Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Di dalam kontrakan yang kini kini sepi, Alya melangkah menuju cermin tua di dinding.
Ia menatap pantulan dirinya sejenak, lalu perlahan menghela napas panjang.
Drrrt... Drrrt...
Ponselnya di sakunya bergetar. Alya mengangkatnya.
"(Madam Alya, surat pengosongan lahan untuk warga yang bermasalah sudah diproses oleh Pak Hendra. Apakah Anda ingin seluruh kawasan ini diratakan untuk dibangun kediaman baru?)" suara Leon terdengar patuh di ujung telepon.
"Belum perlu, Leon. Biarkan bangunan ini tetap seperti ini untuk sementara. Aku tidak ingin Alisya kaget melihat perubahan yang terlalu mendadak," jawab Alya pelan seraya berjalan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
"(Baik, Madam. Lalu, bagaimana dengan perlindungan di sekitar lokasi untuk Tuan putri Alisya?)"
"Ubah personel keamanan menjadi pakaian sipil. Jangan sampai Alisya melihat orang-orang bersenjata di sekitar rumah. Dia hanya perlu tahu bahwa dunianya aman," tegas Alya.
"(Dimengerti, Madam. Semuanya sudah diatur. Dan kami akan menjemput Tuan Putri Alisya)"
Panggilan terputus. Alya mengonfirmasi kepada guru Alisya bahwa ada seorang yang akan menurut Alisya, dan mengirim foto pria tersebut agar tidak salah orang.
Alya meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mulai memotong sayuran untuk membuat sup kesukaan Alisya.
Tiga Puluh Menit Kemudian, Di Depan Kontrakan
Suara klakson mobil jemputan sekolah terdengar di ujung gang. Alya mengusap tangannya dengan kain lap, lalu melangkah keluar rumah dengan senyuman hangat yang sudah terpasang rapi di wajahnya.
Di luar, suasana gang berubah drastis. Tidak ada lagi ibu-ibu yang berdiri bergerombol sambil bersedekap dada atau melirik sinis. Warga yang tadi memfitnah Alya kini sibuk mengemas barang-barang mereka ke dalam kardus dengan wajah pucat dan mata sembab, sama sekali tidak berani menatap ke arah Alya.
Pintu mobil jemputan terbuka, dan Alisya melompat keluar sambil menggendong tas ransel merahnya.
"Mama!" teriak Alisya riang, berlari kecil menghampiri ibunya.
"Sayang, jangan lari-lari," panggil Alya hangat, menyambut tubuh mungil itu dan langsung menggendongnya ke dalam pelukan.
Alisya melingkarkan lengan kecilnya di leher Alya, lalu menyadari suasana gang yang agak aneh. Ia melihat beberapa tetangga sedang mengangkut lemari dan kasur ke atas gerobak.
"Mama... orang-orang itu mau pindah ya?" tanya Alisya polos sambil menunjuk ke arah ibu bersanggul yang sedang menangis terisak di teras rumahnya.
Alya mengelus lembut rambut hitam Alisya, memalingkan wajah putrinya agar tidak perlu melihat pemandangan itu.
"Iya, Sayang. Mereka mau pindah ke tempat yang lebih jauh," jawab Alya lembut.
"Kenapa pindah, Ma?"
"Karena tempat ini mau Mama rapikan, supaya Alisya bisa bermain dengan tenang dan nggak ada lagi orang yang suka marah-marah," bisik Alya seraya mengecup pipi gembil putrinya.
Mata Alisya berbinar-binar. "Wah, beneran Ma? Nanti Alisya boleh punya taman bunga kecil di depan rumah?"
"Boleh dong. Mau taman bunga, mau tempat perosotan, nanti Mama buatin semua buat Alisya," balas Alya tersenyum tulus.
"Horeee! Mama emang yang terbaik!" seru Alisya gembira, memeluk leher ibunya makin erat.
Alya membawa Alisya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kayu rapat-rapat. Jeritan penyesalan dan suasana kelam di luar sana terkunci sepenuhnya di luar.
Di dalam ruangan sederhana itu, hanya ada kehangatan antara seorang ibu dan anak yang saling menyayangi.
Alya mendudukkan Alisya di kursi makan, lalu menyajikan semangkuk sup hangat di depannya.
"Ayo makan dulu, habis itu Alisya ganti baju dan istirahat ya," kata Alya lembut.
"Iya, Ma!" sahut Alisya dengan semangat, mulai meraih sendok kecilnya.
Sambil memperhatikan putrinya makan dengan lahap, Alya membatin dalam hati dengan janji yang kian menguat: "Siapa pun yang berusaha merusak senyuman ini... akan kubuat mereka membayar harganya hingga tak tersisa."
...******...
Sementara di tempat lain.
"Raya! Apa yang sudah kau lakukan!" pekik Ranti dengan penuh amarah.