Pythia Andromeda Alexa, terdampar di sebuah pulau dalam dunia paralel. Ia mengalami hilang ingatan sampai kedatangannya dikaitkan sebagai titisan Dewi Yunani karena warna kulit putihnya yang bercahaya. Mereka percaya jika dengan menikahi Pythia bersama sang raja, akan membawa cinta dan kebahagiaan untuk alam semesta.
Pertemuan pertama memberikan kesan menarik saat bermalam bersama di dalam gua, di tengah badai besar, Pythia dan Xavier merasakan kehangatan.
Dapatkah ramalan kebahagiaan itu benar-benar terjadi saat cinta diantara keduanya mulai bersemi? Atau kehancuran yang akan tiba. Lalu bagaimana dengan kehidupan Pythia yang sebelumnya, yang jelas-jelas ia sudah bertunangan? Simak kisahnya yang penuh misteri dan cinta bergelora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meldy ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Atap
"Ya-ya, lakukanlah." Frederick pasrah sembari melihat kedua wanita itu dengan kedua tangan melipat di atas dadanya.
"Bu, apa kau dengar aku? Hei, aku sedang bertanya!"
"Oh ya, Nak! Maaf, aku sampai melamun memikirkan Pythia, dan apa tadi yang kau tanyakan?"
"Apa dia tidak menceritakan ketika dia pergi ke Kerajaan Royaley, Bu? Itu yang aku tanyakan, tapi apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya sangat serius sekali."
"Ah tidak ada, Nak. Pythia baru saja pulang hari ini, dan tidak mengatakan apapun selain dengan kabarnya yang baik-baik saja. Tapi, aku juga tidak sedang memikirkan hal buruk. Kalau begitu bagaimana jika kalian berdua menginap di rumahku selama tinggal di bumi? Pasti, kalian juga tidak memiliki tempat tinggal, kan? Apalagi dengan uang yang sangat jauh berbeda," ajak Mama Hera sembari tersenyum hangat.
"Ide yang bagus, Bu. Aku setuju, apa kau juga setuju, Frederick?"
"Tentu, aku akan setuju jika itu maumu."
"Baiklah, Bu. Sini aku bantu bawakan barang belanjaannya."
"Ah terima kasih banyak, Pandora."
Membuat Mama Hera tiada hentinya menatap putri bungsunya itu terus-menerus. Ia semakin menyadari jika semakin tambah dewasa wajah putrinya itu semakin terlihat mirip dengan suaminya.
"Lihat putri kita berdua di sini, Zamrun. Mereka sudah saling bertemu, bahkan setelah kita pisahkan sampai berbeda dunia sekalipun, tapi takdir masih terus berusaha mempertemukan mereka berdua. Aku harap pertemuan ini tidak akan membuat kedua putriku bermasalah karena jujur saja, bagiku sangat sulit untuk berpihak kepada salah satu dari mereka," batin Hera yang sedang merasakan kerinduan besar terhadap suaminya.
***
Memasuki sebuah rumah yang menurut Xavier sangatlah kecil untuk seukuran dirinya sebagai seorang raja. Bahkan ia merasa seperti sebesar kamar pribadinya sendiri. Rumah minimalis dan tertata rapi, Pythia segera menyajikan dua buah susu manis dingin di hadapan mereka.
"Minumlah ini. Cuaca di luar sang panas, jadi minuman yang dingin-dingin sangat cocok," ucap Pythia yang sangat bersemangat.
"Tapi, aku tidak pernah meminum susu dingin seperti ini? Aku selalu minum teh hijau hangat dengan setengah gula, karena itu jauh lebih bagus untuk menyeimbangkan berat badan kita. Apa di sini tiada ada minuman itu?" tanya Xavier yang terlihat tidak bersyukur, namun ucapannya itu membuat Baron menahan tawa
"Hei, Baginda Raja Xavier. Ayolah ... ini bukanlah istanamu ataupun restoran. Jika kau ingin request segala bentuk minuman, maka pergilah ke cafe," ketus Pythia.
"Cafe? Apa itu cafe? Apa semacam seperti mentega?"
"Oh astaga ... dia seorang raja, tapi tidak tahu apapun. Baiklah, tenangkan dirimu, Pythia." Membuat wanita itu menepuk keningnya sendiri sembari bergerak pergi.
"Aku sedang berbicara denganmu, Hei!" Xavier berteriak keras sembari berusaha mengejar istrinya.
Namun tiba-tiba, Pythia berhenti sampai Xavier hampir saja menabraknya saat ia berlari cepat. Membuat Pythia tercengang ketika melihat dua tamu yang dibawa pulang oleh ibunya sendiri.
"Wow! Ternyata di sini pun ada Baginda Raja. Hai ... Brother! Aku senang kau juga berada di rumah ini." Frederick segera memberikan pujian beserta sapaan di saat ia tidak ingin ada yang curiga dengannya, namun ia memilih untuk tetap terlihat santai meskipun hatinya sudah sangat deg-degan.
"Kalian? Kenapa ... ikut ke sini?" tanya Xavier yang masih tercengang.
"Aku hanya-" Ucapan Pandora terhenti ketika Mama Hera melangkah lebih dulu ke dalam.
"Ayo masuk dulu semuanya. Pythia, ajak tamu mu dan tamu kita masuk ke dalam. Ibu akan membuatkan kue untuk kalian, jadi duduklah bersama!"
Menjadi kesempatan Pandora untuk menghindari pertanyaan Xavier, namun tidak akan membuat Xavier melepaskan dirinya begitu saja. Ia segera mencekal tangan Pandora dengan kuat, dan menariknya ke luar bersamaan.
"Kenapa? Ayo jawab aku, Pandora? Kau sampai datang ke sini, dan tahu tentang ibunya Pythia bahkan juga rumahnya. Wow ... aku sangat kagum dengan keberanian mu, apa kau ingin kembali berniat jahat? Kali ini apalagi, hah?"
"Apa maksudmu? Kenapa harus menuduh ku seperti itu, Xavier? Bagaimanapun kita tetaplah pasangan suami dan istri, jadi aku berhak untuk tahu dan mengikuti kemanapun suamiku pergi," bantah Pandora.
"Aku tahu kalau kau hanya berniat untuk mencari sesuatu dariku, dan tidak mungkin semudah itu. Ayolah, Pandora. Aku sudah salah berpikir tentangmu, tapi lebih salah lagi jika sekarang aku kembali mempercayai dirimu."
"Hentikan, Xavier. Ini bukanlah istanamu yang bisa kau atur siapa saja yang masuk ke dalam. Rumah ini milik Mama Hera yaitu ibuku, kau tahu itu? Jadi berhentilah berpikir kalau kedatangan diriku ke sini hanya untuk mengacaukan segalanya, tentu tidak. Namun melainkan, aku masih memiliki hak yang sah sebagai istrimu, dan aku berhak untuk apapun tentang dirimu, camkan itu, Xavier," tegas Pandora tanpa merasa takut. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan pria itu yang masih tidak habis pikir dengannya.
"Ibunya? Aku rasa ada yang salah," gumam Xavier dengan penuh kebingungan.
Pythia mendekat saat melihat perdebatan diantara mereka berdua. "Kau baik-baik saja, Xavier? Sudahlah jangan terlalu keras terhadap istrimu—Pandora. Dia benar, kalau dia masih berhak atas dirimu. Jadi, jangan hentikan dia meskipun aku sendiri merasa bingung kenapa sampai dia bisa ada ikut kita ke bumi manusia."
"Tapi, Pythia-"
"Tidak untuk sekarang, Xavier. Dia tamu ibuku, jadi kita tidak bisa mengusirnya dari sini. Sudah, biarkan dia menyelesaikan keinginannya. Ayo kita masuk ke dalam, di luar terlalu panas," ajak Pythia dengan sedikit memaksa.
"Baiklah." Xavier sangat menurut jika sudah berhubungan dengan istri keduanya.
Saat Pythia tidak melepaskan genggaman tangan, sepanjang perjalanan ia terus saja menatap wajah istrinya itu.
"Andaikan kau tahu bahwa aku sangat takut dirimu terluka ataupun di hasut untuk kembali pergi dariku, Pythia. Tetapi selama aku di sini, maka aku akan menjagamu, bahkan satu semut pun akan aku pastikan tiada," batin Xavier yang sangat penuh perhatian.
Xavier, Pythia, Baron, Pandora, dan Frederick duduk bersama tanpa mengatakan apapun. Dengan sangat terpaksa mereka harus duduk di ruangan yang sama secara berdekatan karena keadaan rumah yang tidak bisa membuat mereka ke tempat yang lain.
Hingga Mama Hera mulai menyajikan sedikit kue manis dengan topping pizza. "Makanlah, dan maaf kalau rumahnya cukup sempit. Tapi beginilah, keadaan rumah kami."
"Tidak apa-apa, Bu. Meskipun begitu, aku senang setelah tiba di rumahmu, tapi jangan khawatir aku akan membeli rumah baru untukmu selama aku di sini," timpal Pandora yang segera mencari perhatian.
"Oh terima kasih banyak, Nak. Kau berhati mulia. Ya sudah makanlah dulu, ya. Ibu mau ke dapur masih ada beberapa bahan yang belum dibereskan."
Tatapan Pythia seketika merasa tidak senang saat menyadari Pandora mulai mencari simpati. "Maaf kalau aku berbicara sedikit tidak mengenakan, Ratu Pandora. Aku sampai bingung kenapa kau sampai harus datang ke rumahku? Bahkan menawarkan bantuan untuk mamaku. Jadi sebaiknya, tidak perlu melakukan apapun juga karena aku di sini masih bisa melakukannya."
"Jangan sungkan, Pythia. Kau tetaplah di sini bersama ibumu, maka dengan begitu aku hanya bisa membantu sebisaku saja. Tidak ada niat lain, percayalah," sahut Pandora dengan tenang.
"Tapi, tetap saja. Aku merasa tidak-"
"Pythia!"
Ucapnya tiba-tiba berhenti ketika mendengar teriakan sembari ketukan pintu. Seorang wanita datang dan langsung bertingkah aneh dengan penuh senyuman manis saat melihat para pria tampan sedang berkumpul di rumahnya.
"Oh astaga ... apa Tuhan mulai memberikan pria-pria tampan ini untuk melamar ku?"
aduh ga sabar sayaa
eh rupanya udah up thor