Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.
Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.
Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.
Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.
Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : KEDATANGAN CLARISSA DAN KECEMBURUAN YANG TERSEMBUNYI
...BAB 24...
...KEDATANGAN CLARISSA DAN KECEMBURUAN YANG TERSEMBUNYI...
Hari libur yang semula dipenuhi tawa itu kini mulai berubah menjadi awal dari ketegangan baru.
Mereka terlihat begitu akrab. Terlalu akrab, menurutnya.
Terlebih lagi, Rian tampak jauh lebih santai daripada ketika menghadiri acara keluarga atau bertemu orang-orang yang dianggapnya sederajat.
Ada amarah yang mendadak naik ke dadanya, tetapi ia menahannya mati-matian. Ia tidak ingin memperlihatkan emosinya di depan Clarissa.
Sementara Clarissa memandang pemandangan itu dengan ekspresi terkejut sekaligus penasaran.
Rian yang menyadari kedatangan mereka segera meletakkan selang.
“Bunda?” Ia berjalan menghampiri ibunya. “Bunda kok nggak bilang mau datang hari ini?”
Ranti memaksakan senyum. “Memangnya Bunda harus membuat janji dulu kalau mau berkunjung ke rumah anak sendiri?”
“Bukan begitu. Rian cuma kaget.”
Rian kemudian melirik wanita di samping ibunya. “Dan ini..."
"Ini Clarissa,” jawab Ranti. “Teman Bunda yang pernah Bunda ceritakan.”
Clarissa tersenyum sopan. “Selamat siang, Rian.”
“Selamat siang,” balas Rian.
Namun, sebelum mereka melanjutkan percakapan, Rana berlari menghampiri Rian.
“Papa!” teriaknya.
Rian spontan mengangkat putrinya. “Kenapa, Sayang?”
“Mau main air lagi!”
“Nanti, ya. Papa kedatangan tamu dulu.”
Clarissa memperhatikan interaksi itu. Senyumnya masih terjaga, tetapi pandangannya kemudian beralih kepada Wulan.
Perempuan itu sedang mengusap air dari lengannya sambil memanggil Delon dan Astrid agar segera masuk untuk berganti pakaian.
"Rana, ayo kamu juga ganti baju." panggilnya.
Rana pun segera turun dari gendongan Rian lalu berlari menghampiri Wulan. Ketiga anak itu lalu masuk rumah mengikuti Wulan, untuk berganti pakaian.
Ranti melihatnya. Dan semakin lama ia memperhatikan, semakin sulit baginya menyembunyikan perasaan tidak senang.
Kedekatan itu bukan lagi sekadar Rian bersikap baik kepada seorang pekerja. Setidaknya, begitulah yang mulai ia pikirkan.
“Rian,” ucap Ranti akhirnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. “Bunda datang bersama Clarissa karena ada sesuatu yang ingin Bunda bicarakan denganmu.”
Rian menghela napas pelan. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan itu.
Namun, sebelum sempat menjawab, matanya tanpa sadar kembali melirik Wulan yang sedang menggandeng tangan anak-anak.
Senyum perempuan itu masih terlihat samar. Rian segera mengalihkan pandangan.
Sementara itu, Ranti menyaksikan gerakan kecil tersebut dengan hati yang semakin panas.
Ia masih berusaha menahan amarah yang sejak tadi bergejolak di dalam dada.
Pemandangan Rian yang bermain air bersama anak-anak itu terus terbayang di benaknya.
Terlebih lagi, sikap Rian terhadap Wulan. Perhatian kecil yang diberikan pria itu terlihat begitu alami. Dan justru itulah yang membuat Ranti semakin tidak nyaman.
Di ruang tamu, Clarissa duduk di sofa bersama Ranti.
Setelah Wulan turun dari kamar Rana, untuk mengganti pakaian anak itu, Ranti memanggilnya untuk membuatkan minuman dan cemilan untuk Clarissa.
"Baik Bu..." Wulan mengangguk dan segera ke dapur.
Tak lama kemudian, Rian pun turun dari kamarnya yang kini sudah berganti pakaian, lalu ia duduk di seberang mereka.
Lalu Wulan datang membawa nampan berisi teh dan beberapa camilan.
“Silakan, Bu. Silakan, Bu Clarissa.”
“Terima kasih,” jawab Clarissa.
Wulan meletakkan cangkir di atas meja, lalu hendak kembali ke dapur.
Namun sebelum Wulan pergi, Rian memanggilnya. “Wulan.”
Wulan menoleh. “Iya, Pak?”
“Kamu sudah makan siang?”
“Sudah, Pak.”
“Benar?”
Wulan sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
“Iya, Pak. Tadi saya makan bersama anak-anak.”
Rian mengangguk. “Baguslah. Jangan sampai kamu lupa makan.”
“Baik, Pak.”
Percakapan singkat itu tidak luput dari perhatian Ranti. Jemarinya yang memegang cangkir teh mengencang.
Sementara Clarissa hanya memperhatikan dalam diam. Ia belum mengenal Rian dengan baik. Namun, ia bisa melihat bahwa pria itu tampak cukup perhatian kepada Wulan.
Bukan perhatian yang dibuat-buat. Melainkan sesuatu yang seolah sudah menjadi kebiasaan.
Setelah Wulan pergi, Ranti meletakkan cangkirnya.
“Rian, Bunda datang ke sini bukan sekadar untuk berkunjung.” ujarnya dengan mimik serius.
Rian menghela napas pelan. “Aku sudah menduganya.”
“Bunda ingin kamu mengenal Clarissa lebih dekat. Dia anak yang baik, pendidikannya bagus, keluarganya juga jelas. Bunda yakin kalian bisa cocok.”
Rian melirik Clarissa, lalu kembali menatap ibunya. “Bunda, aku sudah bilang sebelumnya. Aku belum ingin memikirkan pernikahan lagi.”
“Justru karena itu kamu harus mulai membuka hati.” sela Ranti.
“Bunda...”
“Rian,” potong Ranti, kali ini dengan nada lebih tegas. “Kamu tidak bisa terus seperti ini.”
Clarissa menunduk sedikit, merasa tidak enak karena menjadi bagian dari percakapan yang mulai terasa serius.
Rian mengusap wajahnya..“Aku menghargai niat Bunda. Tapi aku tidak mau memberikan harapan kepada Clarissa kalau aku sendiri belum siap.”
Ranti menahan napas. Lalu matanya tanpa sadar melirik ke arah pintu dapur. Ke arah tempat Wulan tadi menghilang.
“Bunda hanya tidak ingin kamu salah memilih orang lagi,” ucapnya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
Rian mengernyit. “Maksud Bunda?”
“Sudahlah. Nanti kita bicarakan lagi.” Ranti mengalihkan pandangan.
Ia tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan membuat Clarissa merasa tersinggung.
Namun, dalam hati, ia semakin yakin bahwa kedekatan Rian dengan Wulan harus segera dihentikan sebelum berkembang menjadi sesuatu yang lebih jauh.
Di sisi lain, Clarissa mulai memahami bahwa kunjungan siang itu bukan sekadar pertemuan biasa.
Ada sesuatu di rumah ini yang belum ia ketahui. Dan sesuatu itu tampaknya berkaitan erat dengan seorang wanita bernama Wulan.
Di dapur, Wulan sedang mencuci beberapa peralatan yang digunakan anak-anak bermain air.
Ia masih bisa mendengar suara percakapan dari ruang tamu, meskipun tidak jelas seluruhnya.
Wulan menghela napas pelan. Ia tahu Ranti tidak menyukainya.
Dan melihat kedatangan Clarissa bersama wanita itu, Wulan semakin menyadari bahwa Rian memang sedang didorong untuk menikah lagi.
Wulan menunduk, memandangi tangannya yang basah.
Baguslah kalau Rian sudah menemukan seseorang yang cocok, pikirnya. Dia memang pantas mendapatkan pasangan yang lebih baik.
Ia mencoba menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Bagaimanapun, dirinya hanyalah seorang pengasuh yang bekerja di rumah itu. Ia tidak punya alasan untuk berharap lebih.
*****
Sementara itu, di ruang tamu, Ranti masih duduk dengan senyum yang dipaksakan.
Ia menatap Rian, lalu Clarissa. Dalam hati, ia sudah menyusun rencana. Kunjungan hari ini hanyalah awal. Ia akan memastikan putranya mengenal Clarissa lebih dekat.
Dan ia tidak akan membiarkan kedekatan Rian dengan Wulan menjadi penghalang.
Clarissa sesekali melirik ke arah dapur. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara Rian memperlakukan Wulan.
“Rian,” panggilnya akhirnya. “Wulan sudah lama bekerja di sini?”
“Belum terlalu lama,” jawab Rian santai.
“Oh, begitu.” Clarissa tersenyum kecil. “Tapi sepertinya Rana sangat dekat dengannya.”
Rian mengangguk. “Iya. Anakku memang dekat dengan Wulan.”
“Termasuk kamu?” celetuk Ranti tiba-tiba.
Rian langsung menoleh kepada ibunya. “Bunda, maksudnya apa?”
“Tidak apa-apa. Bunda cuma bertanya.”
Clarissa terdiam. Ia bisa merasakan ada ketegangan di antara ibu dan anak itu, meskipun tidak tahu apa penyebabnya.
Tak lama kemudian, Wulan keluar dari dapur membawa segelas air putih untuk Rana yang baru saja turun dari lantai atas.
“Ini, Non Rana. Minum dulu, ya.”
Rana menerima gelas itu, lalu duduk di samping Rian. “Papa, nanti main sama Mama Wulan lagi, ya?”
Rian tersenyum. “Iya, nanti.”
Senyum Clarissa perlahan memudar ketika mendengar panggilan itu. Mama Wulan?
Ia menatap Rian, lalu Wulan yang berdiri tak jauh dari mereka.
Sementara Ranti langsung berdeham pelan. “Rana, sudah Nenek katakan panggil Wulan, Bibi. Jangan sembarangan memanggil orang.”
Rana mengerucutkan bibirnya. “Tapi Rana suka panggil Mama Wulan.”
“Rana,” tegur Ranti.
“Sudahlah, Bun,” sela Rian. “Dia masih kecil. Biarkan saja.”
Ranti terdiam, tetapi sorot matanya semakin tajam.
Clarissa menunduk, menyembunyikan kegelisahan yang mulai tumbuh dalam hatinya.
Kini ia semakin yakin bahwa ada sesuatu yang membuat hubungan Rian dan Wulan terasa berbeda.
Dan ia mulai bertanya-tanya, apakah dirinya benar-benar datang ke rumah itu pada waktu yang tepat.
Bersambung...