Eleanor adalah seorang Elf cantik dari kerajaan Silvan di hutan Mirkwood. Suatu hari ia tak sengaja bertemu dengan seorang pria bernama Dimitri yang tersesat di dalam hutan. Eleanor membantu menyelamatkan pria itu namun pada akhirnya mereka berdua saling jatuh cinta hingga Eleanor hamil. Tak lama setelahnya Dimitri menghilang dan tidak pernah kembali ke Mirkwood. Eleanor memutuskan untuk pergi ke dunia manusia untuk mencari cintanya. Namun ironisnya ia menemukan bahwa pria yang ia cintai telah menikah dengan seorang wanita dari dunia manusia. Apakah Eleanor akan bisa kembali bersama dengan Dimitri ataukah cintanya akan berubah menjadi pembalasan dendam?
Ikuti terus kisah perjuangan cinta Sang Elf cantik!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivin Febry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Kali ini aku merasakan kebencianku pada Dimitri mulai berkobar di dalam jiwaku. Aku tidak pernah menyangka bahwa perasaan cinta yang begitu dalam mampu berubah menjadi kebencian yang begitu mendalam dalam waktu singkat.
Semua rasa sakit dan kekecewaan yang aku alami ternyata mampu meredupkan cintaku terhadapnya. Kali ini yang tersisa hanyalah hasrat untuk membalas dendam. Aku tidak lagi merasakan gairah seperti dulu terhadap Dimitri. Kini rasa sakit itu telah merubah segalanya tentang diriku.
Aku menghampiri Rose yang saat itu sedang bersantai dan membaca sebuah buku tebal di ruang tamu. Ia menengadah dan menatap ke arahku ketika mendengar langkah kakiku yang mendekatinya.
"Dimana Eldrin?" tanyaku seraya menoleh ke seluruh ruangan namun aku tidak melihat tanda-tanda keberadaannya.
"Dia bilang ingin mencari udara segar di luar."
"Rose, ada yang ingin ku tanyakan padamu," ujarku dan duduk di dekatnya.
Rose menutup bukunya dan memangku buku tebal itu di pangkuannya. Buku itu sepertinya berasal dari dunia kami. Aku melihat sampul buku itu terbuat dari kulit yang berwarna cokelat dan tulisan di sampulnya menunjukkan bahwa buku itu berbahasa kuno. Mungkin dulu Rose membawanya ketika pergi meninggalkan hutan dan memutuskan untuk hidup di sini.
"Ada apa?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.
"Kenapa Dimitri menuduhku dengan begitu keji seperti ini?" Aku mendengar nada pahit dalam suaraku sendiri.
"Eleanor, fase kehamilan yang dialami oleh kaum manusia dan kaum elf jauh berbeda."
Aku menatapnya dengan wajah tidak mengerti.
"Begini, kecepatan pertumbuhan kehamilan manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan pertumbuhan kehamilan yang dialami oleh kaum elf." Rose menjelaskannya dengan wajah serius.
Aku mencerna apa yang baru saja ia katakan.
"Itulah sebabnya ia mengira dirimu telah hamil jauh sebelum kau berjumpa dengannya," ujarnya seraya menunjuk ke arah perutku. "Kaum manusia membutuhkan waktu sembilan bulan untuk hamil hingga melahirkan."
Aku menatap perutku yang mulai membesar. Aku mulai mengerti apa yang dijelaskan oleh Rose. Aku menatap perut buncit ku. Mungkin Dimitri tidak mengerti bahwa kaum elf seperti diriku membutuhkan waktu yang singkat untuk hamil sampai melahirkan. Tapi tetap saja, tuduhan Dimitri terhadapku masih tidak bisa aku terima.
"Rose, apakah cinta bisa berubah menjadi benci?"
Rose terdiam mendengar pertanyaanku. Ia tampak berpikir lama sebelum akhirnya memberikan jawaban untukku.
"Cinta yang sejati tidak akan pernah hilang, ia akan bersinar seperti matahari. Namun adakalanya sinarnya tertutup mendung kelabu hingga seolah dunia tampak gelap. Namun pada akhirnya mendung itu akan pergi."
Aku terdiam mendengar jawabannya.
"Apakah nanti lukaku akan sembuh seiring berjalannya waktu?" Aku kembali bertanya.
"Tidak, waktu tidak akan menyembuhkan luka. Waktu hanya akan membuat kita terbiasa menjalani hidup dengan luka itu."
Aku menghembuskan nafas berat. Tanganku membelai lembut perutku. Mungkin tidak akan lama lagi aku akan melahirkan. Aku akan membesarkan anakku dengan penuh cinta. Ia berhak untuk tumbuh dan menjadi orang yang bahagia.
Aku bangkit dan meninggalkan Rose sendirian di sana. Aku ingin berjalan-jalan dan mencari angin segar seperti yang dilakukan kakakku. Namun aku ingin melakukannya sendirian. Toh saat ini aku tidak tahu Eldrin pergi kemana.
Aku mengambil mantelku dan meninggalkan rumah. Aku menatap ke kejauhan tempat hutanku berada. Tanpa sadar, kakiku melangkah ke arah hutan itu. Aku membiarkan naluriku yang mengambil alih. Aku melihat cahaya kunang-kunang yang begitu indah di kejauhan.
Aku terus melangkah dan saat ini aku telah sampai di lapangan rumput yang luas tempat yang mengarah langsung ke bagian selatan hutan. Aku melihat cahaya kilau keemasan di depan sana. Aku mendekati cahaya itu dan aku sadar di sanalah aku menguburkan Abigail.
Ternyata cahaya keemasan yang tadi aku kira berasal dari kunang-kunang adalah serbuk emas yang berterbangan di atas kuburan Abigail. Aku mendekatinya dan duduk berlutut tepat di samping kuburan Abigail.
Aku menelusurkan tanganku di atas tanah yang di bawahnya terdapat Abigail yang mungil. Dadaku terasa perih ketika bayangan wajah Abigail yang sedang sekarat kembali diputar di dalam benakku. Aku merasakan air mataku mengalir di kedua pipiku.
Serbuk emas itu terbang mengitari diriku. Aneh, kenapa serbuk itu mendekati diriku. Mungkinkah elemen itu menyadari bahwa aku adalah elf? Atau mungkin hal itu terjadi karena aku begitu dekat dengan hutanku.
Aku duduk di sana begitu lama. Aku membiarkan angin dingin menerpa wajah dan tubuhku. Tatapanku beralih ke arah hutan yang kini jaraknya tidak begitu jauh denganku. Aku bisa merasakan di sana ada dinding pembatas walaupun dinding itu tak kasat mata.
Kenangan tentang malam itu, ketika aku menyebrangi dinding pembatas bersama Abigail terbayang kembali di dalam pikiranku. Semua kepedihanku semakin terasa mengiris jiwaku. Malam itu aku meninggalkan semuanya untuk datang ke dunia ini, dunia yang memberiku luka dan derita.
Aku berdiri dan menatap tepat ke arah hutan di depanku. Aku merasakan getaran kerinduan yang begitu hebat terhadap duniaku yang dulu. Aku mengepalkan kedua tanganku di sisi tubuhku dan menyadari bahwa hal itu adalah sebuah keinginan yang tidak mungkin bisa aku gapai.
Aku menyadari bahwa hutan Mirkwood tidak akan pernah menerimaku lagi. Aku adalah makhluk yang terbuang. Aku adalah makhluk yang sia-sia. Aku menangis dan menangkupkan kedua tanganku di wajahku.
Aku menyesali semua yang terjadi dalam hidupku. Aku mengutuk takdir yang ditakdirkan untukku. Aku merasakan tubuhku bergetar oleh kesedihan dan rasa sakit yang begitu mendalam. Aku menumpahkan semua air mata dan kekecewaanku tepat di hadapan hutanku yang telah aku tinggalkan.
Entah sudah berapa lama aku menangis di sana ketika aku menyadari ada sebuah cahaya yang berpendar yang berasal dari hutan di depanku. Tidak mungkin! Aku menghapus air mataku dan berharap mataku kembali jernih. Mungkin aku sedang berkhayal.
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat dan mulutku menganga tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapanku. Pendar cahaya itu menjadi semakin jelas dan terlihat jelas. Dinding pembatas di hadapanku terasa berdengung mengalirkan energi sihir. Aku yakin telah terjadi sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas penyebrangan di dinding pembatas.
Cahaya di depanku berubah menjadi sebuah celah yang menampakkan bahwa seseorang akan keluar dari dinding pembatas itu menuju ke dunia manusia. Jantungku berdebar ketakutan. Aku ingin berlari namun kakiku seolah membeku dan aku hanya mampu berdiam di tempatku dengan jantung yang seolah ingin melompat dari rongga dadaku.
Tepat di hadapanku, kini terdapat sebuah pintu yang menampakkan seseorang melangkah keluar dari dinding pembatas untuk menuju ke arahku. Aku menutup mulutku agar jeritanku tidak keluar ketika aku menyadari bahwa orang yang sedang menyebrangi dinding pembatas itu adalah Dimitri.