Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Gelisah di Meja Kafe dan Pengakuan yang Terabaikan
Mobil sedan hitam milik Reno tidak langsung mengarah ke kediaman Raisha. Kendaraan itu membelah kemacetan sore dan berbelok ke area parkir sebuah kafe berkonsep glasshouse yang cukup tenang di daerah Jakarta Selatan.
Reno membukakan pintu untuk Raisha, membimbingnya masuk ke dalam area kafe yang beraroma sedapan kopi dan panggangan roti. Di sudut dekat jendela besar yang menghadap ke taman kecil, seorang wanita berambut sebahu dengan senyum hangat sudah melambaikan tangan. Dialah Sisil, kekasih Reno yang sudah menjalin hubungan cukup lama dengannya.
"Halo, Kak Raisha! Akhirnya ketemu lagi," sapa Sisil ramah, berdiri sejenak untuk memeluk Raisha hangat sebelum mereka semua duduk mengelilingi meja kayu bundar.
Setelah memesan minuman dan beberapa camilan manis, percakapan santai di antara mereka bertiga perlahan mulai mengarah pada topik utama yang mengganjal dada Raisha. Di hadapan pasangan kekasih itu, Raisha akhirnya menumpahkan kekacauan pikiran yang dialaminya belakangan ini.
Raisha menceritakan bagaimana Aldo mendadak mengubah pola pendekatannya. Pria itu tidak lagi bersembunyi atau menunjukkan sikap manipulatif yang samar, melainkan melakukan aksi-aksi impulsif yang terang-terangan, termasuk tawaran tumpangan di depan banyak orang tadi sore.
"Itu yang bikin aku heran," bisik Raisha seraya memutar-mutar sedotan di dalam gelas iced americano-nya.
"Sikap dia tuh impulsif banget belakangan ini. Bukan seperti Aldo yang cuma terobsesi pada cewek yang berpasangan. Dulu, begitu tahu cewek itu single atau bebas ikatan, dia bakal langsung mundur dan bersikap dingin kayak es. Tapi ini beda."
Reno dan Sisil mendengarkan dengan saksama. Reno menyilangkan tangan di dada, mendengus pelan.
"Mungkin dia cuma nggak terima egonya ditampar sama kamu di rooftop kemarin, Ra."
"Aku juga mikirnya gitu awalnya," timpal Raisha.
Lalu, dia teringat akan satu potongan teka-teki lain di kantor. Raisha pun menceritakan gelagat aneh Mita belakangan ini, tentang Mita yang sengaja memamerkan kekasih barunya dari aplikasi kencan demi memancing respon Aldo.
"Ternyata Mita udah menyadari pola ketertarikan Aldo seperti apa," lanjut Raisha dengan raut wajah prihatin. "Dia mikir kalau dia punya pacar lagi, Aldo bakal lirik dia lagi. Dan sejujurnya... aku masih memperhatikan perkembangan mereka. Aku penasaran, setelah tahu Mita berpasangan lagi, apakah Aldo bakal balik mengejar Mita seperti pola biasanya? Kalau iya, berarti tebakanku benar: Aldo memang gak berubah sama sekali."
Sisil memajukan tubuhnya, menatap Raisha dengan pandangan protektif dan penuh penekanan.
"Kak Raisha, dengerin aku ya. Apapun respon Aldo ke Mita nanti, Kakak mewanti-wanti diri sendiri dari sekarang. Jangan sampai Kakak terjebak dalam permainan beracun Aldo."
Raisha menunduk sejenak. Ada helaan napas berat yang keluar dari bibirnya. Di depan orang-orang terdekatnya, Raisha tidak bisa terus-terusan berakting tangguh.
"Jujur ya..." sahut Raisha pelan, menyuarakan kejujuran paling dalam yang selama ini disembunyikannya di balik benteng ketegasan.
"Aku sempat ngerasa senang banget dengan tawaran Aldo tadi sore. Perhatian-perhatian kecil dia belakangan ini... bikin hatiku berbunga, meskipun dia tahu kalau aku ini single dan nggak punya siapa-siapa."
Sisil menggeleng tegas, menepuk pelan punggung tangan Raisha.
"Nggak boleh, Kak! Jangan kalah sama perasaan pribadi Kakak itu. Logika harus tetap jalan. Aldo itu manipulator, kita gak pernah tahu isi kepalanya yang sebenarnya."
Raisha terkekeh kecil melihat respons protektif Sisil. Senyuman tipis terukir di wajahnya.
"Iya, Sil... aku paham kok. Logikaku masih memegang kendali."
Reno yang sejak tadi menyimak tiba-tiba menyela dengan nada ketus namun berniat baik.
"Udah lah, Ra. Daripada pusing mikirin cowok beracun kayak Aldo, mending kamu balikan lagi aja sama Erick. Dia jelas-jelas mapan, dewasa, dan tulus sama kamu."
Raisha menggelengkan kepalanya pelan, menolak saran Reno tanpa keraguan.
"Nggak dulu, Ren. Aku nyaman sama posisiku dan Erick yang sekarang. Kami berteman baik, saling mendukung tanpa ada beban ekspektasi. Kalau dipaksakan balikan cuma buat lari dari masalah atau manfaatin dia, yang ada aku malah akan menyakitinya lagi. Erick nggak berhak dapat perlakuan kayak gitu dari aku."
Reno hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya pasrah. Dia tahu betul betapa teguhnya prinsip sahabatnya itu jika sudah menyangkut perasaan orang lain.
Sementara itu, di sudut sebuah bar yang remang dan tenang di pusat kota, Aldo duduk sendirian di depan meja bar kayu yang panjang. Sebuah gelas whisky on the rocks bertengger di tangannya, namun cairan keemasan itu hampir tak tersentuh.
Pikirannya dipenuhi badai emosi yang sangat asing dan tidak mengenakkan.
Aldo masih berusaha keras mencerna perasaan aneh yang terus menggerogoti dadanya sejak tadi sore. Selama ini, dia selalu berhasil menyangkal bahwa dia memiliki ketertarikan pribadi yang murni pada Raisha. Dia selalu membentengi dirinya dengan narasi bahwa Raisha hanyalah target penaklukan biasa, sebuah mainan yang menarik hanya karena dianggap milik orang lain.
Namun, kejadian di lorong kantor tadi sore menghantam seluruh penyangkalannya hingga hancur berantakan.
Saat melihat jemari Reno meraih dan menarik pergelangan tangan Raisha, lalu membawa wanita itu pergi dari hadapannya, hati dan kepala Aldo seolah terbakar hebat. Itu bukan lagi kepatuhan ego seorang pemburu yang kehilangan mangsa.
Itu adalah sensasi cemburu buta yang liar, pekat, dan sangat menyiksa. Rasa tidak rela yang membakar dadanya ketika melihat sentuhan pria lain mampir di kulit Raisha terasa begitu nyata hingga membuat napasnya sesak.
Aldo menyesap viskinya pelan, membiarkan rasa hangat minuman beralkohol itu membakar tenggorokannya. Pandangannya kosong menatap es batu yang meleleh di dalam gelas.
Sebuah pemikiran baru mendadak melintas di kepalanya, menuntut untuk diakui.
Aldo mencoba mengingat kembali perjalanan hidupnya selama beberapa bulan terakhir. Selama dia sibuk menarik perhatian Raisha, melemparkan perhatian-perhatian kecil, memberikan kopi, hingga bersikap posesif... apakah dia pernah melirik wanita lain?
Jawabannya adalah tidak.
Padahal jika dipikir-pikir lagi, ada begitu banyak wanita di luar sana yang bahkan beberapa rekan kantor dan klien yang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya. Bahkan Mita, yang kini secara sengaja memamerkan pacar barunya demi memancing gairah obsesifnya, sama sekali tak mampu menarik perhatian Aldo lagi.
Dulu, resep itu pasti berhasil seratus persen untuk membakar adrenalinnya. Namun sekarang? Mita berpasangan atau tidak, hal itu terasa sangat tawar dan tak berarti di matanya.
Fokusnya, gairahnya, kemarahannya, dan rasa rindunya... kini seluruhnya telah terkunci rapat hanya pada satu nama: Raisha.
"Gila..." bisik Aldo pada dirinya sendiri di tengah remangnya bar. Suaranya serak dan bergetar.
Aldo menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan mata rapat-rapat. Dia akhirnya menyadari kenyataan pahit yang paling ditakutinya: dia telah jatuh ke dalam lubang yang digalinya sendiri. Dia telah benar-benar jatuh cinta pada seorang wanita yang justru kini telah membangun benteng tertebal untuk menolaknya.
Malam makin larut ketika Raisha akhirnya sampai di rumahnya. Setelah berpamitan dengan Reno dan Sisil, Raisha melangkah masuk ke dalam kamar, menyalakan lampu, dan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang.
Ponsel di dalam tasnya bergetar pelan. Ada satu pesan masuk.
Raisha meraih ponselnya, menduga itu adalah pesan dari Reno yang memastikan dia sudah sampai dengan selamat. Namun, nama yang tertera di layar seketika membuat jantungnya berdegup kencang:
Aldo: 'Terima kasih sudah menolak tumpanganku tadi. Tapi Ra... tolong jangan biarkan pria lain menyentuhmu seperti tadi lagi.'
Raisha menatap layar ponsel itu dengan pasang mata terbelalak. Kalimat itu bukan lagi retorika manis seorang penakluk. Itu adalah sebuah luapan kepemilikan yang berbahaya, sebuah sinyal kuat bahwa permainan ini tidak lagi berjalan sesuai dengan aturan siapa pun.