Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan Sugar Daddy

Warisan Sugar Daddy

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Romansa / Dendam Kesumat / Tamat
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ismi Kawai

Aku terkurung dalam siksaan seseorang yang tak pernah memahami arti mencintai. Merelakan raga menjadi landasan amukan hingga jiwa pun terhempas tanpa identitas.

Aku mencintai pria yang telah beristri. Rasa yang begitu kuat tanpa bisa aku kendalikan, tetapi pada akhirnya logika yang harus berbicara. Tak ada cinta yang sanggup menyakiti hati sesama wanita.

Lelaki langit itu mengangkatku dan menghadiahi banyak cinta, hingga sekali dalam hidup aku merasa begitu berharga.

Semua tak sama saat raga kami terpisah. Tetapi hati terus menulis jejak namanya yang akan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Pengakuan

Barli tahu Liana sudah tidak berdaya dalam hal keuangan dan bisnis. Ditambah lagi keputusan papanya yang sudah mengalihkan separuh saham kepada Vania. Liana diambang kebangkrutan! Tapi mungkin masih ada harapan. Hari ini adalah waktunya pengacara membacakan wasiat dari almarhum ayahnya.

Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Barli, Liana, Revan, juga pengacara pribadi almarhum Johan Baroto, Bona. Bona sudah dipercaya mendiang Johan selama bertahun-tahun untuk mengurusi semua hal-hal yang menyangkut masalah hukum, termasuk surat wasiatnya.

“Semua anggota keluarga sudah berkumpul di sini, Pak Bona. Silakan kita langsung mulai saja pembacaan surat wasiat Papa,” ujar Barli membuka percakapan.

“Maaf, Pak Barli. Kita harus menunggu seorang lain,” sahut Bona.

“Siapa?” Barli, Liana, Revan saling berpandangan.

“Perwakilan dari Ibu Vania.” Bona menjawab singkat.

“Untuk apa? Dia bukan bagian dari keluarga kami. Kami tidak punya urusan dengannya.” Liana berkata kesal. Wanita itu selalu saja hadir menjadi bayang-bayang keluarganya. Liana semakin membenci Vania.

“Pak Johan Baroto telah berpesan bahwa Vania juga harus hadir dalam pembacaan surat wasiat. Jadi, mari kita tunggu saja. Pengacara Ibu Vania sudah berjanji akan datang. Masih ada waktu.”

Semenit kemudian seorang asisten rumah tangga datang mengabarkan kedatangan Leon. Barli mengangguk dan menyuruhnya untuk mempersilakan Leon masuk.

“Selamat siang Bapak-bapak dan Ibu. Saya, Leon, datang mewakili klien saya, Ibu Vania.” Leon memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman, tapi tak ada yang menghiraukan. Semua mata memandang Leon dengan tatapan tidak suka.

“Baiklah, karena semua sudah hadir, saya akan membacakan surat warisan dari Bapak Johan.”

Sang Pengacara menunjukkan sebuah amplop yang masih tersegel lalu membukanya di hadapan mereka.

“Saya Johan Baroto menulis surat wasiat ini dalam keadaan sadar dan tidak dalam ancaman atau paksaan siapa pun, dengan ini mewariskan seluruh saham dan perusahaan atas nama saya kepada Vania....”

Prang! Liana menjatuhkan gelas di tangannya. “Apa?” teriaknya, “ini pasti bohong!” Dia merebut surat wasiat dari tangan Bona dan langsung lemas setelah memastikan bahwa isinya benar.

Revan ganti merebut surat itu dari tangan istrinya dan dengan marah menghempaskannya ke atas meja.

“Apa yang ada dalam pikiran Johan, heh?” Surat wasiat itu telah menghancurkan segala harapannya.

Sedangkan Barli hanya diam di tempat, mencoba memahami apa yang ada di pikiran almarhum ayahnya saat menulis surat wasiat itu.

“Apa Vania mengetahui ini sebelumnya?” tanyanya pada Bona.

“Saya dapat memastikan bahwa Ibu Vania sebelumnya tidak mengetahui apa-apa tentang ini. Saya yakin almarhum Bapak Johan menyembunyikan isi surat wasiat ini dari siapa pun. Seperti yang sudah Anda saksikan sendiri, segelnya masih utuh.”

“Baiklah. Kalau itu memang keinginan terakhir Papa, kalian urus saja semuanya.” Barli berkata lemah.

“Kakak! Apa kau menerima ini semua begitu saja?” Liana mendelik marah. “Rumah ini. Apa rumah ini juga akan menjadi milik Vania?” Dia beralih pada sang Pengacara.

“Ya, rumah ini beserta segala isinya. Termasuk koleksi kendaraan Pak Johan akan menjadi milik Ibu Vania. Semua harta, saham, dan perusahaan atas nama Pak Johan diwariskan kepada Ibu Vania.”

Revan merangsek maju dan menarik kerah Bona. “Kau pasti menipu kami semua. Kalian bersekongkol! Surat itu palsu!”

Barli menarik Revan menjauh. “Kendalikan dirimu. Kau tahu sendiri surat itu tidak mungkin dipalsukan.”

“Sa-saya, urusan saya hari ini selesai sampai di sini. Saya permisi dulu.” Bona cepat-cepat permisi dengan muka pucat. Dia takut menjadi sasaran kemarahan lebih lanjut.

“Saya akan ikut bersama Anda, Pak Bona. Banyak yang harus kita bicarakan setelah ini. Permisi, semuanya.” Leon menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia merasa lega dan bahagia untuk Vania. Vania pantas mendapatkan semua ini.

“Seharusnya aku membunuh wanita itu sekalian!” Liana mendesis marah setelah Bona dan Leon pergi.

“Apa maksudmu, Liana?” Barli  menarik lengan Liana. “Sekalian katamu?” Dia memandang Liana ngeri.

Revan tiba-tiba saja tertawa terpingkal-pingkal seperti orang tidak waras. “Ya! Sekalian dengan Papi!”

“Aku tidak mengerti! Katakan yang jelas, Liana! Apa maksud semuanya?” Barli nyaris tak dapat bernapas saking cemasnya.

“Ya! Liana lah yang merencanakan pembunuhan Papi, sang milyuner Johan Baroto.” Revan berkata.

“Tidak mungkin! Bukan Liana. Ini pasti ulahmu! Adikku bukan pembunuh!” Barli menatap Revan dan Liana bergantian. Tuhan, ini pasti mimpi buruk.

“Revan benar. Aku yang merencanakan pembunuhan Papa!” Liana berteriak. “Aku benci dia! Aku sangat membencinya. Kau tahu apa yang pernah dikatakan Papi padaku? Dia bilang aku tidak berguna! Papi bilang aku wanita paling bodoh yang pernah dia temui. Aku tidak becus memilih suami. Aku tidak becus mengelola perusahaan. Aku tidak pantas menjadi bagian dari keluarga. Memangnya apa salahku? Apa salahku?”

Plak! Barli menampar wajah Liana. “Teganya kau! Hanya karena sedikit kata-kata dari Papa kau sampai hati merencanakan pembunuhan?”

“Ha-ha-ha. Aku mengalahkannya. Pada akhirnya aku berhasil mengalahkannya.” Liana mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

“Sekarang apa yang akan kau lakukan, Kakak Ipar? Apa kau akan menyerahkan adikmu sendiri pada polisi? Kau tahu dia sedang hamil dan jiwanya labil. Dia pasti tidak akan bertahan berada sendirian di balik jeruji besi. Kau sudah kehilangan Papi. Apa kau akan kehilangan adikmu juga?” Revan bertanya sinis.

Barli terprovokasi dengan kata-kata Revan dan mulai menyerangnya. “Ini semua gara-gara kamu. Kau telah membuat adikku kehilangan akalnya!”

Revan mengelak dan ganti meninju rahang Barli. “Kali ini aku akan melawanmu.”

“Sial! Beraninya kau!” Barli berteriak marah.

“Easy, Bro! Sekarang bukan saatnya kita bertengkar. Ingat, kita ini keluarga. Kita harus bersatu dan memikirkan semuanya baik-baik. Pasti ada jalan keluar.”

Revan berkata dengan suara tenang. Dia lalu duduk santai di sofa sambil merogoh sekotak rokok dan menyulutnya. “Duduk lah, Kakak Ipar dan dengarkan rencanaku.”

Kepala Barli serasa mau meledak. Apa-apaan ini? Apa yang harus dia lakukan sekarang? Revan benar. Dia tidak mau kehilangan Liana. Liana satu-satunya keluarganya yang masih tersisa. Dia menengok ke arah Liana. Adiknya itu kini bagaikan cangkang kosong. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Liana, apa yang akan terjadi padamu setelah ini? Pada kita?

Barli berusaha keras menenangkan hatinya agar dapat berpikir dengan lebih jernih. “Apa rencanamu?” tanyanya pada Revan.

“Biarkan wanita itu yang menanggung semuanya. Dia pantas mendapatkannya setelah semua yang dia lakukan pada keluarga kita. Aku rasa itu cukup adil. Harga yang pantas untuk semua kekayaan yang akan dia dapatkan nanti.”

“Vania, maksudmu?” Ada nyeri di dada Barli. Dia ingat betapa pucatnya wajah Vania saat dia mengunjunginya di penjara. Sekarang semua sudah jelas, bahwa Vania memang bukanlah pembunuhnya, melainkan Liana. Ini sangat buruk!

“Ya. Biar saja wanita itu membusuk di penjara.” Liana yang sedari tadi mematung tiba-tiba angkat bicara. “Maafkan aku, Barli. Aku menyesal. Mestinya aku tidak membunuh Papi. Aku sudah bertindak terlalu jauh.”

“Bagaimana kau bisa melakukan itu? Meracuni Papi? Dari mana kau tahu Papi akan berada di sana bersama Vania?” Barli diam sesaat. Sesuatu terlintas dalam pikirannya. “Apa kau yang mengirim SMS kepadaku waktu itu?”

“Ya. Aku membayar orang untuk mengikuti Papi berhari-hari. Aku tahu dia akan bertemu dengan wanita itu di sana. Aku sengaja memberitahumu supaya kau pergi ke sana, memancing Vania agar keluar, supaya kami punya kesempatan untuk menyelinap ke kamar hotel, meracuni Papi dan membuat Vania menjadi tersangka.”

Darah Barli menggelegak oleh amarah. “Pantas saja kau begitu cepatnya menghubungi polisi bahkan sebelum kau melihat jenazah Papi. Apa kau sendiri yang membunuhnya? Memaksanya minum anggur beracun?”

“Bukan aku.” Liana melirik Revan.

“Kurang ajar! Kau pelakunya, Revan?” Barli melompat menyerang Revan. “Aku akan membunuhmu!”

Barli mengamuk dan memukuli Revan bertubi-tubi. Laki-laki itu lah yang telah merenggut semua dari dirinya. Nyawa ayahnya dan kewarasan adiknya. Dia harus membalaskan dendam. Dia harus membunuh Revan. Tak peduli jika nantinya dia harus masuk penjara gara-gara itu.

“Barli, hentikan! Kau bisa membuatnya mati.” Liana berteriak-teriak histeris. Dilihatnya Revan semakin tak berdaya, darah membanjiri wajahnya tapi tidak ada tanda-tanda Barli akan berhenti. Liana kemudian meraih asbak kristal yang ada di meja dan menghantamkannya ke kepala Barli.

 

 

1
Dian Laia
wah
Ayesha Almira
semoga ailen selamat,kasian Vania Bru menghirup udara bebas hrs kehilngan alien.dia berjuang buat alieuln.beri keajaiban bt alien..
Ismi Kawai
semoga ya kak
Ayesha Almira
barli katakn sejujurnya,Vania ta bersalah.kasian ailen
Widya
semoga saja kamu bisa mengatakan di persidangan barli
Ayesha Almira
liana bnr2 keterlaluan,d budakn sm c revan.kasian vania
Ayesha Almira
Avan kn pelakunya
Ayesha Almira
makin seru,semoga cepat terungkap..Vania bebas dari tuduhan
Ismi Kawai: aamiin, semoga ya kak
total 1 replies
Nining Shuma
😭😭
Nining Shuma
Hai kak aku mmpir
Ismi Kawai: mksh kk sayang... ❤
total 1 replies
Widya
lanjuuutt
Ismi Kawai: bsk ya kak... ❤
total 1 replies
Irma Purwanti
semangat thor,ceritanya bagus,..crazy up dong😄👍💪
Ismi Kawai: mksh kak untuk semangatnya, sayangnya aku lg garap 3 novel, jd gak bisa crazy up... yg ada aku udah crazy duluan. 🙈
total 1 replies
Ayesha Almira
semoga Vania CPT bebas
Ismi Kawai: aamiin kak
total 1 replies
Irma Purwanti
Aku baru baca dan ga berasa udah sampe bab paling baru. Ditunggu bab selanjutnya, ya!
Ismi Kawai: mksh kak sudah mampir, nanti sore ya...
total 1 replies
Ayesha Almira
kyknya pelakunya orang yg bertemu dengan Vania ,sosok misterius
Ismi Kawai: bisa jadiii
total 1 replies
Ayesha Almira
masing bingung ma jalan ceritanya,tp seru.d tunggu kelanjutanya..
Ismi Kawai: siap kak, pantengin trs ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!