"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 24
Di dalam kamar utama yang sunyi senyap, Kirana memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengatur ritme napasnya sepelan mungkin, berpura-pura telah tertidur pulas di bawah pengaruh obat penenang. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang sangat berat terdengar memasuki kamar.
Arga melangkah perlahan mendekati sisi ranjang. Pria itu berdiri menjulang di samping istrinya, menatap wajah Kirana dengan sorot mata yang menggelap namun penuh kemenangan.
"Apa kamu sungguh sudah tertidur lelap, istriku yang malang?" bisik Arga dengan nada yang sangat rendah.
Kirana tidak memberikan respons sedikit pun. Ia membiarkan tubuhnya rileks, menjaga agar tidak ada satu pun otot wajahnya yang menegang merespons suara pria itu.
"Kamu beruntung karena kamu tidak bisa melihat badai yang sedang menghantam perusahaanmu hari ini, Sayang. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku akan memastikan semua kekayaan ini tetap aman di dalam genggamanku," gumam Arga seraya merapikan letak selimut yang menutupi dada istrinya. "Tidurlah yang nyenyak. Aku harus pergi keluar sebentar untuk menyingkirkan hama-hama yang mencoba merusak kedamaian rumah tangga kita."
Pria itu mengecup kening Kirana sekilas, lalu membalikkan badannya dan melangkah keluar dari kamar. Suara pintu kamar yang dikunci dari luar terdengar memecah keheningan, disusul oleh deru mesin mobil mewah Arga yang melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah.
Begitu suara mesin itu menghilang di kejauhan, Kirana langsung membuka matanya. Tidak ada lagi kepura-puraan. Wajahnya dipenuhi oleh ketegangan yang teramat sangat.
Kirana berlari menuju ruang kerja suaminya yang lupa dikunci kembali oleh Arga. Ia segera mengangkat gagang telepon rumah dengan tangan yang bergetar hebat. Ia menekan nomor darurat rahasia milik Pak Darmawan.
"Halo? Paman? Ini aku, Kirana! Katakan padaku kalau rencana kita membuahkan hasil! Arga baru saja pergi meninggalkan rumah dengan wajah yang sangat menyeramkan!" seru Kirana tanpa basa-basi lagi.
Hening sejenak di ujung telepon, sebelum akhirnya terdengar helaan napas panjang yang sarat akan keputusasaan dari pengacara tua tersebut.
"Nona Kirana... Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Rencana Eksekusi Tahap Kedua kita tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Kita justru masuk ke dalam perangkap yang sengaja disiapkan oleh suami Anda."
Dada Kirana terasa sesak seketika. "Perangkap apa maksud Paman?! Bukankah tim peretas kita sudah berhasil memindahkan dana operasional itu ke rekening milik Rena?!"
"Dana yang berhasil kita pindahkan itu hanya dana kosong yang sengaja dibiarkan tidak terlindungi oleh Arga sebagai umpan, Nona! Pada saat yang bersamaan dengan aksi peretasan kita, Arga membawa dokumen fisik yang Anda tanda tangani tempo hari ke hadapan dewan direksi tertinggi dan pihak perbankan nasional!"
"Dokumen proyek pembangunan mall yang dia suruh aku tanda tangani saat aku baru saja buta itu? Apa hubungannya dengan semua kekacauan ini, Paman?!"
"Itu sama sekali bukan dokumen proyek pembangunan mall, Nona! Arga sudah memalsukan lembar isinya dengan sangat rapi dan rahasia. Dokumen itu adalah surat kuasa mutlak yang menyerahkan seluruh hak kepemilikan saham mayoritas Larasati Corp, beserta semua aset properti dan rekening pribadi Anda, secara legal dan sah di mata hukum kepada Arga Dirgantara!"
"Apa?! Bagaimana mungkin pihak bank dan notaris menyetujui pemindahan aset sebesar itu tanpa kehadiranku secara langsung?!" teriak Kirana, air matanya mulai menggenang akibat rasa frustrasi yang memuncak.
"Arga menyuap mereka semua dengan uang tunai yang sangat besar, Nona! Dan ironisnya, aksi peretasan yang baru saja kita lakukan justru dijadikan alasan utama oleh Arga untuk memicu protokol darurat keamanan perusahaan. Dia mengklaim di hadapan para direksi bahwa perusahaan sedang diserang secara masif oleh pihak luar, sehingga seluruh aset harus segera diamankan dan dialihkan ke bawah nama pribadinya demi menyelamatkan Larasati Corp!"
Tubuh Kirana merosot perlahan, ia terduduk lemas di atas kursi kerja suaminya. "Jadi... maksud Paman... dia sudah merampas semuanya? Secara legal?"
"Anda telah kehilangan segalanya, Nona Kirana. Perusahaan warisan ayah Anda, rumah yang saat ini Anda tempati, sampai simpanan pribadi Anda di bank... semuanya sekarang adalah milik Arga Dirgantara secara sah di mata hukum. Kita tidak punya kekuatan finansial sepeser pun untuk melawannya di pengadilan saat ini."
"Pasti ada celah hukum yang bisa kita gunakan untuk membatalkan dokumen keparat itu, Paman! Katakan padaku apa yang harus aku lakukan! Aku tidak bisa membiarkan pengkhianat itu menang begitu saja!"
"Akan sangat sulit, Nona. Surat itu ditandatangani oleh Anda sendiri. Jika kita menggugatnya ke pengadilan sekarang, Arga sudah mempersiapkan kesaksian medis dari Dokter Alibie. Dokter itu akan bersaksi di bawah sumpah bahwa Anda mengalami gangguan kejiwaan dan halusinasi akut akibat kebutaan yang Anda derita. Anda akan dinilai tidak kompeten secara hukum, dan Arga akan ditunjuk oleh negara sebagai wali sah Anda. Ini jalan buntu yang sangat mematikan."
Air mata Kirana akhirnya tumpah membasahi pipinya. Sandiwaranya menahan rasa sakit, dan penahanannya di rumah ini terasa sia-sia. Arga ternyata berada sepuluh langkah di depannya. Tidak ada yang gratis dalam pembalasan dendam ini; Kirana harus merasakan kehilangan seluruh hartanya terlebih dahulu untuk menyadari betapa berbahayanya pria yang ia nikahi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Paman? Aku tidak punya apa-apa lagi," isak Kirana.
"Kita harus mundur selangkah untuk menyusun ulang strategi, Nona. Dan yang lebih mengkhawatirkan... Saya menerima informasi bahwa Arga mulai mengerahkan orang-orang bayarannya untuk melacak Kacul dan Bi Titin yang sudah kita sembunyikan. Dia ingin membersihkan semua jejak kejahatannya. Saya harus segera memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman. Saya mohon, Nona, jangan melakukan tindakan yang gegabah hari ini. Bertahanlah demi nyawa Anda sendiri."
"Aku mengerti, Paman. Selamatkan mereka berdua. Jangan hiraukan aku," bisik Kirana sebelum meletakkan gagang telepon tersebut dengan tangan gemetar.
Di tengah isak tangis keputusasaannya, sebuah memori tiba-tiba menghantam benak Kirana dengan sangat keras.
'Aku harus pergi keluar sebentar untuk menyingkirkan hama-hama yang mencoba merusak kedamaian rumah tangga kita.'
Mata Kirana membelalak ngeri mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Arga sebelum pergi. Hama yang dimaksud Arga bukanlah para investor atau dewan direksi. Hama itu adalah Tasya!
Dengan panik, Kirana kembali mengangkat gagang telepon dan memutar nomor ponsel sahabatnya. Nada sambung berbunyi berulang kali, membuat jantung Kirana seakan ingin meledak.
"Halo? Kirana? Bagaimana kamu bisa meneleponku lagi? Apa suamimu yang gila itu sudah pergi?" sapa Tasya dari seberang panggilan, diiringi suara deru mesin mobil yang melaju kencang.
"Tasya! Tolong dengarkan aku! Di mana posisi kamu sekarang?!"
"Aku lagi nyetir mobilku menuju markas kepolisian pusat, Kirana! Aku nggak peduli sama larangan kamu! Arga itu psikopat yang sangat berbahaya. Aku bawa rekaman suara percakapan kita tadi siang sebagai bukti awal untuk jeblosin dia ke penjara!"
"Tasya, putar balik arah mobil kamu sekarang juga! Jangan pernah pergi ke kepolisian! Rencanaku gagal total! Arga sudah berhasil merampas semua hartaku secara legal, dan sekarang dia sedang memburu siapa pun yang tahu kebusukannya!"
"Merampas semua hartamu?! Gila, pria itu benar-benar iblis! Makanya aku harus menghentikannya hari ini juga, Kirana! Aku nggak akan biarin sahabatku menderita sendirian di bawah kendali seorang pembunuh!"
"Kamu nggak mengerti seberapa berbahayanya Arga, Tasya! Dia nggak akan segan-segan ngebunuh kamu! Aku mohon, putar balik mobil kamu dan cari tempat keramaian untuk sembunyi!" jerit Kirana memperingatkan.
"Kamu terlalu meremehkan aku, Kirana. Aku—" Suara Tasya tiba-tiba terputus, digantikan oleh nada kebingungan. "Tunggu sebentar... Kenapa ada mobil SUV hitam besar di belakangku yang nyetirnya ugal-ugalan banget? Dia terus ngasih lampu jauh ke arah spionku, mataku sampai silau."
"Injak pedal gas kamu, Tasya! Jangan biarkan mobil itu mendekat! Itu Arga! Dia datang untuk celakain kamu!" teriak Kirana sekuat tenaga, air matanya tak terbendung lagi.
"Celakain aku? Di tengah jalan tol yang ramai begini? Dia nggak akan berani, Kirana. Lagipula... Ya Tuhan! Dia nabrak bumper belakang mobilku kencang banget!"
Terdengar suara benturan logam yang sangat memekakkan telinga dari seberang telepon, disusul oleh jeritan panik Tasya.
"Bertahanlah, Tasya! Cari pintu keluar tol terdekat! Bunyikan klakson kamu panjang-panjang minta tolong!"
"Mobilku hilang kendali, Kirana! SUV itu terus dorong aku dari belakang! Dia mau jepit mobilku ke arah pembatas beton jembatan! Remnya blong! Kirana, tolong aku! AAAA!!!"
BRAKKK!!! CRASH!!!
Suara ledakan logam yang beradu dengan pembatas jalan, decitan ban yang melengking panjang, dan pecahan kaca yang berserakan seketika memenuhi telinga Kirana.
"Tasya?! Tasya, jawab aku! Tasya!!!" jerit Kirana secara histeris, tangannya mencengkeram gagang telepon dengan putus asa.
Hanya terdengar suara statis, desis asap dari radiator yang pecah, dan sayup-sayup suara sirine dari kejauhan di ujung telepon. Hening yang sangat menyiksa merayap selama beberapa detik.
Kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berjalan santai mendekati reruntuhan logam tersebut, disusul oleh suara seseorang memungut ponsel yang terjatuh di atas aspal.
"Halo? Sahabatmu sepertinya butuh ambulans secepatnya, Sayang." Suara bariton Arga yang sangat tenang, dingin, dan dipenuhi oleh kepuasan mengalir keluar dari gagang telepon, menusuk langsung ke dalam jantung Kirana. "Sayang sekali polisi jalan raya keburu datang, jadi aku tidak bisa melihat kondisinya lebih lama. Tapi jangan khawatir, lain kali, kalau kamu mau bermain-main di belakangku, pastikan kamu siap membayar harganya dengan nyawa orang-orang yang kamu sayangi."
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,