entah apa yang Anda bilang pada adikku hingga membuatnya sangat menyukaimu. Bahkan semalam dia lebih membelamu daripada aku kakaknya sendiri. Baru sehari saja kamu bertemu dengannya tapi bisa membuat Aldo cenderung membela dan menyukaimu!"
"Oh...jadi kamu ngambek gara-gara itu? Harusnya kamu bersyukur karena Aldo menyetujui hubungan kita, adik kamu memang pandai menilai orang. Dia pasti tau bahwa aku adalah laki-laki yang bisa membahagiakanmu, bukankah ini adalah sebuah kabar baik? Aku ingin sarapan, jadi tolong ambilkan nasi untukku!" Ravindra menyerahkan piring kosong yang ada di mejanya kepada Aqila sambil tersenyum.
Dengan muka sedikit di tekuk dan bibir cemberut, Aqila dengan terpaksa mengambilkan nasi dan sambal goreng kentang serta lauk ayam goreng dan menyerahkannya kepada Laki-laki yang masih tersenyum manis padanya. "Manja banget sih, kenapa nggak ambil saja sendiri!"
"Bukankah sekarang ini kita lebih terlihat seperti sepasang suami istri, rasanya aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya aku saat menjadi suamimu. Apa kamu tidak berpikir sepertiku?
"Baru juga satu hari kita berhubungan, tapi Bapak sudah berpikir terlalu jauh. Lebih baik Bapak cepat makan agar kita bisa segera berangkat ke kantor!"
"Baiklah...! Sepertinya disini cuma aku saja yang merasa sangat bahagia menjadi kekasihmu ! Apa ada laki-laki yang kamu cintai?"
Ravindra mengambil satu sendok makanan dan menyuapkannya ke dalam mulutnya. Netra hitamnya sedikit berputar sambil menikmati makanan yang ada di dalam mulutnya. " Masakan kamu enak, belum pernah aku makan masakan rumahan seenak ini!"
"Gombal! Memangnya ibumu tidak pernah memasakkan anaknya di rumah? Apa karena di rumah Bapak terlalu banyak asisten rumah tangga?"
"Iya, dari dulu ibuku tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur karena semuanya sudah di kerjakan oleh para pembantu. Lagipula ibuku selalu sibuk mengurus bisnis butiknya, dia tidak pernah suka berdiam diri di rumah. Bahkan dia menyerahkanku sepenuhnya pada para asisten rumah tangga yang ada di rumah!" Ravindra bercerita tanpa ekspresi.
"Oh... Maafkan aku bila pertanyaanku membuatmu merasa sedih. Bukan maksudku untuk membuatmu sedih" Aqila mengusap lembut lengan kekar Ravindra.
Tangan Ravindra kini sedang memegangi punggung tangan Aqila yang terus mengusap lengannya, "Tenang saja, ini sudah biasa bagiku. Aku suka kamu yang seperti ini karena kamu lebih perhatian kepadaku."
Aqila melepaskan genggaman tangan Ravindra dan bangkit dari kursi membawa piringnya yang kotor. "Bapak lanjutkan saja sarapannya, saya mau bersiap-siap dulu!" Setelah mencuci piring, Aqila melangkah masuk ke dalam kamar. Sedangkan Ravindra buru-buru menghabiskan makanannya.
Sepuluh menit kemudian, Aqila keluar dari kamar dengan riasan tipis di wajahnya sambil membawa tas kerjanya. Melihat Ravindra sudah menyelesaikan ritual makan paginya, Aqila langsung berbicara kepada laki-laki yang tengah memperhatikan penampilannya.
"Apa kita bisa berangkat sekarang, aku tidak mau kita terlambat ke kantor?"
"Tentu saja wanita manis, mari kita berangkat!" Ravindra bangkit dari kursi seraya langsung meraih pinggang ramping Aqila dan menghelanya untuk berjalan keluar dari rumah.
"IIih... apaan sih Pak main peluk-peluk segala!" Aqila mencoba melepaskan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya, namun usahanya sia-sia karena Ravindra malah semakin mengeratkan pelukannya. " Lepasin Pak, malu tahu nggak di lihatin orang!
"Kalau ada orang yang melihat kemesraan kita, mereka pasti merasa iri melihat kita yang serasi. Jadi biarkan saja semua orang mengetahui hubungan kita agar tidak ada lelaki yang mencoba menggodamu karena mereka mengetahui hubungan kita."
Ravindra membukakan pintu untuk Aqila dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil, ia pun mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita yang terlihat tengah mengamati mobilnya.
"Jalan, Pak Danang!"
Mendengar perintah dari majikannya, Pak Danang menganggukkan kepala, lalu mulai mengemudikan mobil BMW Series 5 yang hari ini di bawanya sesuai perintah majikannya
Aqila mengamati setiap sudut mobil mewah milik Ravindra dan berdecak kagum dengan mobil mewah yang saat ini membawanya ke kantor.
Sbenarnya berapa mobil yang dia miliki? Apa setiap hari dia berganti-ganti mobil seperti ini? Aqila hanya bisa bertanya dalam hati karena tidak ingin mempermalukan dirinya di depan laki-laki di sampingnya.
"Tidak ada lelaki yang akan menggodaku karena aku tidak secantik itu! Bapak saja yang terlalu lebay."
Dengan muka di tekuk, Aqila merapikan roknya yang mulai tersingkap sedikit ke atas paha sehingga memperlihatkan kulit putih mulusnya.
Ravindra menelan salivanya saat melihat pemandangan indah di depannya, dia pun memalingkan wajahnya untuk menetralkan jantungnya yang berdegup kencang melihat Aqila yang seksi.
"Sayang, lain kali kamu pakai bawahan yang lebih panjang dari itu ya! Aku benar-benar tidak ingin ada lelaki yang jelalatan matanya saat melihat penampilanmu yang seksi seperti ini!"
"Bukannya mata Bapak sendiri yang jelalatan daritadi? Lagipula selama ini penampilan saya saat bekerja seperti ini dan tidak ada yang komplain.
Mendapat kata-kata menohok dari Aqila, tentu saja membuatnya tidak bisa berkata-kata karena semua yang di katakan wanita yang berada di sampingnya adalah benar. "Ehm...aku hanya ingin menjaga kekasihku, apa itu salah?"
"Tentu saja salah karena aku tidak suka hidup dengan banyak aturan, karena selama ini aku dan Aldo selalu hidup mandiri tanpa banyak aturan. Jadi tolong Bapak mengerti dan memahaminya! Aku tidak ingin membuat suasana pagi yang cerah ini menjadi kelabu karena perdebatan yang tidak penting ini, jadi lebih baik kita hentikan saja pembahasan kita."
"Baiklah, aku pun tidak ingin merusak mood pagimu. Jadi jangan marah-marah terus seperti itu, bisa-bisa kamu cepat tua nanti!" Ravindra menggenggam erat punggung tangan Aqila lalu mengusapnya dengan lembut untuk mencoba memadamkan emosi wanita itu.
Aqila mencebik dengan mengerucutkan bibirnya, namun usapan lembut Ravindra tentu saja berhasil membuatnya lebih tenang. Setelah 20 menit berlalu, kini mobil mewahbitu telah berbelok di basemen perusahaan.
Setelah memarkirkan mobil, pak Danang buru-buru keluar membukakan pintu untuk majikannya. "Silahkan, Tuan !"
Ravindra turun dari mobil, lalu mengulurkan tangan kanannya pada Aqila yang masih berada di dalam mobil. "Ayo, Sayang. Kita sudah sampai!"
Merasa tak enak untuk menolak bantuan dari Ravindra, akhirnya Aqila mengulurkan tangannya lalu keluar dari mobil. "Lebih baik Bapak segera berangkat bekerja! Bukankah hari ini adalah hari pertama Bapak bekerja karena tidak mungkin Bapak berpenampilan serapi ini hanya untuk mengantarku bukan?Aku masuk saja ke dalam sendirian!"
"Kamu memang sangat cerdas, aku memang akan kembali mengurus perusahaan yang ada disini. Jadi aku pun harus segera berangkat bekerja. Jangan lupa pulang nanti aku akan menjemputmu, oke!"
Ravindra dengan cepat mencium kening Aqila, lalu masuk ke dalam mobil dengan mengerlingkan matanya. "Jaga diri baik-baik ya Sayang."
Meski sedikit terkejut, namun Aqila mengulum senyum pada lelaki yang telah resmi menjadi kekasihnya. Perlakuan manis dari kekasihnya tentu saja membuatnya berbunga-bunga.
Tanpa di sadarinya, ada sosok laki-laki yang sedang menatapnya tajam dan mengepalkan kedua tangannya. Lalu meghantamkan tangannya pada kemudi di depannya. Dengan rahang mengeras dan kilatan api di matanya, dia pun buru-buru keluar dari mobilnya untuk mengejar Aqila yang sudah sampai di loby perusahaan.
di tunggu kelanjutannya yaaaa
semangat💪💪
oiya mom aku aga curiga sm ardhan tunangan zelyn.. jgn" dia tlh brsm wanita lain hemmm lnjutt mba dian
sprtinya gk hdi nikah sm Ardan ... lnjuttt mba.. up yg bnyk hee