Ia tengah lari dari perjodohannya. Nur Aida Rindayani tak pernah menyangka, Ia justru menemukan seorang pria yang tergeletak di pantai dan membawanya pulang. Sebuah fitnah keji, lalu memaksa mereka menikah dalam sekejap.
Arrayan Bima Hartono , adalah seorang pewaris dari perusahaan besar di kotanya. Suatu hari, Ia diculik secara dramatis oleh beberapa musuhnya. Ia sempat kabur, namun justru terjatuh ke dalam jurang yang menghubungkannya dengan lautan yang dalam.
Apakah akan tumbuh cinta diantara mereka? Bagaimana, jika ketika itu Gibran ingat akan semua masa lalunya? Bagaimana, nasib Aida selanjutya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafin Aida, Mas.
"Tuh kan, bajunya masih lengkap?" lirik Tono padanya.
"Iya, maaf," Aida menggigit bibirnya, dan menggenggam erat kerah piyamanya yang masih rapat.
"Suuzon mulu, ma Suami." kesal Tono, yang langsung meraih handuk dan pergi mandi.
"Aida udah minta maaf loh ya!" panggilnya dari kejauhan. Tapi, Tono tak pula menoleh padanya. "Yaaah, ngambek deh." sesalnya kemudian.
Ia segera bangun, membereskan tempat tidur dan mempersiapkan pakaian untuk Tono bekerja. Untungnya, pakaian Bima memang masih bagus, hingga tak terlalu memalukan di pakai di hari pertama Tono bekerja.
Aida menyetrikanya dengan wangi, dan melipatnya dengan begitu rapi di meja. Ia sampai menunggu Tono masuk, agar dapat kembali meminta maaf padanya.
"Tumben, belum keluar? Mau ngapain? Aku mau ganti baju loh."
"Udah dimaafin belum?"
"Hmmm,"
"Kok cuma Hmmmm? Iya ngga? Aida ngga enak nih, udah nuduh macem-macem."
"He'emh."
"Mas, jangan He'emh, he'emh aja. Ngomong lah. Maafin, gitu. Maaaas," rengek Aida, yang selalu mengekor dibelakang Tono. Bahkan, tak mau melepas bagian belakang kemeja Tono daritadi.
"Nur... Aku lagi ganti, nanti kusut lagi. Om Edo bentar lagi jemput loh." tegur Tono.
Aida hanya tertunduk. Ia lesu dan melipat dagunya sedih.
"Haish..." Tono menghela nafasnya. Lalu mengenggam bahu Aida lembut. Lalu memanggilnya, "Nur?"
"Iya?"
"Kamu menyesal?" tanya Tono. Aida pun kembali mengangguk.
"Kamu tahu? Aku saja masih begitu sungkan untuk menyentuhmu. Meski status kita sah suami istri, tapi aku tahu kalau kamu belum siap sama sekali. Aku pun tak akan memaksa, atau pun berharap yang aneh-aneh padamu."
Akhirnya Aida mendongakkan kepalanya. Mengangguk kembali beberapa kali dan mengangguk-angguk kan kepalanya. Tono pun segera meminta, agar Aida Nur nya mempersiapkan sarapan karena Ia akan segera pergi. Aida pun mengangguk, lalu keluar dengan hati yang ceria seperti biasa.
Tono menatap kembali tubuhnya di kaca. Kali ini penampilannya lebih rapi, dengan rambut yang di beri pomade oleh Aida. Meski, Ia tak tahu merk apa itu. Ia memejamkan mata, kembali berusaha mengingat sesuatu. Berharap sebuah petunjuk datang pada penampilannya yang baru.
"Aaakh! Sakit." kepalanya kembali berdenyut. Ia tak dapat memaksa memorinya kembali dengan cepat.
"Mas, ayo sarapan. Loh, kenapa? Kepalanya sakit lagi?" Aida langsung menghampirinya.
"Engga, Nur. Cuma berdenging sedikit. Ayo, sarapan. Aku sudah lapar, toh mau minum obat." ajak Tono, yang tampak masih menahan sakit di kepalanya..
Aida melayaninya dengan baik. Mengambilkan nasi dan menunggunya sarapan sembari mempersiapkan obat. Nenek Mis hanya bisa tersenyum dan mendoakan yang terbaik untuk kedua cucunya itu.
" Assalamualaikum!" Mei masuk seperti biasa, dan langsung menuju meja makan.
"Hay, Mas Tono."
"Hay juga, Mei."
"Uluuuh, ganteng banget. Mau kemana kah?"
"Kerja!" jawab Aida.
"Kerja dimana, Mas?"
"Kerja sama Om Edo." jawab Aida lagi. Padahal, Tono baru saja membuka mulut akan menjawab pertanyaan Mei.
"Ish, napa sih? Orang tanya sama Mas Tono, juga." tukas Mei dengan dahi berkerut.
"Yang kau tanya itu suamiku lah." sergah Aida. Tapi, Mei dengan jahil menirukannya dengan bibir yanh manyun sempurna.
"Udah, Nur." tegur Tono. Ia pun berkemas, ketika mendengar suara motor mengklaksonnya.
"Tuh, jemputan dateng." ucap Aida, yang juga tak menghiraukan Om nya datang. "Mampir kek, masuk kek. Ini rumah Ibunya. Nunggu diluar, kayak cowok jemput pacarnya sembunyi-sembunyi."
"Emang kamu pernah ngerasain, di jemput cowok?" tatap Mei. Aida hanya memberinya lirikan tajam, setajam pisau belati yang perih di hati.
melaknat pebinor dan memuja pelakor
pemikiran munafik wanita
melaknat pelakor dan memuja pebinor
dan novel ini menunjukan dirimu dengan cara kau memperlakukan pelakor dan pebinor
bahkan ada novel istri diculik, tinggal bersama, bahkan tidur bersama dengan pebinor penculiknya dan ketika suami datang menyelamatkan nya dan menghajar pebinor itu istrinya malah membela pebinor karena dia bilang dia diperlakukan dengan baik, dan novel itu membenarkan
cari satu saja novel yang bertema pebinor menculik atau memaksa istri orang tinggal bersamanya, dan novel itu anggap itu sebuah kesalahan
kalian tidak akan dapat novel kayak gitu, karena faktanya semua novel akan membenarkan itu